
"Kemana kamu Sintia?"
Verrel kalang kabut, rasa cemas langsung menyelimuti hati nya. Istri nya tidak di temukan di mana pun. Meski Sintia sudah bisa bela diri, tetap saja pria ini harus khawatir.
jika Sintia menghadapi seorang perampok, mungkin Verrel akan lega. Tapi, ini mafia. Apapun bisa saja mereka lakukan demi keberhasilan yang dia inginkan.
"Ahh!" desah Verrel frustasi. Dia sudah menyuruh semua anak buah nya mencari Sintia ke seluruh penjuru kota itu. Bahkan ke rumah Danrem pun dia periksa.
Verrel tidak tahu, sekarang istri nya tengah bersama musuh nya.
Sintia mengendarai mobil, dia tidak membiarkan Satria mengendarai mobil nya.
Mereka keluar dari daerah sepi itu. Berpindah ke sebuah cafe di tepi tebing tempat Verrel dan Sintia pernah makan dulu.
Pekerja di sana terkejut, mereka melihat wanita yang pernah bersama Verrel datang ke tempatnya.
Dengan segera, orang itu menghubungi Verrel dan memberikan bukti foto.
Cling~
Verrel melirik ponsel nya, dia berpikir jika pesan yang baru masuk itu dari istri nya.
Namun, ketika pesan di buka mata Verrel terbelalak. Istrinya sedang duduk bersama Mr Topi di tepi jurang dekat mereka pernah menikmati sore hari.
"Keparat, awas saja kau jika berani menyentuh istri ku!!! Cepat ke tebing tinggi!!" seru Verrel pada supir nya.
"Baik boss!"
Di tempat itu, Sintia mengabaikan tatapan sinis dari pegawai cafe itu. Dia tahu mereka pasti salah paham.
"Mereka menatap kita, seakan kita adalah sebuah kesalahan" gumam Satria.
"Memang kesalahan. Mereka tahu suami ku, jadi mereka berpikir aku sedang berselingkuh!"
"Benarkah?" decak Satria. Sintia mengangguk menjawab nya, dia memesan beberapa makanan yang sangat di sukai oleh suaminya.
Saat makanan tiba, ternyata Satria juga menyukai makanan itu.
"Wah, bagaimana kau tahu makanan kesukaan ku??" ucap Satria terkejut.
"Kau menyukai ini semua?" tanya Sintia.
"Yah, aku menyukai nya. Sangat menyukai nya. Aku tidak tahu kalau di sini menyediakan menu ini"
Sintia menatap Satria yang menatap makanan nya dengan tatapan lapar. Melihat tingkah lucu pria itu, membuat bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.
"Apa begini tingkah mafia kejam yang tersembunyi?" decak Sintia. Lalu dia mulai melahap makanan nya.
"Ayo makan lah yang banyak, jika kau menyukainya kau bisa memesan lagi" ujar Sintia.
Satria tidak mendengarkan, dia sibuk dengan makanannya. Baru kali ini dia bisa makan dengan lahap. Biasanya dia hanya makan sedikit, itupun hanya dia paksa saja.
Bahkan Satria tidak pernah berpikir jika dia akan bersikap seperti ini di hadapan seorang wanita. Terlebih lagi wanita ini adalah istri musuh nya.
"Oh iya, aku lupa menanyakan hal ini. Mengapa kamu meminta ku untuk menemui mu satria? apa kau berniat ingin mencelakai ku?"
Satria terdiam, tangan nya mengambang di udara saat dia akan menyuap daging iga bakar ke mulutnya.
Sejujurnya niat pria ini hanya ingin menakut nakuti Verrel. Lalu dia berniat ingin membuat Sintia meninggalkan Verrel. Tapi, setelah bertemu dengan wanita ini, tujuan nya malah berubah.
"Jika kau sudah tahu jawaban nya, mengapa kau bertanya lagi!" dengus Satria, membuat Sintia berdecak marah.
"Kai benar benar ingin melenyapkan aku?"tanya Sintia tidak percaya.
"Mau bagaimana lagi, kau kelemahan musuh ku. Tentu saja aku akan melenyapkan mu agar musuhku menjadi lemah!"
Plak.
__ADS_1
Satria terdiam, tangan Sintia telah mendarat di keningnya.
"Beraninya kau..."
"Kenapa huh? mau memukul ku juga?" ucap Si Tia nyolot.
"Kau ini wanita atau apa sih, aku di sini musuh suami mu, apa kau tidak merasa takut pada ku? bisa saja aku tiba tiba menembak mu!"
"Itu tidak mungkin, jika kau ingin membunuh ku. Kau pasti sudah lakukan itu sejak awal. Aku tahu kau tidak akan melakukan nya"
Sintia kembali melahap makanan nya, dia terlihat sedang bersama dengan teman nya, bukan dengan musuh suaminya.
Sedangkan Satria, dia benar benar bingung dengan wanita satu ini. Bahkan apa yang dia katakan adalah benar. Bukan nya menyiksa dirinya. Satria malah pergi makan bersama nya seolah merasa ini adalah yang dia harapkan.
"Ngomong ngomong, apa permasalahan mu dengan suami ku?"
"Aku tidak harus menjawab pertanyaan mu" balas Satria ketus.
"Kau ini, mengapa selalu bersikap seperti itu? Aku tidak tahu apa hebat nya mafia, aku hanya tahu orang orang jahat jauh lebih menakutkan di bandingkan mafia seperti kalian!"
"Kau hanya belum paham saja, suami mu sangat kejam, meskipun aku lebih kejam dari dirinya." sahut Satria di sela sela ia melahap habis makanan nya.
"Apapun itu, aku tidak peduli. aku hanya tahu, suami ku sangat baik!. Dia mencintai ku dan menyayangi ku!"
"Sampai kau rela meninggalkan keluarga mu demi bajingan itu?"
Sintia terkejut, dia menatap Satia dengan tatapan terkejut. Bagaimana pria itu tahu tentang dirinya. Bahkan media tidak terlalu memperdulikan kasusnya yang menikah dengan pria seperti Verrel. Media hanya meliput kakak nya yang merupakan seorang artis.
"Kau tahu dari mana?"
"Dari mana aku tahu itu tidak penting. Yang jelas kau melakukan itu sangat lah berdosa!" decak Satria.
"CK.. Dosa? kau berbicara dosa kepadaku? apa melenyapkan seseorang itu tidak berdosa? bahkan aku yakin kau telah banyak melenyapkan orang orang" sela Sintia mencibir.
"Benar, suami mu juga seperti itu. Tapi Sintia, aku tidak mengerti mengapa kamu memilih Verrel di bandingkan dengan kedua orang tua mu?
Mendengar ucapan orang asing seperti Satria, membuat Sintia tersenyum getir. Mereka yang baru mengenalnya saja tahu bagaimana karakternya. Tapi, kedua orang tua angkat nya malah tega melenyapkan kedua orang tuanya yang juga ia yakin sebaik dirinya.
"Aku tahu, kau pasti sudah menyelidiki tentang aku. Siapa orang tua ku, kau pasti tahu bukan?"
Satria mengangguk, memang dia sudah tahu siapa orang tua Sintia. Tapi, dia tidak tahu jika itu hanya orang tua angkat.
"Aku tidak tahu mengapa hidup ku seperti ini, tapi yang jelas kedua orang tua itu b-"
"Sintia!!"
Ucapan Sintia terhenti, dia menoleh pada seseorang yang berteriak memanggil nama nya.
Verrel, pria itu baru saja tiba di sana. Dia langsung berlari mendekati istri, menarik istri nya agar bersembunyi di belakang nya.
"Verrel, Kamu?"
"Sudah, kamu tidak usah khawatir. Aku di sini, aku tidak akan membiarkan bajingan ini mengganggu mu!" Verrel menatap tajam pada Mr Topi.
Satria, atau sering di sebut Mr Topi itu menyelesaikan makan nya dengan mengelap sisa makanan di sudut bibir nya.
"Wah Sintia, aku tidak tahu suami mu ternyata sangat over protektif seperti ini."
"Diam kau Mr Topi. Aku tahu kau ingin mencelakai istri ku!"
Sintia terdiam, dia merasa tidak asing dengan nama yang Verrel sebutkan tadi.
"Mr Mr Topi?" gumamnya terbata. Bayangan kejadian di pasar dan sehari sebelum pernikahan kembali merasuki pikiran nya.
Mr Topi tersenyum, dia mengabaikan ucapan Verrel. Dia malah melirik Sintia yang bersembunyi di belakang Verrel.
"Bye Sintia, lain kali aku akan mentraktir mu makan!"
__ADS_1
"Jangan coba coba Mr Topi!!!" teriak Verrel marah.
"UPS.. Ada yang cemburu kah? atau ada yang takut?" Mr Topi terkekeh mengejek Verrel.
"Beruntung istri mu membuat mood ku menjadi baik. Aku tidak jadi membunuh mu hati ini Verrel. Berterimakasih lah kepada istri mu"
Mendengar ucapan Satria barusan, membuat Sintia merasa sangat marah. Apapun yang terjadi di dunia ini, Sintia bisa mengabaikan nya. Tapi, jika itu menyangkut suaminya, dia tidak akan mentolerir nya.
"Satria!!" Teriak Sintia nyaring. Verrel yang mendengarnya langsung berbalik menatap istri nya yang sudah maju satu langkah di depan nya dengan tatapan tajam tertuju pada Satria.
"Aku sudah mentoleransi dirimu sejak tadi. Aku juga sudah mengatakan pada mu, bahwa suami ku adalah yang terbaik. Jadi jangan coba coba untuk menyentuhnya!"
Mr Topi tersenyum,"Apa kau sedang mengancam teman mu Sintia?"
"Aku tidak akan mau berteman dengan mu lagi jika kau terus membahayakan suami ku.Setelah mengingat siapa nama asli mu, Aku jadi tahu kau adalah orang yang menjijikkan yang lemah aku kenal. Kai yang telah membuat masyarakat resa di pasar, kau juga yang menyebabkan teman ku terluka!!" Emosi Sintia meletup letup. Saat suaminya kembali menariknya agar segera bersembunyi di belakang nya. Sintia menolak, dia melangkah lebih dekat kearah Mr Topi. Tatapan matanya lurus ke manik mata pria yang mendadak diam.
Mr Topi tidak menyangka, ucapan wanita ini terasa menusuk ke uku hatinya.
"Kau menjijikan, aku pikir kau bisa membedakan mana yang buruk dan baik. Meskipun kau mafia, setidaknya kau pikirkan tentang orang yang tidak bersalah!" omel Sintia.
"Lihat lah wanita bodoh itu, dia malah menceramahi dua mafia kuat." decak pegawai cafe yang menghubungi Verrel tadi.
"Tapi, mereka berdua terlihat tunduk di hadapan nya" sahut pegawai yang lain, membuat wanita tadi mendengus kesal.
Verrel melongo, bisa bisa nya istri nya berkata seperti itu. Mana ada mafia memiliki bekas kasihan, kecuali suaminya.
"Baru kali ini ada seseorang berani menceramahi ku" lirih Satria. Pria itu tersenyum pada Sintia, lalu pergi begitu saja. Dia masuk ke sebuah mobil yang entah sejak kapan ada di sini.
Fyuu..
Setelah melihat Mr Topi pergi, Verrel menghembuskan nafas lega. Istri nya tidak kenapa kenapa.
"Kenapa kau pergi tanpa sepengetahuan aku? ponsel mu mana?" omel Verrel.
Sintia berbalik, menatap suaminya datar
"Mengapa kamu membentak ku? aku meninggalkan hp ku di mobil. Jangan salahkan aku yang tidak mendengar dering panggilan!" protes Sintia kesal.
"Mengapa marah dengan ku?" tanya Verrel juga ikut bingung.
"Itu karena kamu membentak ku!"
"Tapi aku khawatir pada mu. Makanya terlalu emosi!" jawab Verrel tidak mau di salahkan.
"Terserah kamu saja"
Sintia pergi begitu saja, meninggalkan suaminya yang menatapnya dengan heran.
Saat Sintia akan melakukan mobilnya, Verrel langsung masuk ke dalam.
Sintia tidak tahu, mengapa dia kesal Seperti ini. Dia merasakan kekecewaan di dlm hatinya. Bukan karena Verrel, melainkan karena Satria.
Mengetahui Mr Topi dan Satria adalah orang yang sama. Membuat hati Sintia tidak bisa menerima nya.
Setelah beberapa menit mereka saling diam. Verrel akhirnya memutuskan untuk memulai pembicaraan.
"Sejak kapan mengenal nya?"
"Apa kau cemburu?" balas Sintia sinis.
Verrel berdecak tidak percaya, istri nya menuduh dirinya cemburu.
"Aku tidak cemburu, tapi aku khawatir. Kamu tahukan dia itu adalah musuh ku, dia bisa melakukan apa aja kepada diri mu.Karwna itu aku marah."
"Aku tahu kekhawatiran mu. Aku hanya kesal, aku bertemu dengan nya beberapa kali, Sikapnya sangat berbeda dengan fakta yang saat ini aku ketahui" lirih Sintia terdengar kecewa. Verrel bisa mengartikan perasaan istri.
"Apapun itu, jangan menemui nya lagi!" peringat Verrel.
__ADS_1
Sintia tidak menjawab, dia hanya diam dan fokus menyetir.