Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Ada Apa Ini?


__ADS_3

"Tidak mungkin, ini tidak benar!"


Sela menatap mama nya, mendekati wanita paru baya yang selama ini selalu mendukung apa yang dia lakukan.


Tapi, kali ini Rea malah memalingkan wajah nya saat Sela mendekat.


"Ma, mama percayakan sama aku? ma, ini tidak benar. Semua ini palsu!"


Rea tidak menjawab, dia hanya terisak menahan tangis.


Bukan karena Sela mengandung anak yang tidak jelas. Tapi, karena Sela tidak jujur pada nya. Dia juga merasa malu atas apa yang putrinya lakukan.


"Ma.."


"Sudah cukup Rea, papa berpikir bahwa kamu dan Rendi saling mencintai itu adalah sebuah takdir. Papa dan Asmar berteman baik, dan jika kalian bersama akan membawa keuntungan bagi hubungan kita semua.


Tapi.."


Danrem tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, dia terlalu kecewa dengan apa yang putrinya lakukan.


"Hanya demi menghancurkan hidup Sintia, kau rela melakukan semua ini?" ujar Sia.


Sela terhenyak di lantai, dunia benar benar hancur seperti yang pernah Verrel katakan. Sintia juga pernah mengatakan hal ini kepadanya.


"Mengapa semua ini terjadi pada ku?? kenapa aku??"


Sela mulai kehabisan akal, dia juga tidak bisa menerima nasibnya.


Tidak tahan dengan emosinya, Rendi pun memutuskan untuk pergi dari sana Dia sudah kelewat sakit hati.


Sejujurnya dia sangat mencintai Sela. Bahkan dia rela meninggalkan Sintia yang sangat tulus pada nya demi wanita seperti Sela.


"Bodoh!." Hanya itu kata yang pantas Rendi katakan untuk dirinya sendiri.


"Jujur aku kecewa kepada mu Sela. " Asmar pun mulai beranjak, di ikuti oleh Sia yang memang tidak suka berada di dekat mereka.


Sela menatap kedua orang tuanya. Berharap mereka percaya kepadanya dan membela nya seperti waktu yang telah berlalu.


Tapi, itu hanya khayalan dan harapan nya saja. Danrem dan Rea pun ikut meninggalkan sela begitu saja.


"Mama...Papa.."


Danrem tidak menoleh, bahkan mendengarkan saja tidak. Apalagi Rea, dia terlanjur kecewa oleh putrinya sendiri.


Di lain tempat, Sintia merasa sangat bahagia. Dia bisa bersama dengan kakak nya.


Ternyata orang yang di anggapnya sebagai musuh selama ini. Adalah kakak kandung nya. Satria sudah melakukan tes DNA , untuk menentukan kepastian hubungan mereka.


Hal itu atas sepengetahuan Sintia, mereka benar-benar ingin tahu kebenaran nya.


Ternyata yah, mereka memiliki ikatan darah.


"Aku senang, ternyata kau adalah adik ku!"

__ADS_1


"Aku juga senang, kakak adalah kakak ku. Mr Topi!" balas Sintia tersenyum, lalu dia memeluk kakak nya.


Saat mereka berpelukan, tiba-tiba Sintia merasa sangat mual.


Sintia mengurai pelukan nya pada Satria, kemudian berlari cepat menuju ke wastafel dapur.


"Wwuu...Ueekkk"


"Uwuekk..."


Satria merasa sangat panik, dia langsung menyusul adik nya dan membantu mengurut tengkuk Sintia agar mual nya segera reda


"Wueekk...."


"Ahh..Aku merasa sangat pusing, seperti nya aku masuk angin" gumam Sintia.


"Apa perlu aku panggilkan dokter?" tanya Satria.


Sintia menggeleng, dia merasa ini hanya mual biasa. Jadi dia tidak perlu di periksa oleh dokter.


"Kak, aku hanya masuk angin. Tidak perlu memanggil dokter"


"Tapi Sintia, wajah mu sangat pucat. Aku khawatir kamu mengalami sakit selain masuk angin"


Sintia tetap menggeleng, dia tidak mau terlalu merepotkan kakaknya.


"Bawa aku ke sofa saja. Aku butuh istirahat. Setelah itu, aku pasti baik baik saja!" pinta Sintia meyakinkan kakka nya.


Mereka baru saja bersatu, dan Sintia akan menyusahkan nya? tidak. Itu tidak akan terjadi. Karena Sintia akan kuat bersama kakaknya.


Saat Satria membawanya ke kamar tamu, Sintia tidak menolak nya. Di mana pun satria membawanya, Sintia yakin Satria pasti akan melindunginya.


"Istirahat lah, aku akan mengambil minyak angin untuk mu. Seingat ku di dalam kamar ku ada"


Sintia mengangguk, dia tersenyum dan memejamkan matanya saat kakak nya mengusap lembut kepalanya. Rasanya hangat dan menenangkan. Sintia benar benar merasa nyaman dan Aman. Sama seperti bersama..


Ah Sintia jadi ingat de gan suaminya. Pria yang memberikan kasih sayang lebih dari siapapun kepadanya.


Bagaimana kabar nya sekarang? apa dia makan dengan teratur? apa dia galau karena aku tidak ada di sisinya? apa hatinya sakit karena aku tinggalkan??


Berbagai pertanyaan mulai menghampiri pikiran Sintia. Namun, hal itu tidak akan mempengaruhi apapun. Dia tetap akan dengan keputusan nya, dan mencari tahu kebenaran soal pembunuhan kedua orang tuanya. Bahkan dia juga akan menghabisi mereka dengan tangan nya sendiri.


Satria kembali, dia membawa beberapa obat di tangan nya. Duduk di samping Sintia yang tengah berbaring.


"Aku tidak tahu obat mana yang cocok untuk mu, jadi aku membawa semuanya ke sini." Ujar Satria menunjukkan beberapa botol obat masuk angin.


Sintia tersenyum, dia memilih minya kayu putih sebagai obatnya.


"Apa itu bisa meredakan masuk angin mu?" tanya Satria memastikan.


"Tentu kakak, ini juga sangat ampuh dan cocok dengan ju saat aku masuk angin"


"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan"

__ADS_1


Satria menyimpan obat lainnya di atas nakas samping tempat tidur yang Sintia gunakan.


Sintia mulai mengusapkan minyak kayu putih itu ke perut dan ke bagian yang mungkin dia rasakan dapat meredakan masuk anginnya.


Saat baru dua usapan di bagian perutnya, Sintia kembali merasakan mual. Buru buru dia berlari ke kamar mandi yang ada di kamar itu.


Sintia menutup mulutnya, menahan mual, hingga tiba di wastafel kamar mandi. Dia memuntahkan segalanya.


"Wueekk....Wueek....",


"Kamu tidak apa apa? aku yakin ini bukan sekedar masuk angin. " Ujar Satria semakin panik. Dia khawatir ketika melihat wajah Sintia semakin pucat.


"Tidak kak, aku hanya masuk angin. Kaka..."


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Sintia sudah kehilangan kesadaran nya.


"Sintia!!!! Sintia!!"


Beruntung Satria dengan sigap menangkap tubuh mungil adiknya.


Satria menggendong Sintia kembali ke ranjang. Membaringkan gadis itu dengan sangat hati hati. Lalu, pria bertubuh kekar itu langsung menghubungi dokter kepercayaannya.


Di waktu yang bersamaan, di tempat yang berbeda. Verrel merasa sangat cemas. Tubuhnya terasa lemas dan mual.


"Ada apa ini, mengapa Aku merasa tubuh ku sangat lemah?" gumam Verrel heran.


"Boss!" Reno masuk ke dalam ruangan Verrel, dia terkejut melihat Verrel berpegangan pada dinding.


"Boss, ada apa? Anda kenapa?"


"Aku tidak tahu Reno, tubuh ku terasa sangat lemas dan aku merasa ada yang salah dengan perut ku" jelas Verrel bingung dengan kondisi tubuhnya.


Reno membantu Verrel , membopong boss nya ke sofa.


"Terimakasih Reno" ucap Verrel yang di balas anggukan kepala oleh Reno.


Reno menawarkan untuk memanggil dokter pada Verrel. Namun, pria itu menolaknya. Dia merasa tubuhnya tidak ada yang salah.


Namun, rasa lemas dan sedikit mual ini datang secara tiba-tiba.


Verrel yakin, dia tidak apa apa.


"Anda terlihat sehat, tapi mengapa tiba-tiba sakit?" gumam Reno heran.


"Itulah yang aku pikirkan Reno. Ini seperti tidak berasal dari tubuh ku. Ada yang aneh" gumma Verrel dengan nafas terengah, seperti orang yang baru saja selesai olahraga lari.


Cukup lama Verrel diam merasakan rasa lemas di tubuhnya. Perlahan tubuh nya mulai terasa pulih dan kembali bertenaga.


Dengan tarikan nafas dalam, Verrel kembali fit.


"Apa sudah tidak lemas lagi?" tanya Reno.


"Yah, tidak lagi. Aku telah kembali seperti semula" jawab Verrel.

__ADS_1


Kedua pria itu merasa heran dengan apa yang baru saja terjadi pada Verrel.


"Ini sungguh aneh" gumam keduanya.


__ADS_2