Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Sintia Ketahuan


__ADS_3

"Sintia. Kamu sedang apa di situ?"


Sintia terkejut, dia buru buru memberi kode pada wanita itu untuk tetap diam dan mengikuti alur nya.


Danrem dan Mr Topi membuka pintu, berdiri di hadapan Sintia yang berusaha untuk tetap tenang.


Mr Topi tidak bersuara, dia hanya melihat apa yang terjadi.


"Apa yang sedang kamu lakukan Sintia, mengapa kamu diam saja?"


"Ah, papa. Aku ke sini ingin menemui mu. Tapi, tadi Kiona mengatakan papa ada tamu" ucap Sintia beralasan. Dia melirik wanita itu, memberi kode agar wanita itu membenarkan apa yang dia ucapkan.


"Iya boss, aku hanya bertanya dan tidak tahu membuat boss terganggu dan keluar melihat kami" cicit Kiona tergagap.


Sintia tersenyum, wanita itu patuh juga ternyata. Meskipun dia tahu, bahwa Sintia tidak lagi boss di sini.


"Oh maaf sayang, kenapa kamu tidak masuk saja. Papa tidak akan keberatan jika kamu masuk" ujar Danrem lagi.


Sintia tersenyum, dia melirik Mr Topi. Seakan mereka tidak pernah bertemu sebelum nya.


"Oh sayang, ayo kita masuk dan papa akan memperkenalkan pria ini kepada mu"


Sintia mengangguk dengan senyum manis nya, lalu mengikuti langkah papa nya yang sudah masuk lebih dulu ke dalam ruangan.


Sebelum benar benar masuk, Sintia kembali melirik ke belakang. Menatap Kiona yang masih menatap ke arahnya.


"Awas jika berani bilang sama papa" ancam Sintia.


Bukan nya takut, Kiona malah meleletkan lidah pada Sintia. Dia tidak mengerikan, tapi menggemaskan di mata wanita itu.


Kiona itu adalah mantan sekretaris Sintia, dia sekarang menjadi sekretaris Danrem. Karena itulah dia tidak takut pada Sintia, sudah terbiasa dan tahu sifat wanita itu.


Sintia duduk di sofa, berhadapan dengan Mr Topi dan bersebelahan dengan Danrem.


"Nak, kenakalan. Dia adalah Mr Topi. Dia rekan bisnis baru kita"


"Mr Topi, dia Sintia Rafs. Putri bungsu ku!"


"Sintia Eldor!" sela Sintia membenarkan kalimat papa nya dalam memperkenalkan dirinya tadi.


"Ah iya, dia sudah menikah dan tentunya marga nya juga sudah berubah" kekeh Danrem.


Sintia menatap Mr Topi lekat, dia melemparkan tatapan yang tidak dapat me Topi artikan.


"Aku tidak menyangka, perusahaan ku bisa bekerja sama dengan mu!"


Deg.


Danrem menoleh, dia terkejut mendengar penuturan putrinya barusan.


Sedangkan Mr Topi, dia malah tersenyum mendengarnya.


"Jadi, ini milik mu?"


"Tentu saja. Semua ini milik ku. Dan aku juga cukup tahu banyak tentang mu Mr Topi!"


"Bagus, itu lebih baik. Jadi, aku tidak perlu repot memperkenalkan diriku kepada mu!" balas Mr Topi. Tatapan matanya tidak beranjak dari wajah Sintia.


Suasana mendadak menjadi tegang, Danrem juga menikmati pembicaraan mereka. Dia menangkap adanya perselisihan di antara kedua nya.

__ADS_1


"Nak, jangan terlalu kasar. Perusahaan mereka banyak mendatangkan keuntungan bagi perusahaan kita. Begitu juga sebaliknya. Jadi, pegang lah erat kerja sama ini.


"Maaf Mr Danrem. Aku tidak mempermasalahkan nya. Bersikap jujur lebih baik di bandingkan yang bermuka dua. Aku suka karakter putri anda!"


"Tapi aku tidak suka dengan mu!" balas Sintia cepat.


"Baiklah Mr Danrem, seperti nya pertemuan kita kali ini cukup sampai di sini. Putri anda seperti nya terganggu dengan kehadiran ku" ujar Mr Topi pura pura tersinggung, membuat Sintia berdecak kesal.


"Baiklah Mr Topi. Aku minta maaf atas sikap putri ku. Tapi, untuk kerjasama kita tadi, akan berlanjut seperti awal obrolan." ujar Danrem.


Mr Topi mengangguk pelan, kemudian dia segera bangkit dan berlalu keluar dari ruangan Danrem.


Setelah kepergian Mr Topi. Danrem menatap putrinya, "Apa yang coba kau lakukan hm? apa ingin membuat perusahaan kita semakin bangkrut?


"Bukan seperti itu, tapi kita tahu siapa dia. Mafia licik yang menghalalkan segala cara untuk menghancurkan lawan nya. Dia tidak bisa menjadi teman, atau musuh!"


"Tapi, selagi dia bisa menjadi teman. Kenapa tidak hm? papa tahu nak, kamu sangat lihai dalam berbisnis, tapi kali ini kamu harus mempercayai papa. Apalagi sekarang perusahaan ini sudah kamu tinggalkan."


Sintia tidak berkata kata lagi, papa nya memang benar. Dia sudah tidak ada hak di rumah maupun di perusahaan. Namun, bukan itu tujuan nya datang ke perusahaan ini.


"Ah sudah lah pa, aku datang ke sini bukan untuk berdebat dengan papa."


Sintia bergelayut manja di lengan papa nya. Sikap yang selama ini tidak pernah dia lakukan namun dia inginkan.


Tidak ada keraguan dan ketakutan. Sintia benar benar berbuat sesukanya. Danrem pun tidak keberatan, dia lebih suka jika putri angkatnya ini dekat dengan nya.


Dengan begitu, Danrem akan dengan mudah mendapatkan semua ini. Semua harta yang di miliki Sintia, baik yang dia ketahui maupun tidak.


"Apa yang membawa mu ke sini nak?"


Sintia menatap papa nya, tersenyum manis seperti bayi.


Danrem tersenyum, mengusap pucuk kepala Sintia lembut


"Iya sayang, kamu kesini aja. Gak usah ke rumah"


Sintia tersenyum, dia melihat ada Fd di atas meja dekat dokumen yang di ambil oleh papa nya di atas meja kerja nya tadi.


Dengan hati hati dan terus mencari perhatian papa nya. Tangan Sintia terus bergerak mencari cara agar meraih benda itu.


Namun, seakan tahu Danrem malah terus membuatnya kesulitan.


Drrttt .


Ponsel Danrem bergetar, dia mengalihkan pandangan nya dari Sintia ke Ponselnya yang tergeletak di atas meja.


"Sebentar yah sayang, ada panggilan dari teman lama"


"Baiklah papa" balas Sintia.


Danrem beranjak sedikit jauh dari Sintia, meninggalkan wanita itu di sofa sendirian.


Ini adalah kesempatan bagi Sintia untuk mengambil Fd Otg itu dan langsung menghubungkan ke ponsel nya.


Sintia melirik ke belakang, dia melihat papa nya yang masih sibuk menelfon dengan seseorang.


Merasa aman dan sedikit tergesa gesa, Sintia mulai mengcopy semua file yang ada di dalam flashdisk tersebut.


Jantung nya berdegup kencang, berharap cepat menyelesaikan semua ini dan segera pergi setelah papa nya selesai menelfon.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan segera melihat laporan itu. Kau tenang saja"


Sintia merasa sangat cemas, papa nya akan segera menutup telfon nya. Sedangkan file yang dia copy baru 80% tercopy.


"Ayo cepat lahh" desis Sintia menatap layar ponselnya.


Cling!


"Yes"


"Apa yang sedang kamu lakukan nak?"


Deg.


Sintia menggigit bibir bawahnya, jantung nya hampir terlepas saat mendengar suara papanya.


Beruntung dia berhasil mencabut dan menyembunyikan Flashdisk itu ke samping tubuhnya tanpa terlihat mencurigakan.


"Tidak apa apa pa, aku hanya mendapatkan pesan dari teman ku. Dia mengajak ku makan siang"kila Sintia beralasan.


"Ohh, yaudah. Kalau kamu mau pergi sekarang gak papa. Kasian juga sama teman mu"


"Iya pa, Sintia pergi dulu yah"


Sintia memeluk papa nya sebelum dia pergi, tangan nya menyelipkan flashdisk itu ke sela saku jas papa nya.


Setelah memastikan fd itu sudah masuk ke dalam saku papa nya, barulah Sintia melepaskan pelukan nya.


"Aku pergi yah pa, da"


"Dah..."


Sintia bergegas keluar dari kantor papa nya. Dia tersenyum senang saat memasuki lift. Dia akan melihat apa yang ada di dalam fd itu. Mengapa Mr Topi dan papa nya bekerjasama.


Di tempat lain, Verrel baru saja tiba di rumah. Dia tidak melihat keberadaan istri nya. Dia hanya melihat Widia saja di ruang tv.


"Widia, Sintia mana?"


Jleb.


Widia yang sedang duduk di sofa terkejut mendengar pertanyaan sahabat nya itu.


"Melihat wajah terkejut mu itu, aku yakin kamu tidak bersama dengan Sintia" tebak Verrel.


Widia kalang kabut, dia bergerak gelisah memikirkan jawaban apa yang akan dia berikan pada Verrel.


"Maaf Verrel, dia berpamitan padaku akan pergi menemui mu."


"Lalu mengapa kamu tidak mengatakan pada ku? bukan kah aku sudah bilang pada mu, laporkan semuanya kepadaku. Apapun itu!!!" Verrel mulai emosi, dia kembali kalut mencari istri nya.


"Tenang Verrel, jangan emosi. Sintia tidak akan pergi kemana mana, jangan panik dulu"


"Tapi Reno, Mr Topi dan Danrem sangat berbahaya....Mereka bisa saja mencelakai Sintia, apa kau tidak berpikir itu?"


"Kenapa kau terlalu takut aku dekat dengan Mr Topi Verrel?"


Sintia tiba tiba muncul dengan pertanyaan yang membuat mereka bertiga terkejut.


Verrel berlari, dia mendekati istrinya dan memeriksa setiap inci tubuh istrinya. Apa ada yang terluka atau tidak.

__ADS_1


Namun, reaksi Sintia terlihat datar. Entah apa yang terjadi pada wanita itu.


__ADS_2