Karena CINTA Itu Ada

Karena CINTA Itu Ada
#Rencana Harraz


__ADS_3

"Sayang,kamu kenapa? kayaknya wajahnya sedih gitu?"tanya Harraz saat mereka akan beranjak untuk tidur.


Bia pun menatap wajah suaminya yang duduk di sampingnya di atas tempat tidur.


"Aku sedih A aku juga merasa bersalah." ucap Bia menampilkan wajah sedihnya.


Harraz mengernyit kan dahinya dan meraih tangan istrinya dan menggenggam nya dengan erat.


"Mau cerita,kamu bisa cerita sama A'a apa yang buat kesayangan Aa sedih gini,hemm,"


"Ihhhsttt ..ini serius A'a adek nggak bercanda lho."


Melihat sang istri yang tampak kesal terus saja Harraz menyandarkan kepala sang istri di bahunya.


"Aa juga serius ,sekarang sayang mau cerita apa A'a siap dengerin."ucap Harraz dan mengecup punggung tangan Bia.


" Aku bingung harus bersikap gimana karena ini adalah amanah.Aa ingat tante Winda yang kita temui di pesantren At'Tahrim kemarin?"


"Hemm...ingat,kenapa dengannya?"tanya Harraz balik.


"Dia sebenarnya mantan istri Om Rafif."ungkap Bia


Harraz pun menghela nafasnya dengan berat.Pastinya persoalan ini menyangkut kejadian di masa lalu.


"Terus?"

__ADS_1


"Jadi,kemarin tante Winda bilang ke Bia kalau tante.Winda pengen minta maaf sama Om Rafif dan terutama sama eyang Leha.Karena selama menjadi istri Om Rafif dia sudah jahat sama eyang Leha.Lalu,tadi siang di Caffe aku bilang keinginan tante Winda untuk bertemu Om Rafif dan eyang Leha tapi,kayaknya Om Rafif marah sama Bia A'." ungkap Bia dengan


"Apa aku salah kalau aku membantu tante Winda buat minta maaf sama orang yang pernah dia kecewakan.Kita manusia tentu juga banyak salah , tapi..serasa sakit jika om Rafif bersikap seperti itu sama Bia."ucap Bia lagi.


"Kamu nggak salah,mungkin karena Om Rafif kaget denger lagi berita soal mantan istrinya.Kamu coba pikir kalau selama beberapa tahun ini dia tidak pernah mendengar kabar tentang mantan istrinya tiba-tiba kamu datang ke Om Rafif untuk minta ijin buat tante Winda bertemu mereka sementara mereka masih terluka dengan perbuatan tante Winda.Walaupun sebenarnya tidak baik bagi kita mendendam dan sebaik-baik kita sebagai Hamba-Nya kita mencoba untuk ikhlas memaafkan."ucap Harraz.


"Terus apa yang harus aku lakukan A' aku nggak mau kalau mereka masih menyimpan dendam A' lagian aku lihat tante Winda sudah berubah nggak sombong dan angkuh seperti dulu."ujar Bia mengingat kembali saat pertama dia bertemu dengan Winda yang arrogan dan Winda yang kemarin dia temui pastinya terlihat berbeda.


"Sudahlah, jangan sedih.Kita berdoa untuk kebaikan mereka.Semoga Om Rafif bisa dengan ikhlas memaafkan semua yang terjadi di masa lalu mereka.Sekarang kita tidur yaa.."ucap Harraz merebahkan tubuh sang istri di sampingnya.


"Terimakasih Aa sudah mau jadi pendengar buat aku."ucap Bia memandang wajah suaminya.


"Nggak masalah sayang,yang jelas jangan merasa sendiri." ucap Harraz mengecup kening istrinya dengan lembut.


Harraz membawa tubuh Bia dalam pelukannya.Bia pun merasakan kenyamanan di dalam pelukan Harraz.Dia bersyukur karena Harraz yang sekarang adalah Harraz yang begitu hangat sikapnya apalagi dia bisa menempatkan dirinya sebagai suami,teman,ayah juga sekaligus menjadi bayi dugong yang menggemaskan.


Beberapa hari kemudian saat Bia pulang dari kampus.Terlihat banyak kendaraan angkut dan ada juga beberapa orang yang memakai helm proyek ada di sekitaran pesantren.


"Assalamualaikum Umiiii...Bia pulang !!"


Bia masih terbiasa dengan salam khasnya.Semua penghuni sudah tidak heran lagi karena memang si Bia tukang rusuh sudah di hafal oleh semua penghuni ndalem Kyai Said dan dua orang yang mengikuti kebiasaan Bia adalah keponakan Harraz yaitu Maira dan Gaffin yang sekarang jika pulang ke rumah pasti dengan salam khas Bia.


Walaupun masih sudah di peringatkan namun, dua bocah itu sungguh mengidolakan sang tante yang selalu membuat mereka ketawa dengan segala kelakuan konyolnya.


Pernah Gaffin ingin iseng dengan Bia karena kebanyakan perempuan takut akan belut atau hewan menjijikkan kan lainnya seperti kodok.Gaffin sengaja mengajak sang Tante ke sawah di kompleks Pesantren dan minta di ambilkan kodok karena memang musim tanam padi saat ini dalam keadaan musim hujan pastinya banyak kodok berkeliaran di pematang sawah dan ajaibnya bukannya takut Bia sangat menikmati kegiatan menangkap kodok di sawah sampai Harraz turun tangan untuk membuat Bia menghendaki aksinya.

__ADS_1


Nggak tahu aja jaman kecil Bia pasti akrab dengan kegiatan itu.Apalagi hidupnya dengan hanya ada sang eyang yang sibuk di warung nasi kepunyaannya dan juga mama nya yang sibuk di Surabaya untuk menyelesaikan pekerjaan dan sekolah kebidanan hanya seminggu sekali sang mama pulang.


"Wa'alaikumsalam,ehhh..mantu umi sudah pulang," ucap Umi Kalsum menyambut kedatangan sang menantu dengan wajah bahagia.


Walaupun terkadang di buat pusing dengan kenakalan Bia namun,Umi Kalsum sungguh bangga pada menantunya menjadi seorang yang apa adanya dan terpenting dia mau belajar dan tak malu untuk mengakui jika dia salah,tak bisa atau pun tak sependapat dengan keputusan keluarga.


"Umi,itu kok banyak orang di luar.Terus umi lagi ngapain,sibuk banget.Umi nggak ngajar?"


Berentet pertanyaan membuat Umi Kalsum geleng-geleng kepala.


Plak..


Umi Kalsum akhirnya menepuk bahu menantunya dengan gemas.


"Kamu ini, kalau nanya satu-satu umi bingung jawab yang mana dulu.Kebiasaan."gerutu umi Kalsum yang di tanggapi Bia dengan ringisan tanpa dosanya.


"Itu orang-orangnya Ayaz,buat bawa material buat bangun rumah kalian. Insyaallah rencananya akan di bangun di belakang pondok."ungkap Umi Kalsum menjelaskan tentang apa yang orang-orang itu lakukan.


Bia tentu terkejut dengan ucapan sang ibu mertua karena Harraz tak pernah membahas tentang rumah yang akan di bangun Harraz.Lagi pula Bia tak masalah akan tinggal dimana pun yang terpenting dengan suaminya.


"Aa Ayaz nggak pernah bilang ke Bia kalau mau bangun rumah mi..sumpah.Ihhh...kenapa Aa nggak ngomong dulu sama Bia.Lagian Bia tinggal dimanapin yang penting sama suami buat Bia nggak masalah."ungkap Bia pada sang ibu mertua.Karena memang Bia tak enak hati takut jika mertuanya beranggapan buat meminta pundak dari ndalem.


"Umi sama Abah tau sayang,kamu nggak pernah menuntut apapun selama ini sama Ayaz tapi, anak yang sudah menikah lebih elok tinggal terpisah dari mertua dan orang tua mereka. Berdikari untuk menjalani kehidupan kalian berdua.Susah senang sama-sama tanpa ada orang yang tahu apa masalah kalian.Harraz pun sama dia dan kamu butuh privasi.Umi dan juga Abah paham akan itu.Semoga saja membuat kalian semakin harmonis dalam menjalani hubungan kalian dan akan hadir cucu umi."


Ucapan sang mertua membuat Bia tersipu malu karena memang keduanya menerima apa yang di takdirkan untuk mereka.Kedua nya pun tidak akan menunda untuk mempunyai momongan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2