Karena CINTA Itu Ada

Karena CINTA Itu Ada
#Jenguk Oma Hanum


__ADS_3

"Sudah dong pelukannya,kalian nggak malu ada orang selain kalian berdua !!" omel Kiran pada anak dan suaminya.


Mendengar omelan Ratu mereka,dengan terpaksa harus menghentikan drama sayang sayangan mereka.


" Huhh,mama selalu saja cemburu sama anak sendiri." dengus Bia mengurai pelukannya dari sang daddy.


"Lagian pelukan nggak tahu tempat,itu ada Dr Krisna sama Harraz masih aja drama." gerutu Kiran.


"Ehhh Om Dokter,sorry Om..apa kabar,kenalin om ini suami Bia Harraz ,A' kenalin ini Dr Krisna mantan gebetan mama lho.."ucap Bia dengan melirik kearah mama dan Daddy nya .


Mendengar ucapan sang putri sontak membuat Kiran menatap tajam pada Bia sementara Abi mendengar ucapan putrinya hanya mendengus kesal jika mengingat kembali masa lalu mereka.Sedang Krisna tersenyum canggung mendengar celotehan Bia yang selalu tak punya saringan.Harraz pun merespon hanya dengan kernyitan di dahinya.


"Bia mau jenguk Oma Hanum,silahkan.Kiran,Pak Abi saya pamit Assalamualaikum." ucap Krisna akhirnya mengundurkan diri.


"Wa'alaikumsalam." jawab keempat orang itu.


"Ayo,kamu mau lihat Uyut kan?" pertanyaan itu di lontarkan oleh Kiran saat Krisna sudah menjauh dari mereka.


Bia hanya mengangguk mengiyakan ucapan sang mama.Kiran pun merangkul bahu putrinya berjalan menuju kamar rawat Oma Hanum.


Ceklek.


Saat pertama masuk dalam ruangan itu ada dua orang yang sedang duduk di samping brankar Oma Hanum.


Saat mendengar pintu kamar itu terbuka dua orang itu pun akhirnya menoleh ke arah pintu.


"Bia, akhirnya kamu datang." ucap perempuan yang Bia kenal yaitu Anna sementara disebelahnya seorang laki-laki dengan menundukkan kepalanya.


"Berdamailah sayang,mama juga Daddy sudah memaafkan semuanya.Kita sudah mengikhlaskan semuanya."ucap Kiran mengelus lengan putrinya


"Assalamualaikum Tante,Opa Yudit." Ucap Bia akhirnya.


"Wa'alaikumsalam .."ucap keduanya.Yudit pun akhirnya berani menatap kearah Bia.


Harraz memegang tangan Bia dan mendekat ke arah brangkar dan menyalami Yudit dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada tanda hormatnya.Bia pun menyalami Anna dan menangkupkan kedua tangannya pada Yudit.


Lalu keduanya berdiri disamping brankar dan Harraz membacakan Doa untuk kebaikan Oma Hanum di ikuti oleh Bia.

__ADS_1


"Gimana keadaan beliau dad?" tanya Harraz pada mertuanya setelah mendoakan Oma Hanum bersama istrinya.


"Belum ada perkembangan dari waktu kami bawa kemari."jawab Abi yang juga berdiri di samping brankar Oma Hanum.


"Kenapa Oma jadi gini?" tanya Bia dengan menatap wajah Oma Hanum yang terlihat pucat.


"Beliau sudah berumur,panyakitnya pun sudah komplikasi jadi rentan banget." ucap Anna.


"Tante Anna tunggal di Mansion sama Opa juga?" tanya Bia kepo.


"I_iya ,karena Oma nggak mau jauh sama Opa Yudit Bi,kamu juga tahu Oma hanya punya om Yudit." jawab Anna.


"Iya sih,"jawab Bia dan menggenggam tangan Uyutnya itu.


"Oma Uyut,ini Bia. Maaf baru datang..Bia sudah ikhlas dengan semua yang terjadi di masa lalu.Oma cepet pulih yaa..biar nanti bisa lihat Bia punya anak yang lucu-lucu."ucap Bia dengan mata yang sudah mengembun.


Walaupun memang dia pernah merasakan sakit hati karena mendengar cerita tentang mamanya dulu yang berpisah dengan Daddy nya itu karena ulah Oma Hanum tapi, setelah melihat kondisi Oma Hanum sekarang membuat dirinya tak tega.Apalagi melihat tubuh tua renta itu di pasang alat-alat medis yang Bia lihat menyiksa Oma Hanum.


"Doakan yang terbaik buat Oma yaa.."ucap Yudit dengan suara yang serak.karena menahan tangis.


"Opa yang sabar yaa, Insyaallah semua akan baik-baik saja."ucap Bia memberikan support pada Yudit.


"Seperti nya Oma kamu masih tidur Bi, kalian juga baru datang,lebih baik kita pulang dulu besok kita kesini lagi.Sudah ada Opa sama tante juga disini."ucap Abi pada putrinya.


Akhirnya Bia dan Harraz pamit bersama Abi dan Kiran untuk kembali ke mansion.


Dalam perjalanan Bia menyandarkan kepalanya di bahu Harraz dengan tangan saling menggenggam.


Tak butuh waktu lama mereka sampai di mansion Mahardika.Sesaat Harraz terkejut dengan penampakan hunian megah milik mertuanya.Dia pun melirik kearah istrinya yang masih bersandar di bahunya dia berpikir jika dirinya sebagai suami belum bisa memberikan hunian yang nyaman untuk istrinya apalagi setelah melihat hunian nyaman milik mertuanya tentu Harraz hanya bisa menghela nafas panjang.


Waktu melihat hunian yang di tempati oleh uti Leha Harraz masih biasa saja karena memang hunian itu masih tergolong biasa namun,saat melihat hunian milik mertuanya ada rasa kecil di hati Harraz ternyata istrinya terlahir di kalangan atas.Namun, terkesan sederhana dengan penampilan istrinya.


"Kita sudah sampai,Bia tidur Raz?"tanya Kiran menyadarkan lamunan laki-laki itu.


"Ah I_iya mah,biar Harraz gendong saja.Kasihan kalau di bangunin."ujar Harraz dengan tergagap.


Kiran dengan peka terhadap perasaan menantunya tentu saja faham dengan tingkah menantunya yang terlihat berbeda.

__ADS_1


"Raz,kami dan kamu itu sama saja.Bangunan megah itu hanya titipan,itu milik kakek buyut Bia dan kami yang menempati nya saat ini.Sudah bangunkan saja istri kamu, jangan di gendong berat dia."ujar Kiran lalu diapun turun menyusul suaminya.


Harraz akhirnya membangunkan Bia dan beruntung Bia langsung terbangun.


"Sudah sampai ya,maaf ketiduran A' yuk turun.Pasti kamu lelah juga kan," ucap Bia membuka pintu mobilnya dan diikuti Harraz.


Mereka melangkah beriringan menuju rumah besar itu.Bahkan Bia menggenggam tangan Harraz dengan erat seakan Bia takut kehilangan Harraz.


"Assalamualaikum...!!" teriak Bia dengan kencang.


Mendengar teriakan istrinya membuat Harraz terkejut.Sungguh istrinya saat ini sudah menjelma menjadi pribadi yang bar-bar seperti saat awal Harraz kenal.


"Wa'alaikumsalam.." jawab orang-orang dari dalam rumah besar itu.


"Sayang,bisa jangan teriak-teriak gitu kan." ucap Harraz mengingatkan.


"Maaf,kebiasaan." jawab Bia dengan meringis .


Harraz hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya itu.


"Kakakkkkkkk !!" teriak bocah empat tahun kemudian berlari menuju Harraz dan Bia.


"Adeeeeee,kangennnnnn..!!" teriak Bia langsung menyambut tubuh sang adik masuk dalam pelukannya


" Kenapa kakak baru pulang, kakak nggak tahu kalau Afa kangen." cerocos bocah itu.


"Kakak juga kangen tapi, kakak harus disana kan sama abang." ujar Bia menunjuk Harraz.


Kanfa yang mendengar sebutan abang pun menoleh pada sosok Harraz yang tersenyum manis padanya.


"Astaghfirullahal'adzim,Kanfa lupa kalau sekarang kakak punya pawang ..hahahaha.."


ucap Kanfa dengan menepuk jidatnya dan tertawa julid pada kakaknya.


"Kanfaaaa,jagan lari ...!!" teriak Bia mendengar ledekan sang adik yang sekarang sudah kabur duluan.


Melihat tingkah istrinya dan adik iparnya tentu Harraz hanya bisa mengelus dada.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2