Karena CINTA Itu Ada

Karena CINTA Itu Ada
#Bia Marah


__ADS_3

"Sorry Bi,karena gue Lo ikut kena semprot dosen killer itu."ucap Nayla yang tak enak hati pada Bia.


"Sudahlah,nggak usah khawatir.Awas aja bakal aku balas nanti ..."ucap Bia dengan melenggang ke arah kantin.


Bia kesal dengan sikap suaminya yang terlihat semena-mena,apalagi Bia dan Nayla belum menjelaskan apa yang terjadi saat itu.


Bia dan juga Nayla kini sudah ada di kantin,mereka memesan bakso dan juga es jeruk.Bia pun membuka buku nya dan membaca sambil memakan bakso yang dia pesan.


"Pak Harraz ngapain sih pake ngeluarin kita,dia kan belum tahu kenapa kita ngobrol."ujar Nayla kesal.


"Awas saja kamu A, seenaknya sudah ngeluarin aku dari kelas."batin Bia mengingat perlakuan suaminya yang terbilang killer.


.


.


Sementara di kelas pun Harraz tak tenang karena sudah mengusir istrinya keluar dari kelasnya.


"Pasti dia marah, hadeuhhh..gimana caranya bujuk dia nanti."batin Harraz.


Saat di sela-sela kesibukan ngajarnya Harraz mengirimkan pesan pada istrinya.


A'gus suami


πŸ“©"Sayang kamu dimana?"


Pesan terlihat sudah Biasa baca namun,belum ada balasan dari istrinya itu.


Disisi lain Bia melihat pesan yang masuk dari suaminya sengaja tak dia balas.


"Sekarang aja nanyain dimana.Tadi saja tega banget ngusir dari kelas,dasar suami ngeselin."gerutu Bia menatap ponselnya.


"Lo kenapa Bi,ada masalah?"tanya Nayla yang melihat sahabatnya ngedumel tak jelas.


"Nggak ada apa-apa,ada orang yang Kirin chatt sok-sokan nggak butuh,giliran nggak ada baru nanya dimana,basi banget..!!" ujar Bia kesal.


"Ya udah,nggak usah di bales kelar kan,kalau dia butuh juga bakalan nyariin."ujar Nayla.


Benar saja Bia tak membalas pesan dari suaminya.Setelah selesai makan di kantin mereka ke perpustakaan.


Saat asyik membaca buku ponsel Bia bergetar tertera nama suaminya di dalam kontaknya.

__ADS_1


Bia hanya bisa menghela nafas panjang dan langsung memasukkannya kembali dalam tasnya.


Bia pun benar-benar tidak peduli dengan panggilan telepon yang masuk di ponselnya.


.


.


Harraz yang sudah selesai mengajar pun merasa tidak tenang dengan istrinya tidak menjawab telponnya sedari tadi.


Dia sempat kekantin namun,dia tidak menemukan Istrinya di sana.Ke taman kampus pun tak ada lalu dia ke toilet dia memeriksa apakah ada istrinya atau tidak dan saat dia ingin meninggalkan toilet tiba-tiba Nayla keluar dari dalam toilet.


"Ehhh...pak Harraz,maaf.."ucap Nayla yang hampir menabrak Harraz


" Nggak apa-apa,kamu lihat Bia dimana Mau?" tanya Harraz dengan nekad menanyakan Bia pada Nayla.


"Bi_Bia,dia di perpus pak.Ada ap.....


" Belum juga selesai dengan omogannya tiba-tiba Harraz langsung pergi begitu saja meninggalkan Nayla yang pastinya penuh tanda tanya besar.Apalagi melihat tingkah dosennya itu yang terbilang aneh.


"Kenapa pak Harraz kayak khawatir gitu,'" gumam Nayla.Namun,Nayla tak ambil pusing dengan sikap dosen killer nya itu.


Hal itu membuat Bia merinding,karena jarak mereka yang tidak lebih dari satu lengan.


"Ini bukunya,makanya punya badan jangan pendek."ucap seseorang dengan berbisik di telinga Bia membuat bulu kuduk Bia berdiri.


Apalagi dia menyadari suara yang dia dengar barusan adalah suara suaminya.


"A, maksudnya Pak.."ucap Bia dengan menundukkan kepalanya.


" Dari tadi aku telpon kamu dek, kenapa nggak diangkat.Chatt pun nggak di bales.Kenapa,marah sama A'a?" tanya Harraz dengan suara lirih dan juga jarak yang begitu dekat.


"Aa apa-apaan coba buat kesel aku ,Aa tuh udah buat malu aku."ucap Bia menatap tajam suaminya.


"Sorry,maafin Aa yah..sekarang kamu ikut Aa ya, please ." ucap Harraz dengan wajah memohonnya.


" Mau ngapain,aku lagi sibuk..sudah sana Aa mendingan pergi.Nanti takutnya ada yang lihat."ucap Bia mendorong tubuh Harraz menjauh dari dirinya.


"Sayang,jangan marah dong...Aa minta maaf yaa.. please,yang.. sayangggg.." mohon Harraz dengan suara yang terdengar manja.


"Aa apa-apaan sih,nggak usah kayak gitu..sudah sana,kamu mau kerja kan..sudah sana.."usir Bia dengan mendorong tubuh Harraz.

__ADS_1


"Ehemmmm.."


Mendengar deheman seseorang kedua orang yang sedang sibuk beradu mulut pun berhenti seketika.


Harraz dan Bia pun melihat kearah ujung koridor.Terlihat Nayla yang sudah berdiri disana dengan wajah yang terlihat menatap tajam ke arah Bia dan Harraz dengan dua tangannya dilipat di depan dadanya.


Harraz pun akhirnya dia memutuskan pergi meninggalkan Bia.


"Nay kamu...


" Lo hutang penjelasan sama gue.." ucap Nayla dengan wajah yang ketus.


Bia menghela nafas panjang dan melangkah mendekati Nayla dan merangkulnya lalu mereka keluar dari perpustakaan.


Kini keduanya ada di taman kampus di salah satu sudutnya duduk di kursi taman yang ada di bawah pohon rindang.


"Lo punya rahasia apa sama pak Harraz?" tanya Nayla dengan tatapan menyelidik.


" Emmmm... sebenarnya,aku sama pak Harraz kita itu suami istri."ungkap Bia dengan lirih.


"What..?!!" pekik Nayla. " Lo jangan main-main Bia,Lo sama dosen killer suami istri.Kok bisa?" tanya Nayla dengan wajah serius.


" Ya bisa lah, sebulan lalu aku sama pak Harraz menikah karena di jodohkan."ucap Bia dengan sedikit berbohong.


Sebenarnya Bia tak mau bohong namun,dia pun tak mau mengaibkan dirinya juga suaminya.Dia tak mau bilang jika mereka bisa menikah karena kena gerebek.Itu sungguh memalukan.


" Hahh..nggak nyangka gue Lo bini dosen killer.Tapi, dia tega juga yah..ngusir bininya dari kelasnya.Terus,tadi gue denger dia panggil Lo sayang..tau nggak sih ,rasanya saat denger pak Harraz ngomong sayang sama Lo pake nada manja gitu,buat gue merinding tahu nggak,rasanya gue nggak nyangka kalau dosen killer sudah punya pawang,hehehehe. " terang Nayla.


" Di kampus ini baru kamu yang tahu soal ini, jangan sampe bocor yaa..," ucap Bia dengan nada memohon.


"Iyaaa,tenang saja.Terus sekarang Lo habis ini mau kemana?" tanya Nayla.


"Yang jelas minjem catatan materi yang Pak Harraz kasih."ucap Bia.


" Kenapa nggak Lo nanya sama suami Lo sendiri di rumah?" tanya Nayaka heran.


" Hehh,dengerin aku..di kampus dia dosen kalau di rumah itu dia suami plus,Gus Arraz yang merupakan salah satu anak dari Kyai Said."ujar Bia santai.


Mendengar ucapan Bia membuat Nayla melongo.Mendengar Harraz seorang Gus tentu saja dia tidak menyangka.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2