
"Dek,aku pernah kecewa dengan keputusan Abah di masa lalu.Di umurku masih tujuh tahun.Abah memutuskan untuk menerima permintaan Mbah Yai yang meminta tolong Abah menikahi seorang wanita dari kalangan santri." ucap Harraz seraya mendongakkan kepalanya menatap langit malam.
"Kalau Aa belum bisa cerita jangan di paksa A,Bia tahu luka hati seorang anak yang belum ikhlas menerima kenyataan apa yang dia lewatkan saat itu terasa berat."ungkap Bia menyentuh lengan suaminya.
"Aku nggak ingin membuka aib Abah ku,tapi ..aku ingin kamu tahu aku nggak akan menjadi seperti Abah." ungkap Harraz dengan mata yang sudah mengembun.
Bia beranjak dari tempat duduknya dan berdiri di depan sang suami.Tanpa ragu Harraz menarik pinggang istrinya dan membenamkan kepalanya di perut istrinya.
"Kita kedalam yuk,nggak enak.. takut ada santri yang lihat kita.Aa boleh jadi seperti Kanfa dalam wujud bongsor sama Bia.."ucap Bia dengan terkekeh.
"Maksudnya,kenapa kamu bandingin sama adik kecil kamu?"tanya Harraz mengadahkan kepalanya menatap wajah Bia heran.
"Sudah ayo,kalau mau tahu."ucap Bia menarik tangan suaminya untuk masuk kekamar dan mengunci pintu serambi samping kamarnya.
Harraz pun mengikuti ucapan istrinya .Bia menyuruh Harraz berganti baju.Setelah lima belas menit mereka sudah dengan keadaan yang berbeda Harraz memakai sarung dan Bia dengan daster rumahan nya.
"Sini Aa sini.."ucap Bia menepuk pahanya dan menarik lengan suaminya yang baru duduk di atas tempat tidur.
"Jangan goda Aa dek,nanti kalau aku khilaf kamu marah lagi..."ungkap Harraz.
__ADS_1
Harraz tentu sadar betul kalau dirinya hanya manusia biasa dan umur pun sudah dewasa.Soal syahwat atau nafsu pun kadang tak bisa di bendung lagi.
"Aa iiihhh, aku nggak mau Aa mikir jorok..sini dulu ,kepala Aa disini biar Nia bikin relaks ."ucap Bia dengan menyunggingkan senyuman manisnya.
Melihat senyum manis istrinya tentu membuat hati Harraz muncul bunga-bunga mengembang di hatinya.Tak ada kata lain yang terucap dari mulut Harraz,dia langsung membaringkan tubuhnya dan kepalanya ada di paha Bia.
Bia mulai memijit kepala sang suami dengan lembut.Tak lupa Bia sudah menyalakan aroma terapi yang mengharumkan dan terasa merilaks kan otak.
"Enak banget yang, Aa suka." ucap Harraz dengan tanpa sadar memanggil nama Bia dengan sebutan 'Sayang'
Mendengar sebutan Harraz yang terdengar oleh Bia membuat pergerakan tangan Bia terhenti.
"Tadi,Aa panggil Bia apa..takut Bia salah denger," ucap Bia menanyakan soal kata
'Yang ' tadi.
"Dek...kenapa?"tanya Harraz pura-pura tidak tahu maksud sang istri.
"Bukan,bukan panggilan barusan..tapi sebelumnya A," ucap Bia dengan mode manjanya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Istrinya membuat Harraz tersenyum dan merasa gemas dengan tingkah istrinya itu.
"Iya sayang,boleh kan A'a panggil sayang sama adek.."ucap Harraz dengan merangkul pinggang istrinya dan membenamkan wajahnya ke perut Bia dengan masih dalam keadaan berbaring dengan kepala di atas paha Bia.
"Bo_boleh, nggak ada larangan kok.Jadi,jangan sedih lagi yaa..," ucap Bia memebelai dengan lembut rambut suaminya yang sedikit gondrong.
"Terimakasih,kamu sudah ngantuk belum?"tanya Harraz menatap wajah istrinya.Bia hanya menggeleng gelengkan kepalanya.
"Aa ingin cerita kenapa Aa tidak seakrab bang Zaf dan kak Aisyah yang dekat dengan Abah.Dulu waktu umur Aa belum 8th Mbah Yai menyuruh Abah menikah dengan anak dari keluarga sahabatnya yang mempunyai background keluarga Kyai,Umi adalah santri dari Mbah Yai yang di nikahi abah dengan dawuh dari Mbah nyai karena memang dulu umi juga seorang mba dalem yang di percaya mengurusi semua urusan dari Mbah nyai karena sering nya bertemu dan terlihat Abah yang terlihat tertarik dengan umi akhirnya Menang nyai dawuh kalau Abah menginginkan umi langsung lamar ke orang tuanya dan ternyata benar,Abah melakukanya."ucap Harraz dengan menghela nafas panjang
"Entah ada janji apa Mbah Yai dengan orang tua istri kedua abah tapi,yang jelas Abah di dawuh menikahi wanita itu yang memang diam-diam menyukai Abah dan mengatakan pada orang tuanya agar di jadikan istri abah,mendengar permintaan mertua nya umi pun hanya pasrah dan merestui pernikahan mereka namun,setiap aku lihat umi ada kesedihan mendalam di matanya benar saja saat wanita itu di nyatakan hamil,umi sedikit lebih mengalah untuk Abah selalu bersama wanita itu,Abah pun terlihat peduli dengan wanita itu.Namun,aku lihat niat dari wanita itu tidak baik.Dia menginginkan Abah hanya untuknya dan dia merasa tersaingi oleh ketiga anak Abah.Kedua kakak ku hanya bisa diam dan selalu di sisih umi tapi,aku nggak...aku berontak dan akhirnya ada insident dimana Abah memukul ku karena wanita itu mengarang cerita jika dia jatuh dan katanya keguguran." terang Harraz
" Abah sangat marah dan gelap mata,entah sihir apa yang di gunakan wanita itu Abah sampai semena-mena sama A'a sampai akhirnya Aa hampir meregang nyawa saat dimana hari itu Abah marah karena katanya keguguran dan aku pun kecewa dan ingin pergi dari pondok saat keluar dari pondok pesantren tubuh ku terpental dan tak sadarkan diri selama satu bulan karena koma."lanjut Harraz
" Saat aku sadar dan mengingat kembali apa yang Abah lakukan pada Aa dari situ aku sangat membencinya apalagi dengan wanita itu.Kakek dan nenek marah besar dan mengambil keputusan untuk membawa ku pergi dari ke hidupkan pesantren.Kakek dan nenek pun bilang pada Mbah Yai kalau aku nggak akan mereka kembalikan sebelum kebenaran terungkap.Karena saking pintarnya wanita ular itu,tidak ada yang membelaku dan saat aku umur 12th mendengar kabar jika wanita itu sakit.Selama aku keluar dari pondok,hidupku beda dengan dua kakak ku namun, Alhamdulillah nenek dan kakek didik aku dengan sisi-sisi agama.Sampai akhirnya umi memohon untuk bawa aku sebentar untuk pergi menjenguknya." sambung Harraz dengan wajah yang terlihat sedih
" Dengan terpaksa aku lakukan apa yang di dawuh umi.Menemui wanita itu dengan banyak luka hati.Abah yang tadinya punya karakter lembut,nyatanya aku pernah di tampar sama Abah karena gara-gara dia.Anak 12th tak tahu apa artinya mandul,Dokter bilang wanita itu mandul dan keguguran itu hanya rekayasa dan tujuanya untuk menyingkirkan umi melalui aku.Jahat kan?" ucap Harraz dengan menanyakan pendapat Bia tentang ceritanya .
Namun,Bia merasa bingung harus menanggapi nya bagaimana dia harus bersikap saat itu.Begitu menyakitkan hati seorang anak kecil yang baru berumur 12th.
__ADS_1
Bersambung