Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Mencari titik Terang


__ADS_3

Verrel melepas jas nya, melempar ke sembarang tempat seperti biasanya. Dia tersenyum, mendekati istri nya yang tampak diam.


"Hei sayang, kenapa kamu diam saja hm?" tanya Verrel manja, dia memeluk istrinya erat.


Verrel mengurai pelukan nya, menatap wajah istri nya Tampa ekspresi. Meskipun sudah tahu, tapi Verrel berpura pura tidak tahu.


"Sayang, kamu kenapa? kok diem hm?"


"Apa aku salah?"


Sintia menggeleng, dia menatap lekat suaminya.


"Apa aku boleh mengajukan pertanyaan? dan harus di jawab dengan jujur"


"Yah tentu, tanyakan lah" balas Verrel.


Sintia terlihat menarik nafas, lalu menghembuskan nya pelan. Sangat jelas bahwa Sintia sedang menahan tangis nya.


"Apa kamu tahu perusahaan papa bangkrut?"


"Huh? bangkrut? kenapa? ada masalah apa sampai mereka bangkrut?"


Sintia tercengang melihat reaksi suaminya. Pria itu terkejut seolah tidak tahu apa apa.


"Apa kamu benar benar tidak tahu apa apa?"


Verrel terdiam, dia berpikir apa cara berpura tidak tahu tentang masalah ini benar atau salah.


"Verrel, papa masuk rumah sakit. Mereka bilang papa syok, setelah mendengar perusahaan nya bangkrut"


"Lalu, mereka menyalahkan aku sebagai penghancur nya. Apa begitu?"


"Verrel dengarkan aku dulu, bukan maksud menuduh."


"Aku tahu Sintia, aku sudah mendengar semuanya dari Widia. Seharusnya aku ingin pura pura tidak tahu. Tapi, aku tidak tahan Sintia. Aku harus menjelaskan pada istri ku" ucap Verrel panjang lebar.


Sintia yang tenang tetap diam mendengar apa yang suaminya coba jelaskan. Dia tidak panik, ataupun emosi. Dia tetap terlihat santai, karena dia mencari titik terang bukan memikirkan sesuatu yang memicu mereka berdebat.


"Jadi Widia sudah cerita?"


"Yah Sintia, tadi setelah mengantar mu ke rumah sakit dia menemui ku. Aku cukup terkejut mendengar kabar ini. Aku ingin menjenguk mu ke sana, tapi aku takut akan menimbulkan masalah. Karena itu aku tetap diam dan berpura pura tidak tahu!"


Sintia memejamkan matanya, berusaha menahan gejolak emosi di dalam dirinya.


"Verrel aku tidak mempermasalahkan, mau Widia memberitahu mu atau tidak. Tapi aku ingin tahu, apa kamu yang melakukan nya?"


"Tidak honey, aku tidak melakukan apapun. Aku sedang mengurus permasalahan dengan Mr Topi. Berandalan yang mengacau di pasar waktu itu!"

__ADS_1


"Apa kau yakin? kau tidak membohongi ku kan?"


"Sayang, aku tidak mungkin membohongi mu. Aku berkata jujur sayang. Jika aku melakukan nya, aku pasti mengatakan kepada mu. Seperti perusahaan JS."


Fyuu


Sintia langsung memeluk suaminya, dia bisa bernafas lega sekarang. Hati nya juga mengatakan hal yang sama. Verrel tidak bersalah.


"Aku percaya kamu tidak akan melakukan hal itu" lirihnya.


Verrel membalas pelukan istri nya. Ingin sekali dia mengatakan bahwa keluarganya tidak bangkrut, tapi ingin memanfaatkan kebaikan istri nya saja.


"Verrel setiap hari aku harus ke rumah sakit, aku harus menjaga papa. Dia lagi koma dan mama tidak berdaya"


"Tidak apa apa sayang, aku tidak akan melarang mu. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu. Aku mencintai mu dan aku tidak akan melukai istri ku atau pun meninggalkan nya. Mau istri ku setuju atau tidak!"


"Iya iya bawel!"balas Sintia kembali memeluk suaminya erat.


"Terimakasih sayang, sudah percaya pada ku" lirih Verrel memeluk istrinya sangat erat.


"Sayang, kalau mau ke rumah sakit, kamu harus membawa pengawal, apapun yang kamu lakukan tetap membawa mereka!"


"Siapp!!"


Mereka tersenyum bersama, menyalurkan kehangatan melalui pelukan.


"Apa sudah makan?"


Verrel langsung mengurai pelukan mereka. Lalu, menggendong istri nya menuju ke dapur.


Sintia terpekik karena terkejut, tangan nya memeluk erat leher suaminya.


Setelah apa yang terjadi hari ini, Sintia semakin bersyukur karena suaminya selalu mengerti dan ada pada dirinya.


Dia juga belajar untuk tetap tenang meski hatinya menggebuh, dia tidak mau menggunakan emosi ketika mereka berdebat. Sikap Verrel yang tegang suda mengajarkan hal yang sama pada Sintia.


Malam itu, Verrel memasak untuk istri nya dan juga untuk dirinya sendiri.


Sedangkan di rumah sakit, Rea mendekati suaminya. Mengetuk nakas di samping sebagai kode agar suaminya segera bangun!.


"Apa Sintia sudah pergi?" tanya Danrem.


"Sudah, dia suda di bawa oleh pengawalnya" jawab Sela.


Danrem langsung melepas semua alat yang menurutnya sangat menyakitkan dirinya.


"Seharian memakai ini sangat tidak nyaman" dengus nya.

__ADS_1


"Oh ayolah sobat, demi kerjasama kita. Sintia harus berada di pihak kita!"


"Kamu benar Asmar, tapi kita juga tidak bisa terburu buru. Sintia hujan gadis bodoh,apalagi suaminya yang licik itu!" ujar Danrem.


"Huh mau sampai kapan kita seperti ini? aku sudah tidak tahan bersikap manis di depan nya!" gumam Rea.


Sia melebarkan matanya, dia tidak menyangka dengan apa yang baru saja dia dengar dari bibir Rea.


"Kamu berpura-pura?"


"Wah Tante, ibu macam apa kau ini?" celetuk Kaila.


"Anak kecil tidak perlu tahu!"sanggah Sela.


Kaila memutar mata malas,dia sudah tahu jika keluarga itu tidak beres.


"Ayo ma, kita pulang Aku tidak mau terlibat dengan mereka!" Kaila menarik tangan mama nya, agar segera berdiri.


"Kamu apa apaan sih Kai,bukan nya memihak keluarga, tapi malah memihak orang lain!"dengus Rendi.


"Wah kak, semenjak kakak berdekatan dengan wanita ular itu, kakak jadi bodoh. Apa kakak pikir Sintia orang asing?"


"Aku tidak menyangka telah melahirkan putra seperti mu!" seru Sia kecewa.


"Tidak Sia, apa yang Rendi katakan benar. Tidak kah kamu melihat perbedaan di antara Sela dan Sintia?"


"Maksud Tante apa?"


"Aduhhh Kalian ini dari keluarga mafia atau dari keluar mana sih. Bodoh! Sintia bukan anak ku, dia putri nya Leona. Wanita yang berpuluh tahun lalu aku lenyapkan!"


Sia dan Keila syok. Mereka tidak menyangka akan mendengar hal ini.


"Jadi, perlakuan kasar itu adalah hal yang di sengaja?" lirih Kaila.


"Benar, aku tidak mungkin mengasuh dan menyayangi anak orang lain!" decak Rea.


Danrem tidak mengeluarkan suara, dia hanya diam dan mendengarkan istri dan juga putrinya berbicara.


"Memang keluarga


terkutuk, aku tidak menyangka jika aku bisa hidup di antara Kungkungan kalian!"


"Ayo ma" Keila tetap membawa mama nya pergi, dia tahu hati mama nya sangat baik dan suci. dia tidak mau menodai kesucian hati mama nya.


"Keila!!! Keila!!" Rendi ingin mengejar adik nya, tapi di tahan oleh papa nya.


"Biarkan saja Rendi. Dia juga tidak akan bisa berbuat apa apa selain diam!"cegah Asmar.

__ADS_1


"Sekarang mari kita bahas rencana kita selanjutnya" ujar Danrem.


"Benar, kita harus menyusun rencana yang lebih cepat untuk mempengaruhi Sintia.


__ADS_2