Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Felicia Dan Hino


__ADS_3

Hari cepat berlalu, Sintia semakin hari semakin lihai gerakan beladiri nya.


Verrel takjub, dia tidak menyangka wanita lembut seperti istri nya bisa sangat cepat mempelajari hal hal yang mungkin tidak pernah ia bayangkan. Apalagi sekarang Sintia sudah bisa menembak, sasaran nya selalu tepat.


"Sayang, aku bangga pada mu. Aku tidak pernah berpikir mengajari mu berkelahi dan bagaimana cara menggunakan senjata semudah ini" puji Verrel.


Sintia tersenyum, dia menyimpan pistol yang kemarin di hadiahkan oleh suaminya untuk dirinya.


"Sekarang, aku tidak terlalu khawatir, apabila seseorang mengancam mu"


"tentu honey, aku adalah istri seorang mafia, yang mungkin memiliki banyak musuh. Jadi, aku harus kuat seperti suamiku" ujar Sintia lucu. Verrel jadi tertawa mendengar ucapan istri nya.


"Kamu sangat menggemaskan"


"kamu sangat menghangatkan" balas Sintia. Tangan nya langsung menangkup wajah suaminya dan bibirnya langsung mendarat cepat ke bibir suaminya.


"Kau sudah berani sekarang, aku suka ini"


"Aku juga suka" balas Sintia, dia kembali melanjutkan aksinya. Bergumul di taman belakang seperti nya tidak buruk. Karena itu lah yang saat ini mereka lakukan.


...----------------...


"Boss, seseorang mendapatkan data keluarga mu!"


Mr Topi menatap tajam pada anak buah nya.


"Apa kamu tidak salah?" tanya Mr Topi serius, dia sudah lama mencari tahu soal Keluarga nya. Seumur hidup dirundung perasaan bersalah. Kini seseorang membawa kabar soal keluarganya?.


"Boss, mereka memberikan ini"


Mr Topi menerima sebuah amplop dari anak buahnya. Dia langsung membuka dan melihat isi dari amplop itu.


Saat melihat isi nya,rahang tegas terlihat semakin jelas dengan gigi menggertak.


"Sialan!" umpat Mr Topi menahan geram, tangan nya mengepal kertas kertas itu.


Pria berjas hitam di depan Mr Topi hanya bisa menundukkan kepalanya. Berharap bahwa kemarahan boss nya tidak di lampiaskan kepadanya.


"Siapkan mobil! aku akan pergi menemui orang ini!" teriak Mr Topi menggelegar di ruangan nya


"Baik boss!"


Pria itu langsung menunduk hormat, lalu bergegas pergi menjalankan perintah boss nya sebelum malapetaka menghampiri hidupnya.


Brak!!


"Sial. Berani sekali mereka mempermainkan ku!!!"


Mr Topi segera pergi, dia akan menemui seseorang yang mengirimkan sesuatu menyangkut keluarga nya yang mati terbunuh.

__ADS_1


"Aku bersumpah, akan membalaskan semua yang terjadi pada keluarga ku. Bahkan lebih parah!!" sumpah Mr Topi.


Di sebuah hotel, ruangan khusus pertemuan. Danrem bersama dengan Asmar duduk sambil tertawa.


"Aku tidak sabar Asmar, bagaimana reaksi nya!"


"Aku tidak percaya Danrem, kamu bisa menemukan bocah kecil yang dulu sempat sekarat dan bahkan kita anggap sudah mati."


Danrem tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Setelah apa yang dia lakukan di masa lalu, kini dia kembali melakukan hal yang berguna untuk dirinya dan Asmar.


"Salah satu anak buah ku melapor, seseorang tengah menyelidiki soal kematian Felicia dan Hino. Jadi, aku menyuruh anak buah ku untuk menyelidiki orang itu. Untuk memastikan dugaan ku benar atau tidak, tergantung reaksi nya!" ucap Danrem panjang lebar, dia mengingat bagaimana ekspresi wajah pria yang sangat berbahaya di dunia Mafia, tapi tidak masalah mereka tidak akan takut. Karena sebentar lagi orang itu akan menjadi kawan nya.


"Bravo Danrem, bravo. Kamu memang yang paling cerdas. Aku salut dengan mu!"


"Tentu" balas Danrem bangga.


Felicia dan Hino adalah suami istri yang sangat serasi. Mereka merupakan keturunan Mafia yang terkenal dengan ketajaman nya dak berbisnis dan melumpuhkan musuh.


Karena kepercayaan mereka terhadap Danrem dan Rea, membuat hidup merek sirna.


Danrem dan Rea menghabisi Feli dan Hino ketika mereka mabuk, dan menyiksa kedua nya dengan sangat kejam.


Sebelum itu, kedua orang itu menyiksa putra pertama Feli dan Hino terlebih dulu. Membuat pewaris utama meninggal dalam keadaan kecelakaan.


Ketika mereka akan membunuh Sintia, sebuah surat mendatangi mereka. Bahwa mereka tidak akan mendapatkan apapun apabila pewaris telah lenyap. Hingga usia nya 21 tahun, barulah mereka bisa memindahkan semua nya menjadi milik mereka.


Waktu itu, usia Sintia baru jalan 4 tahun.


Terkadang, bukan hanya orang yang menentang kita di depan sebagai musuh.


Melainkan orang yang berdiri di samping kita, mendukung semua yang kita lakukan. Orang yang paling kita percaya, merekalah musuh yang sangat berbahaya.


Brak!


Beberapa orang berbaju hitam dan memegang senjata masuk ke dalam ruangan. Danrem dan Asmar terkejut. Namun beberapa detik berikutnya, mereka terlihat santai.


Mr Topi berdiri di hadapan mereka, dengan tatapan tajam dan rahan mengeras karena giginya menggertak.


"Wah, tamu kita datang lebih cepat dari yang kita duga Asmar."


"Benar Danrem, aku tidak menyangka reaksinya seperti yang kita harapkan" sahut Asmar.


"Itu tandanya, kita benar!"


Mr Topi membuka kaca matanya, menatap tajam kepada kedua pria yang hampir tua.


"Jangan terlalu senang bajingan! Katakan kepada ku, apa yang kalian ketahui soal Keluarga ku!" tekan Mr Topi to the poin.


"Ops...Sabar anak muda, jangan terlalu terburu-buru. Mari duduk dan bersantai lah!"ucap Danrem.

__ADS_1


"Sudah aku bilang! jangan main main dengan ku. Cepat katakan!!!!" Geram Mr Topi. Dia mulai kehabisan kesabaran. Anak buah nya langsung angkat senjata, menodongkan kepada Danrem dan Asmar.


Beralih sebentar ke pasangan suami istri ini dulu.


Verrel duduk bersandar pada kepala ranjang. Mengusap kepala istrinya yang tengah berbaring di samping nya dengan berbantalkan perutnya.


Verrel merasa istri nya sangat manja sekarang


Sikapnya semakin hari semakin menggemaskan. Dia sangat suka bermanja manja di atas tempat tidur bersama nya. Bahkan ketika pagi hari, Sintia tidak rela melepaskan suaminya bangun.


Cling~


Di sela aktivitasnya mengusap lembut rambut istri nya, dia meraih ponsel nya yang baru saja berdering.


Verrel membuka ponsel nya, melihat pesan yang baru saja masuk.


Jleb.


Mata bulat Verrel terlihat akan keluar ketika melihat isi pesan itu. Rahan nya terlihat semakin keras.


"Sial!" desis nya.


"Kenapa sayang?" Sintia mendongak, dia merasa suami nya tengah mengumpat.


Dengan cepat, ekspresi wajah Verrel langsung kembali seperti semula.


"Tidak ada sayang, ayo tidur lah. Aku harus turun sebentar. Mengambil air minum untuk mu dan juga untuk ku" ucap Verrel mencari alasan.


Sintia langsung duduk, dia hendak turun dari ranjang.


"Biar aku yang ambilkan. Kamu pasti lelah sayang"


Verrel menggeleng, dia tidak akan membiarkan istrinya yang melakukan hal itu.


"Tidak baby, kamu tidur saja ya. Aku akan mengambilnya sendiri, dan aku janji tidak akan lama"


"Janji?"


"Tentu sayang, aku tidak akan berbohong." ucap Verrel meyakinkan istri nya.


Sinti mengangguk, dia kembali merebahkan tubuh polos berbalutkan selimut tebal.


Fyu...


Verrel bergegas keluar dari kamar, masuk ke dalam ruangan kerja nya dan membuka laptopnya.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun mencoba menghancurkan kehidupan keluarga ku. Aku akan membalas semua perbuatan mereka terhadap ibu ku dan juga papa ku.


sebelum itu, aku akan memastikan mereka tidak menyentuh keluarga kecil ku!" gumam Verrel melakukan sesuatu di laptop nya.

__ADS_1


__ADS_2