
"Sudah, sekarang tidur yaa..,"ucap Harraz penuh kelembutan.
"Aa beneran nggak mau adek gitu," tawar Bia dengan wajah tertunduk.
Harraz menatap Istrinya dan tersenyum tipis.Dia rengkuh tubuh Bia dalam dekapannya dan membenamkan wajahnya di dada bidangnya.
"Kamu ini mancing-mancing terus lho yang.."ucap Harraz dengan menarik hidung mancung istrinya.
"Nggak ada salahnya kan A, menawarkan diri itu adalah sebagian dari ibadah lho A,aku mau lah dikasih pahala free tanpa harus pusing mikirin hafalan "
"Lho kok ngomongnya gitu,kalau pun kamu pinter buat siapa coba,pasti buat kebaikan kamu juga kan yang,sudahlah sekarang tidur yaa..," ucap Harraz merebahkan tubuhnya dan memeluk erat tubuh Bia.
Kedua orang yang saat ini mulai membuka hati itu pun saling berpelukan dan saling menyelami mimpi.
...****************...
Pagi harinya,Semua sibuk dengan urusan mereka masing-masing,Mama Kiran mengantar si kecil Kanfa untuk sekolah,Daddy Abi pun berangkat ke kantor sementara Bia serta Opa Beni,Oma Fitri dan Harraz menuju ke Rumah sakit untuk menengok sang Oma.
Sampai di Rumah Sakit mereka menuju kamar Oma Hanum ternyata beliau sudah sadar .Oma Hanum begitu terhary mereka Bia yang sudi menjenguknya.Bia pun mengenalkan Harraz pada Oma Hanum.
Oma Hanum dengan tatapan mata yang terlihat teduh menatap wajah Harraz.
Harraz pun memberikan kata-kata yang membuat Oma Hanum tenteram.Menyarankan Oma Hanum untuk sholat taubat.
Bia pun sudah mengatakan jika dia sudah memaafkan semua kesalahan Oma Hanum.Jam sepuluh pagi Harraz dan Bia berpamitan untuk menuju kantor Mahardika Group dan Bia pun harus mengikuti kelas Online.
Sampai Mahardika Group, Harraz masuk dalam Lobby dengan menggenggam tangan istrinya.
"Kita langsung ke ruangan Daddy saja."ucap Bia pada suaminya.
"Kita tidak bisa langsung gitu saja sayang,nanti yang ada kita di marahi."ucap Harraz.
Bia terbengong mendengar ucapan suaminya ."Siapa yang berani marah sama kita?"tanya Bia
"Ya pastinya yang punya perusahaan lah.." jawab Harraz dengan polos.
"Hahh,Aa kamu memangnya nggak tahu kalau kantor ini punya Daddy?'
Harraz menghentikan langkahnya dan menatap istrinya "Kamu bilang kantor ini punya Daddy,jangan bencana sayang,"ucap Harraz.
"Aa itu perasan nggak sih,nama belakang aku siapa?" tanya Bia
__ADS_1
"Abia Kiradzki Mahardika, Mahardika..ya Allah yang..kamu benar,jangan bilang aku sekarang jadi mantunya klan Mahardika."ucap Harraz
Bugh
Bia menabok lengan suaminya karena merasa gemas dengan kelakuannya dan otaknya yang kadang kurang sehat ons.
"Harraz Al'Gifari bin Sa'id Al'Gifari,kamu ini sudah jadi dapat cicitnya Uyut Mahardika.Artinya kantor ini adalah milik Abian Mahardika ayah dari istri anda,ngerti?"
Bia geram dengan Harraz yang baru ngeh kalo dia udah jadi bagian keluarga Mahardika.
"Sudahlah,ayok keatas."ucap Bia dengan menarik tangan Harraz guna mengikuti dirinya.
Banyak orang melihat tingkah sepasang suami istri itu.Security mau mencegah tiba-tiba Bia menyodorkan kartu VVIP Mahardika Group,yang berarti bagian dari keluarga Mahardika.
Mereka pun akhirnya melangkah ke arah ruangan Abi.
"Aunty Fara,Daddy ada?" tanya Bia sampai di depan Fara
."Eh kalian sudah datang,ayo masuk."ucap Fara menghitung Harraz dan Bia keruangan Abi.
Ceklek.
"Ada apa Far?" tanya Abi yang sedang diskusi dengan Vian.
"Suruh masuk."ucap Abi.
Keduanya langsung masuk dan langsung membahas tentang bisnis sementara Bia sibuk dengan kelas online nya.
Jam makan siang akhirnya mereka selesai meeting."Semoga semuanya lancar ya Dad."ucap Harraz pada mertuanya
"Insyaallah,daddy percaya kamu bisa dan akan berhasil ."ucap Abi
"Sweety,sudah selesai kelasnya?"tanya Abi saat masuk ke ruangannya melihat Bia yang sedang merapihkan laptopnya.
"Alhamdulillah sudah dad,kita mau makan siang dimana?"
"Dimana kalau Harraz yang traktir dad," ucap Harraz
Abi dan Bia memandang Harraz yang salah tingkah dengan reaksi mertua dan Istrinya itu.
"Dengan senang hati mantu,tapi..mama sama Kanfa ikut juga.Sekalian tambah empat bangku lagi buat Om kalian serta tante Fara."ucap Abi pada Harraz.
__ADS_1
Mendengar omongan Abi sontak membuat Bia melotot."Wah Daddy mau buat suami Bia bangkrut ,mana bisa Daddy nyuruh bawa pasukan buat makan siang.Nggak ah,nanti yang ada dia potong belanja Bia."ucap Bia dengan nada tak suka.
"Heiii sweety,kamu ini jangan pelit.Mantu Daddy orang kaya,tenang saja."ujar Abi
"Nggak apa-apa sayang,lagian kita ke Jakarta barang-barang.Sekalian semua nya dad,jangan cuma Om nya aja tantenya juga diajak,nanti buat Oma sama Opa aku harus kirim apa dad,buat mereka makan siang di RS ."ucap Harraz dengan enteng sambil mengutak Atik ponselnya.
Bia yang mendengar penuturan Harraz hanya melongo mendengar ucapan songong suaminya itu."Dasar si bos songong."gumam Bia tertuju pada suaminya.
"Lahhh kamu bilang suami kamu songong apa kabar Daddy Bisa," ucap Abi mendengar gumaman putrinya.
"Sombong sama songong kalian memang klop,sudahlah yang penting kalian jangan usik shopping Bia nanti sama mama."ucap Bia pada dua pria di depannya.
"Kamu cek aja ponsel kamu kalau kurang,minta sama suami."ucap Abi.
"Daddy transfer uang buat aku,yeeehhhh..terima kasih Daddy !!"ucap Bia dan memeluk daddynya .
"Ehemmm,kamu dapet transferan dari Daddy ,balikin yaaa.."ucap Harraz.
"Bukan Daddy mengecilkan kamu Raz,memang itu sudah porsinya Bia dapet dari daddy.Karena memang Bia punya sedikit saham di Mahardika.Kamu jangan tersinggung.Karena memang,Bia berhak untuk mendapatkan nya.Lagian Daddy nggak ngasih semuanya ke Bia.Nanti Daddy bicarakan sama pengacara yaa.."ucap Abi pada Harraz agar tidak salah paham.
Abi tahu jika Harraz ingin mengambil penuh tanggung jawab atas diri putrinya dan itu kewajiban Harraz namun,ada perhitungan hak Bia yang harus dia terima dari Abi dan Kiran.
Harraz pun mengangguk mengiyakan ucapan mertuanya.
Mereka akhirnya janjian di restaurant yang mewah "Garden' Resto." Restauran kalangan kelas menengah ke atas.Restaurant yang biasa di gunakan untuk meeting dan juga ada Garden yang di sewakan untuk acara.
"Selamat siang tuan.."ucap salah satu karyawan yang menyambut kedatangan mereka.
"Ruangannya sudah di siapkan sesuai pesanan saya kan?"tanya Harraz pada sang karyawan.
"Sudah tuan,sesuai pesanan tuan.Untuk delivery sudah kami kirim juga."lapor si karyawan.
"Bagus,kalau begitu."ucap Harraz.
"Tapi tuan,kami ingin minta bantuan tuan bisa?"tanya sang karyawan.
"Boleh,nanti kamu kirim ke ponsel saya."ucap Harraz.
"Baik tuan,silahkan nona,tuan duduk dahulu pesanannya akan segera datang."ucap sang karyawan.
Bia menatap suaminya dengan tatapan tajam dan artinya dia ingin sebuah penjelasan.
__ADS_1
Abi hanya bisa diam dan fokus dengan ponselnya yang sedang ribut di grup.
Bersambung