
Pagi-pagi sekali Bia sudah turun tangan untuk membantu menyiapkan sarapan untuk ndalem dan Wati juga ustadzah Jihan pun di dawuh untuk membuat sarapan untuk para santri bersama mas-mas dan mbak-mbak ndalem.
"Ustadzah Jihan tumben banget Ustadzah Hilya kok nggak ada,dia baik-baik saja kan?"tanya Bia yang sibuk membuat teh untuk sang mertua.
"Ustadzah Hilya setelah subuh tadi sudah pergi dari pesantren Ning,dia cuti beberapa hari untuk menengok abahnya."jawab Jihan.
"Pantas saja,nggak kelihatan soalnya dari tadi."ucap Bia.
"Kenapa memangnya Ning, kangen sama kesinisan ustadzah Hilya nih?" ledek Wati yang sedang mengipas-ngipas nasi.
"Hahhaa..sudah pinter ngeledek kamu mbak,nggak apa sih cuma lihat wajah kalian wajahnya kelihatan bersinar ternyata nggak ada orang yang bikin mendung."kelakar Bia membuat semuanya terkekeh mendengar ucapan Bia.
Acara sarapan pagi ini berakhir dengan melakukan kegiatan masing-masing.
Hari ini Harraz tidak ada jadwal ngajar jadi,dia langsung ke tempat kerjanya dan Bia melajukan mobilnya ke arah kampusnya.
"Biaaa!!' seru Nayla saat melihat sahabatnya berjalan di koridor kampus.
Bia memutar bola matanya melihat tingkah Nayla.
"Assalamualaikum Nay.."ucap Bia pada sahabatnya.
"Wa'alaikumsalam Bu Ustadzah, Masyaallah aku kangen banget sama kamu tahu.." ucap Nayla memeluk Bia.
"Lebay kamu nih, pasti ada maunya."tebak Bia karena mengingat kelakuan sahabatnya yang biasanya ada udang di balik bakwan.
"Hehehe..yes kok tahu,boleh lihat tugas kamu nggak?"tanya Nayla dengan tangan di tangkupkan di depan dadanya.
Bia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
Disisi lain tepatnya di tempat dimana Harraz berada.Dia sedang sibuk dengan berkasnya.
"A'a bro,ini ada proposal kerja sama dia perusahaan Asing yang akan melebarkan sayapnya di Indonesia."ucap Umay menyerahkan proposal yang dia maksud.
Harraz membukanya dan membacanya dengan teliti.
"Draxters Company." gumam Bia melihat proposal yang dia baca.
"Kapan mereka kirim proposal gini adek bro?" tanya Harraz pada Umay.
"Dua hari lalu Aa bro,maaf Umay lupa mau kasih tahu Aa bro dan mereka juga kirim lewat surel juga."ucap Umay dan menyerahkan laptopnya.
"Aa lihat dulu dan periksa apa yang menjadi keunggulan mereka dan apa mereka layak untuk jadikan rekan bisnis kita.Soalnya kita pun harus menjaga kepercayaan Mahardika Group adek bro."ucap Harraz.
"Iya bener banget Aa' bro kalau seandainya kita hanya asal lihat profil saja takutnya gagal yang ada pecat jadi mantu Aa bro ." ledek Umay
__ADS_1
"Nah itu dia kamu tahu kan,apalagi jika Daddy Abi juga akan turun tangan langsung dengan proyek ini."ucap Abi.
"Tapi,kayak pernah denger nama ini ."Andreas" entah dimana Aa lupa."ucap Harraz.
Rasa familiar mendengar nama yang tertera di proposal tersebut namun,Harraz tak bisa mengingat nya.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu ruangan Harraz membuat pembicaraan keduanya terhenti.
"Masuk !!" seru Harraz pada sang tamu.
Terlihat perempuan berhijab berdiri di ambang pintu.
"Maaf pak,ada pak Andi dari PT Makmur jaya ingin bertemu." ucap sang sekretaris bernama Wulan.
"Andi,suruh masuk mba Wulan."ucap Harraz menyuruh tamunya masuk.
Tak lama kemudian terlihat dua orang berbeda jenis kelamin pun muncul di ambang pintu
"Assalamualaikum bro ustadz," salam nya dengan melangkah masuk diikuti perempuan sexy yang di belakangnya.
"Wa'alaikumsalam Andi,silahkan masuk.Silahkan duduk." ucap Harraz dengan ramah namun pandangan nya hanya mengarah ke Andi.
"Astaghfirullahal'adzim.."gumam Umay
"Ndi,buka jas lo kalau mau tetap ketemu gue !!" ucap Harraz dengan tegas.
Andi terkekeh melihat tingkah Harraz dan melihat sang teman kuliahnya itu terlihat berbeda saat ini.
"Lo nggak punya uang buat beli jas bro,minta jas gue." kelakar Andi yang masih terlihat tak paham dengan ucapan Harraz.
"Lepas atau keluar !!" ucap Harraz dengan nada tinggi.
Andi pun mau tak mau membuka jasnya dan menyerahkan ke wanita di samping Andi.
"Tolong jika kemari bisa pake baju yang lebih normal jangan seperti itu,ini bukan diskotik."ucap Harraz dengan nada datar.
"Ck,iya sorry gue lupa kalau Lo kan keturunan Kyai dan Lo seorang Gus."ucap Andi dengan nada mencibir.
"Terserah Lo panggil apa mau panggil munafik atau sok agamis juga nggak masalah.Itu urusan Lo Ndi,sekarang tugas Lo ceritain apa yang bisa membuat Lo ke kantor gue,"
"Sebenarnya gue mau minta Jon sama Lo," ucap Andi tanpa basa-basi.
"Ada proposal?" tanya Harraz dingin.
__ADS_1
"Harus pake proposal,kita kan deketasa pake jalur resmi begitu sih ," ucap Andi kesal.
"Kenapa,jangankan perusahaan Lo Ndi, proposal dari luar negeri pun melalui jalur yang di tentukan." ucap Harraz dengan tegas.
Andi tak menyangka jika Harraz sudah juga di Lobby apalagi dia tidak tertarik dengan sekretaris nya uang biasa dia akan lakukan pada pengusaha lainnya.
Andi pun akhirnya pergi dengan tangan kosong tanpa hasil.Dia tak menyangka jika sahabatnya itu sangat tegas dan juga sangat susah diajak kompromi.
...----------------...
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." ucap Harraz juga Umay yang masuk dalam ndalem saat baru pulang dari kantor mereka.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."jawab semuanya yang ada disana.Karena kebetulan mereka sedang berkunjung di pendopo.
"Sebentar aku buat kan teh dulu."ucap Bia langsung melangkah menuju dapur.
"Kayaknya kamu lelah banget le?" tanya sang umi saat melihat raut wajah putra bungsunya.
"Lumayan mi,"jawab Harraz bersandar pada sofa yang dia duduki.
Tak lama Bia keluar membawa dua cangkir teh untuk Umay dan Harraz.
Umay mengkode kakak iparnya itu dan Bia pun menoleh pada wajah lelah suaminya itu.
"Kenapa A'a,ada masalah?" tanya Bia.
"Nggak ada hanya sedikit memerlukan pencerahan..hehehe." ucap Harraz menampilkan tawanya.
"Wesss..aneh." ucap Aisyah melihat tingkah adiknya itu.
"Bia bisa bantu?"tanya Bia dengan senyuman manisnya.
"Bisa sih, tapi..nanti saja."ucap Harraz.
"Haiisttt..mendingan kalian bahas itu di kamar deh.." celetuk Umay pada Harraz dan Bia.
"Apaan sih?" tanya Bia mulai nggak konek.
"Nggak papa ,cuma lagi mikir mau di terima atau tidak tawaran untuk kerja sama dengan perusahaan asing kak," ucap Umay.
"Oh iya bagus dong, perusahaan apa?" tanya Bia.
"Draxters Company ." jawab Umay.
"Apa? Draxters Company,Aa sudah menerimanya?" tanya Bia dengan keterkejutan nya.
__ADS_1
Semua memandang pada Bia yang terlihat sangat terkejut dengan nama yang disebut Umay tadi.
Bersambung