
"Sintia????"
"Sintia??"
Verrel berlari ke sana kemari, mengedarkan pandangan nya mencari sosok Sintia di tengah kerumunan yang masih berlari menghindari perilaku kasar dari pembuat onar.
Sebagian pasar telah aman, karena orang orang Verrel telah menangkap mereka.
Plak!
Mata Verrel melebar, rahang nya mengeras, kedua tangan nya mengepal. Dengan tidak berperasaan seorang pria menampar pipi Sintia hingga wanita itu terjatuh ke tanah.
"Kakak" anak kecil yang Sintia lindungi langsung memeluk Sintia.
"Kakak, tidak apa apa?" dia semakin menangis keras melihat pipi Sintia memerah.
"Tidak apa apa, aku tidak apa apa" ucap Sintia menghibur anak kecil itu, agar dia tidak menangis lagi.
"Cih, dasar wanita tidak berguna" Pria itu tersenyum menyeringai, dia hendak mendekati Sintia lagi. Memanfaatkan ketidak berdayakan Sintia.
Sintia segera bangkit, dia mencari kayu dan ingin memukul pria itu.
Tapi, apalah daya seorang wanita yang tidak bisa ilmu beladiri. Sekali tepis saja, kayu yang Sintia pegang terlempar ke sembarangan arah.
Detik berikutnya, Sintia menoleh, dia mendengar suara Verrel.
"Berani nya Kau!!!!!"
Benar saja, Verrel suami tampan nya sedang berlari dengan kedua tangan mengepal.
Sintia tersenyum senang, dia memeluk anak kecil itu.
"Suami ku" gumam nya senang.
Bug.
Brak!!
Pria bejat itu tidak sempat menyiapkan diri. Dia langsung terjungkal menimpa teman nya yang juga kaget melihat kedatangan Verrel.
"Berani sekali kau menyentuh istri ku Keparat!!" Verrel menghajar mereka, dua lawan satu. Namun, Verrel terlihat tidak kewalahan. Dia dengan sangat mudah mengalahkan mereka.
Bug!
"Hajar terus, dia menampar ku!!"
Sintia menyoraki Verrel, mengadukan apa yang telah pria itu lakukan padanya.
"Bahkan dia menyentuh kulit ku dengan tangan kasarnya!"
Seakan menjadi kompor, ucapan Sintia membuat Verrel semakin panas. Tanpa ampun dia menghajar pria itu.
Setelah melihat mereka tidak berdaya, baru lah Verrel berhenti.
"Honey?"
Sintia menangis, ketakutan yang dia rasakan tadi terasa menguap ke udara. Dengan langkah gontai, Sintia melompat ke pelukan suaminya.
"Kamu tidak apa apa? apa yang telah dia lakukan pada mu? katakan pada ku. Aku akan membuatnya membayar semua yang telah dia lakukan pada mu.
__ADS_1
Ayo sayang, katakan pada ku!"
Sintia menggeleng, dia tersenyum bahagia. Akhirnya suaminya datang untuk menyelamatkan nya.
"Kau sudah melakukan nya sayang, kau sudah menghajarnya. Terimakasih" Sintia memeluk Verrel sangat erat.
"Hiks...Hiks...Kakak..."
Sintia tersentak, dia hampir lupa dengan anak kecil itu. Dengan pelan, Sintia mengurai pelukan nya dengan Verrel, lalu menghampiri anak kecil itu.
"Siapa dia?" tanya Verrel.
"Aku tidak tahu Verrel, dia kehilangan ibu nya. Dia menangis dan aku menyelamatkan nya dari orang itu" terang Sintia.
"Katakan, siapa nama orang tua mu. Aku akan mencarinya untuk mu"
"Desi, nama ibuku Desi."jawab anak kecil itu dengan suara terbata. Dia masih menangis, namun sudah sedikit mereda.
"Baiklah, ayo kita ke depan. Di sana semua orang berkumpul " ujar Verrel.
Sintia mengangguk, dia menggendong anak itu dan membawanya pergi dari sana.
Sebelum pergi, Verrel memanggil anak buah nya. Dia menyuruh anak buah nya untuk menangkap dua pria yang telah berani mengganggu istri nya.
"Sintia!!"
Widia langsung memeluk Sintia, dia mengucapkan kata maaf berkali kali.
"Maafkan aku, karena aku kamu hampir celaka" ungkapnya terlihat sangat menyesal.
"Tidak, kamu tidak salah Widia. Semuanya terjadi begitu saja. Kamu jangan merasa bersalah yah. Sudah, diam dan bersyukur karena kita kembali bertemu" ucap Sintia berbesar hati.
Widia mengangguk, dia kembali memeluk Sintia.
"Desi! siapa yang bernama Desi?"
"Desi!!"
semua orang yang berkumpul terdiam, melihat satu sama lain, berpikir siapa di antara mereka yang bernama Desi.
Beberapa menit tidak ada yang maju ke depan. Di detik kemudian, seorang wanita dengan luka di kepala nya datang.
"Saya tuan, saya adalah Desi"
"Mama.."
Desi terkejut, dan senang. Putrinya yang sejak tadi dia cari akhirnya ketemu.
"Nak, kemana saja kau. Aku mencari mu hingga ke semua pasar ini" gumam nya seraya memeluk putrinya erat.
Sintia tersenyum haru, Desi terlihat sangat mengkhawatirkan putrinya. Luka di sekujur tubuh nya tidak terasa ketika dia kehilangan putrinya.
"Betapa bahagianya hati seorang anak ketika merasakan kecemasan dari orang tuanya" gumam Sintia pelan, dan Verrel dapat mendengarnya.
Verrel menatap istrinya, dia tahu bagaimana perasaan Sintia saat ini. Seumur hidupnya dia tidak pernah di khawatirkan oleh mama nya.
"Semuanya, pulang lah ke rumah kalian. Kekacauan ini tidak akan terjadi lagi. 1 bulan ke depan, pasar ini akan di bangun pagar tembok besar, tidak akan ada orang jahat yang bisa masuk!"
"Terimakasih tuan. Anda selalu menyelamatkan kami"
__ADS_1
"Benar, hanya anda yang memperhatikan rakyat kecil seperti kami"
"Yah, tuan Verrel yang terbaik"
"Hidup tuan Verrel!!"
"Sang pencipta kedamaian!!"
"Hidup!!"
Verrel tersenyum kikuk, baru kali ini seorang mafia licik, dingin, kejam tanpa ampun salah tingkah.
Sintia menatap suaminya dari samping. Dari kejadian ini, Sintia menyadari bahwa sisi lain yang tertanam di hati suaminya.
Mungkin dia terkenal kejam, terkenal tidak takut mati dan suka menghancurkan orang lain dalam sekejap.
Namun, di mata Sintia saat ini. Verrel hanyalah pria biasa. Pemuda yang ingin kedamaian, suka membuat orang lain tersenyum.
"Aku bangga pada mu" gumam nya dalam hati.
"Ayo kita pulang, aku akan mengobati luka mu!" Verrel menggandeng tangan istri nya, membawanya masuk ke dalam mobil.
Dengan patuh Sintia mengikuti suaminya, untuk pertama kalinya Sintia merasakan kebahagiaan yang tiada Tara. Dia mengharapkan Verrel datang menyelamatkan nya, dan benar, suaminya datang.
"Aku akan mengingat ini Verrel, aku akan selalu mengingat mu" ucap Sintia dalam hati.
Di mobil lain, Reno menatap istrinya dengan kesal.
"Ada apa? kenapa kamu melihat ku seperti itu hm?"
Huh.
Reno mendengus, dia memalingkan wajahnya kearah lain. Ingin sekali dia mengomel pada istrinya. Tapi, Reno tahu dalam kondisi seperti ini dia tidak bisa melakukan itu.
Widia menarik telinga suaminya, agar pria tampan dan gagah perkasa itu kembali menoleh kearahnya.
"Katakan, apa yang saat ini kamu pikirkan?"
"Tidak ada" balas Reno cuek.
"Oh ayolah, kita sudah bertahun tahun bersama dan menikah selama 2 tahun. Aku tahu, kamu menyimpan sesuatu dari ku!" desak Widia membujuk.
"Tidak ada"
"Ok fine, aku tidak akan berbicara dengan mu, sebelum kau mengatakan padaku!" Rajuk Widia.
Reno mencebikkan bibirnya, lihat. Dia baru saja merajuk, tapi istri nya lebih dulu merajuk kepadanya.
"Baiklah, aku marah padamu. Aku sudah mengatakan jangan keluar tanpa penjaga. Jangan melakukan apapun di luar komplek!
Tapi kamu tidak mendengarkan aku. Kamu melakukan sesuatu yang kamu mau.
Kamu tahu, betapa takutnya aku tadi?" Reno memegangi wajah istri nya, mencium keningnya penuh kasih sayang.
"Aku tidak akan memaafkan diriku, jika terjadi sesuatu kepadamu Widia.Aku tidak bisa hidup tanpa mu" ungkap Reno.
Widia tersenyum, dia memeluk suaminya dengan sangat erat.
"Semuanya telah berakhir sayang, aku tidak akan mengulangi kesalahan ku lagi. oke. Sorry baby"
__ADS_1
Cup.
Mereka berpelukan, hingga sampai di rumah Verrel.