
Harraz dengan wajah khawatir langsung meminta Umay membawa mobil mereka dan membawa Bia pulang ke ndalem di pesantren.
Tak butuh waktu lama mobil itu pun akhirnya sampai di dalam kompleks Pesantren AL'FURQON.
Perlahan Bia di bawa masuk oleh Harraz dengan menggendongnya ala bridal style menuju kamarnya.
"Ya Allah nak,ada apa sama Bia?" tanya sang umi dengan wajah cemasnya.
"Bia demam mi,bisa minta tolong Aa minta air kompres untuk Bia mi," ucap Harraz dengan perlahan meletakkan tubuh istrinya diatas tempat tidur mereka.
"I_iya, sebentar.." ucap sang umi yang langsung keluar kamar Harraz.
"Ada apa sama Bia Yaz,terus kamu kenapa itu muka kamu ?" tanya sang Abah yang tak kalah cemas melihat kondisi putranya.
"Tadi saat balapan ada beberapa orang yang berusaha mencelakai Ayaz sama Bia bah."jawab Harraz dengan wajah sendu saat melihat kondisi sang istri.
"Lalu bagaimana si pelaku,apa mereka sudah di tangkap?" tanya sang Abah lagi.
"Sudah bah,jangan khawatir..semua sudah selesai."jawab Harraz dengan sedikit terbata mengingat kejadian demi kejadian yang tak pernah dia sangka.
Tak lama sang umi membawa baskom berisi air hangat untuk mengompres Bia.
"Biar umi yang kompres,kamu hubungi dokter buat periksa istri kamu."ucap sang umi pada Harraz.
"Iya,tolong umi kompres Bia Ayaz mau ambil obat Bia."ucap Harraz.
Terlihat Harraz sedang sibuk membongkar kotak yang di maksud sang Daddy dan benar saja ada beberapa obat yang ada disana.
Harraz melihat Chatt yang dikirimkan oleh sang daddy dan tiga butir obat yang Harraz pegang dan merapikan kembali obat-obatan yang ada disana.
"Obat apa itu Yaz,banyak banget?" tanya sang umi.
"Obat dari dokter mi, biasanya Bia minum ini kalau lagi demam gini."jelas Harraz dengan tidak menceritakan apa yang terjadi sebelum nya pada istrinya.
"Sayang,heii.. minum obat dulu yaa..please ," ucap Harraz mengusap pipi sang istri.
Tak lama mata Bia terbuka walau begitu enggan dia membuka.
"Minum dulu yah,nanti terusin tidurnya."ucap Harraz dan berusaha menyenderkan tubuh Bia di dadanya.
Bia menerima tiga butir obat yang di berikan oleh suaminya.Dia tertegun sejenak menatap obat itu dan menatap wajah suaminya dengan pandangan yang begitu sayu.
__ADS_1
"Daddy.."gumam Bia dengan menitikan air matanya.
"Ada Aa disini,Aa nggak akan ninggalin kamu sayang...please jangan pernah berpikir yang tidak-tidak sama A'a." ucap Harraz dengan lirih.
Dengan tanpa ucapan apapun lagi,Bia pun mengangguk dan langsung meminum tiga butir obat yang di tangannya.
"Jangan tinggalin aku.."ucap Bia dengan lirih.
"Nggak akan,sayang.." jawab Harraz dengan mengecup kening istrinya.
Abah dan uminya saat ini masih bertanya-tanya ada apa dengan menantunya itu.
Dilain pihak ada seseorang yang sedang murka karena rencananya gagal.
Prang
Prang
"Aaaagghhhh !!" teriak nya dengan frustasi.
Dia menatap orang-orang yang tertunduk takut padanya.
"Siapa yang melindungi dia,kurang aj*r !!" umpatnya membuat dirinya geram karena saat ini dia gagal dengan rencananya yang tidak pernah dia sangka sebelumnya.
"Maaf bos,kita nggak bisa masuk ke dalam system' Perusahaan milik tuan Harraz, sepertinya ada seseorang yang melindungi system' perusahaan itu." ungkap orang yang mempunyai tugas sebagai hacker.
"Sial !! ternyata aku sudah terlalu meremehkan seorang Harraz Al'Gifari.."
Andreas tak menyangka jika informasi jika King adalah Harraz Al'Gifari seorang pengusaha muda yang memiliki usaha yang terbilang sedang berkembang dan mumpuni dan berpengaruh di dunia bisnis Nasional ternyata banyak misteri lain di balik seorang yang di kenal dengan sebutan Gus muda.
"Gimana wanita itu,apa dia sudah siuman?" tanya Andreas pada salah satu anak buah nya.
"Belum bos,karena memang obat bius yang di berikan oleh orang kita akan membuat kesadaran nya hilang lebih dari 24jam." jawab salah satu anggota Black Panther.
"Kita harus bisa menggunakan dia untuk meneror keluarga Gus Sial*n itu." ucap Andreas dengan senyuman devilnya.
Melihat senyuman yang terbit dari bibir sang bos membuat para anak buahnya pastinya tahu bahwa akan ada rencana besar yang akan di rencanakan oleh Andreas.
......................
"Abah,gimana ini..kenapa Hilya belum sampai rumah."ucap sang istri yang tak lain adalah ibu dari Ustadzah Hilya.
__ADS_1
"Ponselnya juga nggak aktif bu, sampai nanti sore Hilya belum datang..Abah akan cek ke pondok kalau dia tidak ada baru kita lapor polisi." ucap Abah Acan ayah dari Hilya.
"Kenapa nggak telpon Kyai Said buat tanyain Hilya bah?" tanya sang istri.
"Ponsel Kyai Said tidak diangkat-angkat.Nomer orang pondok Abah nggak punya kecuali nomer telpon Kyai Said."ucap Acan pada istrinya.
Kedua orang tua Hilya sungguh sangat khawatir dengan keadaan Hilya saat ini,apalagi Hilya sudah bilang jika sudah jalan pulang dan sampai saat ini Hilya belum juga muncul di rumahnya.
Di Pesantren AL'FURQON kini sudah kedatangan Abi dan para sahabatnya.Untuk para istri tidak di perbolehkan untuk ikut.
"Assalamualaikum Kyai,Nyai ..." ucap Abi pada besan nya itu.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Masyaallah Tabarakallah..besan," ucap Kyai Said menyambut kedatangan Abi dan ke tiga sahabat nya yang mendadak datang ke Pesantren.
Setelah beramah tamah Abi di ajak masuk ke dalam ndalem Kyai Said.
Harraz yang dari semalam belum bisa tidur karena memang mencemaskan keadaan istrinya kini keluar kamar menyambut kedatangan sang ayah mertua dengan tampilan mata yang sudah terlihat tanda hitam di bagian bawah matanya.
"Assalamualaikum dad, om-om semua." ucap Harraz.
"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka tersenyum tipis melihat tampilan Harraz saat ini.
Harraz menyalami ketiga orang sahabat mertuanya dan terakhir terakhir Abi mendapatkan pelukan dari menantunya.
Entah mengapa tiba-tiba Harraz menunjukkan sisi lemahnya pada Abi.
"Sudah son,Bia akan baik-baik saja."ucap Abi menenangkan menantunya itu.
Kedua orangtuanya pun merasa heran dengan apa yang saat ini mereka lihat. Harraz tak merasa canggung dan malu menunjukkan sisi lemahnya pada Abi sang mertua.
Melihat tingkah anaknya itu mendadak hati Kyai Said merasa nyeri dan merasa tak berguna menjadi seorang sosok ayah yang tak tahu kapan anaknya butuh dirinya walau sekedar memeluk nya saja.
"Bia belum bangun dad,aku khawatir."ucap Harraz pada Abi dengan masih menangis pada pelukan mertuanya.
" Sabar son, sebentar lagi Bia akan siuman."ucap Abi menenangkan hati menantunya.
"Gus Arraz ,Gus..Ning Bia...Ning Bia....
Tiba-tiba Wati berlari tergopoh-gopoh dengan wajah terlihat khawatir membuat semuanya langsung berlari menuju kamar Harraz.
Bersambung
__ADS_1