Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Berjalan Lancar


__ADS_3

Pesta meriah akan segera di mulai. Terdengar suara presenter sedang memberikan kata pembuka pada para tamu.


Sintia mendadak merasa gugup, dia duduk dengan jantung berdetak cepat.


Kehancuran pernikahan nya dengan Rendi, seakan menjadi momok bagi dirinya. Dia trauma, dan berpikir kejadian yang sama akan terjadi lagi.


Widia memasuki ruangan rias, tersenyum saat Sintia menoleh padanya.


"Ayo, kita ke panggung pernikahan sekarang"


Sintia mengangguk, dia tersenyum, berusaha untuk terlihat biasa saja, menetralkan dirinya yang merasa sangat gugup.


Widia membantu Sintia mengangkat gaun nya, agar gadis itu tidak kesusahan saat berjalan. Begitu juga dengan Lena yang menggandeng lengan Sintia.


Pengantin wanita memasuki ruangan pesta. Semua mata langsung tertuju pada nya.


Lena melirik majikan nya, dia merasakan pegangan tangan Sintia semakin kuat ke lengannya. Itu menandakan bahwa Sintia sangat gugup.


"Tenang non, semuanya akan baik baik saja" bisik Lena, berusaha untuk membuat Sintia tenang.


Sementara itu di atas panggung , tempat ijab kabul di lakukan, Verrel menganga dengan mata tidak berkedip.


Reno berdiri di samping verrel, dia menjadi pengiring pengantin laki-laki. Reno menyaksikan seorang Verrel untuk pertama kali nya, terpesona oleh seorang wanita.


"Tutup mulut mu, sebelum orang melihat air liur mu meleleh" bisik Reno,


Verrel secara spontan menggerakkan tangan nya mengusap sudut bibirnya. Tidak ada apa apa di sana.


"Sialan kamu" umpat Verrel kesal, dia terjebak oleh tipuan Reno.


Melihat mempelai wanita berada di depan panggung, Verrel langsung mengulurkan tangan nya untuk membantu calon istri nya naik keatas panggung.


"Luar biasa" batin nya.


Acara akad segera di langsungkan, Sela yang berdiri di antara kerumunan para tamu kompleks damai, menahan sakit di hati nya melihat Verrel mengecup kening Sintia setelah mengucapkan ijab kabul.


"Aku, seharusnya aku yang ada di sana. Bukan kamu Sintia! mengapa kamu merebut Verrel dari ku?? Aku yang lebih dulu menemukan nya,!!" maki Sela di dalam hati. Sorot matanya terlihat sangat membenci Sintia, wajahnya memerah menahan amarah.


...----------------...


Di sebuah klub malam, beberapa pemuda sedang berkumpul menikmati sesapan rokok dan nikmat nya bir.


"Aku dengar dengar, Sintia akan menikah hari ini, apa itu benar?" tanya salah satu dari pemuda itu.


Rendi juga ada di sana, dia melirik teman nya ya g baru saja bertanya.


"Aku tidak tahu, tapi kedua orang tua mu tadi membicarakan mereka" jawab yang lain.


"Benar guys! dan dia menikah dengan seorang pria kaya dan penguasa pasar gelap!" salah satu teman yang lain menjawab. Semua mata tertuju padanya, mereka penasaran dengan cerita sebenarnya.


"Apa kalian kenal dengan Verrel?"

__ADS_1


"Yah, aku kenal. Beberapa kali pernah meeting bersama nya"


"Nah, itu dia yang menikahi Sintia!"


"Waw, luar biasa. Sintia menikah dengan pria yang tepat, kaya dan sesuai dengan dirinya."


"Si dingin Verrel, dan si kalem Sintia!"


Mereka tertawa bersama, menjadikan pernikahan Verrel dan Sintia sebagaimana bahan lelucon.


Mereka tidak sadar, raut wajah Rendi mulai berubah. Dia tidak suka ketika teman teman nya membahas soal Sintia.


Rasa penyesalan di hatinya semakin besar setiap kali mendengar nama wanita itu.


Setelah melihat sikap Sela yang sering berubah ubah. Membuat Rendi jadi paham, bahwa dirinya telah salah mengambil langkah.


"Wah, gimana ini Ren. Bekas Lo di ambil sugar Daddy" celetuk salah satu teman Rendi, dia menepuk bahu Rendi, lalu tertawa bersama sama.


"Bekas? Lo pikir Sintia wanita apa? dia itu wanita suci, gue yakin Rendi belum menyentuh sedikit pun dari bagian tubuh Sintia. Benarkah ren?"


Rendi tidak menjawab, dia memalingkan wajahnya. Dia merasa malu dengan olokan teman teman nya. Mereka memang benar, Sintia adalah wanita suci yang tidak suka di sentuh sebelum sah.


Selama berpacaran, mereka hanya sebatas berpelukan. Tidak ada cipika cipiki atau semacam nya.


Sementara itu, Rendi merupakan pria yang suka dengan hal hal yang berbau negatif.


Penampilan nya memang sangat kalem terlihat seperti pria baik baik. Namun, kenyataan nya tidak.


Rendi sangat muda tergoda oleh Sela yang menawarkan tubuh **** nya. Hingga kehancuran ini terjadi.


"Mutiara man..." decak yang lain.


Rendi semakin menyesal, dia baru menyadari betapa menariknya Sintia. Teman teman nya sangat mengagumi wanita itu.


Tapi, mengapa dirinya malah menyia nyiakan nya?? membuat gadis nya jatuh ke tangan orang lain.


"Bodoh!" hanya itu yang pantas untuk Rendi. Seperti yang Kaila katakan, kakak nya buta dan sangat sangat bodoh.


Acara terus berlangsung, para tamu tampak menikmati acara mereka.


"Banyak sekali tamu nya" decak Sintia kagum. Dia berpikir, pesta nya hanya akan di hadiri oleh beberapa orang di sekitar sana saja.


Ternyata, waw... Ruangan pesta yang seluas lapangan bola ini terlihat penuh dan sesak oleh para tamu.


Jika di lihat lihat, tamu undangan tidak sepenuhnya orang orang sederhana seperti penduduk komplek damai saja. Ada beberapa bagian merupakan orang orang berpengaruh.


Fyuu..


Sintia bernafas lega, ketakutan nya kini mulai memudar. Pernikahan nya lancar tanpa hambatan.


"Apa kau senang?"bisik Verrel.

__ADS_1


"Tentu, aku sangat senang. Apalagi melihat wajah kakak ku yang terlihat seperti nenek sihir" jawab Sintia juga dengan berbisik.


Verrel tertawa renyah, ketika mendengar Sintia menyebut kakak nya nenek sihir.


Mata Verrel bertemu dengan tatapan mata Sela. Mereka berbalas pandangan cukup lama. Senyum miring penuh makna, Verrel lemparkan pada Sela. Membuat wanita hamil muda itu membuang muka.


Sela meninggalkan lokasi pesta. Dia merasa sesak jika berlama lama berada di dalam ruangan itu.


"Sial! mereka sengaja melakukan ini pada ku!" dengus Sela berlalu pergi.


"Dia sudah pergi, apa menurut mu dia sakit hati?" kekeh Sintia.


"Tentu saja, dia akan menyesal telah merebut Rendi dari mu, karena kamu mendapatkan pengganti yang gagah seperti ku"


Sintia memutar bola matanya jengah melihat kenarsisan suaminya.


Namun, patut Sintia Pujia. Verrel memang sangat tampan. Dia hampir gagal fokus saat melihat wajah tampan Verrel mengenakan tuxedo yang senada dengan gaun pengantin nya.


...----------------...


Brak!


Bug


"Arrrgggg!!!!"


Sela mengamuk, melupakan semua rasa marahnya pada barang barang yang ada di kamar nya.


"Kenapa harus kamu Verrel!!! mengapa harus kamu yang menikahi Sintia!!"


"Arrrggggg!!!"


Prank!


Bug.


Rea langsung berlari dari bawah menuju ke kamar putrinya. Dia terkejut mendengar keributan yang putrinya buat di kamar.


Rea terkejut, putri kesayangan nya mengamuk tidak jelas.


"Ada apa ini Sela? mengapa kamu mengamuk?"


"Ayo, duduk lah. ceritakan pada mu, apa yang sedang terjadi!"


Rea menuntun putrinya duduk di ranjang. Mereka harus berhati hati, karena pecahan kaca dan vas bunga berserakan di lantai.


Sela menangis, dia tak kunjung mengatakan pada mama nya, apa yang saat ini sedang ia rasakan.


Dia juga tidak mengatakan bahwa dia menyaksikan pernikahan adiknya.


"Sela, ayo katakan pada mama. Apa yang saat ini kamu alami, mengapa kamu malah marah marah seperti ini huh?" desak Rea.

__ADS_1


Sela terus menangis, dia memeluk mamanya. namun, tidak berani mengeluarkan kata kata.


Dia tidak mungkin memberitahu mama nya bahwa dia saat ini sedang sakit hati. Dia tidak bisa mengatakan pada mamanya bahwa dia pernah menjalin kasih dengan seorang Verrel.


__ADS_2