Karena CINTA Itu Ada

Karena CINTA Itu Ada
#Nasib Dini


__ADS_3

Semua orang yang ada di rumah Kakek Ruslan kakek Harraz mereka menuju ke perkebunan begitu pun Bia dan Harraz yang turut serta ke perkebunan.


Terlihat banyak orang yang sedang mengerumuni tempat itu.


"Bagaimana gadis itu pak?"tanya Dayat pada salah satu bapak-bapak yang ada disana.


"Ibu-ibu sudah berusaha membangunkan dia pak tapi,susah.Kayaknya kena bius."ucap bapak-bapak itu.


Tanpa basa-basi Iin yang penasaran langsung menerobos kerumunan para ibu-ibu yang ada di pos istirahat para pekerja perkebunan.


"Minggir Minggir saya mau lihat...!!" teriak Iin dengan kencang.


Sementara Nenek Zainab dan Bia hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah Iin yang melihat kesetanan.


"Astaghfirullahal'adzim !!" teriak Iin saat melihat siapa yang ada di hadapannya dengan penampilan yang hanya di tutupi kain yang sengaja oleh ibu-ibu.


Tubuh Iin luruh dan untung langsung topang beberapa ibu-ibu yang ada disana sehingga tidak terjelembab ke tanah.


Mereka tak berani melakukan apa-apa karena takut kena masalah.


Mendengar jeritan Iin sontak Bia dan nenek Zaenab langsung memerintahkan kerumunan dan tak beda dengan ekspresi Iin mereka berdua tak kalah kaget.Apalagi melihat kondisinya.


"Astaghfirullahal'adzim.."ucap Diki,kakek Ruslan dan juga Harraz yang melihat kondisi Dini yang mengenaskan.


"Papa..hiks hiks hiks..Dini pah,cepat bawa dia ke Rumah Sakit pah.."teriak Iin menggoyangkan lengan suaminya yang sangat syok melihat kondisi putrinya.


Dengan cepat Harraz menghubungi ambulans untuk membawa Dini kerumah sakit.Entah apa yang terjadi pada Dini yang pasti dia mendapatkan pelece*an dari seseorang.


Bisa di lihat dari kondisi terakhir Dini saat ini,terlihat jelas oleh Bia dan nenek Zaenab jejak-jejak merah di tubuh Dini dan juga aroma tubuh Dini juga ada cairan yang masih basah bahkan mengering dari sekitaran daerah vital Dini.


Bia sungguh melihat hal itu sungguh miris.Sedabg Iin menangis sejadi-jadinya dengan apa yang terjadi pada putrinya.


"Ini semua gara-gara kalian,Dini kayak gini itu ulah kalian!!"bentak Iin menunjuk ke arah Harraz dan Bia membuat Diki naik darah.


Plak..


"Aaaaa.."jerit Iin saat tamparan keras mendarat di pipinya.


"Diki !!"

__ADS_1


"Om !!


Seru keempat orang tersebut saat melihat Diki yang menampar pipi Iin begitu keras.


"Sekali lagi kamu buat ulah,aku akan bertindak tegas terhadap mu !!" ancam Diki dengan pandangan merah padam.


Iin saat ini hanya bisa menangis karena melihat kondisi putrinya.Dia tak menyangka jika Dini akan menjadi korban pele*ehan orang yang bahkan dia tak tahu siapa.Keadaannya pun sangat mengenaskan.


Ambulance membawa tubuh Dini ke Rumah Sakit dan keadaannya kini sudah di bersihkan oleh Bia dan juga nenek Zaenab.


Tubuh Dini di bawa ke ruang UGD dan atas permintaan Diki sekalian visum dan semua medical check up.


"Sayang,kita ke kantin dulu yuk..kamu dari tadi belum makan kan," ucap Harraz duduk di samping Bia yang ada di depan pintu UGD.


"Tapi, gimana Dini A'a kita belum tahu keadaannya."ucap Bia dengan lirih.


"Udah banyak orang disini, kesehatan kamu buat aku lebih penting."kata Harraz dan mau tak mau Bia pun menuruti kemauan suaminya.


Biarlah apa yang Tante nya anggap Harraz tak peduli.Mungkin itu sebuah karma yang harus di bayar kontan oleh Dini atas perbuatannya.


...----------------...


"Kau kepikiran Dini,gimana nasibnya nanti," ucap Bia dengan perasaannya yang sedih.


"Sudahlah, jangan terlalu si pikirkan.Sekarang kamu bisa pikir kalau sebab pasti ada akibat.Apa yang kita tabur dan itu pastinya yang iya tuai.Makanya berusahalah berbuat baik walaupun kita tahu dia adalah lawan kita."ucap Harraz mengusap kepala Bia dengan lembut.


"Tapi anehnya,kenapa Dini nggak sadar kan diri begitu lama Aa,aneh tahu nggak sih," ujar Bia pada Harraz.


"Entahlah kota pun tidak tahu apa yang terjadi pada Dini."jawab Harraz.


Sementara di bagian UGD terlihat seorang dokter keluar dan menghampiri keluarga Dini.


"Dokter bagaimana keadaan putri saya?"tanya Iin dengan mata sembabnya.


"Kita hanya bisa memberikan dia dukungan ibu.Sementara ini anak ibu belum juga sadar kemungkinan ada traumatik yang mendorong dia untuk tidak melakukan apapun dan juga ada beberapa luka di bagian organ vitalnya.Semua itu jelas terlihat dari pendarahan yang terjadi.Hingga kami pun menemui kalau keadaan nona Dini tidak baik-baik saja.Kita sudah melakukan Visum dan nanti akan keluar hasilnya.Untuk itu nona Dini perlu adanya dukungan untuk menjaga ke stabilan mentalnya.Saya khawatir jika nona Dini akan mengalami Post-traumatic stress Disorder (PTSD)."


jelas sang dokter pada keluarga Dini.


Iin mendengar ucapan dokter hanya menangis dan mengingat kembali saat anaknya memaksanya untuk membuat Harraz jatuh ke dalam jebakan Dini.

__ADS_1


"Kenapa jadi begini pah,kenapa nasib Dini tragis begini..hiks hiks hiks.."ucap Iin menangisi nasib putrinya.


Iin belum mengakui bahwa dirinyalah sumber dari apa yang di lakukan putrinya.


...----------------...


Semua orang sudah ada di ruangan tempat Dini dirawat dan tak ada pembicaraan apapun diantara keenam orang yang masih setia menunggu Dini siuman.


"Eeehhhsssttt.."ringis Dini saat pertama kali dia membuka matanya.


Rasa sakit di pangkal pahanya membuat dirinya meringis kesakitan.


"Nak,Dini.. Alhamdulillah kamu sadar nak..hiks hiks maafin mama nggak bisa jaga kamu." ucap Iin mengecup tangan putrinya.


"Aku dimana mah,kenapa aku kayak gini?"tanya Dini.


"Kamu nggak inget apa-apa nak?"tanya Diki saat melihat putrinya kebingungan.


Saat melihat wajah Bia dan Harraz sekelebat potongan potongan kejadian malam itu menghampiri pikiran Dini.


"Nggak nggak nggak mungkin,itu bukan aku,aku nggak mau ,aaaaaaaaa..."teriak Dini dengan memenangi kepalanya melihat potongan peristiwa yang dia alami.


Dengan cepat Harraz memanggil dokter dan Dini masih histeris dan dengan terpaksa harus di berikan suntikan penenang.


Iin menangis sejadi-jadinya melihat keadaan putrinya.Apa yang terjadi pada malam itu yang membuat putrinya depresi.


"Bagaimana dok keadaan putri kami?" tanya Diki dengan pandangan yang sendu.


"Maaf pak,kami sarankan untuk nona Dini perlu adanya pendampingan psikiater untuk membuat nona Dini mengungkapkan apa yang terjadi pada dirinya."ucap sang dokter.


"Tapi, anak saya nggak gil* dokter !!" bentak Iin mendengar kata psikiater membuat dirinya beranggapan anaknya nggak gil*


"Setiap orang yang di tangani atau di dampingi psikiater bukan orang gil* nyonya tapi, mereka butuh teman yang paham akan kejiwaannya dan semua itu ada ilmunya."ucap sang dokter.


"Apapun yang terbaik untuk anak saya lakukan dokter.."ucap Diki pada sang dokter.


"Tapi pah...


Diki menatap tajam kearah Iin dan dengan cepat Iin menghentikan protesnya .

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2