Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Suami Ku


__ADS_3

Sintia berdiri dengan mata melebar besar. Dia tidak percaya suaminya benar benar memasak untuk nya.


Sintia melihat ke seluruh ruangan, mencari apakah ad koki atau siapapun yang mungkin membantu Verrel membuat semua masakan ini.


Namun, tetap saja. Tidak ada siapapun di rumah ini. Hanya ada mereka berdua.


"Waw, ini beneran kamu yang masak?"


"Tentu, ayo duduk lah"


Verrel mengambil piring, lalu mengisinya dengan nasi.


"Apapun makanan nya, kita harus makan nasi, walaupun sedikit"


Verrel berlaku layak nya seorang ibu yang sedang menasehati anak nya.


Melihat Verrel akan mengambilkan daging dan sayuran untuk nya, Sintia langsung berusaha mencegahnya.


"Verrel biar aku saja, aku bisa sendiri "


"Hari ini kamu sedang tidak baik baik saja, jadi biarkan aku yang melayani mu "


"Tapi di sini aku istri mu, biarkan aku yang melayani mu" Protes Sintia.


Verrel tidak menghiraukan nya, dia terus melakukan apa yang ingin dia lakukan. Mengambilkan Nasi dan beberapa potong daging.


"Berhentilah protes, dan makan lah yang banyak. Aku tidak tahu, apa masakan ku enak atau tidak, yang penting aku membuatkan mu sarapan"


Hufff...


"Baiklah baiklah, aku menyerah. Aku akan menikmati hari ini sebagai ratu, namun tidak esok hari. Aku akan membalas perlakuan raja ku."


"Tentu saja, kau harus melayani ku. Setidak nya di ranjang" bisik pria itu menggoda. Sintia langsung menghadiahkan nya pukul di bahu


"Dasar mesum"


Verrel terkekeh dia duduk di depan Sintia, kemudian mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Sintia menikmati steak buatan Verrel, Rasanya sangat special. Daging nya terasa sangat lembut, bumbu nya juga sangat pas di lidah Sintia.


"Apa agenda mu hari ini?"


"Aku tidak tahu, aku hanya ingin menikmati hari ini dengan bersantai. Apalagi dengan kondisi ku ini" jawab Sintia, dia melahap abis nasi nya.


Setelah selesai makan, Sintia langsung mengangkat piring bekas makan nya ke wastafel. Dia berniat ingin mencuci piring


Namun, baru beberapa langkah. Di kembali meringis kesakitan.


Verrel terkejut, dia meninggalkan makanan nya dan langsung menghampiri istri nya. Sangat manis.

__ADS_1


"Biar aku saja, kamu masih belum pulih. "


Verrel mengambil alih piring dari tangan Sintia, kemudian membawanya ke wastafel, sekalian membawa piring nya juga.


"Tidak Verrel, ini tidak akan sembuh jika aku tidak membiasakan nya"


"Tetap saja honey, ini terlalu cepat. Aku yakin kamu sangat menderita dengan rasa sakit itu!"


"Aku akan melakukan nya" imbuh Verrel.


Sintia menghela nafas Pasrah, dia kembali duduk. Memperhatikan Verrel yang sedang mencuci piring kotor dari meja makan granit.


"Aku tidak habis pikir, kamu terlihat seperti pria arogan, memiliki banyak anggota. Tetapi kamu bisa melakukan semua ini?"


"Tentu saja honey, untuk urusan perut aku lebih suka mengolah nya sendiri. Bukan berarti aku tidak percaya kepada koki." jelas Verrel.


Setelah membereskan semua nya, Verrel mengajak Sintia duduk di sofa ruang tengah. Menyalahkan televisi agar istrinya tidak bosan. Sedangkan dirinya membuka ponselnya. Memeriksa laporan yang anak buah nya kirim.


"Verrel, ini adalah sebuah komplek yang jauh dari kota."


"Lalu?"


"Kalau ingin berbelanja, kita harus kemana?"


"Kamu tinggal bilang saja kepada ku, aku akan membawakan semuanya untuk mu"


"Ok baiklah, nanti sore aku akan membawa mu berkeliling" ucap Verrel pasrah.


"Oh iya Verrel, aku ingin mengambil barang barang ku di rumah"


"Baiklah, aku akan mengantar mu"


"Aku bisa sendiri!" bantah Sintia, membuat Verrel langsung mengalihkan pandangan nya dari layar ponsel ke wajah Sintia.


"Seperti nya, aku harus memperbaiki sifat mu yang suka membantah!"


"Aku tetap akan mengantar mu!" tegas Verrel terdengar sedikit memaksa.


Sintia mengangguk Pasrah, membatah Verrel sama saja membantah tembok. Dia tidak akan menerimanya. Lagi pula, ini juga bukan ide yang buruk. Verrel bisa menemaninya, membantunya jika orang tuanya melakukan sesuatu yang tidak terduga.


"Oke"


Verrel meletakkan ponsel nya, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam dompet.


"Ini, rekening baru untuk mu. Aku juga sudah mentransfer sejumlah uang ke dalam nya. Jadi, kamu bisa memakai uang itu untuk memenuhi kebutuhan mu, dan kebutuhan kita. Pakai lah sesuka mu, aku tidak memberi mu batasan"


Sintia ingin menolak nya, namun dia berpikir lebih bijak lagi. Verrel melakukan semua ini sebagai seorang suami, jadi Sintia tidak bisa menolak nya. Dia menerima kartu ATM itu, dan menyimpan nya.


Melihat bagaimana sikap Verrel yang jauh 100% dari sebelum nya, membuat Sintia merasa pernikahan mereka ini seperti pernikahan sungguhan.

__ADS_1


Verrel tidak segan memasak dan membersihkan piring kotor. Berbeda dengan Rendi, jangan kan mengantarkan piring kotor, memegang keran saja dia tidak pernah. Rendi terbiasa meninggalkan bekas makannya di meja makan.


Setelah sedikit merasa baikan, dan berjalan normal meskipun pelan. Sintia dan Verrel pergi ke rumah orang tua Sintia.


Mereka bersamaan keluar dari dalam rumah, terlihat banyak anak anak kompleks sedang bermain di halaman rumah mereka.


Anak anak itu terlihat menyukai Verrel, mereka bersorak memanggil Verrel dan mengajak pria itu bermain.


Anak anak harus menelan rasa kekecewaan mereka, karena Verrel tidak bisa bermain bersama mereka. Pria itu dan istri nya harus pergi.


"Lain kali, suami ku akan bermain bersama kalian"


"Janji??"


"Tentu!"


"Yeeee"


Sintia tersenyum, dia suka melihat anak anak itu bersorak senang.


Sintia masuk ke dalam mobil, Verrel membukakan pintu untuk nya.


"Terimakasih"


Lalu, Verrel mengitari mobilnya dan masuk ke bagian kemudi.


Mobil melaju cepat, membelah jalan yang tidak terlalu ramai. Karena memang komplek damai ini sedikit pelosok, berada di pinggiran kota.


"Hmm...Nanti, aku akan mengambil mobil ku. Untuk ke kantor, aku butuh mobil" ucap Sintia membuka pembicaraan, sejak tadi mereka hanya diam membisu dalam keheningan.


"Tidak perlu, jika kamu butuh mobil. Kita akan membelikan nya nanti"


"Tapi, aku ada mobil. Untuk apa beli lagi"


"Tidak Sintia, Sekarang kamu adalah istri ku. Apapun kebutuhan mu, aku akan memenuhinya."


"Baiklah suami ku" balas Sintia tersenyum. Entah mengapa dia merasa ucapan Verrel terdengar manis di telinganya.


Verrel menoleh, tangan nya tergerak membelai rambut Sintia.


"Apapun yang terjadi, aku ada bersama mu. Kamu tidak perlu takut. Mengerti?"


Sintia mengangguk paham, dia membalas ucapan suaminya dengan senyum manis.


Setiba nya di rumah orang tua Sintia, mereka di sambut oleh art nya.


"Nona Sintia, Anda kembali???"


"Di mana Papa dan mama?" Sintia masuk ke dalam rumah, di iringi oleh Verrel yang setia berjalan di samping nya.

__ADS_1


__ADS_2