
Setelah selesai mengantarkan Dini ke Pesantren At'Tahrim Bia dan Harraz. memutuskan untuk pulang langsung ke Pesantren AL'FURQON sementara Diki tinggal di Mojokerto dan menginap di penginapan dekat dengan Pesantren.
Setelah beberapa lama kemudian Harraz dan juga Bia sampai di Pesantren AL'FURQON di sambut dengan begitu gembira apalagi oleh dua keponakan Harraz yang begitu merindukan sang tante.
"Auntyyy..!!!" seru Gaffin dan Maira dan langsung berlari menuju mobil yang membawa Harraz dan Bia.
"Haiiii kesayangan-kesayangan auntyyyy !!" seru Bia tak kalah heboh.
Ketiganya sama-sama saling berpelukan melepas rindu.
Eheeemmm
Harraz berdehem untuk membuat ketiganya menoleh namun,usahanya gagal mereka masih heboh melepas rindu.
"Assalamualaikum.."ucap Harraz akhirnya membuat ketiganya menoleh ke arah Arraz.
"Wa'alaikumsalam,"
"Hehehe sorry om kita kangen sama aunty Bia jadi lupa sama om Ayaz hehehehe.."ucap Gaffin nyengir kuda memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Gaffin pun menyalami sang Om dan mencium dengan takzim.Tak lupa Harraz memeluk keponakannya itu.
"Om nggak asyik nih,Maira kan masih kangen sama aunty Bia."protes Maira melipat kedua tangannya di depan dadanya dengan wajah manyunnya.
Melihat tingkah sang keponakan yang menggemaskan akhirnya Harraz mencubit pipi Cubi nya dan mengangkat tubuh bocah itu.
"Di dalam kan bisa peluk-peluk,kita masuk dulu yaa..," ucap Harraz mengajak dua ponakannya dan sang istri masuk ke dalam ndalem sang Abah.
"Assalamualaikum.."ucap Bia dan Harraz masuk dalam ndalem yang sudah berkumpul semua anggota keluarga untuk menyambut kedatangan Harraz dan Bia.
"Wa'alaikumsalam.."jawab mereka.
"Masyaallah Alhamdulillah,kalian sampai juga ummi kangen sama mantu bontot umi.."ucap Umi Kalsum pada anak dan menantunya.
Harraz dan Bia pun menyalami anggota keluarga mereka.Dengan sayang sang ibu mertua memeluk tubuh Bia dengan erat dan menciumi wajah sang mantu dengan sayang.
"Bia kangen umi..."ucap Bia dengan manja.
"Halahhh..masa kangen sama nenek-nenek,nggak percaya umi tuh.." ucap umi Kalsum menggoda sang menantu.
"Beneran umi,Bia kangen sama rawon buatan umi hehehe.."ucap Bia nyengir.
"Dasar tukang gares ternyata istri kamu Yaz.." ledek Aisyah pada adik iparnya itu.
__ADS_1
"Dihhh..kak Ais mah,selama beberapa hari ini Bia nggak bisa makan teratur tau.."ucap Bia dengan mencebikkan bibirnya.
"Kenapa nggak makan?" tanya Husna melihat sang ipar.
Semua nya pun akhirnya memperhatikan ke arah Bia.
"Tuh Aa,buat Bia capek tiap malam.."ucap Bia dengan polosnya.
Mendengar ucapan Bia sontak membuat mereka menahan tawa.Mereka paham apa yang di lakukan Harraz pada Bia selama beberapa hari.
Sementara Harraz wajahnya sudah merah karena malu dan tidak menyangka jika istrinya polosnya bikin kesel tapi, sayang.
"Astaghfirullahal'adzim dek,mangkel ke men ta, untung sayang ." batin Harraz meruntuki kepolosan sang istri.
Sementara sang Abah hanya bisa mengulum senyum mendengar kepolosan menantunya.Kyai Said akui jika menantunya yang satu itu memang ajaib.Kadang- kadang buat khawatir dan juga ketar ketir.
"Ayaz,jangan begitu to le..kasihan iatrimu.Kasih makan yang teratur,jangan trabas saja.Pake rem le."ucap sang Abah menepuk pundak sang putra.
"Sudah sudah,sekarang Bia disini sama umi.Kalau nanti Aa kebablasan biar umi marahin dia."ucap Umi Kalsum pada sang menantu.
"Hahh.. kebablasan apa umi," timpal Bia.
"Sudah kita kekamar dulu sebentar lagi magrib,Aa mau sholat di masjid.Abah sama Abang semua juga mau siap-siap ke masjid.Kumpul nanti setelah isya."ucap Harraz mengakhiri obrolan yang semakin lama semakin nggak karuan nantinya.
...----------------...
Hari ini Bia sengaja ke Caffe milik sang Om dan Tante nya.
"Assalamualaikum.."ucap Bia saat diambang pintu ruangan Nia dan Rafif.
"Wa'alaikumsalam." jawab kedua orang yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka.
"Wah,sibuk banget nih.."ucap Bia dengan menenteng paper bag di kedua tangannya.
"Nggak juga,kapan kamu pulang dari Jakarta?"tanya Nia pada sang ponakan.
"Kemarin tan,ini ada titipan dari nenek sama kakek Sofyan buat tante Nia terus ini oleh-oleh dari Bogor."ucap nya dengan menyerahkan paper bag itu ke Nia.
"Kamu ke Bogor,ternyata kamu ingat kita juga Bi..kirain kamu nggak inget sama kita."ujar Nia dengan wajah memelas.
"Ya Allah,ternyata Tante ku ini orangnya su'udzon mulu kerjaannya ,"timpal Bia.
Hahahaha ...
__ADS_1
Tawa ketiganya pun menggema di ruangan itu.Bia menatap Rafif dan itu di sadari Nia dan Rafif.
"Kenapa kamu lihat om begitu?" tanya Rafif heran.
"Bia boleh ngobrol sama om sebentar nggak?"tanya Bia dengan hati-hati
"Cuma sama Om,nggak sama tante nih Bi?" tanya Nia memastikan.
"Iya, sorry tan..ini amanah soalnya."ujar Bia yang sebenarnya tak enak hati.
"Oke kita mau ngobrol dimana?" tanya Rafif.
"Roof top saja deh," ujar Bia .
Kedua orang itu pun menuju Roof top yang sedikit menjauh dari para pengunjung.
Sebenarnya Rafif sangat penasaran dengan apa yang akan Bia bahas kali ini.Kenapa harus berdua saja.
"Sekarang Bia mau ngomong apa sama Om,apa ada masalah?"tanya Rafif lembut.
"Emmm..gimana ya om,Bia juga bingung mau bahas dari mana tapi,ini menyangkut hubungan Om sama tante.....Winda." ucap Bia dengan pelan.
Deg
Ucapan Bia sontak membuat Rafif terkejut karena memang sudah sangat lama dia tidak pernah mendengar kabar mantan istrinya itu.
"Ada apa dengan dia?" tanya Rafif dingin.
Bia menghela nafas panjang dan menatap wajah Rafif dengan serius.
"Aku bertemu Tante Winda di Mojokerto,dia jadi abdi ndalem Kyai Yahya dari Pesantren At'Tahrim Mojokerto."ungkap Bia menceritakan tentang pertemuan nya dengan Winda mantan istri Rafif.
"Terus,apa hubungannya dengan Om?"tanya Rafif memandang ke sembarang arah.
"Dia ingin sekali ketemu eyang,dia ingin minta maaf dengan benar om."ujar Bia dengan begitu hati-hati saat bicara dengan Rafif soal Winda
"Buat apa dia ingin bertemu dengan eyang,apa yang dia inginkan. Mau ngapain juga kamu baik dengan dia.Kamu tahu kan,betapa jahatnya dia sama keluarga kita terutama Eyang,Om nggak sanggup lagi buat ketemu dia Bi," ucap Rafif dengan wajah yang terlihat sangat tidak sedap di pandang.
"Aku rasa om harus belajar ikhlas.Lagian sekarang om punya Tante Nia.Kalau dia,Tante Winda nggak punya siapa-siapa.Aku yakin dia pasti sudah tobat Om."ujar Bia.
Rafif tak menjawab apapun tapi, dia langsung pergi meninggalkan Bia begitu saja.
Bersambung
__ADS_1