Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Fakta


__ADS_3

"Ma. Pa. Aku datang"


Sapa Sintia pada kedua orang tua nya dengan nada lembut.


Rea dan Danrem menoleh, mereka terkejut melihat kehadiran putri bungsu mereka. Keduanya segera bangkit dari duduk nya.


Secara spontan Verrel mendekat kearah istrinya, alih alih takut istri nya terkena bahaya.


"Untuk apa kalian datang ke sini huh?" tanya Rea dengan suara bergetar.


Sintia menarik nafas, kemudian tersenyum kepada kedua orang tuanya.


"Aku datang untuk mengambil sisa barang barang ku yang ada di sini" jawab Sintia santai.


"Apa hanya itu? Setelah kamu membuat keluarga kita malu, dan "


"Tentu, apalagi yang harus aku lakukan di sini. Oh iya, satu lagi. Setelah kalian membuang ku, kalian masih berani menyebut ini Keluarga ku?"


"Sintia!"


Danrem meninggikan suaranya, dia tidak pernah membuang siapapun di keluarganya. Tapi, ucapan putrinya mampu membuat hati nya tersayat.


"Kenapa pa? apa papa menyangkal nya?"


Verrel masih berdiri di belakang istri nya, menyaksikan perdebatan antara putri dan orang tua nya.


Sedangkan Rea, dia mulai panik. Entah apa yang dia takutkan. Verrel yakin, sesuatu telah di sembunyikan oleh ibu mertuanya.


"Apa yang kamu katakan Sintia, kamu yang membuang kami. Kamu membawa pelayan mu dan memilih pergi bersama dia!"


"Wah, ibu mertua. Kamu sangat pintar berakting. Sekarang kamu menyalahkan aku?" Verrel mulai angkat bicara.


"Biar aku tebak, kejadian taman belakang. apakah tidak menceritakan pada ayah mertua?"


Tubuh Rea seketika kaku, dia mendadak pucat.


"Apa? kejadian apa yang kau maksud keparat!" umpat Danrem.


"Ups... Seperti nya tebakan ku benar. "


Rea berbalik, dia mendekati suaminya. Berusaha untuk menjelaskan sesuatu yang tidak benar.


"Tidak ada yang terjadi pa, semuanya baik baik saja. Anak ku, dia pergi karena pria itu. Itu lah yang terjadi"


Rea terus menjelaskan kebohongan. Sintia sampai tidak habis pikir dengan ucapan mama nya. Dia penasaran, mengapa mama nya memperlakukan dia seperti ini.


"Cukup ma!"

__ADS_1


"Kau yang cukup, diam jangan memanggil ku mama. Kau sudah meninggalkan rumah ini dan memilih menikah dengan bajingan itu" Rea malah menghina Verrel.


Sintia menggeleng, dia tidak bisa menahan ini lagi.


"Aku kecewa sama mama, bahkan aku pernah berpikir. Apakah aku ini anak kandung mama, atau malah di pungut di jalan?"


"Mama tega melakukan semua ini kepada ku. Aku anak mama, darah daging mama, kenapa mama melakukan semua ini kepada ku. Kenapa ma?


Mama berbohong kepada papa, mama bilang aku yang meninggalkan rumah demi suami ku??"


"Itu yang bohong! apa mama tidak malu huh? "


Danrem menatap istrinya, meminta agar istri nya menjelaskan sesuatu yang tidak dia pahami.


"Katakan dengan jujur dan jelas Rea. Apa sebenarnya yang terjadi?"


Rea terdiam, dia menatap suaminya dengan kedua tangan bergetar.


"Kenapa diam ibu mertua, apa anda mulai takut?.


Ok baiklah, saya yang akan menjelaskan pada ayah mertua."


Verrel maju satu langkah di depan istrinya. Menatap ayah mertua yang menatap nya tajam. Namun, Verrel tidak peduli. Dia sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu.


"Waktu itu, hari ketika mama mertua mengatakan istri ku meninggalkan kalian. Sesuatu terjadi papa. Sesuatu terjadi di taman belakang rumah kalian! Dengan rahan mengeras, Verrel melanjutkan ceritanya. Dia selalu marah setiap kali mengingat kejadian itu.


Dia menyeretnya dan berlaku kasar. Beruntung aku datang dan membuat calon menantu mu terkapar di rumah sakit. Aku senang dengan itu"


Sintia tampak terkejut, jujur saja dia tidak lagi mendengar kabar mantan nya itu setelah keluar dari rumah.


"Lalu, apa kamu tahu papa mertua? apa yang istri mu lakukan? Dia malah menyalahkan istri ku, dia membuat istri ku terluka dan mengusir nya. Jika aku tidak membawanya, mungkin istri ku sudah sekarat di rumah sakit!"


Jleb.


Danrem terdiam seribu bahasa, dia tidak tahu akan hal ini. Dia menatap istrinya, seakan memerintah agar istrinya menyangkal semua ini.


Namun, Rea hanya diam saja. Dia tidak menyangkal nya.


"Rea, apa ini benar?"


"Maaf suami ku, Aku terlalu e-" belum sempat Rea menyelesaikan kalimat penyesalan nya, suara lantang Danrem memotong ucapan nya.


"Kau berbohong pada ku Rea? Katakan pada ku, apa kau benar benar melakukan nya?"


"Aku tidak sengaja Pa, aku emosi. Mereka terus membuat ku marah",


"Apapun itu, seorang ibu bagaimana mungkin membuang putrinya? atau istri ku bukan anak mu?" sela Verrel .

__ADS_1


"Diam kau!"


Verrel tersenyum, dia mengatup mulut nya rapat rapat.


"Aku kecewa pada mu Rea, dan aku juga kecewa pada mu Sintia. Aku pikir kau mengikuti gen ku, ternyata aku salah!"


"Aku juga salah pa, berpikir jika papa ku adalah cinta pertama ku. Setelah kamu hanya diam di saat aku hancur, membuat aku jadi mengerti, aku tidak berarti apa apa bagi kalian"


"Ayo suami ku, kita ke kamar ku. Aku harus membereskan semua barang barang ku secepat nya."


Sintia menarik tangan suaminya, menaiki anak tangga menuju ka kamar nya.


Dengan senyum mengejek, Verrel melambaikan tangan nya pada mertuanya.


"Sial! Berani sekali dia mengejek ku!" maki Rea.


Sintia membereskan semua barang barang yang dia rasa perlu.


"Apa kamu yakin membawa semua ini?"


"Tentu saja, Ini barang ku. Aku membelinya dengan gaji ku. Bukan di belikan oleh kedua orang tua ku. Jadi sudah sewajarnya aku membawanya."


Setelah selesai memasukkan barang barang ke dalam koper. Sintia dan Verrel bergegas pergi.


Sintia menarik satu koper besar keluar dari rumah. Melewati mama dan papa nya yang masih berdiri di ruang tengah.


"Bye Papa mertua, mama mertua" ucap Verrel pamit. Dia melambaikan tangan nya pada keduanya. Sedangkan Sintia, dia sudah masuk ke dalam mobil lebih duluan.


Fyuu..


"Ok Sintia, kamu melakukan yang terbaik. Sekarang, Keluarga mu akan hidup bahagia tanpa dirimu. Oke, ini sudah benar, yah ini sudah benar."


Sintia terus berusaha meyakinkan dirinya, bahwa dirinya tidak salah.


"Susah siap pulang sayang?"


"Ya, aku ingin segera pulang ke rumah kita" jawab Sintia. Terdengar sangat indah di telinga Verrel. Saat Sintia mengatakan komplek damai adalah rumah mereka.


"Let's go!"


Sepanjang jalan, Sintia hanya diam. Dia menatap ke luar jendela kaca mobil. Menatap pemandangan desa menuju ke kompleks Damai.


Verrel tidak banyak bicara, dia tahu istrinya butuh waktu untuk menenangkan diri.


"Sayang, apa kamu butuh refreshing? apa kita perlu pergi ke pantai?"


"Tidak, aku tidak mau kemana mana. Aku hanya mau istirahat. Otak dan tubuh ku sangat lelah. Hidup ku begitu rumit Verrel. Semuanya sangat rumit. Bahkan aku tidak sanggup memikirkan semua ini!" Sintia meluapkan segala nya.

__ADS_1


Verrel mengangguk, dia tahu istrinya mengalami hal yang sulit. dia tidak memaksakan kehendaknya. Verrel menggenggam tangan istrinya, berusaha menguatkan istri nya dengan itu.


__ADS_2