
"Potong !!" teriak Bia pada sang anak buah dengan menatap nyalang kearah orang-orang di depannya.
Tanpa bantahan orang itu mengikuti perintah sang Queen.
SREETTT
EEMMMMMM
Jeritan yang tertahan dari mereka menambahkan kesan puas dalam diri Bia.
"Itulah kalau berani mengusik seorang
"Queen " Gladiator Black Diamond.Jadi, jangan pernah menyesal karena kecerobohan kalian sendiri ," ucap Bia menampakkan mata tajamnya yang
EEMMMMMM...
Teriakan dari keempat orang itu terdengar namun Bia tak peduli keempat orang disana tidak pernah menyangka jika mereka sedang berhadapan dengan Bia si Psiko.
Di luar ruangan itu semua orang terlihat bingung dengan apa yang harus mereka lakukan.Pintu ruangan itu terus di gedor namun percuma tidak akan bisa di buka.
"Daddy.." gumam Harraz
Dia meraih ponselnya dan mencari nomer ponsel ayah mertuanya dan berkali-kali Harraz hubungi tidak ada jawaban dia pun langsung mengingat punya nomer Gema di ponselnya.
Drrrrrttt Drrrttt
"Hallo Yaz,ada apa?" tanya Gema langsung to the point
"Om tolong Ayyaz om,Bia...Bia..
"Bia kenapa,apa yang terjadi sama Bia?" potong Gema setelah mendengar nama Bia keluar dari mulut Harraz.
"Aku nggak tahu apa yang terjadi di dalam sana om karena sepulang kita balapan dan kebetulan aku terjatuh oleh orang-orang entah dari mana ternyata Bia mencari mereka dan ketemu lalu saat ini aku nggak tahu apa yang terjadi di dalam karena ruangan itu terkunci dari dalam apa yang harus aku lakukan Om buat hentikan Bia Om,aku lihat Bia begitu marah tak seperti biasanya."
"Yaz tenang kan dirimu,kamu yakin mau menghentikan Bia ada satu syarat dari om kalau kamu mau menghentikannya kamu.Kamu yakin nggak akan membenci Bia setelah tahu siapa dirinya sebenarnya?"
Pertanyaan Gema membuat pikiran Harraz tambah kacau dan juga bingung.Dia takut Bia kenapa-kenapa.
"Aku nggak akan pernah berubah, apapun yang terjadi." ucap Harraz dengan mantap.
"Baiklah,biar Om suruh orang yang sedang di dalam sana membuka pintu ruangan itu."ucap Gema dan mematikan sambungan telepon mereka.
__ADS_1
Tutttttttt
"Gimana ini,Bia di dalam..aku takut dia kenapa-kenapa." ucap Nada pada Naila mereka saling berpelukan.
Ceklek..
Pintu ruangan itu terbuka dan dengan cepat Harraz menerobos masuk dan sungguh sangat ironis dia melihat keempat orang tahanan itu kini sudah berlumuran darah dan Bia yang sedang asyik menikmati apa yang dia lakukan.
"Aaaaa ..hhujhk"
Nada dan Naila menjerit saat melihat keadaan dalam ruangan itu dan langsung saja mereka di bekap oleh orang-orang Black Diamond dan di seret keluar ruangan.
Tubuh mereka langsung lemas tak berdaya dan langsung pingsan karena melihat kejadian yang baru saja mereka lihat.
Sedangkan Harraz yang berdiri mematung melihat sosok Bia bar-bar dan juga manjanya kini sudah berubah menjadi Bia yang menyeramkan.Sementara yang lainnya melihat sosok Bia memandang tak percaya.
Harraz melangkah lebar dan langsung memeluk tubuh Istrinya dengan erat.
Tubuh Bia langsung mematung dan tersadar saat pelukan itu menyadarkan jiwanya.
"Sudah yaa...aku nggak papa,aku masih ada disini.Aku sayang sama kamu dan aku tahu kamu terlalu sayang sama aku kan,cukup sayang.."
Ucapan Harraz itu membuat tubuh Bia melemas dan melepaskan pisau berlumuran darah yang ada di genggamannya.
"Lihat aku sayang !!" ucap Harraz dengan suara bergetar.
Bia pun menaikkan pandangannya dan pandangan mereka saling bertaut.
"Aa.." panggilan itu pun akhirnya keluar.
"Iya,ini aku..sudah yaa.."ucap Harraz dengan wajah sendu dan langsung membawa tubuh Bia dalam pelukannya.
Sementara itu anak buah Black Diamond langsung membersihkan TKP.
Salah satu orang perempuan mendekati Bia dan mengambil kedua tangan Bia dan memasukkannya ke dalam sebuah wadah yang berisi cairan dan dengan cepat tangan itu bersih dari darah yang sempat membanjiri tangan Bia tadi.
Bia pun akhirnya membalas pelukan suaminya.
"Aku takut.." ucap Bia dan pecah sudah air mata yang sudah dia tahan dalam kemarahan dan emosi yang memuncak yang membuatnya hilang akal.
"Jangan menangis..sayanggg.." ucap Harraz langsung menggendong tubuh Bia dan membawanya ke ruang pribadi milik nya yang ada di markas Scorpion.
__ADS_1
Tubuh Bia di baringkan di atas tempat tidur sedang di kamar itu.
"Jangan pergi.."ucap Bia menahan lengan Harraz yang akan mengambil air minum untuk Bia.
"Nggak akan sayang,Aa cuma mau ambil minum untuk mu."ucap Harraz dengan suara lembutnya.
"Nggak usah..kamu disini saja.."tolak Bia.
Akhirnya Harraz pun mengangguk dan ikut berbaring di atas tempat tidur dan memeluk tubuh istrinya dengan erat.
Harraz membuka niqab dan hijab Bia agar lebih leluasa dan juga jaket yang melekat di tubuhnya Bia pun terbuka.
Harraz menghela nafas panjang melihat wajah polos istrinya tanpa make up.
Wajah yang begitu menggemaskan yang sesaat lalu menjadi wanita yang begitu menyeramkan.
Di ruangan lain dua gadis yang sempat pingsan tadi saat ini sudah tersadar.Mereka sempat histeris mengingat kembali saat mereka melihat sisi lain dari Bia membuat mereka ketakutan.
"Sudah,nggak usah takut..kalian aman kok."ucap Ray menenangkan Naila juga Nada.
"Aku nggak pernah menyangka jika Bia bisa berbuat seperti itu."ucap Nada lirih.
Kelima orang sahabat Bia memang begitu terkejut dengan sisi lain dari seorang Bia.Apalagi melihat kekejaman Bia yang menurut mereka tak lazim di lakukan seorang wanita.
Sementara pihak Scorpion hanya bisa diam dan mereka pun sudah berpikir bahwa istri ketua mereka sungguh menyeramkan.
Padahal sebelumnya Harraz yang terlihat sangat kejam dan sekarang istrinya lebih sangat kejam.
Harraz melihat sang istri tertidur lelap.Kini akhirnya mencoba untuk turun dari tempat tidur.
Setelah berhasil turun dari tempat tidur dia langsung menghubungi mertuanya.
"Assalamualaikum dad.." ucap Harraz saat panggilan nya diangkat.
"Wa'alaikumsalam son, bagaimana keadaan Bia?"tanya Abi yang terdengar begitu mengkhawatirkan putrinya.
"Sudah tidur dad,apa yang harus Yaz lakukan dad?"tanya Harraz dengan suara tersendat karena menahan tangis yang hampir meledak
Harraz tak sanggup jika melihat Bia seperti tadi,rasa takut dekat dengan istrinya tak pernah terlintas di benak Harraz.Hanya ada rasa khawatir yang begitu besar menggelayuti hatinya.
"Kamu jaga dia baik-baik , setelah ini kemungkinan dia akan mengalami demam tinggi dan tugas kamu selalu di sampingnya.Kalau demam tinggi menyerangnya kamu bisa memberikan obat yang ada di dalam tas kecil berwarna coklat yang biasa dia letakkan di kopernya.Jangan tinggalkan dia sebelum panasnya turun."ucap Abi memberikan informasi pada sang menantu untuk menangani Bia setelah ini.
__ADS_1
Setelah itu panggilan telepon pun berakhir.Harraz berpikir keras apa yang dialami istrinya selama ini sampai dia mempunyai sifat seorang psikopat.
Bersambung.