
Setelah jam makan siang, Sintia kembali meninggalkan kantor. Dia pergi bersama Verrel ke suatu tempat.
"Pernikahan hampir dekat, kita harus mempersiapkan segalanya baby" ujar Verrel, dia berbicara, namun tatapan mata nya terus fokus ke depan.
Sintia terdiam, matanya menatap kosong ke luar pintu kaca mobil Verrel. Kemarin, dia akan menikah dengan Verrel, semua keluarga nya setuju. Namun, persiapan pernikahan tetap dia yang mengurus. Bahkan untuk fitting gaun pengantin saja, dia yang urus sendiri.
"Kamu kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Verrel menoleh pada Sintia sebentar, kemudian kembali fokus ke depan.
Sintia tersentak, dia juga menoleh pada Verrel. Dengan senyum tipis dan menarik nafas dalam, Sintia menggeleng pelan.
"Aku tidak memikirkan apapun, hanya saja aku baru sadar. Bahwa selama ini aku terlalu bodoh"
"Bodoh menilai seseorang yang aku pikir mencintai ku. Berpikir mereka yang seakan tidak peduli membalas cinta ku"
Cih.
Sintia membuang wajahnya ke samping, menghindar agar Verrel tidak melihat air matanya yang perlahan menetes.
"Luapkan saja, habiskan saja semuanya sekarang. Aku tidak mau, setelah menikah, hati mu masih sedih seperti ini"
Sintia mengangguk, dia membiarkan air matanya menetes sia sia.
"Kamu benar, aku harus meluapkan nya dan harus melupakan semua nya setelah kehidupan baru kita di mulai"
"Good!"
Mobil Verrel melajut cepat, lalu berhenti di depan sebuah butik ternama di kota itu.
"Ayo turun, kita akan mencari gaun yang indah untuk mu" ajak Verrel.
Sintia tidak bergeming, dia menatap butik yang juga merupakan tempat dia memesan gaun pengantin nya dengan Rendi.
Melihat Sintia tidak bergerak sama sekali, Verrel kembali duduk dan menghadap pada wanita itu.
"Ada apa? Mengapa kamu masih duduk di sini?" Tanya Verrel heran. Dia mengikuti pandangan mata sintia yang menatap gedung butik .
Cukup lama Verrel berpikir, menebak apa yang terjadi. Tiba tiba dia terpikir sesuai, dan dia yakin itu penyebabnya.
"Apa kamu juga memasan gaun di sini?"
Deg.
Tubuh Sintia mendadak kaku, dia sangat terheran dengan pria di samping nya ini. Bisa bisa nya dia menebak dengan benar.
"Melihat reaksi mu, aku sudah tahu jawaban nya. Kalau begitu, kita cari butik lain"
__ADS_1
Verrel kembali memasang sabuk pengaman nya, dia kembali melajukan mobil nya menuju ke butik yang lain.
"Mengapa kamu melakukan ini? Aku tidak apa apa, jika memesan di sana lagi" lirih Sintia.
"Tidak bisa, aku tahu kamu tidak nyaman jika kita memesan di sana! Jangan berbohong pada ku"
Sintia hanya bisa menunduk, dia memang sedikit enggan masuk ke dalam butik itu. Dia yakin, semua orang akan melihat aneh kepadanya.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun, mengolok olok calon istri ku, apalagi sudah menjadi istri ku!" Verrel meraih tangan Sintia, menggenggam erat tangan dengan jemari yang mungil mungil.
"Terimakasih yah Verrel, kamu sangat pengertian. Aku merasa ini benar benar bukan komplotan balas dendam" ungkap Sintia yang langsung di jawab oleh Verrel secara spontan.
"Memang bukan!" Seru nya, namun terdengar samar di telinga Sintia.
"Kamu ngomong apa?"tanya Sintia.
"Tidak ada, aku hanya bergumam. Membayangkan bagaimana ekspresi mantan tunangan mu, dan kakak mu ketika melihat kita menikah"
"Mantan kekasih mu!" Sindir Sintia.
Verrel terkekeh pelan, dia semakin merasa cocok dengan Sintia. Dia semakin yakin, jika pilihan nya tidak salah.
"Sela, Terimakasi. Telah membuat aku dan adik mu bertemu. " Batin Verrel.
Niat awal pria itu, memang ingin membalas dendam soal pengkhianatan Sela.
"Verrel, kita akan melangsungkan pernikahan di mana?" tanya sintia.
Mereka baru saja keluar dari sebuah butik yang tak kalah terkenal dengan butik yang pertama tadi.
Sintia memilih gaun yang sangat indah. Verrel sampai terpesona ketika melihat Sintia memakai nya. Dia sampai tidak sabar ingin menikahi gadis ini secepat mungkin, memiliki nya seutuhnya.
"Untuk tempat pernikahan, kita akan menggunakan gedung hotel bintang 5 milik ku. Kamu tinggal katakan saja pada ku, Seperti apa desain yang kamu inginkan" tutur Verrel.
"Benarkah? "
"Tentu honey, apapun yang kamu inginkan, akan aku lakukan. "Sahut Verrel mendramatis.
"Waw...Tuan Verrel Eldor, anda sangat pintar membuat wanita melayang. Ayo katakan, berapa gadis yang sudah kau tinggalkan?" Decak Sintia menggoda Verrel.
Pria itu terkekeh pelan, " Aku bukan seorang pria yang mudah di dekati oleh wanita. Aku juga tidak sembarangan menggunakan wanita." Jawab Verrel.
Sintia tampak tidak percaya, dia yakin Verrel seorang pro Player. Namun, dia tetap mengikuti alur pria itu.
"Benarkah? Wahh..betapa specialnya kakak ku di hidup mu"decak Sintia dengan mata berbinar menatap Verrel yang sedang mengemudi.
__ADS_1
"Dia wanita yang panas di ranjang, asal kamu tahu" kekeh Verrel.
Mata Sintia seketika terbelalak, mendengar jawaban pria itu. Di tidak menyangka Verrel sudah pernah meniduri kakak nya.
"Bahkan aku punya berbagai macam video kakak mu saat bermain dengan ku. "Sambung nya.
Deg.
Tubuh Sintia kembali menegang, dia mulai memikirkan keluarga nya. Jika saja Verrel sakit hati dan menyebar video itu, pasti Keluarga nya sangat malu. Reputasi mereka akan hancur.
"Tenang saja, aku tidak akan menyebarnya ke publik" ucap Verrel lagi, seakan menjawab pikiran Sintia.
"Uhm..Jangan mengancam ku seper itu"lirih Sintia.
Suasana yang tadinya humble, kini mendadak berubah menjadi menegangkan. Sorot mata Sintia dingin, dan Verrel terheran heran.
"Aku tidak mengancam mu honey, aku hanya memberitahu mu. Asalkan kamu tidak melakukan hal yang sama.
Untuk sekedar kamu ingat, aku tidak suka pengkhianatan!" Bisik Verrel, dia tersenyum menyeringai.
Sintia sampai menggelinjang pelan, saat merasakan deru nafas Verrel saat berbisik di telinga nya.
Mobil terus melaju, Sintia tidak tahu kemana lagi pria itu akan membawa dirinya pergi.
...----------------...
"Selamat siang sayang, selamat siang anak papa"
Rendi menghampiri calon istri nya, memeluk dan mengecup perut Sela yang masih terlihat rata.
cup.
Rendi terus memperlakukan Sela dengan sangat hangat. Namun, wanita hamil itu terlihat biasa saja. Tidak seperti biasanya, ketika mereka bertemu. Sela akan sangat manja, bahkan dia tidak mau melepaskan pelukan nya pada tubuh Rendi.
Rendi menyerah, dia melepaskan pelukan nya. Menatap wanita yang sedang mengandung anak nya.
"ada apa, mengapa kamu bersikap seperti ini?"
"aku hanya lelah Ren, aku butuh istirahat"
"Kalau begitu, istirahat lah!" balas Rendi cuek.
Sela langsung tersentak, dia sadar atas apa yang dia lakukan.
Dengan segera, Sela kembali memeluk Rendi. Dia tidak boleh membuat pria itu menjauh dari hidupnya untuk saat ini.
__ADS_1
Sela tidak mau, untuk mendapatkan Verrel, dia sampai kehilangan Rendi. karena baginya, mendapatkan Verrel pasti akan sangat sangat sulit.