
Kebahagiaan terus menghantui kehidupan Sintia. Bangun tidur, dia menepuk nepuk pipinya. Berpikir jika apa yang terjadi kemarin adalah mimpi.
"Sayang, apa yang kamu lakukan? jangan sakiti dirimu sendiri" Verrel mengambil tangan istrinya. Matanya belum sepenuhnya terbuka, lalu dia menarik istri nya masuk ke dalam pelukan nya.
"Tidur lah, jangan berkhayal kalau semua ini mimpi. Ini nyata sayang, nyata. Kamu dan aku hidup bahagia. Itu adalah kenyataan nya"
"Benarkah?"
"Tentu"
Sintia membalas pelukan suaminya, hati nya sedang berbunga bunga sekarang.
"Thanks God, engkau telah merubah hidup ku menjadi sesuatu yang indah"gumam Sintia dalam hati.
"Ayo, tidur lah sayang. Tidur lah" Verrel mengusap pelan rambut Sintia, membuat wanita yang beberapa Minggu lalu menjadi seorang istri.
Mereka kembali tertidur, tanpa melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi.
Brak!! Brak!!
"Verrel!!!! Sintia!!!!!!"
"Verrel!!!! Sintia!!!!!"
Suara teriakan dari luar kamar terus terdengar. Awal nya tidak membuat kedua orang itu terganggu. Namun, lama kelamaan mereka akhirnya terbangun juga.
"Engss...."
Sintia mulai menggeliat, suara gubrakan pada pintu kamar mereka semakin keras terdengar.
"Verrel. Lihat lah, siapa yang sedang mengetok pintu" ucap Sintia menggoyang goyangkan lengan suaminya, matanya sulit untuk di buka.
Semalam, mereka bergelut hingga lupa waktu. Hampir subuh, baru berhenti dan tidur. Kemudian terbangun pukul 9 dan mereka tertidur lagi.
"Biarkan saja sayang, nanti juga berhenti sendiri" sahut Verrel semakin mengeratkan pelukan nya pada perut Sintia.
"Verrel!!!!!"
"Sintia!!!!!"
Widia semakin geram, suami istri itu seakan kerbau yang sedang malas. Sedikit saja mereka tidak bangun.
"Mereka tidur atau mati sih" dengus nya.
"Sintia!! Oh ayolah guys, bangun!!"
Suara itu semakin keras dan mengganggu, mau tidak mau Sintia akhirnya bangun. Memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Lalu, memakainya secara asal.
"Sayang, aku lihat dulu siapa yang datang"
"hmm..."
Sintia berjalan mendekati pintu, dia membuka pintu dan terkejut melihat Widia berdiri di depan pintu kamar nya.
Ekspresi wajah Widia sangat mengerikan, dia sangat kesal.
"A-ada apa Widia?" tanya Sintia merapikan baju tidurnya yang sedikit melar.
__ADS_1
"Kalian itu tidur, atau mati sih? dari tadi aku memanggil dan memukul pintu kamar kalian. Tapi kalian tidak ada yang bangun!"
"Maaf Widia, aku dan Verrel lelah sekali, makanya terlambat bangun" cicit Sintia menunduk. Saat ini mereka terlihat seperti ibu yang sedang memarahi putri nya.
"Kamu tahu sekarang jam berapa huh?"
"Jam berapa memangnya?"
Widia memperlihatkan jam tangan nya pada Sintia.
"Astaga, jam 1 siang???? bagaimana mungkin. Aku pikir Sekarang masih jam 8 atau sembilan" pekik Sintia terkejut.
"Iya, sebentar lagi jam 9 malam" cetus Widia dengan nada kesal.
"Hah sudahlah. Aku ke sini hanya mau bilang, di depan ada tukan sayur dan buahan. Kalian mau pesan setiap hari atau hanya sekali seminggu?"
"Hm Setiap hari Widia. Verrel bekerja setiap hari dan dia butuh makan buah dan sayur. Jadi setiap hari aku memesan nya"
"Oh baiklah, akan aku sampaikan " Widia berbalik pergi. Tiba tiba Sintia memanggilnya lagi.
"Eh Widia?" panggilnya menghentikan langkah wanita itu.
"Ada apa?"
"Apa kau membangunkan kami hanya karena hal ini?"
"Yah tentu" jawab Widia enteng.
"Oh baiklah"
Widia kembali melanjutkan langkah nya, meninggalkan Sintia seperti orang bego.
"Soal sayur dan buahan? mengguncang pintu kamar ku?" gerutunya.
Sintia kembali masuk ke dalam, dia mendapati suaminya telah bangun dan duduk di tepi ranjang.
"Siapa sayang, kenapa kamu terlihat bingung?"
"Widia, dia membangunkan kita hanya menanyakan soal pemesanan sayur. Tidak bisakah dia memutuskan saja. Lalu besok akan aku ubah"
"CK. Sayang, kamu itu baru mengenal Widia. Sebentar lagi kamu akan menemukan hal aneh lain nya dari wanita itu"
"Benarkah?"
"Yah, dia aneh, simpel, tapi dia sangat baik. Jika dia tahu kau adalah orang baik. Maka dia rela membela mu meskipun nyawa taruhan nya. Hati nya bersih" terang Verrel.
"Wah, suami ku sangat mengerti tentang sahabat nya. Aku jadi iri" cicit Sintia pura pura merajuk.
"Hei..Apa kau cemburu baby?"
"Menurut mu?"
"Oh ayolah, sayang. Dia itu bukan hanya Sahabi. Tapi adik perempuan ku. Kau adalah iparnya. Kalian harus saling menyayangi ok?"
"Oke"
Verrel tersenyum senang, dia memeluk istrinya erat. Sangat erat, "Aku bahagia memiliki mu. Jadilah milik ku selama nya"
__ADS_1
Setelah membersihkan diri, Verrel pamit pergi kekantor pada Sintia. Dia akan pulang malam dan sedikit terlambat dari biasanya. Dia tiba-tiba mendapat telfon.
Kini, Sintia sendiri di rumah. Dia tidak takut, dia merasa aman. Tapi, hati nya malah gelisah. Pemikiran nya tertuju pada papa nya.
"Apa sesuatu terjadi pada papa?"
"Jika yah, mengapa tidak ada yang memberitahu ku??"
Sintia mencoba mengalihkan pikiran nya. Dia memasak, melakukan pekerjaan rumah. Menonton tv, semua telah dia lakukan. Hingga dia tiba-tiba mendapat telfon dari seseorang.
Kringgggggg.....
"Nomor siapa ini?" gumam nya heran, seseorang menelfon tanpa nama.
"Aku angkat saja, siapa tahu penting"
Baru saja tombol hijau di tekan, suara memilukan langsung terdengar di telinganya.
"Hallo Sintia. Kamu di mana? Papa mu saat ini berada di rumah sakit. Dia terkena serangan jantung, dia terus memanggil mu . Sintia!!!"
Deg.
Seakan bumi ini hancur, Sintia merasa tubuh nya kaku. Suara panggilan di telfon nya pun terdengar samar.
"Sintia!! Apa kau mendengar ku?
Sintia???"
Suara Rea bergetar di sebrang sana. Membuat hati Sintia semakin hancur mendengar nya.
"Iya ma, aku di sini. Kirimkan alamat rumah sakit nya. Aku akan segera kesana"
"Baik lah nak, mama tunggu di rumah sakit yah"
"Iya ma"
Telfon pun terputus, Sintia bergegas keluar dari rumah. Mengambil kunci mobil yang beberapa waktu lalu Verrel belikan untuk nya.
Sintia keluar dari rumah, dia berpapasan dengan Widia.
"Eh Sintia, kau mau kemana???"
"Aku sedang buru buru Widia. Nanti aku jelaskan"
"Tapi kau mau kemana?" Widia bingung serta heran melihat Sintia yang terburu buru seperti di kejar hantu.
"Hei Sintia!!!" Widia pun akhirnya memutuskan untuk mengikutinya. Dia masuk ke dalam mobil Sintia saat wanita itu akan pergi.
"Aku ikut yah!"
Sintia tidak menolak , dia membiarkan Widia masuk dan pergi bersama.
Di dalam perjalanan, Sintia tidak banyak bicara. air matanya terus mengalir dan semakin lama semakin deras.
Ingin sekali Widia menanyakan apa yang telah terjadi, tapi niat nya ia urungkan melihat wanita itu tidak berdaya. Bahkan mengeluarkan Isak tangis saja dia tidak sanggup.
"Entah apa yang sedang terjadi, semoga tidak ada kaitan nya dengan Verrel. Gods, lindungi Verrel dan istri nya dari orang orang jahat!" doa Widia di dalam hati.
__ADS_1