Karena CINTA Itu Ada

Karena CINTA Itu Ada
# Ke Jakarta


__ADS_3

Bia sibuk dengan urusan hafalannya dia di dampingi Wati dan Ustadzah Jihan.Bahkan hafalan yang di minta Harraz pun dia sudah kuasai dan meminta bantuan Jihan dan Wati untuk membimbing nya .Bia tidak peduli dengan nyinyirin yang terdengar lewat telinga nya .


Sedang asyik menghafal tiba-tiba ponselnya berdering.


📞Mama ❤️ Calling...


Saat melihat panggilan telepon dari sang mama Bia pun menyipitkan matanya.Berfikir tumben mamanya menelpon nya jam-jam segini.


Bia mengkode Jihan dan Wati untuk dia mengangkat panggilan sang mama.


"Assalamualaikum ma.." ucap Bia yang keluar dari masjid dan berjalan ke arah ayunan di bawah pohon Jambu.


"Wa'alaikumsalam sayang,kamu di rumah atau di kampus?" tanya Kiran pada sang putri.


"Bia lagi free mah,kenapa ?"


"Gini Bi,kamu bisa ke Jakarta nggak..Oma Hanum dia sakit dia nanyain kamu."


Bia menghela nafas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan.Dia mulai berpikir apakah perlu dia menemui orang yang selama ini akar dari perpisahan kedua orang tuanya.


"Bia,Biiii...kamu masih disana?!"


Teriakan mama Kiran pun mampu memulihkan kesadaran Bia dari lamunannya.


"I_iya mah, nanti coba Bia bilang sama A'a Harraz dulu ya mah,nanti kalau sudah ada jawaban dari Aa,Bia kasih tahu mama."


ucap Bia akhirnya.Dia memang harus berdiskusi dengan suaminya soal dia ke Jakarta.


"Harus itu nak,ya sudah mama sama Daddy mau gantiin Oma Fitri di Rumah sakit.Kamu sama Harraz jaga kesehatan yaa.. Assalamualaikum."


" Wa'alaikumsalam." jawab Bia dengan mengakhiri panggilannya.


Saat selesai dengan panggilan telepon nya tepat dengan Harraz yang keluar dari mobilnya.Harraz melihat sosok istrinya duduk di ayunan dlsepertinya ada sesuatu yang dia pikirkan.


Harraz pun berinisiatif untuk mendekati istrinya .


"Assalamualaikum sayang.." tegur Harraz dengan mengucap kan salam.


" Wa'alaikumsalam,ehh A..udah pulang." ucap Bia terkejut melihat sosok suami nya yang sudah ada di depannya.

__ADS_1


Bia dengan cepat mengulurkan tangannya untuk menyalami tangan Harraz.Harraz pun menyodorkan tangannya di depan Bia dengan cepat Bia pun menyambutnya dengan mencium dengan takzim tangan Harraz.


"Lagi ngapain disini, melamun ?" tanya Harraz ikut duduk di depan Bia di ayunan itu.


Bia membuang kasar nafasnya dan memandang wajah suaminya.


"A,mama barusan telpon terus bilang kalau Oma uyut masuk Rumah Sakit.Aku harus gimana A,sedangkan aku masih belum bisa memastikan kalau aku sudah ikhlas memaafkan kesalahannya."ucap Bia dengan menundukkan kepalanya.


" Oma Uyut,maksudnya Oma..


" Bukan Oma Fitri tapi,Oma uyut mama tiri dari Opa Beni.Nenek dari Daddy .Pokonya hubungan keluarga Mahardika adalah hubungan yang rumit A,aku harus gimana coba?" keluh Bia menatap Harraz dengan wajah sedihnya.


Harraz menggenggam tangan Bia dan memintanya berdiri dia pun ikut berdiri.


" Kita masuk ke dalam,kita bicara di kamar.Kalau disini Aa nggak enak banyak yang lihatin kita." ucap Harraz mengedarkan pandangannya banyak santri yang hilir mudik akan menuju masjid.


Bia pun mengikuti pandangan suaminya.Benar juga dia tak bisa bicara sembarangan di situ.


Akhirnya mereka pun masuk kedalam ndalem .Selama berjalan ke arah ndalem banyak pasang mata yang melihat tingkah Harraz yang terlihat romantis.Padahal hanya dengan menggandeng tangan Bia dan berjalan beriringan ke arah ndalem.


Namun,ada seseorang yang tak suka dengan apa yang dia lihat saat ini.Kenapa dia tidak bisa dekat dengan Harraz dari dulu padahal dia banyak kesempatan untuk berdekatan dengan Harraz.Namun, ternyata cinta dalam diamnya tak di sambut baik oleh Harraz karena dia seorang yang dingin dan tak peka dengan perhatian orang.


Setelah berdiskusi berdua akhirnya Hararz dan Bia memutuskan untuk pagi-pagi akan terbang ke Jakarta untuk menemui Oma Uyut Hanum.


Bia pun sudah bercerita soal di balik sikapnya yang tak bisa memaafkan kesalahan sang Oma.Namun, dengan perlahan dan dengan nasehat Harraz Bia lebih mengerti dan lebih paham apa yang harus dia lakukan.


Rasa dendam pun itu tak dibenarkan.Dendam hanya bisa membuat jiwa kita makin tersesat.Dan Harraz tak mau jika istrinya memendam rasa bencinya.Apalagi dengan orang yang sudah sepuh.


Pagi menjelang dan kini Harraz dan Bia sudah ada di bandara Abdulrachman Saleh Malang.


Mereka melakukan penerbangan jam sembilan pagi perjalanan kurang lebih satu setengah jam.


Harraz dan Bia berjalan beriringan dengan bergandengan tangan memasuki bandara.Setelah melakukan Check In dan sebagainya mereka pun masuk kedalam pesawat.


Harraz terus saja menggenggam tangan istrinya dengan erat.Harraz merasakan jika hati Bia sedang tidak tenang.


Setelah melakukan perjalanan Satu jam lebih mereka sampai di Bandara Soekarno_Hatta.


Di pintu kedatangan sudah terlihat supir kesayangan Bia mang Udin.

__ADS_1


" Mang Udin !!" seru Bia saat tak jauh dari tempat mang Udin berdiri.


" Non Bia, Masyaallah.. Alhamdulillah sampe juga.Den,saya Udin supir tuan Abi." ucap Mang Udin dengan memperkenalkan diri pada suami Bia.


" Salam kenal mang, jangan sungkan gitu.Panggil saya Arraz aja mang ." ucap Harraz tak enak hati dengan sebutan "den" nya .


" Kalau gitu mamang panggil Gus Arraz saja kalau gitu kan gitu lebih afdol." ucap mang Udin.


Harraz pun hanya bisa menghela nafas dan mengangguk pasrah dengan sebutan dari mang udin.


" Mang mama sama Daddy di rumah atau di Rumah Sakit?" tanya Bia saat mereka berjalan menuju mobil.


" Ada di Rumah Sakit,Ning mau ke Rumah atau ke RS?" tanya mang Udin dan memanggil Bia dengan sebutan Ning.


" Iiihhh mamang,ya sudah kita ke Rumah Sakit saja deh,nggak papa kan A' kita ke sana langsung nanti sore baru kita pulang sekalian istirahat." ucap Bia.


" Terserah kamu, Aa ikut saja." ucap Harraz


Akhirnya mereka pun menuju Rumah Sakit Mahardika.Tak butuh waktu lama tiga puluh menit mereka sampai RS dan langsung menuju ruangan di mana sang uyut berada.


Di lorong Rumah Sakit terlihat sang mama dan Daddy nya sedang berbincang dengan seseorang yang dia kenal.


" Assalamualaikum.." ucap Bia dan Harraz bersamaan.


" Wa'alaikumsalam." ketiga orang Yanga Edang berdiskusi dengan serius langsung menatap kedua orang yang baru datang.


" Bia,Harraz kalian sudah datang." ucap Abi.


Harraz dan Bia pun menyalami Abi dengan takzim.Jangan di tanya gimana cara menyalurkan rindu Bia pada Abi pastinya dengan memeluk putrinya dan mencium pucuk kepala putrinya bertubi-tubi.


" Jangan cemburu ya Yaz,kalau mereka ketemu pasti gitu.Mama saja suka di cuekin sama mereka." bisik Kiran pada menantunya


" I_iya mah,maafin Harraz karena Bia menikah dengan Harraz ,Bia tak bisa seenaknya pergi." ucap Harraz merasa tidak enak hati.


" Mama paham,Bia beruntung karena dapat menikah dengan kamu..bukan dengan orang yang pura-pura sayang tapi, juga menyakiti hatinya." ucap Kiran dengan memandang putrinya juga suaminya yang belum bisa terpisahkan.


Harraz yang mendengar ucapan Ibu mertuanya tentu penasaran dengan apa yang dikatakan Kiran barusan.Apa itu ada hubungan nya dengan orang di masalalu Bia?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2