
Sesampainya di rumah, Sintia merasa sangat lelah. Dia juga merasa kesal karena keingintahuan terhadap niat Satria mengajak nya bertemu tidak jadi di sebutkan oleh pria itu. Verrel mengacaukan semuanya.
"Sintia!" panggil Verrel.
Sintia sangat terkejut, suara suaminya terdengar nyaring dan penuh penekanan. Wanita itu berbalik, menatap suaminya dengan ekspresi tidak biasa.
Kaki Sintia sedikit tergerak mundur saat melihat suaminya melangkah cepat kearahnya. Melihat kedua tangan mengepal dan rahang keras, membuat wanita itu sedikit takut.
"Ka-ka-kamu kenapa?" Sintia terbata.
"Ahw.." Sintia meringis kesakitan, Verrel mencengkram lengan nya sedikit lebih kuat.
"Sejak kapan kamu mengenal dia? mengapa kamu tidak memberitahu ku hm??"tanya Verrel emosi, matanya seakan keluar melotot pada Sintia.
Wanita itu tidak mendengarkan, dia terfokus dengan rasa sakit di lengan nya. Sungguh untuk pertama kalinya Verrel berbuat kasar kepadanya.
"Ve-verel, Sakit" lenguh Sintia.
Bukan nya sadar, Verrel malah membentak Sintia.
"Aku bertanya pada mu, jawab aku!"
"Hiks...Sakit.."
Verrel tersentak, dia langsung melepaskan cengkraman tangan nya di lengan istrinya. Isak tangis Sintia membuatnya tersadar dari amarah.
"Maafkan aku honey, aku-"
"Hiks...Sakit" Sintia menarik lengan baju nya keatas untuk melihat kulitnya yang ternyata membiru.
Melihat hal itu, Verrel sangat menyesalinya. dia tidak menyangka terbawa emosi dan menyakiti istri nya sendiri.
"Maafkan aku sayang, aku tida-"
"Sudah lah, aku mau istirahat"
Sintia tidak mau mendengar apapun lagi, dia sangat lelah, dan suaminya berlaku kasar kepadanya.
Wanita itu berbalik pergi, meninggalkan suaminya dengan rasa bersalah yang kuat.
"Maafkan aku Sintia, aku hanya khawatir. Kamu terlalu dekat dengan Mr Topi. dia sangat berbahaya bagi mu!" lirih nya menyesal, Pria itu menatap kepergian istrinya. terlalu memalukan untuk berdiri di hadapan istri nya saat ini. Verrel memutuskan untuk pergi ke ruangan kerjanya.
Di dalam ruangan kerja, Verrel mengamuk. Melampiaskan semua amarah. Menghukum dirinya yang telah menyakiti wanita yang entah sejak kapan menjadi belahan hatinya.
"Maafkan aku Sintia...Maafkan aku..."hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Keesokan harinya, Sintia terbangun dari tidurnya. Dia melihat kesegaran arah kamar nya. Tapi, dia tidak melihat sosok suami nya.
"Apa dia tidak tidur di sini?" gumam nya. Ingatan apa yang terjadi semalam masuk ke dalam benak nya.
"Aiss..." Sintia meringis kesakitan saat dia menggerakkan lengan nya.
Setelah merasa sedikit lebih baik, Sintia pun memutuskan untuk membersihkan diri. Setelah itu dia akan menemui suaminya dan menceritakan segala nya.
Saat keluar dari kamar tidur, Sintia di kejutkan oleh kehadiran Widia di area dapur. Wanita itu tengah menyiapkan sarapan. Sintia melangkah cepat menghampiri nya.
"Wah, tumben kamu ke rumah ku sepagi ini. Apa Reno gak menahan mu?"
Widia tersenyum simpul, dia menarik Sintia lalu mendudukkan nya di salah satu kursi meja makan.
"Duduk dan nikmatilah sarapan mu"
"Tapi Widia, ada apa ini. Aku sangat heran" gumam Sintia bingung.
"Ini, makan lah dan setelah itu ayo kita jalan jalan" Widia menyodorkan sepiring nasi goreng dengan toping berbeda dari biasanya. Yaitu, cumi cumi pedas.
"Maafkan aku Widia, aku memiliki janji dengan papa. Aku akan kekantor papa, lalu setelah itu aku akan pergi ke kantor Verrel!"
"Benarkah? kau tidak memiliki waktu untuk ku?"
"Maafkan aku Widia" ucap Sintia dengan nada menyesal. Tapi, dia benar-benar tidak bisa menemani Widia.
"Maafkan aku Widia"
"Sudahlah tidak apa apa, kita bisa pergi lain waktu"
"Ayo makan sarapan nya"suruh Widia.
Sintia tersenyum lebar, dia bersyukur Widia mau mengerti dirinya.
Setelah sarapan bersama Widia, Sintia pamit pergi ke keluar. Dia juga berpesan pada Widia agar tidak memberitahu pada Verrel. Dia akan pergi ke kantor Verrel untuk menjelaskan semuanya pada Verrel nanti.
Karena terlanjur berjanji dengan Sintia, Widia terpaksa diam dan tidak mengatakan apa-apa ketika Verrel menghubungi nya.
Seperti yang sudah dia rencanakan, Sintia tiba di kantor papa nya. Tempat di mana dia bekerja sebelum menikah.
Kini dia sudah menjadi nyonya besar, jadi dia tidak perlu bekerja terlalu keras. Lagi pula, Verrel juga tidak akan memperbolehkan dia bekerja.
Saat di lobi, Sintia memicingkan mata nya. Dia melihat sosok Satria berdiri di depan resepsionis. Setelah berbicara dengan resepsionis, satria pergi masuk ke dalam lif.
Buru buru Sintia mendekati resepsionis dan bertanya pada wanita cantik itu.
__ADS_1
Tampak wanita resepsionis itu terkejut saat melihat Sintia ada di kantor. Antara senang dan terkejut.
"Mbak, apa yang pria itu lakukan di sini?"
"Maaf nona muda, saya tidak tahu" jawab wanita itu jujur.
"Siapa yang dia temui?" tanya Sintia penasaran.
"Dia menemui boss besar nona, mereka sudah membuat janji khusus "
"Benarkah?"
"Iya nona, akhir akhir ini mereka sering bertemu" jelas wanita itu lagi.
Sintia mengangguk mengerti, dia tersenyum pada wanita resepsionis itu. Kemudian berpesan agar tetap diam.
"Jangan katakan pada siapapun kalau aku bertanya pada mu, apalagi kalau ada yang bertanya pada mu jika aku datang ke sini."
"Baik nona"
Sintia tersenyum, kemudian dia pergi menyusul Mr Topi yang mungkin sudah masuk ke dalam ruangan papa nya.
"Aku yakin, ada sesuatu di antara kalian. Apa kalian bersekongkol untuk menghancurkan suami ku?" gumam Sintia dalam hati. Dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti suaminya.
Ting..
Sintia melangkah cepat, keluar dari dalam lif menuju ke ruangan papa nya. Kebetulan saat itu, pintunya tidak tertutup rapat.
"Wah Mr Topi, saya tidak menyangka anda akan sering menemui saya. Saya merasa sangat tersanjung."
Danrem tersenyum, dia merasa berada di atas awan. Menjadi orang yang paling penting di kala Mr Topi membutuhkan bantuan nya.
"Aku datang ke sini hanya ingin meminta video rekaman itu. Aku ingin melihat dengan jelas, bagaimana Mr Eldor membunuh keluarga ku! "
Deg.
Sintia sangat terkejut, mendengar apa yang baru saja mereka katakan.
"Mr Eldor? apa itu keluarga Verrel?" batin nya. Dia terus mencuri dengar dari luar.
"Tidak masalah, saya akan mengirimkan duplikat video nya kepada anda!"
"Bagus, itu yang lebih baik. Jika tidak akan ku ratakan perusahaan kecil mu ini!"
"Wah, anda sangat kasar Mr Topi, padahal saya melakukan dengan sang lembut pada anda."
__ADS_1
Mr Topi tidak menggubrisnya, dia malah mempertanyakan soal Sintia kepada Danrem. Namun, belum sempat pertanyaan itu keluar. Terdengar ada keributan di luar ruangan danrem.
"Nona, apa yang anda lakukan di sini?" tanya seorang wanita, membuat Sintia terkejut.