Karena CINTA Itu Ada

Karena CINTA Itu Ada
#Rencana Kompetisi


__ADS_3

"Astaghfirullahal'adzim.."


Wati dan Umi Kalsum juga Bia beristighfar setelah melihat isi dalam kotak yang baru di terima Bia.


"Ulah siapa ini?"tanya Umi Kalsum pada Bia dengan wajah pucat.


Wati merasa syok dengan apa yang terjadi barusan.Sedangkan Bia masih diam setelah melihat apa yang dia dapat barusan.


"Umi,mba Wati,jangan sampai ada yang tahu tentang apa yang terjadi saat ini.Rahasiakan dari siapapun termasuk A' Ayaz." ucap Bia dengan nada dingin.


"Tapi nak..


"Bia mohon umi,lebih baik sedikit yang tahu tentang ini.Aku ingin melihat siapa yang ada di balik teror ini.Mbak Wati tolong ambil cangkul kita kubur ini."ucap Bia tertuju benda yang ada di kotak yang dia letakkan di lantai.


"Baik nik Bia."ucap Wati tanpa bertanya apapun lagi.


Umi Kalsum mendekap tubuh menantunya.Dia merasa syok dengan apa yang di berikan pada Bia tadi.Bangkai tikus dengan banyak bela*ung nya.


"Umi minum dulu,tenangkan hati umi.Coba lupakan dan biarkan.Selama dia tidak melukai kita Bia akan tunggu dia muncul."ucap Bia berusaha menenangkan hati sang ibu mertua nya.


"Tapi umi takut mereka melukai kamu Bia,setidaknya kalau Abah dan Ayaz tahu mereka akan melakukan penjagaan buat kita." ucap Umi Kalsum.


"Tidak umi,kalau penjagaan ketat dia tak akan muncul dan aku ingin dia cepat muncul." cap Bia.


Umi Kalsum sungguh mengkhawatirkan Kondisi menantunya namun,Bia dengan keras menolak ucapannya.


"Untuk sementara Umi bisa tinggal di rumah kak Aisyah atau kak Zaf.Biar aku dibantu sama mba Wati menyelesaikan semuanya."ucap Bia pada sang umi.


"Nggak,umi nggak akan kemana-mana selagi kamu dalam bahaya Bi,kalau umi ada di dekat kamu pastinya mungkin ada yang umi bisa lakukan untuk kamu." ucap sang umi.


"Baiklah,tapi..aku mohon Umi ikuti arahan Bia." ucap Bia pada mertuanya.


"Pasti sayang.." jawab Umi Kalsum memeluk tubuh Bia dengan erat.Dia tak mau kehilangan menantu yang baik itu.


...----------------...


Dua hari berlalu setelah kejadian hari dimana Bia mendapatkan teror semuanya nampak biasa saja.Namun,di hati dua orang yang selalu cemas memikirkan bagaimana keadaan Bia selanjutnya.

__ADS_1


Saat ini terlihat Bia dan juga Jihan serta Wati yang sedang sibuk membantu para mbak Santri untuk menyiapkan makanan untuk makan malam.


"Assalamualaikum.." ucap seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam dapur pesantren.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." ucap semua yang ada di dapur pesantren.


"Ehhh.. ustadzah Hilya sudah selesai liburannya ?" tanya Wati dengan wajah seolah-olah suka dengan kehadiran sang Ustadzah.


"Iya, Alhamdulillah..saya sudah selesai cuti dan langsung kesini untuk melakukan kewajiban saya sebagai pengajar." jawab Hilya dan mendudukkan bok*ngnya di samping Bia.


Bia bersikap biasa,cuek dan tak banyak bicara.


"Ning Bia gimana kabarnya?"tanya Hilya dengan basa basi.


"Seperti yang ustadzah Hilya lihat,aku baik-baik saja.Bahkan sangat baik."jawab Bia santai.


"Syukurlah, kalau selama saya cuti apa ada kejadian yang penting?" tanya Hilya.


"Penting,nggak ada...ahhh ada." ucap Jihan menjawab pertanyaan Hilya.


Bia dan Wati saling beradu pandang mendengar ucapan Jihan.Sementara Hilya terlihat sangat antusias dengan berita penting yang dibilang Juga.


"Owhh..kemarin Gus Arraz bilang ke Ustadz Umay kalau kompetisi berkuda akan diadakan lagi."ucap Jihan.


Mendengar jawaban Jihan membuat Bia langsung antusias.


"Serius,kapan? kok aku nggak tahu yaa?" tanya Bia


"Kompetisi ini biasanya hanya untuk Ustadz, Ustadzah juga para santri."jawab Hilya.


"Tapi,aku kan juga termasuk santri.Bukan begitu Ustadzah Jihan?" tanya Bia dengan memandang Jihan.


"Memanglah Ning Bia salah satu santri putri tapi, tidak mungkin Gus Arraz akan membiarkan Ning Bia terluka.Dia sayang banget sama Ning Bia," ucap Jihan.


"Tapi, aku memang harus ikut Ustadzah.Lihat saja nanti akan aku tunjukkan bisa berkuda dengan baik."ucap Bia dengan semangat.


Bia beranjak dari tempat duduknya dan melenggang masuk ke dalam ndalem Nyai Said.

__ADS_1


"Aa' ,Adik bro..!!" panggil Bia saat melihat sosok suaminya dan Umay baru pulang dari masjid.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.." ucap para laki-laki yang tak lain adalah Kyai Said dengan para anak menantu nya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.."jawab Bia dengan wajah ceria.


Bia menyalami mertua dan suaminya.


"Ada apa nih putri abah,tumben banget sudah tidak bisa jauh dari suami," goda Kyai Said pada menantunya.


"Ciee..abah sudah bisa godain menantinya,maaf ya abah mertua ku yang paling ganteng..Bia ada perlu sama A'a suami dan juga adik bro.."ucap Bia dengan senyuman manisnya.


"Wahh..ada apa nih tumben kakak Ukhti perlu sama Umay ,pasti ada sesuatu yang tidak biasa nih..," ucap Umay dengan wajah menelisik pada Bia.


"Hehehe..tahu saja,aku mau ikut kompetisi berkuda.." ucap Bia dengan senang.


"Hahh..yang serius kakak ukhti,ini kompetisi khusus...


"Iya aku tahu ini khusus santri dan pengurus.Tapi, apa kalian amnesia kalau aku juga santri di pondok pesantren ini,aku murid kalian..nggak lupa kan,"


"Kami nggak lupa,tapi..kamu nggak bisa ikut serta di kompetisi ini.Aa nggak mengijinkan,ini hal yang tidak main-main sayang..." ucap Harraz pada sang istri.


"Aisssttt..Aa nggak percaya aku bisa,jangankan untuk naik kuda aku juga bisa mengalahkan kamu di balap motor kan,ayolah King..Please Queen mu ini tidak akan mengecewakan mu,aku janji." rayu Bia pada suaminya.


"Nggak bisa sayang, kamu mau Aa di gantung sama Daddy kalau putrinya sampai terluka karena itu bisa bisa Aa di pecat jadi mantu.."ucap Harraz memberikan alasan.


"Kalau Daddy ijinkan,kamu ijinkan dong..oke,aku telpon Daddy.." ucap Bia tak mau kalah.


Harraz mendengar ucapan istrinya langsung melotot ke arah Bia, bisa-bisa nya dia nego begitu.Harraz tak mau terjadi apa-apa pada Bia.Apalagi dia takut emosinya Bia akan terpancing saat melakukan kompetisi.


"Yeeeyyy..daddy mengirimkan pesan kalau aku bisa ikut,jadi kamu nggak ada alasan buat melarang ku sayang ...tolong catat nama ku adik bro.." ucap Bia dengan begitu manis.


Sementara yang lainya melihat tingkah Bia hanya bisa geleng-geleng kepala dan ingin menertawakan Harraz yang terlihat begitu tertekan mengingat ke bar-bar annya Bia mulai kumat


"Bersyukur lah Aa bro,kakak ukhti sudah balik lagi sama sifat bar-bar nya ..hehehe.."ledek Umay pada sepupunya itu.


Harraz hanya bisa pasrah dengan kemauan istrinya yang pastinya dia tidak akan bisa cegah lagi apalagi jika papa mertuanya turun tangan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2