Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Orang Misterius


__ADS_3

Brak!


Pintu ruangan kerja Danrem tiba tiba terbuka. Hempasan kuat itu membuat Sintia terkejut dan langsung berdiri dari duduk nya.


Di saat keterkejutan Sintia, Danrem menggunakan kesempatan itu untuk mengambil lakban.


"Pegang dia!!!" seru Danrem pada Rea.


Sintia terkejut, dia hendak berbalik menatap Rea. Tapi sayang nya, Rea lebih cepat menahan tubuhnya dengan di bantu oleh Sela.


Dengan gerakan cepat, Danrem langsung melakban mulut Sintia. Dengan begini, Sintia tidak akan bisa memberi perintah dan bom tidak akan meledak.


"Danrem!" seru Asmar.


Sintia menoleh, ternyata yang datang adalah Asmar, bukan kakak nya.


"Ahahaha..... Bagaimana Sintia, apa sekarang kau bisa mengatakan sesuatu? apa kau ingin meledakkan tempat ini?" Danrem tertawa mengejek ketidak berdayakan Sintia.


Bukan hanya melakban mulutnya, Danrem juga mengikat tangan Sintia dengan lakban tersebut.


Brak.


Sekali dorong, Sintia terjatuh di lantai.Kondisi tubuh nya yang masih lemah, membuat dirinya tidak bisa berbuat apa apa.


Tapi, satu hal yang Sintia yakin. Mereka tidak akan membunuhnya. Mereka ingin mutiara Naga Hijau, jadi mereka tidak akan bertindak konyol membunuh dirinya.


Asmar melirik Sintia, senyum miring tercetak di bibirnya.


"CK. Sekarang kau sudah tidak berdaya lagi? apa kau ingin memukul ku lagi Sintia?" ucap Asmar tersenyum miring.


"Awas saja kalian, jika aku terbebas dari sini, akan aku patahkan leher kalian satu persatu!" geram Sintia dalam hati.


Dari sorot mata nya, mereka sudah tahu jika Sintia sedang mengutuk mereka.


"Sekap dia di ruangan yang dulu menjadi penyekapan mama nya" titah Danrem.


Asmar mengangguk, dia memanggil beberapa anak buahnya untuk mengangkat Sintia pergi.


Di markas nya, Verrel merasa tidak nyaman. Pikiran nya tertuju pada Sintia.


"Apa yang terjadi? apa Sintia baik baik saja?" batin Verrel cemas.


Tak lama kemudian, tiba tiba terdengar suara Widia berteriak memanggil namanya.


Verrel melonjak kaget, dia langsung menghampiri Widia yang terlihat panik.


"Verrel!! Verrel!!" Teriak Widia.


"Ada apa Widia, mengapa kamu berlari dan berteriak. apa tidak bisa menghubungi ku saja? kenapa harus berlari datang ke sini??"


Widia menggeleng, berusaha menetralkan deru nafas nya yang tersengal sengal.


"Verrel, kamu haru... Segera menyelamatkan Sintia. Di-" ucapan Sintia terputus putus karena nafasnya yang masih memburu.


Reno datang, dia terkejut melihat istrinya ada di markas.


"Ada apa dengan Sintia Widia? apa yang terjadi. Bicara lah yang jelas" desak Verrel semakin panik.


"Ada apa Widia, kenapa kamu seperti ini?" tanya Reno.


Widia menarik nafas dalam, kemudian menjelaskan bahwa Sintia telah di sekap oleh Danrem dan Asmar.


Widia juga mengatakan bahwa Sintia sudah menghubungi nya kemarin, dia sudah mengetahui kebenaran nya.


"Sialan, berani sekali mereka!" maki Verrel marah.


Pria itu bersumpah tidak akan mengampuni siapapun yang telah menyentuh istri nya.

__ADS_1


"Ayo kita ke sana sekarang!" seru Verrel penuh amarah. Sorot matanya saja sudah terlihat jelas bahwa dia saat ini sangat marah.


Siapapun yang datang menghalanginya, maka dia akan menghabisinya.


"Tidak Verrel. Kita tidak bisa ke sana sekarang" ujar Reno.


Widia menatap marah pada Suaminya. Bagaimana mungkin suaminya menolak pergi ke sana.


"Apa kau sudah gila? kita harus segera ke sana. Sintia dalam bahaya. Danrem itu tidak punya hati. Aku pernah melihatnya langsung. Bahwa dia yang membunuh Om Hino dan Tante Felicia."


"Aku tahu Widia, tapi kita tidak bisa gegabah. Aku yakin, dia sengaja melakukan ini untuk menjebak kita!" jelas Reno.


"Benar, Aku setuju dengan mu Reno. Kita tidak bole terlihat bodoh." Sahut Verrel menatap tajam ke depan.


Cling~


Reno melihat ponsel nya, sebuah pesan dari nomor yang tidak di kenal kembali masuk ke dalam ponsel nya.


"Verrel, orang itu ingin bertemu!"


Verrel menoleh cepat pada Reno. Orang misterius yang selama ini membuatnya penasaran dan bingung akhirnya ingin bertemu?


"Di mana? Katakan saja pada nya aku siap bertemu!" seru Verrel.


Reno langsung mencoba membalas pesan itu. Biasa nya tidak bisa di balas, tapi kali ini pesan nya bisa di balas.


"Seperti nya dia memang ingin bertemu dengan kita. Pesan nya bisa di balas!" ujar Reno.


Verrel mengangguk mengerti, kali ini dia akan mendapatkan bukti tentang kejahatan Danrem dan asmar.


Di dunia Mafia, membunuh merupakan makanan sehari hari bagi mereka.


Jika lemah maka, bersiaplah untuk mati. Jika kuat, maka akan di hormati.


Namun, dalam persekutuan Mutiara Naga Hijau. Ada jenjang, ada peraturan untuk menduduki tahta. Bukan sembarangan orang yang bisa mengambil alih tahta Mafia terkuat di persekutuan Mutiara Naga Hijau.


Pengkhianatan, merupakan kesalahan fatal yang harus di musnahkan oleh mereka.


Itu lah yang Danrem lakukan. Dia membunuh Hino dan Felicia secara licik. Mengambil alih tahta Mutiara Naga Hijau. Membunuh semua saksi, sehingga persekutuan jadi kacau.


Semua pemimpin Mafia berlomba lomba ingin mendapatkan Mutia itu. Semua orang tentu ingin menjadi yang terkuat.


selama 40 tahun menunggu, kini waktunya pergantian pemimpin. Barang siapa yang mendapatkan Mutiara itu. Maka dia bisa memimpin pasukan Naga Hijau.


Karena sebenarnya Hino dan Felicia belum di nobatkan, karena itu lah para sekutu diam. Namun, Verrel sudah mengumpulkan sebagian besar sekutu untuk melawan Danrem.


Tidak hanya Verrel yang mendapat kabar ini. Mr topi juga mendapat kabar buruk ini.


Dia menggeram marah mengetahui adik nya di sekap. Apalagi mengingat adik nya sedang hamil.


Brak!


"Danrem!!!!!!!!! Aku akan membunuh mu. Aku pastikan kepala mu akan terpisah dari tubuh mu oleh tangan ku sendiri!" Teriak Mr topi melampiaskan amarah nya.


"Apa yang akan kita lakukan tuan?" tanya Benito menunggu perintah.


"Kita akan pergi ke sana. Apapun yang terjadi, kita akan membebaskan Adik Ku!"


"Aku mengerti tuan, tapi mereka pasti sudah menyiapkan jebakan untuk kita tuan!"


"Aku tidak peduli Benito. Aku hanya ingin adik ku kembali!!" teriak Mr topi marah.


"Baik tuan, saya akan menyiapkan pasukan!"


Benito langsung berbalik pergi, menyiapkan anak buah untuk menyerang kediaman Danrem.


Setelah menyiapkan pasukan, Mr topi tiba tiba mendapatkan pesan misterius itu lagi.

__ADS_1


"Berhenti!" seru Mr topi.


Seketika itu mobil langsung berhenti.


"Ada apa tuan?" tanya Benito heran.


Baru kali ini Mr Topi menghentikan mereka di tengah perjalanan seperti ini.


"Alihkan tujuan nya, Aku ingin ke suatu tempat!" ucap Mr topi, dia sudah mengirimkan alamat pada Benito.


Mobil kembali melaju, membelah jalan dengan arah yang sudah berubah.


Citttt......


Mobil berhenti tepat di depan rumah gedung tua!


Mr Topi keluar dari mobil. Dia terkejut melihat Verrel juga tiba di sana.


Mereka sama sama keluar dari dal mobil. Tatapan sinis mereka saling bertemu.


Belum sempat satu diantara mereka mengeluarkan suara. Tiba-tiba gerbang rumah terbuka.


"Verrel Eldor! Satria Handoyo Silahkan masuk. Tuan ku telah menunggu kalian di dalam!"


Verrel melirik Satria, Begitu juga dengan Satria. Kemudian dengan hati hati mereka masuk ke dalam.


Reno dan Benito ikut masuk ke dalam. Namun, di cegah oleh pengawal tadi.


"Kami hanya mengijinkan Satria dan Verrel saja yang masuk!"


"Hei, apa kau katakan. Kami harus masuk!" bentak Widia. Dia tidak terima di tahan oleh pengawal itu.


"Ini perintah. Siapapun yang membantah! akan menerima akibatnya!"


Pengawal itu menodongkan pistol pada Widia.


"Apa yang kau lakukan!" teriak Reno yang langsung menarik Widia ke belakang tubuh nya.


Pengawal itu terdiam, dia seperti nya mendapatkan sebuah perintah dari boss nya. Terlihat dari air muka nya berubah.


"Kalian silahkan masuk!" ucap pengawal itu pada akhir nya. Dia membiarkan Satria dan Benito masuk.


Verrel, Reno dan Widia juga di persilahkan masuk.


Satria melangkah lebih dulu, dia sangat penasaran dengan orang misterius ini. Siapa dia sebenarnya, mengapa dia mengetahui segalanya tentang keluarganya dan juga permasalahan dengan Danrem dan Asmar.


Langkah demi langkah Satria melangkah masuk ke dalam gedung itu. Dia tidak mengingat tempat ini. Tapi, sekilas di dalam pemikiran nya. Satria merasa ada kilasan kilasan masa lalu yang entah apa itu Satria tidak tahu.


Dari belakang, Verrel melangkah mengikuti Satria yang melangkah di depan nya.


Tidak ada persaingan, karena mereka memiliki tujuan yang sama. Hati mereka sama sama penasaran dengan orang misterius ini.


Berbedanya, Verrel, Reno dan Widia mengetahui tempat apa ini.


"Mengapa mereka membawa kita ke tempat ini Verrel?" tanya Widia berbisik pada Verrel.


Mereka seakan mengingat masa lalu ketika berjalan di rumah ini.


Gedung ini adalah tempat di mana kejadian masa lalu terjadi. Tragedi pembunuhan Hino di lakukan.


Lutut Widia bergetar saat melewati ruangan di mana dia pernah bersembunyi.


Verrel memegangi tangan Widia, dia tahu apa yang saat ini wanita itu pikirkan.


"Reno, jangan lengah dan awasi Widia. Ini sangat berat bagi nya" suru Verrel.


Reno mengangguk, dia langsung menggandeng bahu istri nya.

__ADS_1


"Tenang, aku ada di sini" bisik Reno.


Widia mengangguk, air matanya sudah menumpuk di pelupuk matanya.


__ADS_2