
"Jangan !!!" teriak Hilya terlihat panik.
"Woooww..ternyata kamu panik karena sebuah kotak, hahahaha.."
Tawa Bia yang jiwanya sekarang di kuasai Safitri sungguh membuat bulu kuduk berdiri.
"Kamu sudah salah memilih musuh wanita psikopat !!" teriak Safitri menunjuk pada Hilya dan dengan mata tajamnya.
"Gus Arraz ,tolong bebaskan saya.Saya mohon ," ucap Hilya yang melihat ke arah Harraz dengan wajah memohon.
"Waahhh..punya nyali besar kamu meminta bantuan suami saudaraku,hemm," ucap Safitri.
"Sa_saudara maksudnya?"
"Kamu salah sayang, kamu sekarang berhadapan dengan jiwa iblis adikku...hahahaha.." tawa nyaring Safitri memaksa Harraz keluar dari ruangan itu.
"Gus Arraz,jangan pergi,Gus..Gus..!!" seru Hilya melihat sosok Harraz keluar dari ruangan itu.
"Hemmm..bagaimana,kamu lihat dia tak pernah peduli dengan mu.Jadi,jangan pernah berfikir untuk membuat dia berpaling dari istrinya.Kamu sudah salah memancing musuh.Kamu membuatku keluar dari persembunyian.Kamu musuh yang perlu di musnahkan." ucap Safitri dengan sedikit berbisik pada Hilya.
"Ka_kamu gil* !!" umpat Hilya.
"Aku berbuat seperti ini karena kamu.Kamu sudah memaksa untuk melakukan yang tak pernah Bia inginkan.Dia masih menghargai mu,tapi..kamu begitu sombong pada nya cuma karena kamu hebat dalam berkuda.Kamu pun berusaha licik dengan mengirim bangkai ayam dan tikus ke Pesantren.Lalu malam ini kamu akan membuat dia mati di gigit ular,itu semua sudah Bia tahu.Apa salah Bia padamu,apa pernah dia menyakitimu dan membuatmu terluka,pasti tidak kan,"
"Dia sudah merebut Harraz dari ku,dia sudah menghalangi jalan ku untuk menjadi istri Gus Harraz.Kalau doa tak muncul pasti Ibu nyai dengan senang hati menerimaku menjadi menantunya." ucap Hilya dengan suara yang terdengar tinggi.
"Inilah..inilah sifat kamu yang sudah buat hancur dirimu sendiri.Heiiii..Ibu nyai nggak bod*h menyerahkan anaknya yang baik untuk orang jahat seperti mu." ucap Safitri tak kalah tingginya.
Sementara orang suruhan yang menjadi kurir barang yang akan di berikan pada Hilya masih diam dan melihat aura Safitri membuat dirinya sangat takut.
"Kamu,kacung Black Panther..jangan pernah berfikir Bia dan aku tidak bisa mencium bau khas kalian.Kalian sudah salah memancing kami untuk memusnahkan kalian untuk kedua kalinya !!" bentak Safitri pada sang kurir.
"Eeemmmm..Emmmmmm!!"
Orang itu mulai bereaksi dengan memberontak berusaha untuk melepaskan diri nya.
Safitri terlihat lebih kalem namun,terlihat dari matanya dia tidak akan melepaskan musuhnya.
"Kamu ingin lepas dari sini?"tanya Safitri pada laki-laki itu.
Dengan cepat laki-laki itu mengangguk anggukan kepala nya pertanda mengiyakan.
__ADS_1
Safitri dengan membelakangi keduanya membuka kotak yang orang tersebut bawa.
Ssssssss ...
Suara desisan dari dalam kotak itu membuat Safitri tersenyum licik.Dengab mudah dia memegang hewan melata itu dengan jumlah dua ekor itu.
Hewan melata dengan bisa beracun itu dia ambil dan perlahan membalikkan tubuhnya menatap kedua orang yang duduk terikat di kursi kayu di depannya.
"Bersiaplah,aku akan kirim dia kembali pada pemiliknya.. hahahaha.."
Safitri meletakkan dua ekor ular dengan bisa mematikan itu ke tubuh laki-laki itu yang terlihat pucat pasi dan langsung tubuhnya bergetar menahan ketakutan nya.
Brekkkk .
Safitri melepas lakb*n yang menutupi mulut Orang itu dengan kasar..
"Aaaaaaa..." teriakan karena kesakitan yang dirasa di mulut nya karena lakban dan karena gigitan hewan melata itu pada lehernya.
Hilya yang melihat kejadian itu wajahnya sudah pucat dan tubuhnya tak kalah bergetar.Keringat dingin membasahi dahinya dan anggota tubuh lainnya.
Terlihat santai namun,begitu kejam apa yang di perbuat Safitri di depan matanya.
"Gimana rasanya melihat orang itu mat* karena gigitan ular itu.Kalau itu terjadi pada Bia pastinya kamu akan senang dan merasa menang,benar kan?" teriak Safitri di depan Hilya.
"Bohong,pasti kamu senang dengan keadaan Bia yang seperti itu kan?!" bentak Safitri.
Hilya masih menggelengkan kepalanya dan tanpa aba-aba air matanya mengalir deras dari matanya.
Plak..
Plak..
Tampara* keras mendarat di pipi Hilya kanan dan kiri hingga meninggalkan bekas merah dan tanda di pipi itu.
"Aaaaaaa...sakit,hiks hiks hiks.." tangis Hilya tambah terdengar dan begitu keras meraung.
"DIAM !! bentak Safitri pada Hilya Namun,bukannya berhenti menangis malah tangis itu makin lama makin keras.
Brakkk...
Dengan tak berperasaan Safitri menend*ng Hilya sampai tersungkur..
__ADS_1
"Aaaaa...ahh.. isssttt..," teriak Hilya merasakan sakit di perutnya.
Safitri membuka ikatan Hilya dan dan setelahnya mencengkram erat dagu Hilya.
"Ini nggak seberapa dengan apa yang kamu lakuin beberapa waktu ini." ucap Safitri dengan mata tajamnya.
"Sa_sakit..lepas,aku mohon," ucap Hilya dengan merintih kesakitan.
"Dimana jiwa psikopat kamu selama ini hemm,hilang kemana,apa karena kamu sudah punya sekutu jadi kamu merasa jadi ratu hemm.,"ucap Safitri.
"Kamu salah mencari partner Hilya,kamu salah mencari musuh,kamu tahu dia nggak akan ngusik kamu jika kamu nggak ngusik dia.Tapi, betapa beraninya kamu memberikan akses pada pecund*ng itu untuk mencelakai Bia dan Harraz !!"
Ucapan Safitri membuat Hilya terhenyak apalagi nama Harraz disebut.Nama pujaan hatinya menjadi target.
"Kenapa kaget,Harraz adalah the next King Black Diamond dan Bia adalah Queen Black Diamond.Mereka,sekutumu adalah musuh besar Black Diamond dan itu berarti aku adalah pengkhianat.Kamu yang memberikan akses untuk melenyapkan keturunan Black Diamond.,"
"Nggak,nggak mungkin,Andreas akan membuat Harraz menjadi milikku dan dia akan menghancurkan Bia !!"teriak Hilya.
"Wowwww..itu tidak akan mungkin ,mereka adalah satu dan tidak akan ada yang bisa membuat mereka terpisah kecuali Tuhan." ungkap Safitri.
"Kalau aku nggak bisa miliki Harraz itu berarti itu salahmu,aku sudah benar..aku ingin melenyapkan kamu..!!" teriak Hilya.
Hilya mendorong tubuh Bia dan dengan tenaga Hilya yang tersisa bisa membuat Bia terduduk karena dorongan kencang Hilya.
Safitri dengan cepat bangkit dan mendorong tubuh Hilya dan menghimpitnya ke tembok dan mencek*k lehernya.
"Le...le_pas..le_paskan aku !!"
Dengan suara terbata Hilya berusaha melepaskan tangan Safitri yang mencengkram kuat di lehernya.
"SAFITRI !!" teriak Harraz dan langsung berusaha melepaskan cengkraman dileher Hilya.
"Please sayang,kembali..jangan buat dia mat* karena ulah Safitri.." ucap Harraz tepat di depan Bia yang masih mencengkram erat Hilya.
Perlahan tangan itu mengendur dan terlepas dari leher Hilya.
"Uhuk uhuk uhuk..
Hilya lemas dan terbatuk karena cengkraman itu.Dia pun bersadar dengan mata merah dan menangis leher yang lebam dan tenggorokan nya yang terasa sakit ditambah melihat dimana Harraz memeluk Biasanya menci*m wajah Bia tanpa di tutup cadar.
Hilya baru benar-benar meneliti paras Bia yang begitu cantik dan polos tanpa make up dan terlihat putih bersih.
__ADS_1
Ternyata begitu cantik dan menarik sosok yang menjadi tambatan hati sang pujaan hati.Apalagi melihat tingkah Harraz yang begitu mencintai Bia.
Bersambung