Karena CINTA Itu Ada

Karena CINTA Itu Ada
# Keras Hati


__ADS_3

"Semua gara-gara kamu Arraz,anak saya jadi seperti orang gila* !!"teriak Iin ingin menyerang Harraz.


Plak


Plak .


"Aaaaaaa....hiks hiks,mas jahat..kenapa kamu menamp*r ku,kamu selalu membela anak itu !!"bentak Iin dengan frustasi.


"Sudah saya bilang,jangan pernah berfikir untuk melakukan hal yang saya tidak suka,semua yang terjadi pada Dini itu karena ulah mu.Sudah lama saya menahan nya In,saya masih sabar..tapi, untuk hal ini kamu sudah berusaha menjatuhkan nama baik Harraz dan juga keluarga ku.Aku memang bukan anak kandung mereka tapi,karena mereka kamu bisa hidup berkecukupan seperti sekarang,karena mereka aku bisa sekolah.Karena mereka aku bisa punya kerjaan yang baik,aku menyesal karena tidak menurut perkataan mereka untuk menikah dengan pilihan mereka,aku menyesal..."ungkap Diki dengan wajah penuh amarah.


Nenek Zaenab mendekati putranya dia mengusap punggung putranya.


"Istighfar nak, kamu harus jaga emosi kamu.Dia istri kamu,jangan lagi kamu sakiti dia." ucap nenek Zaenab memperingatkan putranya.


"Aku gagal bu,aku gagal mendidik anak dan istriku ..hiks hiks.."ucap Diki dengan memeluk pinggang nenek Zaenab.


Harraz dan juga Bia saling pandang.Begitu kejamnya Iin menjerumuskan putrinya sendiri dalam keserakahan duniawi.


"Semua ini kalau bukan karena Harraz menikah dengan perempuan nggak jelas itu, Dini nggak akan mungkin nekad."ucap Iin yang masih kekeh dengan pendiriannya yang tidak merasa bersalah.


"Kamu itu tul* apa bod*h sih,sudah tahu Harraz dan juga Dini nggak mungkin bisa sama-sama karena aku yang paling menentang jika itu terjadi."ucap Diki dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Kenapa, kamu tidak merestui nya , sedang kan Harraz dan Dini bukan siapa-siapa mereka bisa menikah !!" ucap Iin dengan meninggikan suaranya.


"Maaf tante,kalaupun Arraz bukan menikah dengan Bia,Harraz tidak akan menikahi Dini karena Dini Harraz anggap adik Harraz sendiri."ucap Harraz akhirnya membuka suara .


"Memangnya kamu yakin,kamu mau nolak anak saya yang cantik,hehhh..munafik," umpat Iin tersenyum sinis pada Harraz.


"Iin..!!" bentak Diki menatap tajam kearah sang istri.


"Harraz & Bia sebaiknya kalian pulang saja sama nenek juga kakek,biar Om sama Tante tunggu Dini." lanjut Diki pada ponakannya itu.

__ADS_1


"Baik Om,kalau ada apa-apa langsung hubungi Harraz saja."ucap Harraz pada Diki.


Diki hanya mengangguk mengiyakan ucapan ponakannya itu.


Akhirnya dengan terpaksa Harraz dan yang lain pulang ke rumah sang nenek kembali.


...----------------...


Sudah satu minggu Dini berada di Rumah Sakit keadaannya sekarang sudah tenang.Tak seperti waktu awal yang masih mengamuk dan juga teriak-teriak.


Kini hanya ada Dini yang masih suka melamun dan juga terlihat lebih banyak menatap kosong.


"Nak,kita makan dulu yaa.."ucap Diki dengan lembut pada sang putri.


"Pah, bang Arraz mana?" tanya Dini dengan lirih memandang wajah sang papa.


"Ada di rumah nenek,besok kemungkinan Harraz sama Bia kembali ke Malang."ucap Diki


Belum juga Diki menjawab pertanyaan putrinya tiba-tiba Iin dengan cepat membuka suara.


"Buat apa kamu ketemu mereka, setelah mereka menghancurkan masa depan mu.Kamu masih mau ketemu dia ?!" sentak Iin pada putrinya.


"Mereka nggak hancurin apapun mah, semua kesalahanku.Keserakahan mama yang mendorong aku seperti itu !!" teriak Dini menatap wajah mamanya dengan pandangan yang tajam.


"Lancang kamu !!" bentak Iin pada putrinya yang sedari dulu dia manja saat ini malah menjadikan dia tersangka.


"Mamaa !!" sentak Dini menatap istrinya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Kenapa sih kalian ini, semua ini terjadi karena Dini terlalu cinta sama Harraz ,manusia ninja itu yang tidak pantas untuk menjadi seorang istri Harraz yang kaya dan juga sukses ," ucap Iin dengan lantang.


Brakkk..

__ADS_1


Pintu kamar rawat tiba-tiba di buka dengan kasar oleh seseorang dan mereka adalah Bia dan Harraz.


"Cukup Tante !!" bentak Harraz dengan rahang yang mengeras karena menahan emosi.


"Aa' biar aku saja." ucap Bia lirih.


Bia melangkah menuju dimana Iin berdiri dan menatap benci pada Bia dan juga Harraz.


"Tante kenapa nggak ada kapoknya dengan peristiwa ini, anak tante yang jadi korban atas keegoisan tante lho,apa tante nggak sadar jika tante penyebab dari semua kemalangan Dini.Tante, harus nya tante memberikan dukungan pada Dini bukan malah memprovokasi keadaan." ucap Bia dengan menatap tajam Iin.


"Kamu tahu apa sih,kamu itu nggak layak buat Harraz.." ucap Iin yang tetap saja ngeyal.


" Tante itu nggak punya hati juga nggak punya malu juga yah, yang layak untuk suami saya yang seperti apa,seperti anak tante ?"


"Tante,suami saya tidak ingin ribut,dan saya pun nggak mau kita saling bermusuhan.Dari pada tante pusing bagaimana caranya memisahkan kami,lebih baik Tante memperbaiki diri dan juga jaga Dini.Kalau Tante masih seperti ini ,saya dan Aa Arraz akan bawa Dini ke Malang dan kami akan tempat kan di sebuah pondok gede tempat dia berserah dan bertobat."ungkap Bia jujur.


"Kalau Dini di tempat kan si pesantren om setuju malahan."ucap Diki mendukung rencana Bia.


"Aku juga butuh ketenangan kak."ucap Dini lirih dengan nasib menundukkan wajahnya.


Mendengar kata kata Dini membuat Iin terkejut namun,lain halnya dengan Diki sangat mensupport keinginan putrinya.


"Nggak perlu ,mau ngapain kamu ke pesantren sih Din," ucap Iin pada putrinya.


"Kamu yang ga perlu lagi melarang anakmu melakukan hal baik." ucap Diki tegas .


Iin pun tidak lagi membantah apa yang menjadi keputusan suaminya.


Rencana Harraz,Dini akan di titip kan di sebuah pesantren yang juga menampung orang-orang yang terkena masalah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2