
"Aku berangkat dulu ya, Kamu hati hati di rumah. Jika terjadi sesuatu, harus segera hubungi aku!"
Sintia mengangguk mengerti, memejamkan matanya saat Verrel mengecup lembut keningnya.
"Jika bosa, jalan jalan lah bersama Widia"
"Oke. Hati hati yah" balas Sintia seraya melambaikan tangan.
"Aku akan segera pulang" ujar Verrel lagi, setelah itu barulah dia masuk ke dalam mobil.
Sintia masih berdiri di depan pintu, memperhatikan mobil Verrel yang sudah hampir tidak terlihat lagi.
Senyum manis tak lepas dari bibir nya. Sejak menikah dengan Verrel, Sintia merasakan kehangatan di dalam hidupnya. Selepas beberapa masalah kemarin, selebih nya dia merasa bahagia.
"Mungkin Verrel benar, hubungan kami tidak bisa di ikut campurkan urusan keluarga. Sekarang aku bukan lah Sintia yang dulu, aku adalah istri Verrel. Sudah seharusnya aku mendengarkan ucapan suami ku"
Sinti kembali masuk ke dalam rumah, menutup pintu lalu mengerjakan pekerjaan rumah.
Semenjak dia bertengkar dengan mama dan papa nya ketika dia pulang seminggu yang lalu. Verrel melarang Sintia untuk bekerja. Menurutnya, Keluarga nya pasti akan merencanakan sesuatu yang jahat untuk membalas dendam kepadanya.
Sintia pun setuju, dia juga tidak sanggup lagi mendengar makian dari kedua orang tuanya kepadanya dirinya.
"Huaaa...Semua pekerjaan telah selesai. Dan sekarang masih jam 9.
"Apa yang harus aku kerjakan???" erang Sintia. Dia merasa bosan di rumah sendiri.
Ting Tong...
"Huh, siapa itu?" pikir Sintia. Dia berjalan menuju pintu. Tanpa mengecek terlebih dulu, Sintia langsung membukakan pintu.
"Si-"
"Widia????"
Sintia langsung memboyong wanita cantik yang tadi sempat di rekomendasikan oleh suaminya.
"Ayo masuk Widia"
"Terimakasih " balas Widia. Dia menerima tawaran Sintia masuk ke dalam. Mereka duduk di ruang tamu, Sintia dengan sigap langsung membuatkan air minum untuk Widia.
"Ayo, di minum Widia"
"Terimakasih Sintia, kamu terlalu formal dengan ku!"
"Tidak masalah, kamu lebih tua dari ku, jadi aku sudah sewajarnya seperti ini" balas Sintia tersenyum.
Widia ikut tersenyum, setelah meneguk teh hangat buatan Sintia.
"Kamu jauh berbeda dengan kakak dan keluarga mu. Kamu lebih sopan dan yah lebih terlihat berwibawah" tutur Widia.
__ADS_1
"Waw, Widia. Penglihatan mu sangat bagus. Hm..Btw, kamu pernah bertemu dengan keluarga ku?"
Deg.
Widia terdiam, lagi lagi dia keceplosan.
"Tidak pernah, aku hanya mendengar dari cerita Verrel saja" elak Widia.
Sintia mengangguk tersenyum, "Seperti nya kalian memang sangat dekat ya. Sampai berbagi cerita seperti itu"
"Tentu saja, kami sudah seperti kakak beradik kandung. Seperti yang kamu ketahui, kami bertiga sama sama yatim piatu sejak kecil"
"Oh iya Sintia, kau tahu aku merasa Verrel sudah jauh berubah"
"Benarkah?" tanya Sintia menjadi semangat.
"Iya, kamu tahu dia itu paling jarang di rumah. selain mandi dan beristirahat dia tidak akan berada di rumah. Tapi sekarang, dia lebih sering di rumah di bandingkan berada di luar. Bahkan aku sudah jarang bertemu dengan nya"
"Apa begitu?"
"Tentu Sintia, Verrel orang nya dingin. Tidak banyak bicara, dan paling penting dia itu tidak suka di khianati "
Mendengar cerita Widia, Sintia jadi teringat dengan sikap manis dan hangat Verrel kepadanya.
"Jauh berbeda" batin nya.
"Kamu tahu, sejak ada kamu. Dia jauh lebih baik dari sebelum nya." Widia menarik Sintia, lalu memeluk nya erat.
Sintia cukup terkejut, terakhir kali dia bertemu dan berbicara dengan Sintia adalah ketika malam dekorasi. Saat itu, dia berbicara dengan nada dingin dan sinis.
"Sintia, aku tahu kamu merasa canggung dengan ku. Tapi, kamu juga harus tahu. Sikap ku tempo hari, hanya untuk memastikan kamu tidak main main dengan Verrel. Aku tidak mau Verrel di khianati lagi. Terlebih lagi, dunia Verrel dan dunia pria lain tidak kah sama.
Jika kamu lemah dan mudah percaya, maka kamu akan sering di tipu. Bukan itu" Ralat Widia, dia terlihat kesusahan mencari kata yang pas.
"Inti nya begini Sintia, kamu harus menjaga diri mu dengan baik, jika kamu tidak mau sesuatu terjadi pada Verrel" tegas Widia memperingati.
Sedangkan Sintia, dia mengerut bingung. Entah apa yang gadis ini maksud.
"Sintia....Kamu ternyata Lola juga yah. Hal sepele begini saja kamu gak nangkap maksudnya " ucap Widia, membuat Sintia mendengus kesal.
"Aku bukan Lola, tapi kami yang terlalu berbelit belit mengatakan nya" balas Sintia tidak terima di salahkan.
"Ok fine. Aku hanya mau bilang, kamu itu merupakan kelemahan Verrel. Maka dari itu, kamu harus menjaga baik baik diri kamu!"
Deg.
"Bagaimana mungkin itu terjadi?"
"Tentu saja Sintia, Verrel sangat peduli pada mu. Tentunya musuh akan mengincar mu "
__ADS_1
Sintia syok, penuturan Widia membuat nya ngeri. Menikah dengan Verrel dan merasakan kehangatan rumah tangga. Tapi, dia masih menerima ancaman seperti ini..
Widia melihat air muka Sintia berubah, dia tahu wanita itu kepikiran dengan apa yang dia katakan.
Namun, Widia tidak ambil pusing. Dia harus melakukan semua ini, agar Sintia lebih hati hati.
"Oh iya Sintia. Aku akan ke pasar di depan komplek. Apa kamu mau ikut?"
"Boleh. Kebetulan sekali aku sedang merasa bosan"
"Oke, kalau begitu mari kita berangkat"seru Widia.
"Bentar, aku akan mengambil tas ku dulu"
Sintia berlari menuju ke kamar nya, lalu keluar dengan membawa tas selempang pemberian Verrel kemarin malam.
"Ayo"
"Let's go!!" sahut Widia penuh semangat.
Mereka berdua akan pergi ke pasar. Di mana semua penduduk desa berada di sana. Termasuk penduduk komplek Damai.
Sepanjang jalan menuju ke pasar, Widia dan Sintia bercerita banyak hal. mulai dari penduduk, tradisi, dan sebagainya.
"Sintia, kamu mau belanja??" tanya Widia
Sintia terdiam, dia menatap ke sekeliling. "Aku hanya akan mengikuti mu. Jika aku tertarik pada sesuatu aku akan membeli nya" tutur Sintia.
"Baiklah, Kalau begitu. Mari kita masuk kedalam"
"Ayoo!!"
Widia membeli semua kebutuhan dapur nya. Dia lebih suka berbelanja di pasar tradisional seperti ini, dibandingkan berbelanja di mall.
Melihat Widia membeli banyak barang, Sintia jadi tertarik membeli beberapa barang untuk di rumah nya.
Setelah merasa sudah membeli semuanya. Widia mengajak Sintia untuk pulang, namun saat bersamaan tiba-tiba segerombolan orang datang.
"Lari!!!!!"
"Lari!!!!"
Sintia terkejut, begitu juga dengan Widia. Widia mungkin sudah terbiasa, tapi tidak dengan Sintia. Wanita itu sangat terkejut, tubuh nya mendadak kaku saat melihat orang orang bersenjata berlarian kearah nya.
Kejadian sebelum pernikahan kembali merasukinya. Sintia menggeleng pelan, di tengah kerumunan dia langsung berjongkok dan menutup matanya ketakutan.
"Sintia!!! Sintia!!!"
Widia kesusahan, dia ingin mendekati Sintia. Namun, orang-orang yang tengah berlari seolah menghalanginya.
__ADS_1
"Sintia, ayo bangun. Kita harus pergi!."