
Hari libur. Pagi pagi sekali Verrel sudah menghilang dari kamar. Sintia pun masih belum bangun. Tapi, pria itu sudah tidak ada di sana.
Sintia terbangun, meraba raba kasur sebelahnya. Dia merasakan tempat itu sudah kosong. Matanya terbuka lebar, melihat apakah dugaan nya benar atau hanya tangan nya saja yang salah raba.
"Di mana suamiku?"
Sintia segera turun, dia memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Setelah makan malam tadi malam, mereka beristirahat dan di lanjutkan dengan aktivitas malam mereka. Hubungan semakin dekat, cinta di antara keduanya semakin besar tanpa mereka sadari.
Setelah mandi dan berpakaian santai, Sintia keluar dari kamar. Dia mencari suaminya ke dapur. Tapi, tetap tidak ada. Di sana hanya terdapat tudung kaca dengan sepiring nasi goreng special buatan suaminya.
Sintia mendekat, membuka tudung dengan senyum manis nya. Dahi Sintia tiba-tiba mengerut ketika mendapati secarik kertas.
"Datanglah ke taman belakang, jika kamu sudah selesai sarapan! ingat! harus di habiskan!" Sintia berdecak senang setelah membaca note itu, lalu dia menatap nasi goreng lezat nya.
"Baiklah, jika kau menginginkan aku makan. Aku akan makan dan menjadi lebih montok" kekeh nya sembari melahap nikmat nasi goreng itu.
Setelah selesai sarapan, Sintia pun segera merapikan meja makan dan mencuci bekas makan nya. Dia berjalan santai menuju ke taman belakang rumah nya yang sangat luas.
Pernahkah kalian membaca di bab sebelum nya. Bahwa aku mengatakan rumah mereka terlihat seperti rumah induk di komplek ini. Karena rumah mereka yang paling besar dan berada di tengah dan bagian depan komplek.
Dengan perut kenyang Sintia berjalan mengitari rumah besarnya. Dia merasa nasi yang masuk tadi hilang menjadi keringat. Dia merasa perutnya mulia keroncongan sekarang.
"Inilah yang aku benci, rumah besar dan aku harus berkeliling untuk ke sudutnya!" gerutunya.
Setiba nya di taman belakang, pemandangan indah terpampang jelas di matanya. Sintia melihat suaminya sedang berolahraga. Mengenakan kaos tanpa lengan dengan perpaduan celana training di atas paha.
Peluh yang menetes di setiap kulit Verrel, terlihat sangat menggoda Sintia.
"Sexy banget" gumam nya tanpa sadar. Verrel mendengar nya, dia yang semula tidak sadar kehadiran istri nya terkejut dan menghentikan aksinya yang sedang mengangkat barbel 50kg.
"Kamu sudah sarapan?"tanya Verrel menghampiri istrinya.
Sintia tersenyum dan mengangguk malu menjawab pertanyaan suaminya. Entah mengapa Sintia jadi sangat malu ketika melihat tubuh sexy suaminya. Entah bagaimana, Sintia jadi berpikiran lain setiap melihatnya seperti itu.
"Sungguh aku sudah gila" rutuk nya untuk diri sendiri di dalam hati.
Sintia sibuk dengan pikiran nya sendiri, tidak sadar jika suaminya sudah berdiri di depan nya dan menatap wajah nya yang memerah.
"Sayang, kamu mendengarkan aku kan?"
"Tentu saja sayang, aku selalu mendengar mu. Aku juga selalu memperhatikan mu. Apa aku sudah pernah bilang pada mu, bahwa kamu itu sangat sexy?" gumam Sintia, dia masih belum sadar dan masih berada di dalam dunia fantasinya dengan lekuk tubuh suaminya.
Verrel terkesiap, senyum senang tidak dapat ia sembunyikan. Ada rasa bangga ketika mendengar istri nya memuji tubuh nya.
"Sejujurnya, kamu sudah memuji ku ketika kita berada di atas ranjang, bersimbah peluh dan yahh mendesah penuh nikmat" balas Verrel.
__ADS_1
Huh?
Sintia terkejut, dunia nyata mulai menyadarkan dirinya.
"Umh maaf, aku tidak sadar mengatakan nya"
"Apakah itu sebuah kesalahan?"
"Tidak"
"Lalu, mengapa kamu mengucapkan kata maaf? sayang, aku ini suami mu. Kamu bebas memuji suami mu ini. Betapa sexy nya aku, kamu bisa memujinya, kamu bebas menikmatinya" ucap Verrel berbisik di akhir kalimatnya. Membuat Sintia menggelinjang geli merasakan hembusan hangat nafas suaminya.
"Sa sayang, menjauh lah. Jangan membuat aku semakin gila!" dengusnya. Sintia mendorong suaminya agar sedikit jauh darinya.
"Aku sudah mandi, dan Kai dengan tubuh berkeringat malah memeluk ku!"
"Tidak apa apa, kita sudah biasa bermandikan keringat bersama. hmm...Semalam juga" gumam Verrel menggoda istrinya. Dia sangat suka melihat semburat malu terbit di kedua pipi Sintia.
"Ih Verrel, kamu mulai lagi deh. Ini masih lagi dan kau sudah membahas itu" Sintia merajuk.
Verrel terkekeh pelan, lalu menghentikan tawa nya.
"Baiklah sayang, kita kembali ke mode serius."
"Nah, ku suka!" sahut Sintia tersenyum. Dia berjalan mendekati meja yang ada di sudut taman belakang. Di sana dia melihat ada sebuah handuk. Dia mengambil handuk itu, lalu memberikan kepada suaminya
"Terimakasih sayang" ucap Verrel menerima handuk itu. Mereka duduk di tengah taman, beralaskan rumput hijau yang menyelimuti tanah.
"Sayang, kenapa kamu menyuruh ku ke sini? biasanya kamu akan menyuruhku menunggu di kamar atau di ruang tengah" tanya Sintia.
Verrel menoleh pada istri nya, sembari mengelap keringat di leher dan wajah nya. Verrel memang memiliki tujuan saat menyuruh istrinya datang ke taman ini. Dia tahu, istri nya pasti merasa lelah mengelilingi rumah untuk datang ke taman ini. Tapi, dia harus menyuruh istrinya datang ke sini.
"Sayang, memikirkan permintaan mu kemarin. Aku harus mengajarkan mu sesuatu yang penting!"
Dahi Sintia mengerut, "Mengajarkan apa?"
"Ilmu bela diri!" jawab Verrel cepat.
"Ilmu bela diri?" beo Sintia. Verrel mengangguk.
"Kamu sangat di haruskan mempelajari ilmu beladiri sebelum kamu memasuki dunia yang tidak pernah kamu ketahui.
Kamu tidak tahu siapa Danrem dan Asma sebenernya. Cukup kamu ambil pemikiran dari sebuah fakta yang baru kamu ketahui. Yaitu, mereka bisa saja membunuh mu seperti membunuh kedua orang tua mu."
Sintia mendengarkan suaminya, dia setuju dengan pemikiran suaminya. Dia yang menganggap keluarga nya adalah keluarga biasa saja tanpa ada sisi gelap sedikitpun kecuali sifat manusia yang emosional dan pilih kasih karena kodrat anak pertama dan kedua.
__ADS_1
"Apa kamu siap sayang?" tanya Verrel menatap lekat wajah tegang istrinya.
Perlahan Sintia mengangguk, kemudian tersenyum miring.
Verrel cukup terkejut melihat senyum itu. Ini bukan senyum yang biasa Sintia tunjukan kepadanya. Senyum penuh misteri dan tentunya membuat bulu roma berdiri.
"Jadi kapan kita akan mulai baby?" tanya Sintia penuh semangat. Membuat suaminya tersadar dari lamunan nya.
"Sekarang, kita akan mulai dengan dasar nya. aku akan menjelaskan segalanya kepada istri cantik ku." Verrel berdiri, mengulurkan tangan nya pada istri nya .
Sintia pun langsung menerimanya. Mereka berdiri, saling menatap dengan senyum penuh cinta.
Sintia menghadapkan tubuh nya menghadap sempurna pada suaminya. Menyatukan tangan kanan dan kiri di depan dada. seperti seorang murid memberi hormat kepada gurunya.
"Mohon ajari aku guru"
Verrel langsung tergelak melihat tingkah istrinya.
"Kenapa tertawa? mulai saat ini kau akan menjadi guru bela diri ku. Aku akan menerima semua kritikan dan saran mu guru"
Verrel menghalau tawa nya, dia pun mengikuti alur istrinya. Dia melakukan hal yang sama. berperan sebagai seorang guru.
"Baiklah murid ku, mari kita melakukan pemanasan sebelum berlatih."
"Siap!"
Ingin rasanya pria itu tertawa dan mencubit pipi bulat istri nya yang sangat menggemaskan.
Verrel pun memulai pemanasan, dia memberikan contoh lalu istrinya akan mengikutinya dari belakang.
Setelah cukup melakukan pemanasan, Verrel langsung masuk ke pelatihan dasar. Mulai dari memasang kuda-kuda kaki, tangan dan sebagainya.
Hari itu mereka habiskan untuk berlatih ilmu belah diri.
Sintia bukan lah orang bodoh, dia sangat cepat menguasai apa yang Verrel ajarkan. Dia mengerti sangat cepat. Verrel bangga dengan istrinya.
"Memiliki tekat yang kuat, dan keyakinan yang kuat akan membuat seseorang kuat. Kamu memilih kekuatan itu di dalam diri kamu. Karena itulah kamu menjadi sangat kuat. Sayang, aku akan selalu ada di belakang mu, siap membantu kamu dalam kondisi apapun. Membalaskan dendam ku pada keluarga danrem dan Asmar. Aku juga akan membalaskan dendam orang tua mu kepada mereka. Aku yakin memang mereka yang membunuh kedua orang tua mu!" gumam Verrel dalam hati. Dia terus memantau istrinya saat sedang mempraktekkan gerakan yang telah dia ajarkan.
"Hak..1. 2. 1. 2. Hakk..Hyak!"
"Good. Teruskan, lebih kuat lagi!".
"1"
"Hyak!"
__ADS_1
"1"
"Hyak!!"