
Sela dan Rea tidak bisa memikirkan hal ini. Mereka benar benar terkejut mengetahui bahwa Sintia telah berubah.
"Dia terlihat sama seperti Mama nya!" gumam Rea. Tatapan matanya lurus ke depan, seakan mengingat kembali bagaimana rusuh nya dia ketika berhadapan dengan Felicia.
"Maksud mama apa?" tanya Sela.
Gadis itu merasa dirinya bodoh, apapun yang terjadi di dalam rumah ini tidak di ketahui nya.
Mendadak semuanya telah kacau. Sintia bukan adik nya, semua harta milik Sintia. Oh astaga, Sela benar benar pusing dengan segala fakta yang ada.
"Kamu tidak akan tahu Sela, karena kamu hanya menghabiskan uang dan uang. Keluyuran di mana mana. Kamu malah fokus dengan profesi mu yang tidak jelas itu. Lihat kan, sekarang kamu tidak terkenal lagi, job tidak ada. Apapun tidak ada. Kamu hanya punya anak yang ada di dalam kandungan kamu saja. Bahkan itu tidak jelas siapa ayah nya" gerutu Rea.
Sela hanya bisa menunduk, dia akui kalau dia selama ini telah salah. Dia juga merasa rugi tidak mempelajari dunia bisnis seperti yang Sintia lakukan. Sekarang, dia merasa menjadi orang paling bodoh di dunia ini.
"Maafkan aku mama" lirih Sela penuh penyesalan.
"Buang kata maaf mu, perhatikan saja diri mu yang saat ini hamil tua. Dan ingat, kamu harus patuh dengan apapun yang mama papa katakan. Paham!"
Sela mengangguk cepat. Tentu saja dia akan mematuhi mama dan papa nya. Hanya mereka yang dia miliki di dunia ini. Apalagi seperti saat sekarang ini, tidak akan ada orang yang menginginkan dirinya.
Ceklek.
Danrem pulang dari kantor, dia terlihat tergesa-gesah. Rea dan Seka menatap heran pada nya.
"Papa, ada apa. Kenapa tergesa-gesah seperti itu?" Tanya Sela.
"Iya mas, ada apa?"
Danrem hanya melirik mereka sebentar tanpa menghentikan langkah nya.
"Ada apa sih ma, kenapa papa tidak menjawab?" Tanya Sela penasaran.
Rea menggeleng pelan, dia mengikuti suaminya masuk ke dalam ruangan kerja nya.
Sela juga ikut, dia penasaran dengan sikap papa nya. Dia ingin tahu apapun yang sedang terjadi.
"Mengapa semua nya terasa rumit setelah aku mengetahuinya" batin Sela.
Danrem mencari sesuatu, mengacak acak semua barang di laci, di lemari kaca, di semua tempat penyimpanan.
Rea dan Seka terkejut melihat apa yang sedang Danrem lakukan.
"Ada apa ini, mengapa kamu mengacak acak barang barang mas?" tanya Rea menatap semua barang barang telah berserakan di lantai.
Danrem tidak menjawab, dia fokus dengan apa yang dia cari. Hingga Rea tidak tahan lagi, dia menarik tangan suaminya. Menghentikan suaminya mencari entah apa itu.
"Apa ini, kenapa kamu tidak menjawab ku???"
"Oh astaga, Rea ada apa. Kau jangan mengganggu ku. Aku sedang sibuk mencari sesuatu!" balas Danrem mengerang frustasi.
"Cari apa?"
"Cari sesuatu yang harusnya ada di tangan ku." jawab Danrem lantang.
Dia emosi, benda itu tidak ada di mana pun!
__ADS_1
Dia kembali melanjutkan pencarian nya. Entah di mana benda kecil yang menjadi ciri khas pemilik tahta Mafia terkuat.
Mutiara Naga suci.
Benda yang hanya sebesar kelereng. Berwarna putih bersih dan jernih. Di dalam mutiara itu terlihat ada seperti seekor naga hijau yang sangat indah.
Naga hijau, merupakan lambang dari kelompok Mafia terkuat yang dulunya di pimpin oleh Felicia dan Hino.
Kini beralih di tangan Danrem yang merubah nama kelompok itu menjadi Rafs.
"Arrrggg....Di mana kotak itu berada!!!"
Danrem marah marah, dia melempar barang barang yang ada di dekatnya.
Salah satu benda mengenai perut Sela. Membuat gadis itu seketika berteriak kesakitan.
"Aw.. "
"Sela???" pekik Rea terkejut. Dia langsung membantu putrinya yang memegangi perutnya.
"Mas, kamu ini apa apaan sih. Lihat lah, putri mu mengerang kesakitan karena ulah mu!" omel Rea menyalahkan suaminya.
Danrem mendekati putrinya, dia menyesal telah melakukan nya.
"Maafkan papa nak." Sesal nya.
Sela menggeleng, dia tidak mempermasalahkan semua itu. Dia tahu jika papa nya tidak sengaja.
"Tidak masalah papa."
"Terimakasih" lirih Danrem bernafas lega.
Besok adalah n seluruh persatuan Mafia. Jika dia tidak membawa mutiara itu. Maka, dia akan di anggap pengkhianat. Dia akan di hancurkan oleh mereka semua.
Tidak. Danrem tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Dia harus menemukan mutiara itu sebelum pertemuan itu di lakukan.
"Papa, aku tidak tahu apa yang papa cari. Mungkin informasi ku akan berguna bagi mu" ujar Sela.
"Katakan nak, apa itu?" tanya Danrem. Rea juga menatap penasaran kearahnya.
"Pagi ini, setelah papa pergi. Aku melihat Sintia masuk ke dalam ruangan kerja papa. Aku berpikir dia bertemu papa di sini. Tapi, ketika aku tahu papa sudah pergi ke kantor. Aku jadi curiga pada Sintia!" jelas Sela.
"Benar! aku yakin gadis yang kau banggakan itu mengambil sesuatu dari ruangan mu!" sambung Rea.
Danrem terdiam, dia mengakui apa yang istri dan putrinya katakan ada benar nya.
Semenjak kedatangan Sintia ke rumah ini. Dia merasa terus di awasi. Lebih aneh nya lagi, Verrel tidak mencari atau melakukan apapun soal kepergian istrinya.
Danrem tahu, bahkan semua orang tahu. Jika Verrel merupakan orang yang tidak suka hak milik nya berada di tangan musuh.
Ini Aneh, sangat aneh.
Danrem berdiri dari duduk nya. Kedua tangan nya mengepal, rahang nya mengeras.
__ADS_1
Ceklek.
Perhatian mereka beralih, Sintia muncul dari balik pintu.
"Papa..Apa Ka-"
Ucapan Sintia terhenti saat melihat Sela dan juga Rea ada di dalam ruangan papa nya.
"Apa aku mengganggu?" tanya Sintia masuk ke dalam ruangan itu. Dia bersikap seolah olah tidak terjadi apa apa di antara mereka.
Sintia dapat merasakan ketegangan di dalam ruangan ini. Tapi, dia tahu jika mereka tidak sedang bertengkar.
"Papa... Aku akan menemui mu nanti saja. Kalian lanjutkan saja!" Ujar Sintia berbalik hendak pergi.
Namun, Danrem tiba tiba menahan lengan Sintia. Mencengkram nya erat.
"Aw...Papa sakit, ada apa ini?" Tanya Sintia seraya meringis kesakitan.
Sela tersenyum miring, dia bahagia melihatnya. Dengan cepat, dia mengambil senjata yang selalu ada di bagian belakang celananya yang tertutup oleh blazer yang selalu dia kenakan.
"CK. Sekarang, kamu tidak akan bisa melawan lagi!" ujar Sela tersenyum menang.
"Ada apa ini, papa apa yang kau lakukan?" tanya Sintia masih berpura pura tidak tahu.
Rea melangkah maju, mendekati Sintia. Dia yang sudah geram sejak hari di mana Sintia mengancam nya. Kini dia akan membalaskan rasa ketakutan nya itu.
"Kemari kau mengancam ku dengan senjata mu? Sekarang aku akan mengancam mu dengan kelemahan mu " ucap Rea tersenyum sinis.
Sintia menatap mereka semua, dia berusaha melepaskan pegangan tangan Danrem.
"Kau gila! lepaskan aku, sebelum aku benar benar marah!" seru Sintia penuh dengan penekanan.
Plak!
"Berhenti berteriak pada ku, berhenti mengeraskan suara mu pada ku!" teriak Rea setelah melayangkan tamparan kuat.
Plak!!!
Lagi dan lagi Rea menampar wajah Sintia. Menyisakan rasa perih dan cetakan tangan nya yang berwarna merah saking kerasnya tamparan itu.
"Sekarang, kau tidak bisa bersandiwara lagi Sintia! Katakan pada ku! di mana kau menyimpan mutiara Naga Hijau!"
Danrem membalikkan tubuh Sintia, menjadi menghadap padanya dengan sangat kasar.
Tubuh Sintia yang memang masih lemah karena hamil muda, membuat penglihatan nya berkunang kunang.
"Cepat katakan!!!" bentak Danrem.
Sintia tidak menjawab, penglihatan nya benar benar sudah gelap.
"Apa yang terjadi, aku tidak boleh jatuh di sini" gumam nya dalam hati. Berusaha untuk tetap kuat dan terbebas dari keluarga gila ini..
"Sintia jawab Aku!!!!!" teriak Danrem semakin keras.
Sintia terkejut, dia menatap Danrem dengan sangat tajam. Seolah dia sangat menantang pria itu.
__ADS_1
"Beraninya kau membentak ku seperti itu!!"
Plak!!