
Semua orang berhamburan pergi menyelamatkan diri masing masing. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba pasukan bersenjata menghadang pasar.
Widia merasa sangat panik, dia tidak melihat di mana pun. Karena desakan yang sangat padat, membuat mereka terpisah.
"Sintia!!"
"Sintia!!"
Suara Widia seakan tenggelam oleh teriakan dan seruan masyarakat yang ketakutan.
"Di mana dia?" gumam Widia panik.
Sedangkan gadis yang dia cari, sedang berjongkok ketakutan. Kedua tangan nya menutup telinga, sedangkan mata nya dia pejamkan seolah takut melihat ke depan.
"Tolong...Tolong ..." suaranya terdengar bergetar.
Tidak ada yang peduli, yang mereka pedulikan hanya diri mereka masing-masing.
Dor!!!
Dor!!
Teriakan semakin nyaring terdengar, desakan semakin kuat. Tentunya mereka yang ada di pasar merasa takut dengan apa yang terjadi.
"Mama....Mama...."
"Mama..."
Sintia tersentak, mata nya terbuka ketika mendengar suara tangis seorang anak.
Anak perempuan itu terus menangis, menengadah menatap orang orang yang sedang berlari, berharap itu adalah orang tuanya.
"Mama...Mama..."
Sintia melihat segerombolan orang bersenjata dari arah belakang anak kecil itu. Anak itu terlihat tida peduli, dia terus menangis memanggil mama nya.
Semakin dekat, mereka yang tidak memiliki hati menghajar setiap orang yang ada di hadapan nya.
Hampir mendekatinya, Sintia dengan cepat menarik anak kecil itu. Menggendong nya dan berlari ke tempat yang lebih aman.
Mereka bersembunyi di bawah meja,tangan Sintia menutup mulut anak itu agar tidak menangis.
Dengan isyarat bibir nya, Sintia menjelaskan bahwa mereka tidak boleh bersuara. Jika mereka bersuara, maka mereka akan di siksa.
Widia masih terus mencari Sintia, dia juga berusaha untuk menghubungi Verrel.
Beberapa kali dia menghubungi nya, tapi tidak ada jawaban. Widia juga menghubungi Reno, hasil nya tetap sama.
"Ah apa mereka masih rapat??" dengus nya kesal, lalu kembali berusaha mencari Sintia.
Sedangkan di kantor, Verrel baru saja selesai dengan rapat nya.
"Reno, apa jadwal ku selanjutnya?" tanya Verrel seraya mengeluarkan ponselnya.
Saat sebelum Reno menjawab, keduanya sama sama di kejutkan mendapat panggilan dari Widia sebanyak 50x.
"Apa kau juga di hubungi oleh Widia?" tanya Verrel memastikan.
"Pa kau juga?"jawab Reno balik bertanya.
mendengar pertanyaan Reno, membuat Verrel tahu mereka sama sama di hubungi oleh Widia.
__ADS_1
"Sesuatu pasti telah terjadi. Ayo hubungi dia, aku akan menghubungi istri ku!" titah Verrel.
Reno mengangguk mereka berjalan menuju ke lift, sambil berjalan keduanya terus berusaha menghubungi kedua wanita itu.
"Hallo, Widia kamu di mana?"
Verrel menoleh pada Reno saat mendengar panggilan Reno tersambung dengan Widia.
"Hallo Re, kenapa baru membalas panggilan ku?"
"Katakan ada apa ini? kenapa kamu terdengar panik begitu"
"Bagaimana tidak Re, Sintia menghilang"
"Apa?"
Verrel menatap Reno lekat, dia penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Apalagi melihat Reno sangat kaget seperti itu.
"Bagaimana mungkin Sintia menghilang, katakan. Kalian di mana?"
"Apa yang terjadi? mengapa kemana istri ku?" tanya Verrel mulai panik.
Reno memutuskan panggilan telfon nya setelah Widia menyebutkan lokasi dia berada sekarang.
"Gawat boss, kita harus segera ke pasar. Segerombolan pembuat onar datang dan mengganggu pasar yang sedang berlangsung, Widia dan Sintia ada di sana"
"Apa??"
Verrel langsung masuk ke dalam lift yang ketika itu baru terbuka. Mereka segera pergi ke pasar yang Widia katakan.
Sepanjang perjalanan mereka, Verrel tidak henti hentinya menghubungi istri nya. dia takut terjadi sesuatu pada Sintia.
"Tunggu lah aku Sintia, aku pasti akan datang dan menyelamatkan mu!" gumam Verrel berjanji pada diri sendiri, dia sejak tadi bergerak gelisah di dalam mobil.
Widia melihat kedatang orang orang Verrel dan suaminya. Dia langsung berlari kearah mereka.
"Reno!"
"Widia, syukurlah kamu tidak apa apa" Reno memeluk istrinya.
"Di mana Sintia? kenapa kamu tidak bersama nya?"
"Maaf Verrel, kejadian ini datang secara tiba-tiba, aku sangat terkejut begitu juga dengan Sintia. Karena desakan orang berlari dan mereka yang menyerang para pedagang dan pembeli di pasar ini." tutur Widia menjelaskan.
Rahang Verrel mengetat, dia menatap semua orang yang sedang memegang senjata, lalu berlari kearah mereka.
"Tangkap mereka, jangan sampai lolos satupun!" titah nya.
"Baik boss!"
"Widia, kamu tunggu lah di dalam mobil. Apapun yang terjadi jangan keluar. Kamu duduk dan diam di mobil yah. Mobil ini anti peluru dan tidak bisa di lihat dari luar. mereka tidak akan mengetahui ada orang di dalam nya" Reno menuntun istrinya masuk ke dalam mobil.
"Hati hati yah"
"Ok"
Reno mengecup kening istrinya sebelum pergi, kemudian menutup pintu mobil dan menyuruh istrinya mengunci dari dalam.
Di bawah meja pedagang, Sintia memeluk seorang anak perempuan. Mereka menangis dalam diam, saat melihat seorang pria mendekat kearah mereka.
Di dalam hatinya, Sintia berharap orang itu tidak melihat nya.
__ADS_1
Dor..
Suara tembakan senjata membuat anak perempuan itu terkejut dan berteriak ketakutan.
"Akkk...." pekik nya nyaring. Sintia berusaha menutup mulut nya dan menyuruhnya diam. namun, anak kecil itu sulit di beri pengertian karena dia terlampau takut.
Sintia berusaha untuk mendiamkan nya, tapi terlambat langkah pria bersenjata itu semakin mendekati seperti mereka mengetahui mereka ada di sana.
"Keluarlah!"
Sintia semakin takut mendengar seruan pria itu. Dia juga takut, bahkan dia saat ini menangis.
"Sstt...Diam lah, jangan membuat kita mati terbunuh" bisik Sintia penuh harap pada anak perempuan itu.
Bersyukur, dia berhenti menangis. Namun sayangnya, penjahat itu sudah berdiri di hadapan mereka.
Dengan menyeringai mengerikan, pria itu menatap Sintia dan anak kecil yang ada di dalam pelukan nya.
"Wah, ternyata ada berlian bersembunyi di sini!"
Sintia segera bangkit, memeluk anak itu. Dia menatap takut pada pria itu, namun dia berusaha untuk terlihat tenang dan kuat.
"Siapa kau! jangan ganggu kami"
"Wah, setelah bersembunyi ternyata kau berani untuk bicara juga!"
Sintia semakin ketakutan, komplotan pria itu datang mendekat. Berbisik kepada pria yang tadi berbicara dengan nya.
"Oh, ternyata kau istrinya musuh kami?"
"Bagus sekali, kami tidak kesusahan mencari mu!"
Sintia semakin memeluk anak itu, dia benar benar takut saat ini.
"Tenang, kau jangan gegabah. Kau bisa mati jika salah langkah padanya. Kita hanya mengacaukan tempat ini, tapi tidak mencari masalah dengan dia!" peringat teman pria itu.
"Tenang lah, dia tidak akan tahu bukan. Apa dia akan mengadu dan mengatakan nama kita pada suaminya?"
Seakan tidak takut, pria itu mendekat kearah Sintia.
"Pergi!!! Jangan mendekat!!"
"Oohh lihat lah, istri mafia ini. Dia berteriak kepada kita. Uuu takut"
"Verrel!!! Verrel!!!!" Sintia bergerak mundur, menjauhi pria yang semakin mendekat padanya.
"Ternyata penglihatan pria itu bagus juga, dia memiliki seorang istri yang cantik"
Cuih.
Sintia menepis tangan pria itu, lalu meludahinya.
"Jangan coba coba menyentuh ku bajingan. Atau nanti tangan mu akan patah!"
Bukan nya berhenti, pria itu malah semakin mendekat dan kembali mencoba menyentuh wajah mulus Sintia.
Wanita itu tidak bisa bergerak, dia tidak bisa menghindar. Karena terhambat oleh meja di belakang nya.
"Aku peringatkan lagi, jangan berani mendekati ku"
Cuih.
__ADS_1
Plak!!