
"Ka-Kalian?"
"Penjaga! Penjaga!"
Asmar berteriak memanggil anak buahnya, namun tidak ada satupun yang datang.
Dia mengeluarkan senjata, menginformasikan pada Danrem bahwa ada Verrel dan Mr topi di lantai 23.
"Kau tida akan bisa kemana mana Asmar!" ucap Verrel tersenyum sinis.
"Cih, kalian pikir dengan berdiri di hadapan ku tanpa pengawal, kalian merasa menang?"
"Jangan berkhayal anak mudah, kalian terlalu muda untuk mengalahkan aku!"
"Benarkah?"
"Tentu saja" balas Asmar tersenyum.
Pria tua itu sengaja mengukur waktu dengan menimbulkan perdebatan. Mana mungkin dia bisa melawan dia orang ini. Apalagi dia tidak muda lagi, tenaga nya tentu akan kalah jauh.
"Cih, berdoalah Asmar. Semoga kematian tidak terlalu menyiksa mu!" seru Satria seraya menodongkan senjatanya tepat membidik dada Asmar.
"Wah, kalian di sini rupanya!"
Satria menahan pelurunya ketika mendengar suara danrem dari arah belakang.
Mereka pun berbalik, Asmar tersenyum, dengan cepat dia melewati Satria dan Verrel. Lalu berdiri di samping Danrem.
"Aku tidak menyangka, kalian bisa menemukan kami secepat ini!"
"Padahal aku belum siap makan apa apa!" imbuh Danrem tersenyum mengejek.
"Kau tidak perlu menyiapkan apa apa Danrem. Cukup siapkan nyawa mu saja!" balas Satria.
"Wuuu.... Aku merasa merinding!"
"Diam kau! katakan di mana Sintia!" seru Verrel tanpa basa basi.
"Sintia? oh astaga. Putri ku aman bersama ku. Aku tidak akan mengusiknya, mana ada seorang ayah mengganggu putrinya sendiri" ujar Danrem dengan nada kata mengejek.
Sementara di dalam ruangan kedap suara, Sintia terkapar lemas. Perutnya terasa sangat sakit. Tenggorokan dia terasa sangat kering.
"Verrel..." Gumam Sintia tanpa bersuara. Hanya terlihat gerakan bibir saja.
Entah itu harapan atau tidak, Sintia hanya ingin anak nya selamat. Bahkan dia belum memberitahu kepada suaminya.
"Maafkan aku Verrel. Aku belum memberitahu mu. Maafkan aku. Maaf karena aku tidak bisa melindungi bayi kita."
Tetesan air mata mengalir pelan dari sudut mata Sintia. Dia sudah sangat lemah, membuka mata saja rasanya sangat berat.
"Heh!"
__ADS_1
Sela menendang kaki Sintia, agar gadis itu terbangun.
Namun, Sintia sudah tidak sanggup untuk membuka mata. Dia mengabaikan hardikan Sela.
"Kamu tuli yah! aku bicara sama kamu!" bentak Sela lagi.
Dia semakin geram saat melihat Sintia tidak bergerak. Dengan tidak manusiawi. Sela mengambil air minum, lalu menumpahkan nya pada wajah Sintia.
Sintia melihat apa yang akan Seka lakukan. Dengan susah payah, Wanita hamil muda itu membuka mulutnya pelan.
Byuurrr...
Sintia merasa lega, dia akhirnya mendapatkan air, meskipun dia merasa sedikit kesusahan bernafas.
"Wah sepertinya, kamu kehausan yah. " Dengan senyum licik, Sela kembali menuangkan air ke wajah Sintia. Tepat nya ke bagian mata dan hidung Sintia.
"Minum tuh. Minum lah sepuas yang kamu bisa haha."
Sintia tidak menggubris, dia fokus mengembalikan tenaganya. Dia harus kembali kuat untuk melarikan diri dari tempat itu.
Setelah sudah cukup melepas dahaga, Sintia kembali memejamkan mata. Menahan setiap tamparan dan jambakan yang Sela berikan padanya.
Tepat saat Sela lengah, Sintia mengambil pecahan kaca yang ada di dekat nya. Berusaha membuka lakban yang mengikat kedua tangan nya.
Setelah terbuka, Sintia memastikan Sela sudah lengah dengan ponsel yang dia pegang.
Hap.
Berlari kearah pintu untuk menguncinya dari dalam.
Dengan begini, Sela tidak akan kabur. Dendamnya akan terbalaskan sekarang.
"Heh! siapa yang menyuruh mu berdiri huh!" hardik Sela mulai ketakutan.
Sela berjalan mundur ketika melihat Sintia berjalan maju kearahnya.
"Mundur! Ngapain kamu maju. Aku akan melapor Sama papa!" ancam Sela.
CK.
Ancamannya tentu tidak akan berarti apa apa bagi Si Tia. Dia sudah bebas, dan tidak akan takut siapapun lagi.
"Aku bisa saja membunuh mu Sela. Tapi, aku masih punya rasa kasihan. Kau seorang wanita hamil. Aku masih mentolerir bayi yang tidak bersalah di dalam kandungan mu"
"Kau menampar ku, kau bahkan menganiaya ku!!"
Sela mendadak ketakutan, Sintia terlihat sangat mengerikan. Sorot matanya yang tajam seolah menusuk langsung ke ulu hatinya.
"Kau telah melenyapkan mama, Wanita yang pernah kau panggil mama. Wajar saja aku membalas dendam padamu!" seru Sela membela diri.
"Benarkah? apa kau pikir perlakuan kalian kepadaku tidak wajar untuk aku balaskan ?
__ADS_1
Huh, oke baiklah. Aku sudah membunuh ibu mu. Apa kau tahu apa yang mereka lakukan terhadap ku?"
"Apa?" nyolot Sela.
"Dia membunuh kedua orang tua ku, dan juga kedua mertuaku. Apa kau pikir semua ini tidak pantas di balaskan huh?"
Sela terdiam, dia tidak menyangka mama nya yang sangat lembut kepadanya, bisa sekejam itu.
"Aku tidak percaya mama seperti itu!" sangkal Sela.
Sintia tersenyum miring, menggelengkan kepalanya melihat sikap wanita hamil tua ini.
"Terserah kau percaya atau tidak, tapi itulah sifat kedua orang tua mu. "
Sela Benar besar terdiam, dia memang nakal. Tapi, dia tidak pernah membayangkan tentang pembunuhan.
"Aku tahu, kamu tidak seperti mereka Sela. Maka berhentilah, mari hidup damai setelah semua ini selesai!"
Sela menatap Sintia, dia masih menimbang nimbang apa yang harus dia lakukan.
"Aku tidak akan memaksa mu. Tapi, jika kau tetap ingin melanjutkan dendam ini. Maka, aku tidak akan membiarkan mu hidup. Bahkan jika kau berhasil lolos dari ku atau kakak ku. Kau juga tidak akan bisa hidup normal. Anak anak mu akan menjadi korban Sela. Mereka tidak akan bisa hidup normal seperti teman temannya. Tidak berbeda dengan yang kita alami. "
Sintia benar, apa yang Sela alami saat ini merupakan hasil dari pembalasan dendam Verrel.
Gadis itu harus menanggung malu dan merasakan sakit hati karena mengandung anak orang yang tidak dia kenal.
"Gue akan biarkan Lo tetap hidup, setelah itu terserah Lo mau keputusan yang seperti apa!"
Sintia berlalu dari sana, dia mengambil sebotol air mineral, lalu meneguknya hingga habis.
Setelah itu, Sintia mulai mencari keberadaan Suaminya. Dia sempat mendengar percakapan Danrem dengan Asmar, mengatakan bahwa Verrel dan suaminya telah berada di tempat ini.
"Tenang nak, Mama akan membawa mu menemui papa!" bisik Sintia mengusap perutnya.
Di lantai 23, para pria masih saling berhadapan dengan tatapan sinis.
"Kalian tidak tahu bukan? hari ini pasukan Mutiara Naga Hijau akan berkumpul. Waktunya di majukan sehari."
Danrem tertawa melihat raut terkejut dari wajah Verrel. Dia merasa sangat puas dengan apa yang telah dia lakukan.
"Setelah ini, Kalian akan musnah." Seru Asmar.
"Benarkah?"
"Tentu saja, aku akan memastikan hal itu!" sahut Danrem.
Dengan senyum menyeringai, pria tua itu mengeluarkan mutiara Naga hijau di tangan nya. Dia berhasil merampasnya kembali dari tangan Sintia.
"Bagaimana bisa?" seru Satria. Dia sudah memastikan bahwa mutiara itu sudah di tangan adiknya.
"OOO sayang sekali, rencana mu dan adik mu itu gagal" ledek Danrem pada Satria.
__ADS_1
"Sial!"