Karena CINTA Itu Ada

Karena CINTA Itu Ada
#Memulai dari Awal.


__ADS_3

Harraz pun tanpa malu-malu lagi menangis tersedu mengingat semua kenangan yang membuat dirinya sangat membenci ayahnya.


"Dia jahat dek,dia buat semuanya hancur.Abah yang aku banggakan menjadi Abah paling brengs*k yang pernah ada di dunia ini."umpat Harraz dengan membenamkan wajahnya di perut Bia.


Bia mendengar kisah suaminya pun tanpa sadar meneteskan air matanya,dengan segera dia menyeka air mata yang hampir jatuh di sudut matanya.


"Menangis lah,keluarkan semuanya supaya besok nggak ada lagi kesakitan dalam diri Aa,aku juga pernah merasa kecewa dengan semuanya apalagi Daddy yang dulu terkesan tak memperjuangkan mama.Tapi, itu karena Oma uyut yang sudah membuat Daddy ninggalin mama yang sedang hamil muda."ucap Bia.


"Aku tahu kita bisa seperti ini karena peristiwa yang tidak mengenakkan bagi kita namun,harus kamu tahu aku nggak akan main-mai sama hubungan kita.Cinta mungkin sudah ada di hati Aa buat kamu tapi, kamu perlu tahu Aa sudah terlanjur nyaman sama kamu,cuma kamu perempuan yang sudah berhasil membuat Aa nyaman dan merasakan disayang dan menyayangi.Mau kan kamu bersama saya untuk kita sama-sama mengabdi dalam hubungan kita ini."ucap Harraz dengan menggeram tangan Bia.


"I_iya A, aku mau..tolong bimbing aku,jika aku salah tolong tegur aku dengan baik tidak dengan marah-marah atau bahkan membentakku.Karena orang tuaku tak pernah memperlakukan aku kasar A."ucap Bia


"Insyaallah,terima kasih sudah mau berjuang untuk disamping ku."ucap Harraz.


Bia mengangguk dengan wajah bersemu merah karena malu dengan tatapan Harraz yang sangat berbeda.Ada kelembutan dan ada tatapan mata yang begitu menawan hatinya.


"Emmm..kita tidur deh A,besok harus kuliah kan.."ucap Bia


"Iyaa..udah ngantuk yah, padahal Aa mau ajakin ngusir setan tapi, kapan-kapan saja lah." ucap Harraz dengan nada candaan.


"Hahh...ngusir setan,ogah ah..serem pastinya."ucap Bia langsung menutupi tubuhnya dengan selimut tebal nya.


"Hahaha...bukan ngusir setan itu sayang,Aa mau ngajak kamu ngusir Jin Dasim biar dia ngibrit kalau lihat kita..." Harraz membisikkan sesuatu pada Bia yang membuat Bia membeku mendengar nya.


Tiba-tiba bulu kuduk nya berdiri mendengar kata keramat khas suami istri.


"A,maaf bukan maksud Bia mau nolak Aa..boleh kan kalau jangan sekarang please..?!" ucap Bia dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya memohon pada suaminya.


"Sayang, Aa nggak maksa kamu kok.Sekarang kita tidur, besok kita berangkat pagi,sini...kalau peluk boleh dong," ucap Harraz dengan wajah memelas.


"Bo_boleh kok."ucap Bia.


Mereka pun tidur dengan posisi yang terlihat intim.Kali ini Harraz terang-terangan memeluk tubuh istrinya.Tubuh mereka terbungkus dalam selimut dengan kebiasaan Harraz yang tak bisa tidur nyenyak jika pakai baju.Jadilah dengan wajah malu-malu Bia merapatkan tubuhnya di dalam dekapan Harraz.

__ADS_1


Nyaman ,namun...jantung mereka berdebar kencang karena kali ini mereka melihat sangat intim.Saat tangan Harraz meraba punggung Bia,membuat Bia langsung mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya yang terlihat memerah.


" Pabrik susu murninya kayaknya nggak di gembok yang.." bisik Harraz.


"Hahh..Aa ah..mesum..!!" umpat Bia dengan memukul dada bidang suaminya.


"Hahaha ..kamu lucu banget sih yang,kenapa malu kan aku suami kamu.Nggak papa lah belum bisa ngerasain produk nya yang penting udah tau kira-kira ukuran pabrik susu murni punya istri ku ini.."goda Harraz membuat Bia malu.


"Ihhh...Aa..hheeujsuhhh.."


Tanpa aba-aba lagi Harraz melahap bibir ranum merah asli milik Bia.Harraz sudah tak tahan dengan godaan bibir yang ada di depan matanya.


Harraz membuat Bia terbuai dalam rengkuhan cinta yang baru bersemi.Harraz membuat Bia ikut bermain di sana mengimbangi gerakan suaminya walaupun masih kaku.Harraz merasa senang ternyata istrinya mau membalas dengan usaha yang begitu keras dan membuat dirinya pun makin terbuai.Decakan khas bertukar Silva pun menghiasi kamar pribadi Harraz yang biasanya sepi kini terlihat memanas setelah saling terkait satu sama lain.Terlihat Bia sudah mulai kehabisan nafas Harraz mengehentikan aksinya.Menghapus sisa-sisa basah di bibir merah istrinya.


"Sorry ,Aa nggak tahan sayang..nggak marah kan,anggap saja Aa lagi nyicil ."ucap Harraz membelai lembut wajah Bia.


"Ng_nggak A,maaf kalau Bia nggak bisa melakukan kewajiban Bia malam ini."ujar Bia dengan menatap wajah suaminya dengan sedih.


"Sekarang tidur yaa..sudah larut malam."ujar Harraz langsung mematikan lampu kamarnya dengan menyisakan lampu tidur yang ada di atas nakas.


.


.


Pagi menjelang Bia pun ikut membantu menyiapkan sarapan untuk suaminya.Di dapur ndalem sudah sibuk sedari habis subuh para mbak dan mas ndalem menyiapkan sarapan untuk para santri.


"Ning Bia ada yang bisa Wati bantu?"tanya Wati yang di tunjuk Bu Nyai untuk mendampingi Bia dalam kegiatannya.


"Nggak ada kok mba Wati, saya buat kopi saja..mba Wati tolong buat teh untuk Abah Yai sama Bu nyai saja."ucap Bia


"Baik nIng.."ucap Wati dan langsung menjalankan tugas dari sang Ning.


.

__ADS_1


.


"A,kopinya.."ucap Bia saat melihat suaminya sudah selesai mandi dan sudah rapih-rapih.


"Terimakasih sayang.."ucap Harraz makin lancar memanggil Bia dengan sebutan sayang.


"Sama-sama A'gus suami.."jawab Bia dengan senyuman manisnya sambil merapihkan tempat tidur mereka


"Kok Agus suami sih yang..?" protes Harraz.


"Lahhh itu panggilan sayang Bia sama A'a.Sama kayak panggilan Aa artinya (Aa Gus Suami) ."ucap Bia dengan santainya memberi alasan.


"Kamu ada-ada saja manggil nya."ucap Harraz mendengar penjelasan sang istri.


"Hehehe...biar lebih spesial,walau nggak pake telor dua yang jelas itu sangat spesial dari sayang buat A'gus suami."


Harraz hanya geleng-geleng dengan terkekeh mendengar ucapan istrinya yang ternyata suka bercanda.


Drrrttt... Drrrrrttt..


πŸ“žOm Gema Calling...


Terlihat panggilan dari Gema membuat Bia melirik suaminya.Harraz yang mendengar suara ponsel Bia berbunyi pun mengarahkan pandangannya pada istrinya yang terlihat sedang menatap nya.


"Kenapa,ada masalah?"tanya Harraz melihat raut wajah istrinya yang terlihat berbeda.


"Nggak ada,Bia ijin untuk angkat telpon A' ada telpon dari Om Gema."ucap Bia dengan memperlihatkan panggil yang masuk ke ponselnya pada suaminya.Berharap dengan sikapnya itu Bia meminimalisir terjadinya konflik atau salah paham.


Harraz pun mengangguk mengiyakan permintaan istrinya dan dengan cepat Bia dengan sedikit berlari menjauh dari suaminya.


"Assalamualaikum Om..." ucap Bia dengan nada bicara yang terlihat berbeda.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2