Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Berbaikan


__ADS_3

Sela buru buru pulang ke rumah, dia yakin kedua orang tuanya juga sudah tahu soal kehancuran Keluarga Jackson. Tapi, bagaimana ini bisa terjadi.


"Mama, Papa!"


Danrem dan Rea menoleh, mereka berdiri dari duduk nya.


"Ada apa Sela, kenapa kamu berlari seperti itu? kalau kamu tersandung dan bayi kamu kenapa kenapa bagaimana?"


"itu tidak penting ma, ada yang lebih penting?"


"Apa itu? " sela Danrem.


"Keluarga Rendi telah hancur, semua harta mereka telah habis dalam sekejap. Apa papa tidak mendengar kabar nya?"


Danrem memalingkan wajah nya, dia sudah tahu tentang hal ini.


"Papa dan mama sudah membaca nya di internet. " terang Rea.


"Bagaimana ini ma, Keluarga nya menyalahkan Rendi. Mereka mengutuk calon suami ku!" ucap Sela.


Rea melebarkan matanya," bagaimana mungkin mereka menyalahkan ini semua pada Rendi. sudah jelas ini kesalahan Mr Jackson. Kenapa harus calon menantu ku yang menanggung nya?"


"Tentu saja, karena semua ini adalah perbuatan Verrel. Dia sudah mendukung seseorang untuk menghancurkan keluarga Jackson."


Persis seperti yang Asmar dan Sia katakan. Sela malah menjadi penasaran, seberapa berkuasanya seorang Verrel. Susah jelas dulu dia hanya seorang pria tidak berguna. Tapi mengapa sekarang semua orang takut padanya.


Sela semakin menyesali perbuatannya mengkhianati Verrel.


"Pria itu benar benar. Apa dia tidak cukup merebut putri kita dari kita. sekarang, dia malah ingin menghancurkan calon suami dari putri kita!"


"Tidak Rea, jangan berkata seperti itu. Kamu tidak bisa menunjukkan sikap seperti itu di hadapan musuh Rea!"


Sela dan Rea menoleh pada Danrem. Pria itu berkata seolah dia sedang merencanakan sesuatu.


"Maksud papa apa?"


"Kalian jangan bodoh, sudah jelas Verrel akan menghancurkan semua orang yang mengacaukan istrinya. Sintia bagaikan ratu di matanya. Jadi jika kita ingin selamat dari nya. kita harus bersikap baik!"


"Haruskah begitu? melihat wajah nya saja aku tidak Sudi!"


"Kalau begitu, bersiaplah untuk bangkrut!"


Rea langsung bungkam, mana mungkin dia bisa hidup menderita tanpa apapun. Mau tidak mau, dia harus melakukan apa yang suaminya katakan.


Sedangkan Sela, dia malah semakin iri kepada adik nya. Merasa kesal karena adik nya merebut Verrel dari nya.


...----------------...


Sintia duduk di balkon kamar nya, menatap hamparan perumahan yang tersusun rapi.


Wanita itu berpikir, bagaimana nasib keluarga nya nanti. Ketika Suaminya menghancurkan mereka.


Sedangkan dirinya, tidak bisa melakukan apapun.

__ADS_1


",Bodoh?"


Yah, katakan saja dia bodoh. Setelah di perlakukan tidak adil. Tapi, dia masih tetap memikirkan tentang mereka.


Namun, harus kita pikirkan. Apalah daya hati seorang anak. sejahat apapun orang tua kita, mereka tetap lah orang tua kita.


Aliran darah tidak bisa di ganti, Sintia sangat menyayangi kedua ini tua nya. Rasa kecewa nya memang besar namun, dia tetap punya hati nurani.


Ceklek.


Buru buru Sintia menghapus air matanya, dia tahu Verrel telah kembali.


Benar saja, Verrel menghampiri nya. Dia duduk di samping Sintia, meraih tangan Sintia yang masih diam dan menunduk.


"Maaf.."


Sintia mendongak, dia cukup terkejut mendengar kata maaf dari Verrel.


"Aku tahu Sintia, aku adalah pria yang buruk. Aku tidak tahu, bagaimana caranya melampiaskan kemarahan ku. Aku tidak suka melihat mereka menyakiti mu.


Aku tahu, kita baru menikah. Perasaan mu dan aku mungkin belum menyatu. Tapi, hanya satu yang harus kamu ketahui Sintia. Aku tidak pernah main main dengan sebuah ikatan. Aku tidak akan pernah mengkhianati siapapun, kecuali orang itu mengkhianati aku lebih dulu!"


Sintia menatap Verrel, kata kata nya terdengar tulus dan jujur.


"Aku tidak marah kepadamu Verrel, aku juga memiliki pemikiran yang sama dengan mu, aku setia dan aku akan setia. Tapi, aku mohon. Jangan hancurkan mereka"


"Aku tidak bisa berjanji, jika mereka kembali mengganggu mu. Aku tidak punya pilihan lain!"


Nafas Sintia terasa sesak, dia benar benar takut sekarang. Dua Minggu bersama pria ini, Sintia jadi tahu, bahwa pria ini tidak main main dengan perkataan nya.


"Kenapa?"


"Aku hanya ingin hidup bahagia, hidup tenang bersama mu!"


Jleb.


Sintia merasa hati nya tersentuh, kata kata Verrel membuatnya berpikir ulang tentang pemikiran nya soal pria ini.


"Sintia, hidup ku sudah rumit. Aku tidak memiliki tempat untuk pulang. Kini aku bersama mu, aku sudah memiliki tempat untuk pulang.


Aku mohon, mengerti lah." Mohon Verrel, mata nya berkaca kaca. Ini pertama kali nya seorang Verrel memohon pada seorang wanita.


Sintia sangat berarti bagi Verrel, karena itulah dia tidak segan memohon pada wanita ini.


"Baiklah, aku akan mencoba nya"


"Terimakasih sayang, aku senang mendengarnya "


Verrel langsung memeluk Sintia, merasa lega karena permasalahan nya dan Sintia akhirnya selesai.


Verrel memeluk Sintia semakin erat, bahkan Sintia merasakan tangan Verrel mulai bergerilya ke tubuh nya.


"Verrel!" tegur Sintia berusaha melepaskan pelukan nya.

__ADS_1


"Ada apa honey, kenapa kamu berteriak?"


"Tangan mu..."


"Tangan ku kenapa sayang? ayo katakan " ujar Verrel menggoda istrinya.


Verrel terus menggerakkan tangan nya, semakin lama semakin naik keatas.


"Verrel...."


"Sayang..." balas Verrel tersenyum senang.


Sintia menahan tangan suaminya, menggenggam pergelangan tangan nya seperti sedang memborgol.


"Sayang, terimakasih" ungkap Verrel menatap wajah manis istri nya.


"Sudah tidak usah di bahas lagi, aku juga bersalah. Karena salah menilai mu"


Verrel menatap istrinya lekat, pertama menatap mata nya, kemudian turun ke bibir ranum merah muda milik Sintia. Sungguh sangat menggoda, Verrel merasa ingin segera melahap nya.


Semakin dekat, dekat dan semakin dekat. Jarak mereka hanya tersisa 5 cm, Sintia dapat merasakan hembusan hangat nafas Verrel menerpa kulit wajah nya.


Detak jantung kedua nya terdengar saling bersahutan. Sama sama di Landa kegugupan yang mendalam.


"Sintia?"


"Hmm??"


"Aku-" Ucapan Verrel terhenti, suara dari perut Sintia menghentikan ucapan nya.


Kryukk~~~


"UPS..." Sintia menunduk malu, dia memegangi perutnya yang terasa lapar


"Apa kamu lapar?" tanya Verrel.


Malu malu, Sintia mengangguk pelan. Sejak mereka bertengkar, Sintia belum memakan apapun. Kini, dia merasa sangat lapar.


"Ahahahaha......."


Sintia mengerutkan dahi nya, menatap Verrel yang tiba tiba tertawa terbahak bahak.


"Apa yang lucu?"


"Sorry Honey, aku tidak bahahaha..."


Sulit bagi Verrel mengendalikan tawa nya. Ekspresi wajah istri nya ketika menahan lapar sangat lucu bagi nya.


"Maaf, maaf sayang" Verrel berusaha keras mengendalikan tawa nya.


"Ayo, aku akan memasakkan sesuatu untuk mu"


"Baiklah, ayo!"

__ADS_1


Sintia langsung semangat, dia sangat menyukai masakan yang Verrel buat Rasanya rempah nya pas, pedas nya pas. Pokok nya Sintia sangat menyukainya.


__ADS_2