
Satria tampak gelisah, Benito selaku sekretaris nya dengan setia berdiri di samping nya menunggu dokter memeriksa Sintia.
"Tenang lah boss, nona pasti akan baik baik saja" ujar Benito yang merasa pusing melihat Satria mondar mandir tidak jelas di depan pintu kamar.
Ceklek.
Satria berhenti, dia langsung mendekati dokter yang baru saja keluar dari kamar.
"Bagaimana kondisi adik saya Hendra?" desak Satria tidak sabaran.
"Tenang Mr topi. Nona baik baik saja, dia hanya mengalami tahap awal masa kehamilan."
"Sintia hamil?" ucap Satria terkejut, dia hampir lupa jika adik nya merupakan seorang istri. Istri dari musuh nya sendiri.
Entah harus senang atau marah, Satria tidak bisa menunjukkan emosi apapun. Dia hanya akan menuruti reaksi adik nya setelah mengetahui ini semua nanti.
"Apa ada penyakit lain selain hamil?" tanya Satria memastikan.
"Tidak ada, gejala seperti mual, lemas , di awal kehamilan adalah hal yang wajar. Anda hanya perlu memperhatikan kegiatan nona Sintia Mr topi. Dia tidak boleh terlalu lelah, atau pun terlalu merasa cemas.
Kandungan nya yang masih muda, terlalu rentan untuk hal hal itu" jelas Mahen panja lebar. Setelah itu, Mahen pun pamit undur diri.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Mr topi"
Satria mengangguk, dia juga memberi kode pada Benito untuk mengantar Mahe keluar.
Benito mengangguk dan melaksanakan apa yang Satria perintahkan.
Satria masuk ke dalam kamar, melihat adik nya yang masih terbaring lemah.
"Engg...."
Satria mendekati Sintia, wanita itu mengerang gelisah. Seperti nya Sintia akan sadar.
"Sayang, kamu sudah sadar?. Apa yang sakit? katakan lah aku akan membuat semua rasa sakit mu hilang" ujar Satria penuh perhatian.
Sintia mengedipkan matanya beberapa kali, menyesuaikan pencahayaan lampu.
"Kak..." panggil Sintia serak.
__ADS_1
"Iya Sintia, aku di sini"
"Aku kenapa, apa yang terjadi?"
Satria menghela nafas dalam, dia Bingung harus menjelaskan apa.
"Dek, tadi kamu pingsan. Kakak memanggil dokter dan kamu sudah di periksa" ucapan Satria terhenti, membuat Sintia Penasaran.
"Lalu, apa yang dokter katakan?"
Sintia menatap kakak nya yang masih diam, dia merasakan Satria mengarahkan tangan nya ke perut nya yang masih rata.
Hal itu membuat Sintia tertegun, mata nya langsung berkaca kaca saat sebuah pikiran melintas di benak nya.
Apa aku hamil???
Sintia memaksakan diri untuk duduk, dengan di bantu oleh Satria. Dia duduk menghadap pada pria itu.
"Kak, apa maksud nya ini. Apa aku..."
Satria mengangguk, dia tahu apa pertanyaan adik nya.
"Ya. Kamu hamil Sintia"
"A-aku- Hamil??" lirihnya tersenyum haru. Mata nya sudah berkaca kaca, bersiap untuk meluncurkan air mata.
"Ada bayi di perut aku???" Sintia malah berubah menjadi bahagia. Ini adalah kabar yang sangat menggembirakan. Tapi, beberapa detik kemudian raut wajah nya berubah.
Satria yang melihat perubahan itu langsung mengerut heran.
"Ada apa? mengapa kamu sedih sayang?"
"Apa Verrel menyakiti mu? Apa dia tidak akan mengakui anak ini milik nya? apa dia sangat buruk pada mu?"
Pertanyaan bertubi tubi menghantam Sintia dari kakak nya sendiri. Semua pertanyaan itu hanya memiliki satu jawaban, yaitu tidak pernah
Verrel selalu memperlakukan nya dengan baik, sangat baik. Bagaikan seorang ratu dan dia raja nya.
"Katakan Sintia, apa yang dia lakukan pada mu selama pernikahan kalian?" desak Satria.
__ADS_1
"Tidak ada kak, dia sangat baik. Dia mampu membuat bayi berada di dalam perut ku" jawab Sintia kembali tersenyum bahagia.
Ketika Verrel mengetahui kabar ini, dia pasti merasa senang. Tapi, yang membuat Sintia sedih adalah. Dia mulai merasa takut, tentang fakta yang sesungguhnya.
Jika suatu hari Sintia harus memilih antara kehidupan nya, atau masa lalunya.
"Sintia..." panggil Satria.
"Iya kak, maaf. Aku tidak mendengarkan mu" cicit Sintia merasa bersalah.
"Tidak apa apa, sekarang katakan,apa yang dia lakukan kepada mu.!"
"Tidak ada kak, dia selalu menjadikan aku ratunya. Seperti yang aku katakan sebelum nya!"
"Lalu, mengapa kamu pergi darinya. Mengapa dia tidak mencari mu? ada apa dengan semua ini???"
Sintia menggigit bibir bawahnya, memikirkan apa yang harus dia katakan.
"Sintia!" desak Satria.
"Ok baiklah aku akan mengatakan sejujurnya pada Kaka. Sebenarnya, aku dan dia berdebat. Bukan hanya dengan nya saja, tapi dengan kedua teman nya juga.
Setelah bertemu dengan mu di mobil dan melihat video itu. Aku mempertanyakan semuanya pada mereka soal kematian papa dan mama."
"Lalu apa yang mereka katakan?" sela Satria.
Sintia pun menceritakan semuanya pada Satria. Orang tua Verrel yang bersahabat dengan papa dan mama nya. Soal Rea dan Danrem yang berkhianat, semuanya Sintia ceritakan tanpa terkecuali.
"Aku tidak tahu kak, mana yang benar. Karena itu aku pergi dari rumah dan kembali ke rumah Danrem. Agar aku lebih mudah mencari informasi pada mereka. Aku tahu, Danrem dan Asmar bekerjasama!"
Satria mendengarkan cerita adik nya, dia mulai menyusun rencana untuk membongkar siapa sebenarnya dalang dari semua ini.
"Aku harus kembali ke rumah itu, agar mereka tidak curiga pada ku. "
"Tidak apa apa, aku ingin kamu bersama ku!" pinta Satria.
Namun, Sintia menggeleng. Dia tidak bisa tetap tinggal di apartemen kakak nya sebelum kebenaran nya terungkap.
"Kakak tenang aja, aku bisa menjaga diri ku sendiri. Aku tidak akan mundur, sebentar lagi mereka akan memulai rencana merek. aku yakin itu" ucap Sintia penuh keyakinan.
__ADS_1
"Benarkah."
"Tentu saja, aku tidak akan berbohong. Ini adalah kenyataan nya Kaka. Entah siapa yangs salah, tetap saja Sintia akan menyaksikan pertumpahan darah ini.