Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Kebenaran Terungkap


__ADS_3

Sintia masih menangis di atas sofa, memeluk lutut dengan kedua tangan yang masih bergetar.


Kejadian yang baru menimpa nya sungguh membuat diri nya syok. Apalagi Lena meninggal di pangkuan nya.


Verrel baru tiba, dia di sambut oleh Widia. Mata tajam Verrel mencari keberadaan istri nya. Dengan cepat dia menghampiri Sintia, lalu memeluk istrinya erat.


Sintia terkejut, mendongak melihat siapa yang memeluk dirinya.


Setelah tahu siapa yang memeluk nya, barulah Sintia menangis sambil membalas pelukan suaminya.


"Hiks...Hiks ..."


"Sstt...Sudah sayang berhentilah menangis, jangan terlihat lemah seperti ini" bujuk Verrel seraya mengusap punggung istrinya, agar lebih tenang.


"Tapi, aku tidak bisa melupakan kejadian tadi. Dengan tiba-tiba Lena terkapar. Tubuh nya berdarah...Hiks...hiks..."


"Ssttt....Sudah.Sudah... Semuanya akan baik baik saja" lirih Verrel.


Sintia semakin membenamkan wajahnya pada dada bidang Verrel, menumpahkan semua kesedihan nya di sana.


Widia memeluk suaminya, dia tidak bisa melihat kerapuhan Sintia. Dia ikut menangis.


"Ayo kita membersihkan diri, berganti pakaian."


Verrel menggendong Sintia, membawa nya masuk ke kamar untuk membersihkan diri.


"Aku akan segera kembali untuk membicarakan semua ini" kata Verrel pada Reno.


"Ya" Reno mengangguk.


Verrel memandikan istri nya, menghalau rasa nafsu yang mulai bergejolak ketika melihat tubuh polos istri nya. Situasi saat ini tidak baik untuk memperhatikan hasrat.


Setelah mandi dan berganti pakaian. Verrel menyuruh istrinya beristirahat. Sedangkan dirinya akan pergi menemui Widia dan Reno.


"Verrel!" panggil Sintia ketika suaminya akan membuka pintu.


Verrel menoleh, dia kembali mendekati istrinya. Mengecup kening nya penuh kelembutan.


"Ada apa sayang? aku hanya ke bawah."


"Aku tahu, tapi aku tidak mau sendirian di sini. hm..Kalian akan membahas soal kejadian tadi kan? aku punya sesuatu yang ingin ku sampaikan pada kalian "


Setelah berpikir sejenak, akhirnya Verrel mengangguk setuju. Dia menggandeng istrinya keluar dari kamar.


Saat mereka keluar, Widia terkejut melihat Sintia kembali di bawa oleh Verrel.


"Kenapa keluar lagi? kenapa tidak istirahat?"

__ADS_1


"Kejadian ini hanya Sintia yang tahu, jadi kita butuh penjelasan darinya!"


Mereka semua masuk ke dalam ruangan kerja Verrel. Duduk di sofa saling berhadapan. Verrel bersama istri nya dan Reno bersama Widia.


"Aku tidak mengerti, bagaimana bisa semua orang tidak ada melihat kejadian ini!


Pengawal kenapa tidak ada yang berjaga di depan rumah!"


"Verrel, bukan kah kamu juga tahu. Gerbang dan tembok pembatas sangat tinggi. Di atas nya ada kawat listrik. Apa menurut mu ada yang bisa melewati nya?" sahut Widia berbicara panjang lebar.


"Benar Verrel. Pengawal memang tidak berjaga di rumah kita!" ucap Reno membenarkan ucapan istri nya.


"Tidak ada orang!" ujar Sintia tiba-tiba, membuat Verrel, Reno dan Widia menatap kearah nya.


"Tidak ada orang lain kecuali aku dan Lena. Dia datang seperti orang ketakutan. Mengatakan sesuatu dengan tidak jelas. Aku sungguh takut, saat tiba-tiba terdengar suara tembakan!"


"Apa kau melihat ada sesuatu di sekitar mu?" tanya Reno mulai menyelidiki.


"Aku- aku..." Sintia mulai mengingat ingat semua yang terjadi tadi. Matanya melebar saat mengingat ada sesuatu di langit.


"Ada seperti benda terbang di langit" desis Sintia ragu.


"Tepat! Seperti yang aku duga. Itu adalah drone berpeluru" sahut Widia.


Mereka berpikir keras, siapa yang telah melakukan semua ini.


"Apa yang dia katakan sayang?"


"Danrem, Rea..Asmar.... Orang tua ku... Bunuh...,"


"Aku tidak terlalu mengerti. Tapi dia mengatakan hal itu. Aku sungguh bingung Verrel dan ini sangat menyiksaku" tangis Sintia kembali pecah, kehilangan Lena sangat membuatnya sedih.


Sedangkan Verrel dan Reno malah terdiam. Mereka memikirkan sesuatu yang sama.


"Satu yang aku mengerti. Dia mengatakan bahwa aku bukan anak tuan dan nyonya"


Jleb.


"Benarkah? apa dia berkata begitu?"


"Iya Widia, dia mengatakan hal itu. Aku tidak bisa menanyakan lebih lanjut karena kondisi tubuh nya terlalu lemah"


"Dia meminta ku untuk menjaga diri dari mereka. Aku tidak mengerti apa yang dia maksud Verrel.." tangis Sintia memeluk suaminya.


"Sintia, apa kau benar benar tidak mengerti?"tanya Widia, dia sudah tidak tahan lagi melihat keputusaan Sintia.


"Apa yang harus aku mengerti. Aku sangat kalut, aku tidak bisa berpikir lagi"

__ADS_1


"Baiklah Sintia, aku akan menjelaskan padamu.


Kamu bukan anak kandung dari Danrem dan Rea. Kamu bukan bagian dari mereka"


Jleb..


Sintia terdiam untuk beberapa saat. Otak nya sedikit lambat mencerna apa yang Widia katakan.


"Apa Widia, aku bukan?"


"Iya sayang, kamu memang bukan anak mereka. Aku sudah meneliti ini sebelum kita menikah. Aku sudah tahu, tapi aku tidak tega memberitahu mu. Aku menunggu waktu yang tepat. Mungkin Lena mengetahui ini. Dia ingin memberitahu mu, tapi mereka lebih dulu membunuh Lena"


Sintia semakin syok, penjelasan panjang lebar dari suaminya membuat tubuh nya semakin membeku.


"Aku...Bukan anak mereka? bagaimana bisa?"


"Itulah yang sedang kamu selidiki sayang, kamu tenang yah. Aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkan hidup mu lagi"


"Tunggu dulu!" teriak Widia. Membuat mereka semua menatap kearahnya.


"Aku mulai paham. Lena bukan hanya tahu tentang fakta siapa orang tua mu Sintia." ujar Widia


"Lalu apa?" tanya Sintia.


"Seperti yang aku pahami dari ucapan Lena yang kamu katakan tadi. Danrem, Rea, Asmar...Bunuh?" Widia menggantungkan ucapannya, agar semua orang memikirkan sesuatu yang mungkin juga sama seperti yang dia pikirkan.


"Maksud mu, mereka yang membunuh kedua orang tua ku?"


"Tepat sekali. Danrem, Rea, dan Asmar. Mereka lah yang terlibat. Aku yakin itu yang di maksud oleh Lena" tutur Widia lagi.


Sintia menggeleng kuat, dia tidak bisa menerima kenyataan ini. Sulit bagi nya untuk memikirkan nya


"Pantas saja mereka membunuh Lena. Ternyata gadis itu mengetahui fakta ini" gumam Reno.


Sintia menoleh pada suaminya, meminta penjelasan. "Apa kamu sudah tahu ini juga?"


Verrel menatap wajah istri nya, kemudian menggeleng pelan. " Aku hanya mengetahui bahwa mereka bukan orang tua kandung mu. Aku tidak tahu benar atau salah mereka yang membunuh nyam Aku hanya menduga dan sedang mencari tahu" jelas Verrel.


Sintia kembali menangis, hidup nya terlalu rumit. Kacau balau dengan semua masalah yang terus datang.


"Sttt...Sudah, kamu aman Sekarang. Tidak akan ada yang berani mengganggu mu!"


"Hiks...Hiks...Aku takut Verrel. Aku takut, karena mereka terlalu kejam!"


Verrel memeluk istrinya semakin erat, dia tahu istrinya belum siap menerima kenyataan ini. Bahkan hidup di lingkungan yang sangat berbahaya seperti ini.


"Maaf jika aku sudah membawa mu masuk ke kehidupan yang berbahaya"

__ADS_1


"Maaf...."


__ADS_2