
"Oke,ini rahasia antara kita."ucap Bia menyodorkan kelingking nya ke depan Kanfa.
"Janji,Queen dan Prince together Forever " ucap keduanya sama-sama tertawa terbahak-bahak.
Kiran yang cemas memikirkan keadaan Bia memutuskan memanggil dua anaknya untuk masuk kedalam rumah.
"Wahhh..kayaknya ada yang lagi bahagia,mama ikut dong," ucap Kiran melangkah mendekati kedua anaknya.
"Yee mama,nggak usah kepo deh," cibir Kanfa pada sang mama.
Mendengar cibiran putranya membuat Kiran mendelik ke arah Kanfa.Sementara Bia hanya terkekeh melihat kelakuan ajaib sang adik.
"Kamu nih,siapa yang ngajarin nggak sopan sama mama?!" tanya Kiran mencubit gemas pipi gemoy sang putra.
"Aduh duh duh pipi bapao ku nanti keriput mah,isssttt.." ringis Kanfa mendapatkan cubitan gemas dari sang mama.
"Hahaha..keriput kayak kulit nenek-nenek hahaha.."ledek Bia tertawa terbahak-bahak melihat Kanfa yang menatap dengan wajah kesalnya.
"Aisssttt...kakak nggak ada akhlak emang,bukannya bantuin malah tambah di jatohin." protes Kanfa.
"Sudah-sudah kita ke rumah,sudah pada nunggu kalian loh..kalian kalau sudah main berdua lupa waktu.Terus kamu juga Bia,sudah punya suami loh." ucap Kiran mengajak dua anaknya untuk masuk ke dalam rumah.
"Haiisttt mama,nggak bakalan lari juga bang Arraz.Kalau sampe ninggalin kakak Kanfa yang cantiknya nggak keukur dia bakalan nyesel." ucap Kanfa serasa seperti ucapan orang dewasa.Padahal umurnya di bilang masih anak-anak belum menginjak angka 5.
Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah Kyai Said bergabung dengan yang lain.
"Makan siang dulu sayang,jangan capek-capek,"ucap Abi pada putrinya.
"Iyaa dad," jawab Bia dengan senyuman mengembang.
Mereka makan siang dengan saling bertukar cerita dan disertai dengan celetukan Kanfa yang buat tertawa karena terbiasa membully Kakak tercinta nya.Bia pun akhirnya memilih mengadu pada Harraz.Tanggapan Harraz yang selalu membuat lainnya gemas karena kebucinan mereka.
...----------------...
__ADS_1
Setelah beberapa hari terlewati dengan baik oleh Bia.Dia pun akhirnya memilih untuk melakukan kuliah melalui Online karena saran dari Abi sang daddy juga Harraz yang terlihat mengkhawatirkan kondisi sang istri.
Selama beberapa hari ini setelah kejadian di markas Scorpion para sahabat Bia masih belum ada yang menyangka bahwa Bia bisa melakukan hal kejam itu.Namun,atas ucapan Harraz dan penjelasan Harraz semua pun ikut prihatin apalagi Ke lima sahabat Bia yang teringat masa dimana melihat di masa SD suka di bully oleh siswa lainnya dan selalu membuat Bia menangis karena pembullyan itu.
Sungguh miris jika mengingat momment saat Bia kecil.Mereka tak menyangka jika dampaknya bisa seperti itu.Walaupun bagaimana mereka akan tetap menjadi sahabat yang selalu mensupport Bia apapun keadaannya.
Mereka pun sadar dan maklum karena mungkin saat itu dia sudah merasa terancam dan juga merasa takut akan sebuah kata kehilangan.
Di desa tempat asal Hilya setelah seharian Hilya tak ada kabar.Tiba-tiba saat pihak keluarga akan melaporkan tentang hilangnya Hilya tiba-tiba dia muncul dan meminta maaf karena menurut keterangan Hilya ponselnya dan tasnya semuanya hilabg karena kena copet dan beruntung di tolong seseorang untuk mengantarnya ke rumah orang tuanya.
"Ya,kamu nggak bisa keluar dari Pondok dalam waktu dekat ini?"tanya Sofyan bapak Hilya.
"Ndak bisa pak,Hilya kan sudah tanda tangan kontrak kerja dengan Pondok dan itu keprofesionalan Hilya.Lagi pula Hilya nggak mau kalau pihak pondok anggap Hilya lancang." ujar Hilya.
"Tapi, anak kyai dari Jember itu yang bapak bilang akan melamar mu dalam waktu dekat ini." ujar si bapak.
"Bapak bisa bilang kan, sama si Kyai itu..bilang kontrak kerja Hilya masih satu tahun lagi." ucap Hilya mulai kesal dengan sang bapak.
" Yah , kamu memang nggak bisa tunangan dulu baru setahun kemudian kamu nikahnya." ujar si bapak.
"Baiklah," ucap si bapak dengan wajah kecewanya.
Akhirnya setelah pembicaraan itu Hilya masuk kamarnya dan ibu Hilya duduk di depan suami nya .
"Gimana pak,dia mau?" tanya si ibu pada sang suami.
"Nggak mau buk,dia minta waktu satu tahun."jawab sang suami.
" Semoga saja dia nggak masih mengharapkan Gus Arraz buat jadi suaminya.Karena ibu kasihan sama Hilya,selama bertahun-tahun sejak ada Gus Arraz dia berusaha maksimal buat narik perhatian Gus Arraz namun,nggak ada hasilnya.Malah dia nikah sama anak yang nggak punya background pesantren." ujar ibu dari Hilya mengingat kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan sang putri .
"Semoga dia nggak pernah berpikir jahat saja Bu, bagaimana pun kita sudah beda kasta sama keluarga Kyai Said apalagi menantunya itu Ning Bia dia anak orang kaya, berpendidikan tinggi sudah pasti kalah saing,parasnya saja sudah beda jauh Bu." jelas Pak Sofyan yang teringat akan paras seorang Abia Kiradzki Mahardika sosok misterius dan juga tertutup namun dia yakin paras Bia yang cantik jelita.
"Pak pak,mana mungkin kamu lihat wajah nya.Dia kan tertutup rapat pak." ucap sang istri.
__ADS_1
"Feeling Bu.."jawab pak Sofyan.
Ibu Hilya yang mendapat jawaban nyeleneh suaminya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Dilain sisi di tempat Bia berada yaitu lingkungan Pesantren AL'FURQON Bia kini punya kegiatan baru yaitu belajar ngaji da juga hafalan.
Bia lakukan dengan baik dan Harraz optimis akan hal itu.Dia tahu istrinya itu adalah anak yang cerdas.Sementara pembangunan rumah Harraz pun masih dalam pengerjaan.Bangunan itu sebenarnya sudah ada namun dengan pondok yang terlihat kuno karena memang bekas rumah salah satu penduduk yang tanahnya Kyai Said beli.Saat ini jadi nya Harraz merenovasi dan menambah penambahan bangunan supaya terlihat lebih modern.
"Ndok',gimana ngajinya ..semua lancar kan?" tanya Umi Kalsum pada sang menantu.
"Alhamdulillah semua lancar umi,Bia juga senang dengan kegiatan Bia yang sekarang.Setidaknya bermanfaat umi."ujar Bia.
"Assalamualaikum Bu nyai,Ning Bia,maaf ganggu." ucap Wati yang saat ini masuk ke dalam ndalem.
"Wa'alaikumsalam." jawab Umi Kalsum dan Bia.
"Ada apa mba?" tanya sang Nyai.
"Ngapuntenipun Bu Nyai,ini ada paket buat Ning Bia." ucap Wati menyerahkan kotak dari tangannya.
Bia menerima kotak itu ringan kata pertama terucap dari mulut Bia.
"Dari siapa ndok',apa dari mama kamu?" tanya Umi Kalsum
"Bukan mi,"Bia melihat pengirim nya namun tidak tercantum disana.
Bia mengernyitkan dahinya,dan menatap umi Kalsum sekilas juga Wati yang masih terlihat ada disana.
"Apa yang akan terjadi,aku harus hadapi." ucap Bia dalam hati.
Bia dengan sedikit ragu membuka kotak itu disana juga disaksikan oleh umi Kalsum dan Wati.Saat mereka sama-sama melihat isi kotak itu,mereka penasaran dengan apa yang ada dalam kotak itu.
"Astaghfirullahal'adzim.."
__ADS_1
Bersambung