Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Perang


__ADS_3

Di sini lah mereka semua. Di tengah lapang yang terletak di tengah hutan.


Biasanya, lapangan ini di gunakan sebagai pelatihan perang atau sebagai tempat pelantikan pemimpin baru Mutiara Naga Hijau.


Terlihat di lapangan itu terdapat ada 3 kubu pasukan.


Pertama, dari kubu Verrel, Satria dan Gion.


Di kubu kedua adalah Danrem, Asmar dan Sela.


Sedangkan di kubu satu nya lagi, merupakan kubu pasukan Mutiara Naga Hijau, beserta sekutunya.


"Bagi kalian berdua, silahkan tunjukkan mutiara itu. Kami tidak peduli yang di Lantik dahulu siapa!" tegas pemimpin Mutiara hijau.


Danrem tersenyum, menata kearah Verrel dengan senyum bangga. Tatapan matanya seolah mengatakan tamat lah riwayat mereka.


Namun, Verrel dan pasukannya terlihat santai. Meskipun Mutiara itu ada di tangan Danrem. Mereka yakin, pasukan Naga hijau akan memihak kepadanya.


Danrem melangkah ke depan, membuka sebuah kotak yang berisi mutiara bening dengan patung naga hijau di dalamnya.


"Lihat, inilah Mutiara Naga. Ini lah bukti bahwa saya adalah penguasa di sini!" teriak Danrem di iringi oleh tawa menggelegar dari Asmar.


Pemimpin Naga hijau maju selangkah, dia mengambil mutiara itu dan melihat apakah mutiara itu asli atau tidak.


"Ini asli!"


Danrem dan Asmar tertawa girang. Mereka akhirnya menang dan bisa menghancurkan Verrel beserta antek anteknya.


Dalam sekejap, pasukan Naga hijau dan para sekutu Langsung berpindah tempat. Mereka bergabung dengan Danrem menghadap pada pasukan Verrel dan Satria.


"Gawat" gumam Gion mulai khawatir.


"Tenang, kita tidak akan kalah. " Sahut Satria.


Sintia yang berdiri di belakang mereka, menjadi panik.


Melihat betapa banyak dan kuatnya pasukan naga hijau, Sintia merasa harus melakukan sesuatu.


"Verrel, Satria! Sekarang kalian sudah lihat kan. Siapa yang berkuasa di bumi selatan ini?. Kau atau aku?"


"Tentu saja kau Danrem" sahut Asmar tertawa mengejek Verrel.


"Wah, aku baru tahu Danrem. Tuhan membela kelicikan. Setahu ku, tuhan selalu membela kebenaran!" sahut Reno.


"Wah, menantu pelayan itu ternyata berani bersuara!"balas Asmar menghina.


Reno terdiam, namun tidak menyurutkan kobaran api di hatinya untuk menghabisi mereka.


"Sssttt.... Sudahlah Asmar. Kamu tidak perlu banyak bicara. Tidak perlu membuat dirimu lelah karena berbicara dengan mereka. Mereka hanyalah sampah yang harus di musnahkan!!"


"Serang dan habisi mereka!!!!!!!!!" teriak Danrem berseru.


Sela yang berdiri di belakang papa nya tampak terkejut. Semua pasukan kuat berlari kearah pasukan Verrel.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan? mereka akan musnah dan hidup ku tidak akan sempurna!" pekik Sela di dalam hati.


Dia sedang hamil tua, dan dia tidak bisa berbuat banyak. Beberapa anak buah papa nya terlihat menjaga dirinya.


"Lindungi Sintia!!!" teriak Verrel dan Satria secara bersamaan. Mereka mulai bertarung menangkis setiap serangan brutal dari pasukan elit itu.


Sedikit kewalahan, karena memang pasukan Naga hijau sangat kuat.


Verrel sibuk melawan musuh, sedangkan Satria sibuk melindungi sang adik dari musuh yang hampir melukai Sintia.


"Sintia awas!!!"


Sintia kaget, dia berbalik dan mendapati salah satu anak buah merelakan keselamatan nya demi keselamatan Sintia.


"Astaga!!" pekik Sintia syok.


Dia menarik anak buah suaminya, membawanya sedikit menjauh dari area peperangan.


Satria tidak jauh jauh dari Sintia, namun banyak nya yang harus dia lawan. Akhirnya Satria dan Verrel lengah.


Sintia terkepung oleh kepala pemimpin pasukan naga.


"Mau kemana hm? kamu tidak akan lolos. Mau hidup atau sudah mati!" ujar pria itu. Membuat Sintia marah besar.


"Kau pikir aku selemah itu huh?"" maki Sintia kesal. Dia mengeluarkan pistol dan langsung menodongkan pada anak buah naga hijau.


"Berani sekali kalian membentak ku!!"


Hyatt!!!!!


"Bagaimana mungkin dia bisa secepat itu?" gumam nya.


Verrel dan Satria planga plongo melihat istri dan adiknya.


Dor!! Dor!!


5 orang sekali jatuh, Sintia tersenyum dengan satu kaki berada di atas kepala anak buah naga Hijau.


"Serang dia!" seru Danrem geram.


Dor!! Dor!!


Suara teriakan Danrem Langsung menggelegar di lapangan itu.


Peluru yang mengenai kakinya, adalah peluru beracun. Rasa sakit yang di rasakan lebih parah di bandingkan dengan rasa sakit yang di timbulkan oleh peluru biasa.


"Berani sekali kau?" geram Asmar melihat Sintia melumpuhkan Danrem.


Dor!!


Seketika itu pula, Asmar merasakan kesakitan yang Danrem rasakan. Bedanya,Danrem di kaki sedangkan Asmar di kedua tangan nya.


Ketua pasukan naga hijau mengangkat tangan. Seketika itu semua orang berhenti saling menyerang.

__ADS_1


Verrel menarik nafasnya, dia langsung berlari mendekati istri nya.


"Kamu gak papa?" tanya Verrel khawatir.


Sintia menggeleng, dia memang tidak apa apa. Bahkan luka sedikitpun tidak ada. Membuat Verrel bernafas lega.


Kini mereka berdiri saling berhadapan dengan pasukan naga.


"Sudah mengaku kalah kah?" tantang Sintia.


"Cih, aku tidak menyangka. Darah mengalir begitu kental. Sehingga membuat kamu memiliki kegersisan seperti yang Feli miliki."


Sintia mengerutkan dahi, menatap ketua naga hijau penuh tanda tanya.


"Kau berkata seolah kau mengetahui sesuatu" pancing Satria.


"Melihat gaya bertarung wanita ini, aku tahu dia adalah Feli kedua. Aku yakin, di balik telinga mu ada tanda lahir bermotif naga!" tebak ketua pasukan naga.


Verrel langsung memeriksa telinga istrinya, membuktikan apakah ucapan pria itu benar atau tidak.


"Benar!" seru Verrel, dia juga menunjukkan pada mereka dengan menyibakkan rambut yang melindungi area telinga istrinya.


"Salam Ratu Naga Hijau!"


Secara serempak mereka semua langsung berlutut memberikan hormat.


Sintia terkejut, dia masih bingung dengan apa yang mereka lakukan.


"Cih, tanpa di buktikan. Mereka yang memang tulus dan jujur pada posisi mereka sendiri, akan mengenali pemimpin nya" ujar Gion tersenyum senang .


Sebenarnya, ini merupakan langkah terakhir bagi Gion untuk menyelamatkan anak majikan nya. Namun, dengan kelihaian Sintia, membuat semua orang mengenali jati dirinya sendiri.


Verrel senang, akhirnya perang ini selesai dengan sedikit lebih mudah. Meskipun terdapat beberapa luka ringan di tubuh anak buahnya.


"Say.." Belum sempat selesai ucapan Verrel, sebuah tembakan melesat di udara.


Dor!! Dor!!


"Sintia!!!!!!" Teriak Satria.


"Huh?" Verrel menganga, dengan apa yang baru saja di lihatnya.


"Brengsek!" Maki Satria langsung melepaskan pelurunya pada Danrem dan Asmar. Dua tembakan melesat mengenai ke ulu hati Danrem dan jantung Asmar.


Dorr!! Dor!!


Bruk!!


Sela terhempas ke tanah, syok melihat kondisi semua orang. Dia langsung jatuh pingsan.


Sedangkan Sintia, dia jatuh ke dalam pelukan Verrel. Perutnya terkena tembakan.


"Bayi ku" lirih Sintia menahan sakit, air matanya mengalir begitu deras mengingat bayinya akan terluka tembakan itu tepat mengenai perutnya.

__ADS_1


"Bayi ku..." lirih Sintia dalam tangisnya.


__ADS_2