Karena CINTA Itu Ada

Karena CINTA Itu Ada
#Malam Syahdu


__ADS_3

Malam mulai bergerak Harraz dan aki Sapto seperti biasa ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah.Kali ini mereka dari magrib belum pulang dan pulang setelah sholat Isya.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam,"


Suara salam dari luar rumah terdengar dan nin Darmi dan Bia pun menjawabnya.


Bia membuka pintu dan menyalami tangan suami dan Aki nya.


" Kok baru pulang kalian?"


Bukan Bia yang bertanya namun,Nin Darmi saat selesai menyiapkan makan malam.


"Tadi ada kajian sehabis magrib jadinya kita ikut,sambil nunggu isya juga Mak."jawab aki.


Nin Darmi pun hanya ber_O ria menanggapi ucapan suaminya.


"Kita langsung makan malam atau gimana nin?" tanya Bia menatap sang Nini.


"Ayok,makan dulu baru kalian bisa ke paviliun."jawab sang nin.


...****************...


"Aa mau ke kamar mandi dulu atau Bia dulu?"


"Aa duluan deh ,"


Harraz langsung masuk kedalam kamar mandi.


Untuk beberapa saat Harraz terdiam.Dia menghela nafas dalam.


"Apa harus malam ini aku lakukan kewajiban ku,"batin Harraz.


"Astaghfirullahal'adzim Harraz kenapa kamu mikirin gituan sih," Hararz mengeleng-geleng kan kepalanya mengusir pikiran kotornya


"Gimana kalau Bia bilang aku,kena mental deh.."gumam Harraz.


Akhirnya Harraz mengambil wudhu kembali dan mensucikan diri nya. Dia ingin menjadikan malam ini sebagaimana yang semestinya dianjurkan.


Setelah selesai Harraz keluar kamar dan mendapati sang istri yang duduk di atas tempat tidur.


"Yang,kita sholat sunnah dulu" ucap Harraz


"Iya A' sebentar,Bia ambil wudhu dulu."ujar Bia dan langsung masuk kedalam kamar mandi.


Mereka pun sholat sunnah dua rakaat dan memanjatkan doa untuk kelanggengan rumah tangga mereka. Bia menyalami tangan suaminya.Harraz pun mencium kening sang istri.


"Sayang,Aa mau bicara sama kamu soal omongan kamu tadi siang,apa A'a boleh memintanya malam ini sebagaimana hak Aa untuk membuat sayang menjadi seorang istri yang seutuhnya buat Aa?"

__ADS_1


Ucapan Harraz membuat Bia terpaku dan menatap wajah suaminya dengan dalam.


"Kalau seandainya kamu belum siap,Aa juga nggak masalah. Tapi, kita sudah beberapa bulan menikah, lagi pula rasanya Aa nggak akan sanggup lagi menahan ingin miliki kamu seutuhnya."ucap Harraz membuat Bia tersipu malu.


Bibir Bia tiba-tiba merasa kelu apalagi jika harus mengatakan kata 'IYA' .Entah kemana suara itu menghilang karena rasanya bibirnya terkunci rapat.


Sementara Harraz masih melihat wajah istrinya dan mengucapkan 'Bismillah' dalam hati Bia pun mengangguk mengiyakan permintaan suaminya.


Harraz yang melihat Bia mengangguk tersenyum lebar.Akhirnya dia akan menjadikan Bia ratu hatinya.


"A'a boleh nggak kalau Bia ke kamar mandi sebentar,nggak lama kok..Bia cuma mau ngasih yang terbaik untuk suami Bia."ucap Bia dengan menundukkan kepalanya.


"Boleh,senyaman kamu saja sayang..Aa tunggu disini."ucap Harraz.


Bia mengangguk mengiyakan.Lalu Bia merapihkan peralatan sholatnya .Dia mengambil sesuatu dari kopernya.


Bia masuk dalam kamar mandi dan menatap dirinya sendiri dari cermin.


"Kamu jangan membuat suami kamu kecewa Bia,ini sudah kewajiban kamu untuk melayaninya."gumam Bia dia pun menatap sesuatu yang dia bawa.


"Apa harus memakai pakaian dinas ini,kata mama aku harus bisa memberikan suamiku yang terbaik."gumam nya lagi.


Bia teringat sang mama yang mengatakan jika dirinya tak boleh menolak untuk melakukan kewajiban suami istri.Kenapa bisa sang mama bilang begitu,karena Bia bercerita jika mereka belum unboxing.


Kiran hanya geleng-geleng kepala memikirkan bagaimana nasib menantunya.Sementara mengingat kejadian di masa lalu nya bersama Abi saja dia harus melakukan nya berkali-kali.Lah ini,anak menantunya begitu awetnya mempertahankan ke gadisan dan ke perjakaannya.


Bia sudah memakai sebuah lingerie seksi warna hitam dan untung dia memilih yang ada kimononya karena dia beralasan karena pemula.Ada-ada saja ya emang si Bia😁


Tidak lupa baca Bismillah untuk mengurangi rasa groginya.


Terlihat Harraz sedang duduk dengan fokus pada ponselnya.


"A_Aa..," panggil Bia mengalihkan pandangan suaminya yang langsung melihat kearahnya.


Harraz yang melihat penampilan sang istri tentu membuat dia tersenyum dan langsung beranjak dari tempat tidur dan mendekati


sang istri.


Harraz meraih tangan istrinya dan di bimbing nya sampai ke samping tempat tidur.Sementara dirinya duduk tepat di hadapannya.


"Boleh Aa buka talinya?" tanya Harraz dengan suara yang sudah berubah.


Harraz menarik simpul tali yang ada di pinggang sang istri dan dengan mudah terlepas dengan sempurna.Dia pun mulai membuka kimono yang masih melekat di tubuh Bia,sampai kimono itu tergeletak di lantai.Kini terpampang jelas di depannya kulit putih bersih kontras dengan apa yang dia pakai malam ini.


"Kamu yakin dengan apa yang akan kita lakukan sayang?"tanya Harraz memastikan.


Jantung Bia sudah jedag jedug tak karuan apalagi melihat pandangan mata Harraz sudah tidak seperti biasanya.


"A_aku si_siap A'." jawab Bia dengan terbata-bata.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku akan mulai.Jadi, jangan pernah hentikan Aa kalau kita sudah punya kesepakatan malam ini."ujar Harraz.


"I_iya,tapi..aku takut.Kata orang yang sudah pernah itu akan sakit."


"Aku akan melakukan nya dengan pelan.Kalaupun bukan malam ini, malam-malam berikutnya pun sama saja.Coba kamu rileks dulu yaa,"


Bia hanya mengangguk pasrah.


"Bismillahirrahmanirrahim."dalam hati Bia mengucap basmallah lebih dulu.


Harraz memegang ubun-ubun Bia dan melafazkan doa untuk mereka melakukan penyatuan.


"Bismillahi Allahumma jannibna as-syaithana wa jannibi as-syathana maa razaqtana"


Setelah selesai membacakan doa Harraz menarik pinggang Bia supaya lebih dekat dengan dirinya.


Pandangan mata mereka saling bertemu dengan perlahan Harraz menjatuhkan tubuh Bia di pangkuannya.Wajah mereka yang terlihat sangat dekat.


"Cantik."gumam Harraz membelai lembut wajah istrinya.


"Menggemaskan."Harraz mera*a bibir merah alami milik istrinya.


Satu kec*pan dia daratkan di bahu putih Bia.Dengan reflek Bia memejamkan matanya menikmati sent*han lembut suaminya.


Harraz pun sudah tak tahan lagi dia pun meraup bibir merah delima milik Bia.


Mendapatkan serangan tiba-tiba membuat Bia merasakan jantung mereka berdetak sangat kencang.Bia bisa merasakan kala tangannya mendarat di dada suaminya .Mereka pun akhirnya sama-sama terpejam menikmati irama yang mereka ciptakan.Decakan yang awalnya tak terdengar sekarang sudah mengisi ringtone suara yang ada dalam kamar itu.


Paviliun yang biasanya dingin kini menampilkan hawa panas dari kedua orang yang sudah terbaring di atas tempat tidur berselimut kain tebal saling memberikan energi yang luar biasa.Baju mereka pun sudah teronggok di mana-mana.Harraz yang menampilkan performa terbaik nya memanjakan istrinya sampai kata-kata manja terlontar dari bibir manis Bia.


Bia merasa Harraz seorang suhu yang sangat hebat membuat dirinya kewalahan.


"Aa.. pelan-pelan."gumam Bia yang terengah engah.


"Sayang,ayolah pasti aku akan melakukan nya dengan lembut."ucap Harraz mendengar rengekan Bia.


"Lakukan A," ucap Bia saat mereka sudah sampai di hidangan utama mereka malam ini.


Dengan perasaan dag dig dug dan Bia mencoba merilaks kan dirinya sampailah,sebuah benda asing menerobos masuk tanpa permisi membuat Bia menjerit dan langsung di bekap oleh Harraz dan tangan Bia jari-jari nya sudah menancap di kulit punggung Harraz .


Setelah beberapa saat Harraz pun mulai bergerak dalam sana dan terlihat Bia sudah menikmati suasana malam ini.Harraz mengelap sisa air mata yang keluar dari sudut mata Bia.


Harraz pun tumbang K O dengan keringat membanjiri tubuhnya.Setelah menyemburkan kecebong lucknat nya di rahim hangat Bia.


"Terimakasih sayang,maaf sudah menyakiti kamu."ucap Harraz mengecup seluruh wajah Bia.


"Hemmm.."


Kata sing singkat Bia dan gerakan jarinya membuat Harraz terkekeh melihat Bia yang sudah terkulai lemas.

__ADS_1


Bersambung.


Awas minta lagi, Author puyeng merangkai katanya..😁


__ADS_2