Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Mengantar Papa


__ADS_3

"Maaf nak, papa merasa pusing. Apa kamu bisa mengantar papa pulang?"


"Tentu saja pa, aku akan meminta salah satu anak buah suamiku untuk membawa mobil mu"


Sintia masih ingat drama yang papa nya buat tadi, sehingga dia harus mengantar papa nya pulang.


Kini, mereka baru saja tiba di rumah yang dulu menjadi tempat pulang bagi Sintia. Dia membantu Danrem turun, pria itu masih bersama bahwa dia sedang pusing.


"Nak, apa tidak apa apa kamu datang ke sini? pasti suami mu akan marah"


"Tidak pa, suamiku tidak seperti itu. Dia akan mengerti bila aku menjelaskan pada nya"


Sintia membantu Danrem duduk di sofa ruangan tengah. Dia pergi ke dapur untuk mengambilkan papa nya minum.


Saat kembali ke ruangan tengah, kebetulan Sela turun dari kamarnya. Mereka saling melempar pandang. Sintia terlihat santai, sedangkan Sela malah emosi.


"Ngapain lagi kamu ke sini huh?" tanya Sela nyolot, dia melangkah cepat dan berdiri di depan Sintia.


"Mau aku di sini atau tidak, itu bukan urusan kamu. Lagi pula, aku juga anak papa dan mama. Aku berhak mau datang kapan aja ke sini!"


"Tidak, sekali sudah keluar. Kamu bukan lagi keluarga di rumah ini. Kau sudah membuat Keluarga ini hancur! jadi kau tidak pantas tinggal di sini!"


"Benarkah, lalu bagaimana dengan kedua orang tua kita yang memanggil ku. Mereka terlihat seperti lebih membutuhkan aku dari pada kamu. So, tidak berguna kamu berkoar di depan ku sekarang. Sampah!" balas Sintia tak kalah tajam nya. Dia hendak berlalu dari hadapan sela. Namun wanita itu menahan lengan nya, membuat gelas yang dia pegang terjatuh dan pecah.


Prank!


Rea terkejut, dia langsung keluar dari kamar dan mendapati Sintia dan putrinya tengah bertengkar.


Danrem juga sama, dia bergegas menghampiri kedua putrinya.


"Kalian ini apa apaan sih!" teriak Rea.


"Tanyain aja sama dia, memulai perdebatan ini" ucap Sela menyalahkan Sintia.


"Benarkah ini kesalahan ku? apa tidak salah?"


"Tentu saja tidak, mama dan papa tahu. Aku tidak pernah membuat kesalahan!"


"Benarkah? pa.." Sintia menoleh pada Danrem, dia tahu papa nya pasti akan membelanya. Mengingat papa nya sangat membutuhkan bantuan nya agar tidak bangkrut.


"Sela, kamu ini kenapa selalu membuat ulah! "


"Pa" sanggah Sela. Papa nya membela Sintia.


"Kenapa? itu benar. Papa sudah mendengar semua percakapan kalian. Papa tahu kamu yang memulainya"


Sintia tersenyum menang, dia sudah menduga ini. Danrem tidak mungkin menyudutkan dirinya.


"Pa, kenapa lakukan ini?" sela Rea.


"Tidak ma, ini memang benar. Sela lah yang bersalah!" balas Danrem memalingkan wajahnya, dia tidak berani menatap mata istri nya.


"Lihat kan, papa dengar sendiri apa yang terjadi." Sintia melangkah lebih maju, mencondongkan tubuhnya mendekat ke telinga Sela.


"Lihat dan nikmati,kisah baru telah di mulai. Semuanya tergantung keberuntungan, kau selamat atau tidak!"

__ADS_1


Mata Sela melebar, mendengar bisikan dari Sintia, kedua tangan nya mengepal. Ingin sekali dia menghajar gadis sombong itu. Tapi, dia tahu papa dan mama nya tidak akan membela nya.


Sintia tersenyum, dia menarik tubuhnya lagi setelah membisikan kata kata indah itu.


"Ayo pa, kita duduk di ruang tengah. Sela akan mengambilkan minum untuk papa. Iya kan Sela?" Sintia menoleh pada Sela, dia tampak terkejut dan ingin protes. Tapi, suara papa nya membuat dia tidak berdaya.


"Papa tunggu di ruang tengah Sela!" ucap Danrem.


Sela menahan geram pada Sintia, dia tidak bisa berbuat apa apa. "Mama lihat, dia mulai kurang ajar pada ku. Bahkan mama tidak bisa berbuat apa apa!"


"Mau bagaimana, papa kamu tidak mengijinkan nya" jawab Rea enteng.


"Aiss .."


Dengan kaki menghentak di lantai, Sela berlalu ke dapur. Lalu dia keluar dengan membawa segelas air putih menuju ke ruangan tengah.


"Ini pa"


"Makasih nak"


"Sama sama" balas Sela datar.


Sela duduk di sofa sebelah Sintia, dia masih memantau wanita itu. Dendam kesumat nya semakin besar. Bahkan setelah kehilangan Verrel, dia harus kehilangan pembelaan keluarganya.


Sintia tersenyum senang, dia terlihat jauh berbeda dengan Sintia yang dulu.


"Sela, apa kandungan mu baik baik saja? Aku turut prihatin dengan kebangkrutan perusahaan Rendi. Miskin sebelum menikah itu biasa" ucap Sintia terdengar seperti mengejek di telinga Sela.


"Kau mengejek ku?"


Rea melirik suaminya yang juga melirik kearahnya. "Apa kau puas?" ucap Rea melalui tatapan matanya.


Cling~


Sintia meronggoh saku celana nya, mengeluarkan ponsel yang tadi dia simpan di situ.


Sebuah pesan dari suaminya terpampang jelas di layar ponselnya.


Sela melirik adik nya, melihat Sintia tersenyum begitu membuat nya penasaran.


Verrel💞


Di mana honey? kirim alamatnya, aku akan menjemputmu.


Sintia tersenyum, dia melirik sela yang juga menatap layar ponsel nya.


"Ini suami ku, dia mengirim pesan. Dia bilang ingin menjemput Ku" terang Sintia. Dia sengaja melakukan nya agar membuat Sela malu.


"Siapa yang peduli!" dengus Sela.


"Tidak apa apa, aku hanya kasian kau kesusahan membacanya dari situ, makanya aku jelaskan!" ujar Sintia tersenyum miring.


"Nak, kamu akan segera pulang?" tanya Danrem lembut.


"Iya pa, suamiku akan menjemput ku"

__ADS_1


"Kau beruntung, mendapatkan suami yang perhatian" ujar Rea dengan wajah palsunya.


"Oh iya ma, dan ini berkat Sela!"


"Apa maksud mu?" tanya Sela.


Danrem dan Rea menatap bingung pada Sintia. Entah ejekan apalagi yang wanita itu katakan pada mereka.


"Jika kakak tidak selingkuh dengan Rendi. Aku tidak akan bertemu dengan Verrel Dan aku pasti akan hancur bersama Rendi saat ini!"


Kedua tangan Sela mengepal semakin kuat, ucapan Sintia sungguh sudah keterlaluan.


"Selamat malam semuanya, maaf aku terlambat" ucap seseorang memasuki rumah.


Sintia menoleh, dia tersenyum senang. Suaminya sudah datang dan dia berlari kearah suaminya.


"Kamu kenapa gak bilang sudah sampai "


"Tidak apa honey, aku hanya ingin membuat mu terkejut" Verrel menoel manja hidung istrinya. Memperlihatkan kemesraan di depan semua orang.


"Menjijikan, bermesraan di depan orang yang lebih tua, apalagi ini kedua orang tua mu Sintia!" ucap Sela berdiri dari duduk nya.


"Oh, sorry. Aku tidak sadar, maafkan aku" ucap Verrel terkekeh pelan.


Sintia menarik suaminya ke hadapan papa nya, lalu duduk di sofa.


"Papa, lihat menantu mu sudah datang. Kata suami ku, perusahaan sudah kembali. Tidak ada kebangkrutan terjadi. Iya kan sayang?"


"Iya honey, agar mertua ku tidak salah paham" balas Verrel tersenyum. Dia menatap Danrem dan Rea secara bergantian. Mereka tidak ada yang berniat membuka suara.


"Nak, papa tidak keberatan kamu hadir di rumah ini. Tapi, papa masih tidak menyetujui pria ini!" ucap Danrem dengan suara tidak senangnya.


"Benar, dia tidak kayak di sebut menantu!" sambung Rea.


Sintia tersenyum, dia tidak akan memohon ataupun menangis.


"Tidak apa apa ma, pa. Verrel suami ku, aku yang akan bersama nya untuk selama nya. Jadi, papa dan mama tidak suka kepadanya itu bukan masalah yang besar"


"Kamu berani sekali!" tegur Sela. Verrel langsung menatapnya.


"Kenapa istri ku harus takut? dia sudah cukup dewasa untuk berani, kakak ipar!" balas Verrel mengejek.


Sela tidak dapat berkutik, hati nya terasa sakit saat melihat Verrel terlihat sangat menyayangi Sintia. Dia merasa iri, karena seharusnya dia yang berada di posisi itu.


"Kau akan menyesal telah mencintai pria itu Sintia. Kau tidak tahu siapa dia. Setelah dia bosan, kau akan di buang dan akan menangis ke rumah ini"


"Apa kakak mengenal suami ku?" tanya Sintia, membuat semua orang terkejut. Termasuk Sela, dia baru sadar jika dia telah keceplosan.


"Sela, apa kau mengenal Verrel?" tanya Danrem menatap tajam pada putrinya.


"Ten..Tentu saja tidak, hal ini wajar. Aku tahu sifat pria seperti dirinya" jawab Sela beralasan, dia sedikit gugup.


"Sorry Sela, kamu salah menilai ku. Aku bukan tipe pria yang menggunakan banyak wanita. Aku pria yang setia, dan hanya untuk Sintia. Satu satunya wanita yang menjadi ratu ku!"


"Oh sayang, terimakasih" Sintia langsung memeluk nya.

__ADS_1


Sela mengepalkan tangannya, menahan emosi yang semakin memuncak. Ingin sekali dia mengatakan bahwa dia adalah mantan kekasih Verrel. Tapi, keberanian itu tidak ada di dalam dirinya. Dia sangat takut papa nya akan membunuhnya nanti,.


__ADS_2