
"A'aaa !!" teriak Bia saat melihat suami dan juga Umay baru saja sampai di depan rumah.
"Astaghfirullahal'adzim dek !!" ucap Aisyah yang dekat dengan Bia yang terkejut dengan teriakan iparnya itu.
"Aduuuhh duh duh kak,sakit..."ringis Bia saat Aisyah mencubit gemas lengan iparnya itu.
"Syukurin,lagian kamu itu buat orang kaget saja ," ucap Aisyah dan tentu saja Bia hanya bisa mendengus kesal.
"Assalamualaikum.."ucap Harraz juga Umay yang masuk dalam pondok ndalem.
"Wa'alaikumsalam.." jawab semuanya yang ada di pondok.
Harraz dan Umay menyalami Abah ,umi juga kakak serta kakak iparnya dan terakhir Bia yang langsung memeluk suaminya itu.
"Masyaallah adek,kamu kenapa sih.." ucap Harraz dengan menepuk nepuk kepala Bia dengan pelan.
"Terimakasih yaa..buat semua kejutannya."ucap Bia dengan sedikit berbisik.
"Kejutan apa ,Aa nggak ngasih kejutan apa-apa deh," jawab Harraz mengernyitkan dahinya.
" Isssttt...kamu tuh,itu semua bahan bangunan katanya buat kamu bikin rumah,bener nggak?"
"Owhhh...iya benar,kenapa seneng?"
"Seneng, terimakasih..suami ku sayang.."ucap Bia dengan suara yang terdengar dari semua yang ada pondok.
Eheeemmm..
"Racun racun racun...!!" seru Umay meledek Harraz dan Bia yang terlihat mesra tak pada tempatnya.
Semuanya terkekeh mendengar sindiran Umay.
"Kalau mau mesra-mesraan bisa dikamar kalee .." goda Husna yang sedang hamil besar.
"Istirahat Raz, sebentar lagi magrib kalian siap-siap ke masjid.Abah duluan yaa.." pamit sang abah berpamitan dengan anak istri juga menantunya.
Akhirnya mereka pun membubarkan diri untuk bersiap-siap untuk berangkat ke masjid.
...****************...
Pulang dari masjid Bia serta kakak-kakak ipar serta ibu mertuanya mereka berjalan menuju ndalem dan sambil berbincang tentang kuliah Bia.
__ADS_1
"Kamu masih di galakin suami kamu sendiri dek waktu di kelas?"tanya Aisyah yang memang mereka sudah tahu perlakuan Harraz sebelum menikah dengan Bia.
"Masih kak,tapi..nggak segalak dulu.Sekarang sudah ada manis-manis gitu... hehehe.." jawab Bia dengan nada bercanda.
" Mba nggak bisa bayangin waktu kamu pertama nikah sama Ayaz pastinya kaku yaa.. hihihi" ucap Husna terkekeh.
"Nggak usah bayangin mba,emangnya mba sama kak Zaf nggak gitu,kalian bukannya di jodohkan?" tanya Bia melihat wajah dua kakak iparnya dan juga sang ibu mertua.
"Sebaiknya jangan bahas tentang ini di jalan ndok',kita bisa tukar cerita di rumah saja."ucap umi Kalsum mengingatkan sang menantu.
"Maaf umi.."ucap Bia dengan wajah tak enak hati.
...****************...
"Ustadzah Hilya, Ustadzah benar akan cuti berapa hari?"tanya Jihan saat mereka ada di kamar yang mereka tempati di pesantren.
"Iya ,Abi memintaku untuk pulang sebentar."jawab Hilya dengan mengemas beberapa baju miliknya.
"Semoga perjalanan mu lancar ustadzah dan cepat kembali lagi ke sini." ucap Jihan
Hilya tersenyum kecut karena memang dia merasakan keadaan saat ini sudah membuat dirinya selalu merasakan sesak dalam dadanya.Apalagi saat di ndalem tanpa sengaja melihat Harraz yang selalu memberikan perhatian pada Bia dan walaupun Bia bersikap bar-bar namun,Harraz selalu berhasil membuat Bia menurut padanya.
"Ahh..nggak,cuma tiba-tiba aku kepikiran untuk tugasku sebagai pengajar tidak mungkin aku berlama-lama mengambil cuti."ucap Hilya.
"Ohhh itu,buat sementara waktu.. Ustadz Umay yang akan menggantikan ustadzah Hilya kok." ucap Jihan
"Yah,aku kira Gus Arraz yang akan menggantikan sementara."ucap Hilya.
"Gus Arraz tidak bisa karena memang Gus Arraz akan mengajar
Ilmu nahwu Alfiah Ibnu Malik
Ilmu tauhid Jauharoh at_Tauhid."jelas Jihan.
"Oh...baiklah."balas Hilya.
"Sudah selesai,kalau sudah kita istirahat."ucap Jihan pada Hilya.
Hilya mengangguk dan merebahkan tubuhnya di kasur single miliknya Yanga ada satu kamar dengan Jihan.
Dikamar Bia dan Harraz kini keduanya sedang berbaring bertukar cerita satu sama lain.
__ADS_1
"Aa,kok nggak ngasih tahu aku mau bangun rumah di belakang ?" tanya Bia pada suaminya.
"Iya maaf,kemarin sebenarnya Aa mau cerita tapi,lihat kamu yang sedang kepikiran soal Tante Winda dan juga Om Rafif jadi nya kelupaan dan keburu orang-orang yang Aa suruh sudahulai ngerjain ini."ucap Harraz.
"Terimakasih atas semuanya,Bia seneng dan nggak nyangka juga kalau Aa kepikiran sampe harus buat rumah buat kita sendiri."
"Aa tahu kamu betah-betah saja tinggal di ndalem tapi,Aa rasa perlu pembuktian sama Daddy kamu.dan keluarga untuk memberikan kamu tempat tinggal yang nyaman dan tentu saja menjadikan kamu ratu di rumah itu.Karena Aa sadar kalau dalam satu rumah nggak ada dua ratu .Walaupun umi dan Abah senang dengan keberadaan kita disini tapi,lebih elok kalau kita berusaha membangun keluarga kita sendiri yang ada hanya aku ,kamu dan anak-anak kita nanti."ungkap Harraz panjang lebar.
"Aisssttt so sweet nya suami ku ini,ternyata dosen killer ku jadi dosen bucinku.. hehehe.."canda Bia mencubit gemas rahang suaminya itu.
"Kamu ini,gadis bar-bar tetap bar-bar tapi,Aa pengen kamu juga bar-bar di ranj*ng bisa kan?" goda Harraz dengan manaik turunkan alisnya.
"Yeaahhh..berubah jadi dosen mes*m !!' seru Bia melihat tingkah suaminya yang sudah mulai kode-kode.
"Tapi suka kan di mesum*n Aa,hemm?"
"Diihhhh...PD tingkat kecamatan kamu yah ..hahaha.."
Tak perlu bak baik buk lagi Harraz langsung saja menyerang sang istri dengan sentu*an-sentu*an yang membuat Bia terbuai dan menginginkan lebih.
Harraz mulai melancarkan aksinya dengan begitu menggebu,apalagi dia melihat istrinya semakin lama semakin cantik di matanya.Apalagi saat di kamar mereka pastinya Bia hanya menggunakan lingerie sexy yang selalu membuat jiwa liarnya terpancing.
Bia memang sengaja menampilkan gambaran istri bin*l pada suaminya itulah adalah racun dari Asty si tante yang nggak pernah punya saringan kalau ngomong.Dia mengajarkan kenakalan pada Bia soal urusan perkamaran.
Dan itu sukses buat Harraz tak berpaling dari Bia.
Harraz tak ambil pusing dengan perubahan pakaian istrinya saat di kamar karena istrinya hanya miliknya saat kamar itu memang bebas karena Harraz pun selalu bertel*njang dada jika tidur.
"Hhhhhh...ahhh..." suara indah keluar dari mulut Bia dan saat ini Bia mengambil kendali permainan malam ini.
Harraz sempat terkejut karena Bia yang terlihat sangat berbeda malam ini apalagi saat ini Harraz begitu tergila-gila karena ulah istrinya.
Harraz dibuat kelabakan karena kelakuan Bia dan Harraz dengan senang hati menerima perlakuan istrinya yang membuat dirinya sangat memuja sosok bar-bar yang saat ini ada di atas perutnya.
"Hahhhhhh...."
Suara dua orang yang kini sudah sampai pada tujuan yang tadi mereka sama-sama capai dan sampai sudah di puncak dan membuat keduanya sama-sama terbang ke langit ketujuh.
Bersambung
Buat Readers maaf yaa..kalau minggu-minggu ini slow up karena kesibukan dunia nyata yang menguras waktu π
__ADS_1