
"Assalamualaikum Om..." ucap Bia dengan nada bicara yang terlihat berbeda.
"Wa'alaikumsalam kak,kamu sehat?"tanya Gema basa_basi.
"Alhamdulillah Om Bia baik,ada hal penting apa sampai om telpon Bia ?"tanya Bia mulai serius.
"Kamu kuliah pagi?"tanya Gema
"Iya,kenapa sih om.. nggak usah basa-basi lagi.Bia nanti kesiangan.Suami Bia juga mau berangkat kerja."ujar Bia mulai tak sabaran.
"Gimana kemarin,soal Black Panther.Semua aman?"tanya Gema
"Okey, Alhamdulillah Bia nggak mati karena kejadian penyerangan malam itu.Gimana hasilnya,apa benar dugaan Bia..mereka ada hubungan nya sama Black Panther?"
"Hemmm..benar,kamu harus lebih hati-hati.Oh iya,aunty Asti sudah lahiran sayang.Adek kamu perempuan."ucap Gema suara yang mulai melemah.
"Hahahaha... yeeeeaahh,aku bilang apa..jadi aku akan tagih janji om Oke?!!"
Sorakan Bia membuat Harraz tersenyum melihat tingkah ajaib istrinya.
"Sayang...!!"seru Harraz saat melihat jam tangannya menunjukkan jam tujuh pagi.
Mendengar teguran suaminya Bia pun menoleh ternyata suaminya sudah diambang pintu balkon.
"Sudah dulu ya Om,nanti kita bahas lagi..selamat menjadi seorang Bapak kalau gitu..hahaha, akhirnya aku punya mainan baru .. Assalamualaikum..hehehehe.."gelak tawa mengiringi ucapan Bia dan diakhiri panggilan telepon nya.
Bia pun masuk ke dalam kamar melihat suaminya sudah siap untuk berangkat ke kampus.
"Maaf A,tadi Om Gema..ngasih tahu kalau aunty Asti sudah melahirkan."ucap Bia pada suaminya.
"Owhhh..kirain ada rahasia yang tersembunyi sampai-sampai kamu ngangkat telponnya diam-diam gitu."ujar Harraz dengan melirik istrinya yang terlihat salah tingkah.
"Huft..suatu saat Aa akan tahu,bukan sekarang ."ucap Bia menepuk lengan suaminya.
Bia mengambil tas nya dan bersiap untuk keluar kamar.
"Soal kamu sama Satria juga kamu akan merahasiakan dari Aa?"tanya Harraz.
"Soal Satria nanti malam aku cerita,sekarang kita kekampus takut telat."ucap Bia.
Harraz pun mengangguk dan mengekori istrinya ke meja makan.
"Assalamualaikum Aa bro.."ucap Umay melirik Bia yang ada di samping suaminya.
"Wa'alaikumsalam,sudah lama kamu di sini?"tanya Harraz langsung duduk di kursinya.
Bia terlihat menyiapkan sarapan untuk suaminya begitu cekatan dan luwes.
"Nggak juga,sebelum Abah sama Umi pergi tadi."ucap Umay.
"Owhhh...jadi ke Semarang?"tanya Harraz
__ADS_1
"Jadi A,tadi umi cuma pesen suruh bilang sama A'a bro juga ning Bia kalau Abah sama umi pergi dua hari."ucap Umay.
"Aa, Jum'at besok Aa kerja nggak?"tanya Bia menatap suaminya.
"Kenapa,ada yang penting kah?"tanya Harraz.
"Niat Bia mau ke Jakarta nengokin aunty Asti.Kalau Aa sibuk Bia minta ijin ke Jakarta sama tante Nia juga Eyang."ujar Bia meminta ijin pada suaminya.
"Jum'at,kayaknya nggak sibuk sih ..habis Jum'at an Aa free,kalau kamu mau ke Jakarta Aa ikut.Sekalian nengokin Daddy sama mama juga belum pernah sowan sana kan," ujar Harraz.
"Oke,kalau gitu aku bilang Daddy biar nanti kapten Zee langsung jemput kita."ujar Bia.
"Kapten Zee, siapa?"tanya Umay bukan Harraz lagi yang menanyakan nama asing di telinga Umay.
"Pilot, private jet Daddy.."ujar Bia santai.
Uhuk uhuk uhuk
Mendengar ucapan Bia membuat Umay tersedak roti yang sedang dia santap.Dengan cepat Harraz memberikan minumnya dan menepuk-nepuk tengkuk Umay.
"Pri_private Jet,Ning Bia punya private jet?"tanya Umay setelah dia bisa bernafas normal lagi.
"Bukan punya aku,punya Mahardika Group."ujar Bia.
Mendengar Mahardika Group membuat Umay dan Harraz saling pandang.
"Mahardika Group?"tanya Umay
"Kamu naik apa?"tanya Harraz menatap istrinya.
"Mobil aku, berangkat duluan A... Assalamualaikum.."pamit Bia langsung melangkah meninggalkan suaminya dan Umay.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati.."ucap Harraz dengan sedikit berteriak.
..
..
"Aa bro,apa hubungannya Ning Bia sama Mahardika Group?"tanya Umay saat mereka sedang ada di dalam mobil Harraz.
"Nanti aku akan rayakan sama Bia,kamu sudah kirim proposal kita kan?"tanya Harraz dengan masih fokus dengan tab nya.
.
.
"Biaaaa...!!"seru Nayla saat di parkiran kampus.
"Nay, apa-apaan sih kamu teriak-teriak kayak di hutan saja."ujar Bia
Walaupun Bia yang bar-bar kini dia sudah lebih bisa menempatkan diri apalagi dengan keadaan nya saat ini sebagai istri seorang Gus Arraz.Walaupun publik belum tahu tapi, setidaknya dia membiasakan diri untuk mengendalikan diri.
__ADS_1
"Hehehe sorry beb,Lo nggak papa kan ?"tanya Nayla
"Aku oke,kenapa?"tanya Bia merasa heran.
"Nggak apa-apa,gue sama yang lain sudah coba hubungi Lo tapi,Lo nggak aktif waktu malam itu,pagi pun nggak ada balasan."keluh Nayla
"Sorry aku nggak apa-apa,gimana keadaan di sana setelah aku pergi ?"tanya Bia penasaran.
"Hemmm.. Javier nanyain Lo,soalnya Lo sama King sama-sama ngilang begitu saja."ujar Nayla.
"King pergi juga?"tanya Bia.
Dia mengingat jika King adalah Harraz suaminya,saat datang ke rumah uti Leha dia ingat kalau Harraz tidak bawa motornya dia bilang kalau dia diantar Umay malam itu.
"Dimana dia umpetin Madonna ?"gumam Bia
"Madonna siapa Bilang?"tanya Nayla mendengar gumaman Bia.
"Ahh..nggak,yuk kita cepet ke kelas.Sebentar lagi dosen Killer dateng."ucap Bia.
Benar saja Harraz pun datang bawa mobilnya masuk ke parkiran kampus.
"Lo kayak cenayang,bisa pas banget si dosen Killer dateng."ucap Nayla.
Mendengar ucapan Nayla membuat Bia tersenyum di balik niqabnya.
"Cuma asal ngomong aja."ujar Bia langsung merangkul bahu sahabatnya langsung pergi dari parkiran.
Harraz yang melihat tingkah istrinya hanya tersenyum tipis sangat samar terlihat karena memang nyaris tak ada senyum yang pernah terbit dari bibir seorang Harraz.
.
.
"Selamat pagi semuanya..!!" seru Harraz saat masuk dalam kelas sang istri.
Terlihat Bia yang terlihat masih berbincang dengan Nayla.
"Kalau ada yang mau sibuk sendiri silahkan keluar dari kelas saya,kamu dan kamu..keluar ..!!" bentak Harraz menunjuk Bia dan Nayla.
"Maaf pak kami cuma...
"Keluar..,nggak bud*g kan..keluar..!!" bentak Harraz lagi
Mendengar bentakan Harraz membuat Bia kesal.Bia dan Nayla pun akhirnya keluar dari kelas mereka.
"Sorry Bi,karena gue Lo ikut kena semprot dosen killer itu."ucap Nayla yang tak enak hati pada Bia.
"Sudahlah,nggak usah khawatir.Awas aja bakal aku balas nanti ..."ucap Bia dengan melenggang ke arah kantin.
Bia kesal dengan sikap suaminya yang terlihat semena-mena,apalagi Bia dan Nayla belum menjelaskan apa yang terjadi saat itu.
__ADS_1
Bersambung