
Bia tidak mungkin akan tinggal diam,dia melihat ke arah luar dari jendela.Ada sekitar dua puluh orang yang di bawa preman itu.
Bia pun mengetik pesan ke salah satu nomor.
.
.
Harraz dan juga Umay keluar dari rumah dan terlihat beberapa orang pengurus Pesantren ada di sana menghadang gerombolan preman yang di pimpin oleh Badil.Di sana pun terlihat ada Zaf abang Harraz dan juga Zidan abang ipar Harraz
"Ada apa ini ribut-ribut!!" seru Harraz melangkah mendekati dimana Badil dan teman-teman nya memaksa untuk menerobos masuk area pesantren.
Mendengar suara Harraz semua orang melihat ke arah di mana Harraz dan Umay yang berjalan mendekati mereka dengan masih berlaku santai.
"Akhirnya Lo dateng juga breng*ek !!" umpat Badil mantap nyalang ke arah Harraz.
Harraz mendengar umpatan Badil hanya tersenyum kecut.
"Kalian mau apa, malam-malam bikin ribut.Ini bukan tempat adu jotos kalian,ini pesantren.Tempat yang harus di jaga,kalian ngapain malam-malam bikin ricuh.." ucap Hararz berdiri di depan Badil dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Kalau saya nggak denger kamu nyakitin sepupu saya ,pastinya saya nggak akan mungkin repot-repiot malam-malam kesini buat hajar kamu Raz,karena ulah kamu yang nolak Laila dia jadi sedih.Itu yang buat saya nggak terima!!" terang Badil dengan nada bicara yang terdengar tinggi.
Harraz membuang nafas kasarnya dan menatap intens Badil yang terlihat sangat tak bersahabat dengan dirinya.
"Denger Di,dia saya tolak juga karena ada alasannya.Saya nggak akan bisa adil sama dia,bahkan dia tahu kalau saya udah punya istri tapi,kenapa dia begitu nekad melamar saya buat jadi yang kedua.Saya nggak bisa menerima dia karena saya pun sudah punya istri,saya sadar nggak bakal bisa adil sama istri-istri saya .Satu lagi alasannya yaitu saya nggak mau nikah lagi,cukup sekali dalam hidup saya untuk nikah."ungkap Harraz berusaha menenangkan dan memberikan pengertian pada Badil.
__ADS_1
Harraz tahu Laila yang notabene nya tidak punya saudara kandung dia sering berkeluh kesah dengan sepupunya Badil.
Badil yang selalu memanjakan Laila membuat dirinya selalu saja ingin mendapatkan apa yang dia inginkan.Karena memang tidak mungkin sang ayah yang notabene nya seorang Kyai mau berbuat yang tidak baik.
Laila adalah tipe orang yang ambisius,maka dari itu saat dia kecil sampai dia lulus kuliah pun dia mempunyai nilai akademik yang bagus dan juga nilai tambah untuk dia pandai dalam mengaji dan yang berhubungan dengan hafalan.
Harraz tahu itu karena memang Badil yang di kenal sebagai teman main kakak nya dulu Zaf. Zafri dan Badil satu pesantren yang ada di salah satu daerah di Jawa Timur. Namun,entah bagaimana Badil menjadi seorang preman dan melupakan yang notabene nya dia seorang santri.
"Di, jangan begini.Jangan apa-apa kamu turuti kemauan sepupu kamu.Itu nggak baik buat dia."ujar Zaf yang akhirnya angkat bicara.
Badil mendengar ucapan Zaf yang notabene nya dulu adalah sahabatnya saat nyantri hanya tersenyum miring mendengar Zaf padanya.
" Kamu nggak akan ngerti Zaf soal gimana sayangnya aku sama Laila ,aku nggak tega melihat dia berhari-hari nggak makan karena mengharap cinta adik sial*n mu itu.Aku jadi penasaran seperti apa sih wanita yang adikmu jadikan istrinya.Apa dia lebih baik dari Laila,aku dengar dari Laila dia bahkan bukan turunan Kyai."ujar Badil mantap Zaf sinis.
Bia bicara panjang lebar tanpa ada rasa takut berhadapan dengan Badil yang sudah terlihat menahan emosi mendengar ucapan Bia.Dari kata-kata Bia membuat dirinya seperti di kuliti.
"Sayangg,kenapa kamu keluar.Aa bilang kalau kamu nggak perlu keluar rumah."ucap Harraz berbisik pada Bia.
Melihat penampilan Bia yang terlihat sangat tertutup dan perlakuan Harraz pada wanita itu, tentu Badil bisa menebak jika dia adalah wanita yang Laila maksud.Dia wanita yang membuat Laila di tolak Harraz.
"Oohh jadi ini istri kamu yang sangat kamu cintai Raz,wahh..betapa kamu nggak ingin sekali wajah jelek mu terlihat di hadapan orang lain."ejek Badil memancing reaksi Harraz.
Mendengar ejekan Harraz tentu saja membuat Harraz geram dan ingin memberikan Badil pelajaran.Namun,dengan cepat Bia mencekal pergelangan tangan suaminya.
"Terserah anda mau bilang apa tentang saya,sebanarnya apa tujuan anda malam-malam gini buat keributan disini,apa dengan mengacau di sini anda bisa jamin jika suami saya akan berubah pikiran.Anda salah,suami saya terlalu cinta sama saya.Untuk sepupu anda,lebih baik bilang kedia jangan pernah merendahkan martabat wanita untuk mengemis sebuah status apalagi dengan dalil-dalil nya bullshit itu.Sampai dia dengan beraninya menyinggung perasaan kedua mertua saya,apa itu yang kalian ajar kan sebagai santri,seorang santri dan sebagai anak dari seorang Kyai dia harus menjaga sikap dan adab, akhlak dan selalu tawadhu.Bukan seperti ini, MEMALUKAN !!"
__ADS_1
Bia sengaja menekan kata memalukan di akhir kalimatnya dan sukses membuat Badil melayangkan tatapan tajamnya pada Bia.Bukan Bia namanya kalau tidak ada sisi bar-bar nya.
"Jaga omongan kamu,jangan pernah hina Laila.Kalau tidak akan saya pastikan kamu menyesal."ancam Badil.
Bia rasanya ingin memberikan orang yang di hadapannya itu pelajaran.Namun,dia harus sabar jika Badil belum bertindak maka dari itu dia masih harus menahan diri.
"Apa yang kamu bisa untuk ancam saya,jangan cuma bisa menggertak.Cemen..!!" ucap Bia membuat semuanya melotot mendengar ucapan Bia barusan.
Ucapan Bia akan membuat Badil terprovokasi dan sebenarnya mereka tak ingin adu jotos juga dengan para preman itu.
"Kurang aj*r !!" pekik Badil dan tiba-tiba menyerang Bia.
Namun, sayangnya Bia bisa membaca gerakan Badil.
Srettt
Kreekkk
"Aaaaa...." teriak Badil setelah mendapatkan perlakuan yang tidak pernah dia sangka.Hanya dengan satu tangan Bia bisa mematahkan tangan Badil. Padahal semuanya melihat Bia tak bergeser dari tempatnya.
"Gue peringatan Lo pecundang,jangan main-main sama gue.Kalau nggak gue hancurkan tubuh Lo saat ini juga..!!'
Bisakan Bia yang mengancam Badil membuat bulu kuduk Badil berdiri.Apalagi mendengar nada bicara Bia yang terdengar biasa namun penuh makna.
Bersambung.
__ADS_1