
Bia berusaha membuka matanya dengan perlahan. Yang pertama dia lihat adalah sosok suami nya yang memeluknya erat.
Dia tersenyum manis kala mengingat kembali kejadian semalam.Dia sudah jadi mantan perawan sekarang.
"Gantengnya suamiku."gumam Bia mengusap rahang suaminya yang di tumbuhi bulu-bulu halus.Tangan lentiknya pun menyusuri tubuh kekar itu bermain di dada bidang suaminya.
"Jangan pancing aku sayang.."
Bia terkejut dengan suara serak Harraz yang mengagetkan dirinya.
"Astaghfirullahal'adzim,Aa sudah bangun ternyata?"
"Gimana aku nggak bangun sayang,bahkan adik kecil juga sudah bangun tuh.." ucap Harraz mau membuka selimutnya.
"Aa jangan ,Bia malu..!!" tahan Bia menahan gerakan Harraz
"Hahaha..semua ini hasil kerjaan tangan nakal kamu ini sayanggg ." terang Harraz mengecup lembut tangan Bia.
"Maaf,nggak bermaksud begitu A,sebentar lagi adzan subuh,kita bangun dulu yaa.." ucap Bia dengan manja.
"Hemmm,kita mandi bareng saja biar cepat." ucap Harraz dengan ekspresi wajah yang terlihat mencurigakan.
"Aa kok mandangin aku gitu sih,mencurigakan !!"
"Ya Allah sayang, kamu ini su'udzon gitu sama suami.Oke,Aa janji nggak akan ngelakuin hal aneh-aneh,janji !" ucap Harraz meyakinkan dengan mengangkat dua jarinya βοΈ
Bia pun mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.Saat akan beranjak dari tempat tidur nya tiba-tiba Bia meringis.
"Ittsssss."
Ringisan Bia otomatis terdengar di telinga Harraz.
"Sakit yaa,maaf yaa," ucap Harraz merasa bersalah pada sang istri.
"Nggak apa-apa A',cuma perih sama kayak ada yang ganjel gitu.."jawaban Bia membuat Harraz serba salah mau ketawa tapi,lihat sang istri kesakitan kalau nggak ketawa denger ada yang ganjel.Astaga,hanya senyum tipis terlihat dari bibir Harraz.
__ADS_1
"Kamu tunggu sebentar," ucap Harraz langsung beranjak dari tempat tidur nya.
"A'aaa..por*o !!" pekik Bia saat melihat suaminya dengan entengnya melenggang masuk ke dalam kamar mandi dengan tubuh polos.
Harraz tak menanggapi ucapan Bia ,yang dia lakukan adalah menampung air hangat untuk istrinya,untuk merilaks kan tubuh istrinya.
Tak butuh waktu lama Harraz kembali ke kamar dengan lilitan handuk di pinggangnya.
Dia pun menggendong tubuh polos istrinya.Mati-matian Harraz menahan diri nya untuk tidak melakukan tindakan yang membuat istrinya tak nyaman.
Tubuh Bia dia masukkan di dalam buthabe sedangkan dirinya mandi di bawah guyuran shower yang mengalirkan air hangat .Sungguh moment itu membuat Bia menggigit bibir bawahnya melihat penampilan suaminya yang tanpa malu memamerkan otot-otot nya sampe lato-lato nya pun terpampang jelas di depan Bia.Apalagi dengan tampilan sang lato-lato menantang untuk tempur kembali.
Setelah keduanya sama-sama membersihkan diri mereka langsung menunaikan shalat subuh berjamaah.
Bia mencium tangan suaminya dengan takzim dan Harraz pun mencium kening sang istri dengan lembut.
"Gimana,apa masih sakit itu nya ?"tanya Harraz dengan lirih.
"Nggak kayak pertama A' kenapa,Aa mau lagi?" tanya Bia dengan polosnya.
"Kalau Aa mau ,Bia siap-siap saja."jawaban Bia membuat Harraz tersenyum cerah.
Bia sudah menduga bahwa suaminya pasti ketagihan si kudanilnya berenang di kolam surgawi nya.
Harraz pun membangun istrinya merapihkan sajadah dan membantu membuka mukena sang istri.Dengan senyuman manis keduanya saat ini mereka melakukan nya lebih rileks tidak seperti yang pertama.Karena mungkin yang pertama mereka masih sama-sama penasaran. Yang kedua ini mereka lakukan dengan santai bahkan mereka masih selipi dengan kata-kata candaan dan juga pujian pada pasangannya.
Apalagi Bia sempat melotot melihat kudanil suaminya yang terlihat wow banget ,ukuran besar dan juga memanjang.Bia menelan silvanya dengan kasar melihat benda di hadapannya membayangkan bagaimana nggak sakit benda sebesar itu masuk kedalam kolam sempit nya.
"Kok lihatin adek Aa gitu amat yang,kenapa..mau pegang?" goda Harraz melihat tingkah istrinya yang sedang melotot melihat si adik kecil yang perkasa itu.
"Ng_nggak ah A' kok bisa ngembang begitu sih?"
Pertanyaan absurd yang diajukan Bia membuat Harraz terbahak-bahak
"Ya ampun sayang,emang kata si Boy milik ku kue donat ,ha..ha..ha..ha.. ada-ada saja kamu."
__ADS_1
Harraz yang sudah polos tanpa sehelai benang pun masuk ke dalam selimut tebal dan menarik tubuh Bia supaya lebih dekat dengannya.
Harraz membenamkan bibirnya di bibir Bia lalu dengan lembut dia lidah buaya nya pun akhirnya menelusup masuk mengobrak abrik mengeksplore dengan penuh semangat.
Akh! dessahan Bia lolos sudah.Merasakan sentuhan yang di ciptakan Harraz membuat dirinya mabuk kepayang.
Dengan cepat Harraz membuka penghalang di tubuh istrinya yang masih memakai baju tidur itu dan membuang kaca mata pabrik susu milik Bia.
Terpampang nyata pabrik susu yang lumayan besar dan padat.Harraz menyusuri bukit yang sudah ujung nya sudah menjulang tinggi yang membuat dirinya tergoda untuk melahapnya.
Benar saja Harraz kini seperti bayi dugong yang sedang sibuk dengan kegiatan merasakan pabrik susu murni milik Bia.
Sementara Bia susah payah menahan desah*nnya dan terus mengigit bibir bawahnya .
Sementara di bawah sana sudah terasa berkedut- kedut karena reaksi apa yang di lakukan Harraz.
"Aa' belum kenyang emang..Akh!!"
Ucap Bia disela-sela kesibukan suaminya mengolah bukit tandus dan mulus milik Bia itu.
Keduanya larut dalam nyanyian syahdu di pagi hari.Serangan fajar Harraz membuat Bia terbuai.Kudanil sudah berenang kesana kemari menciptakan irama yang menambah semangat dua insan yang saling menyalurkan rasa cinta yang semakin tumbuh.
Harraz semakin mabuk kepayang karena merasakan denyutan manja dari lubang surgawi milik istrinya.Rasanya tak ingin dia mengalihkan dunia nya dari hadapan istrinya yang semakin lama semakin membuat dirinya sangat memuja keindahan yang yang di ciptakan Tuhan untuk dia pandang dengan sepuas-puasnya.
Hawa dingin dan hujan lebat mengguyur daerah pedesaan di daerah yang di juluki kota hujan itu.
Sudah tiga kali nambah namun Harraz tak ingin mengakhiri kegiatan nya itu.Namun,saat melihat istrinya yang terlihat kelelahan tentunya dia merasa kasihan.Setelah membantu Bia membersihkan diri dan menggendong tubuh Bia ke atas tempat tidur.
Harraz segera memungut pakaian mereka yang sudah berserakan di kamar mereka lalu dengan telaten dia pun membantu Bia berpakaian.Setelah itu dia membuat susu untuk sang istri dan roti panggang untuk mengganjal perut sementara.
Bia pun mengajak Harraz untuk kembali tidur karena rasa lelah mendera.Harraz dan Bia kembali terlelap setelah serangan Fajar sampai jam sembilan pagi mereka baru selesai .
Hadeuh..maruk apa doyan nih Aa',nggak nanggung-nanggung sampe lemes Author π€£π€£π€£
Maaf ya beberapa hari ini Author slow up lagi sibuk sama audisi Famili π― sama super deal, keluarga mau ikut partisipasi π
__ADS_1