Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Sikap Manis Suami


__ADS_3

Verrel terbangun dari tidurnya, tangan nya meraba raba tempat di sebelah nya.


Kosong?


Mata Verrel terbuka lebar, melihat tempat di sebelahnya tidak ada siapapun. Mengedarkan pandangan ke seluruh bagian kamar. Tetap tidak melihat siapapun di sana, dia hanya sendirian.


Verrel memunguti celana nya yang berserakan di lantai, lalu memakai tanpa ****** *****.


"Kemana dia?" Gumam pria itu panik, baru dia hendak bangkit untuk mencari Sintia. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan muncullah Sintia dari dalam sana.


Ceklek.


Verrel memperhatikan, dia bernafas lega sekarang.


Fyu.


"Ternyata dia di sana" Verrel berpikir Sintia akan pergi setelah tadi malam dia melampaui batasan nya. Nafsu nya terlalu besar ketika melihat Sintia yang sangat menggoda.


"Akh.."


Sintia terlihat meringis kesakitan, dia juga kesusahan dalam berjalan. pangkal paha nya terasa sangat ngilu ketika dia mencoba untuk berjalan. Dengan langkah kecil, Sintia terus berusaha menuju ke tempat tidur.


"Mengapa masih sakit, padahal aku sudah berendam air hangat!" gerutu nya seraya menahan sakit.


Mata Sintia memejam, menahan ngilu yang kembali menggerogoti pangkal paha nya.


Sintia masih belum sadar, jika Verrel sudah terbangun dan memperhatikan nya.


"Kamu tidak apa apa honey?"


"Huh?" Sintia terkejut, tubuh nya tiba-tiba melayang di udara. Dalam sekejap, dia sudah terduduk di tepi ranjang.


"Kenapa kamu tidak membangunkan aku? aku pasti akan membantu mu!"


"kamu tidur terlalu lelap, aku tidak tega melakukan nya" cicit Sintia.


"Apa masih sakit?" tanya Verrel khawatir.


"Tentu saja, ini pertama kali bagi ku. Dan nafsu mu sangat besar" dengus Sintia dengan ekspresi lucu di mata verrel


"Maafkan aku sayang, aku berjanji tidak akan terlalu kasar lagi"


Sintia terbelalak, apa Verrel berniat ingin melakukan lagi? oh tidak, Sintia merasa dirinya belum siap. Tadi malam, dia merelakan nya karena tidak sadar, Verrel sangat pintar menggoda tubuh nya.


"Kamu tahu Sintia, pengalaman ku di dunia ranjang ini sudah sangat banyak. Aku sudah sering menggauli berbagai macam wanita ****. Tapi, aku tidak pernah merasakan nikmat yang begitu besar, ketika bersama mu!" Verrel berjongkok di depan istrinya, menggenggam tangan istrinya yang menunduk malu.


"Kamu yang paling hebat, aku tidak pernah merasa kecanduan dengan seorang wanita. Hanya kamu yang bisa membuat ku seperti ini"


"Benarkah?"


"Tentu"


Sintia tersenyum malu, dia memberanikan diri untuk mengangkat wajah nya.


Cup.

__ADS_1


Dengan cepat, Verrel langsung membungkam bibir Sintia dengan bibir tebal milik nya.


Awal nya hanya lumayan biasa, lama kelamaan berubah menjadi panas dan semakin panas.


"Verrel, aku mau tidur" Sintia mendorong dada suaminya, sehingga ciuman mereka terpaksa terlepas.


"Kenapa?"


"Aku mengantuk, tadi malam terlalu lelah. Ijinkan aku untuk tidur" ucap Sintia yang langsung merebahkan tubuh nya, kemudian menutup tubuh nya dengan selimut.


Saat itu, Sintia hanya mengenakan handuk saja. Dia terlalu malas untuk mengenakan pakaian nya. Semalam pria itu juga sudah melihat seluruh bagian inti dirinya.


Verrel mendesah pelan, hasrat nya harus ia tahan.


Aneh bukan?


Baru kali ini seorang Verrel menerima penolakan dari seorang wanita, dan itu hanya terjadi pada Sintia. Wanita yang sudah sah menjadi istri nya.


Verrel melangkah gontai ke kamar mandi, dia di buat tercengang saat melihat penampakan di dalam kamar mandi nya.


Semuanya terlihat sangat rapi, barang barang nya terlihat sangat rapi dan lengkap. Handuk yang semula berantakan, kini sudah tergantung rapih sesuai dengan jenis warnanya.


Verrel mendekati rak tempat sabun dan perlengkapan mandi milik nya tersusun dengan sangat rapih. Bukan hanya barang nya saja, tetapi barang milik Sintia juga sudah tersusun di sana.


"Waw, begini kah rasanya memiliki seorang istri?" Verrel berdecak kagum.


"Tapi, bagaimana dia bisa melakukan semua ini? bukan kah dia sedang sakit???"


Tidak mau ambil pusing, Verrel terlewat senang saat ini. Dia membuka pancuran air hangat, lalu mengguyur puncak kepalanya. Hingga membasahi seluruh tubuhnya.


Setelah selesai mandi, mengenakan baju kaos lengan pendek dan celana pendek berbahan katun. Pria itu langsung keluar kamar menuju ke dapur.


"Aku harus memasak untuk istri ku, dia sudah berjuang semalam"


"Mari kita lihat, bahan bahan apa yang tersedia di kulkas."


Verrel melihat isi kulkas, semua bahan ada di sana. Meskipun dia seorang laki-laki bujangan, Verrel merupakan tipe pria yang kurang suka makan di luar. Dia lebih suka masak sendiri di rumah besar nya ini.


"Wah, pengantin baru. Sedang apa di dapur sepagi ini?"


Verrel menoleh sekilas pada Reno yang berjalan kearahnya.


"Aku ingin membuat sarapan, apa kau sudah sarapan?"


Reno bergidik bahu, tentu saja dia sudah sarapan. Dia bukan lah pria bujangan.


"Widia memasak enak lagi ini, katanya sebagai penyambutan hari bahagia setelah melihat mu menikah"


"Wah, aku jadi tersanjung"


Keduanya tertawa bersama, Verrel mencuci daging. Dia ingin membuat steak special untuk istri cantik nya.


"Yasudah lah, aku mau mengecek komplek dulu. Berdiri di sini dan terus di abaikan membuat ku merasa bosan" ujar Reno mendramatisir keadaan.


"Yayaya, lebih baik kau pergi dari pada mengganggu ku" usir Verrel, sedangkan Reno berpura-pura sedih.

__ADS_1


"Dasar, pria bajingan" umpat Verrel sebagaimana candaan.


Verrel tersenyum bangga melihat hasil kerja kerasnya pagi ini.


Hidangan lezat sudah tertata rapi di atas meja. Kini waktunya dia membangunkan istri nya.


Saat masuk ke dalam kamar, Verrel mendapati Sintia masih bergelung di dalam selimut.


Senyum jahil tercetak di bibirnya, Verrel dengan segera naik ke atas tempat tidur. Lalu, dia masuk ke dalam selimut.


"Ngg... Aduh, siapa sih. " Erang Sintia bergerak gelisah. Matanya masih tertutup, terlihat enggan untuk membukanya.


Tangan Sintia bergerak menjauhkan seseorang yang kini berada di atas dada nya.


"Awas... Aku masih mengangguk!! Jangan ganggu aku!"


Verrel tidak mendengar, dia terus menggoda Sintia dengan memainkan dada istrinya.


"Oh God, siapa yang berani mengganggu ku!"


Dengan memaksa matanya untuk terbuka, Sintia menatap Verrel yang seperti anak bayi.


"Verrel, oh astaga. Apa yang kau lakukan huh?"


"Aku membangunkan mu" jawab Verrel tanpa dosa.


Sintia mencebikkan bibir nya, dia seakan tidak percaya dengan sikap pria arogan yang terlihat sangat kejam, malah bersikap seperti anak bayi di hadapan nya.


"Saya, ayo bangun. Aku sudah memasak untuk mu"


"Masak?"


Verrel mengangguk, dia keluar dari selimut. Membantu istrinya turun dari ranjang.


"Aku tahu kamu sangat lelah, dan aku minta maaf untuk itu. Jadi, sebagai penembus dosa ku, aku sudah membuatkan sarapan untuk mu" ucap Verrel.


Sintia tertegun, dia tidak percaya Verrel bisa memasak.


"Udah deh, gak usah banyak mikir dan banyak pertanyaan. Sekarang kamu mandi, aku akan mengantar mu ke kamar mandi"


Verrel akan mengangkat tubuh Sintia, tapi wanita itu berteriak melarang nya.


"Kenapa?" Verrel menatap Sintia penuh tanya.


"Verrel aku tadi sudah mandi, aku hanya butuh cuci muka saja"


"Benarkah?" Sintia menganggu dengan wajah datarnya. Dia benar-benar tidak percaya dengan sikap Verrel saat ini. Ini sungguh di luar dugaan.


Di hanya tahu, sikap Verrel itu dingin, jutex, semena mena, dan yah sedikit manis.


Tapi, lihat ini. Dia sangat hangat, perhatian, dan juga tampan.


"Ambilkan aku baju, lalu bantu aku ke dapur"


"Dengan senang hati honey"

__ADS_1


__ADS_2