
Sintia sedang menikmati malam yang indah. Dia merasa senang setelah menghabiskan waktu bersama Verrel di rumah pria itu.
Selain Verrel yang hangat, teman yang sudah seperti keluarga bagi pria itu, juga menyambut dirinya hangat. Mereka terlihat sangat baik.
"Sintia!"
Sintia terkejut, dia langsung menoleh dan mendapati mama nya berdiri di ambang pintu kamar nya.
"Papa kamu memanggil mu ke ruangan nya!"
Tanpa menunggu jawaban Sintia, Rea pergi begitu saja.
"Ada apa lagi ini" dengus Sintia Sera beranjak menuju ke ruangan kerja papa nya.
Sintia masuk ke dalam ruangan papa nya yang tidak tertutup. Kemudian berdiri di depan meja kerja papa nya.
"Ada apa?" tanya Sintia to the poin.
Danrem yang berdiri membelakangi putrinya, perlahan berbalik. Sorot mata nya menajam, dapat Sintia rasakan ada secerca kemarahan di dalam tatapan mata papa nya. Namun, dia memilih untuk mengabaikan nya.
"Katakan dengan jelas Sintia, apa kamu benar benar ingin menikah dengan Verrel?"
"Yah!" Jawab Sintia cepat.
"Apa kamu tahu dia siapa? Apa kamu tahu apa pekerjaan pria itu?" emosi Danrem mulai tidak terkendali, dia melangkah mendekati putrinya dan menarik lengan putrinya agar terseret ke tengah ruangan nya.
Sintia meringis, mengusap pergelangan tangan nya yang memerah bekas cengkraman tangan papa nya.
"Beginikah cara menghadapi seorang putri?" Desis nya menyindir.
"Kamu pantas mendapatkan nya, kamu pantas mendapatkan nya karena kamu melawan ku, melawan ayah yang merawat mu!"
"Aku tidak melakukan kesalahan apapun, aku hanya ingin menikah!"balas Sintia sengit.
Danrem melebarkan matanya, dia tidak menyangka putri nya berani melakukan hal ini kepadanya.
Plak!
Sintia terhuyung ke samping, memegangi pipinya yang terasa memanas.
"CK... Mengapa papa melakukan ini kepada ku? Apa karena aku bukan anak pertama? Atau aku pernah menyakiti papa?" ucap Sintia lirih, dia menyeka air matanya. Menatap danrem dengan sorot mata kecewa.
"Pa. Aku selalu mengikuti apapun yang papa mama mau, tapi. Mengapa kalian selalu menyisihkan aku. Menyalahkan aku atas apa yang tidak aku salahkan.
Danrem orang baik, aku menyukainya. Dia membuat ku nyaman, membawa aku masuk ke dalam rumah yang selama ini aku inginkan. "
Sintia tersenyum, menghapus air mata yang tidak di inginkan nya. Namun air mata itu terus mengalir dengan sendirinya.
"Aku tidak meminta papa dan mama datang di pernikahan ku. Tapi, tolong jangan halangi aku. Aku mohon. Aku sudah merelakan segalanya pada kalian. Aku sudah mengabdi seumur hidup ku. Please. Kali ini biarkan aku hidu bebas"
Dada Danrem terasa sesak, tenggorokan nya tercekat mendengar permohonan putrinya. Dia sadar, jika selama ini dia memang mengabaikan putri bungsu nya. Namun, bukan berarti dia akan membiarkan putrinya masuk ke dalam jurang.
"Papa dan mama bisa menerima kesalahan Sela dengan sangat baik. Tolong lakukan hal yang sama pada ku, tolong biarkan aku menikah dengan Verrel."
"Tidak!" Jawab Danrem tegas.
Sintia tersenyum, dia sudah memohon dengan sangat pada papa nya. Tapi, pria itu tetap tidak memberinya kebebasan.
__ADS_1
"Oke, jika papa tetap tidak mau. Terserah papa. Tapi aku, tetap akan menikah dengan nya. Aku akan menikah dengan Verrel Minggu depan!"
Setelah mengatakan hal itu, Sintia berbalik pergi. Mengabaikan panggilan Danrem.
"Sintia!"
"Sintia! Papa belum selesai bicara!"
"Sintia!!!"
"Arrrg...Dasar anak durhaka!"
Sintia menyeka air matanya, dia mendengar semua umpatan yang terlontar dari mulut papa nya. Namun, dia tidak berniat menghentikan langkah nya.
"Sintia!"
Rea menghadang putri bungsunya, dia berusaha menghentikan Sintia yang terus melangkah tanpa melihat kearahnya.
"Sintia!!! Apa begini cara mu menghormati wanita yang telah melahirkan mu huh?"teriak Rea.
Sintia menghentikan langkah nya, berbalik menatap mama nya yang menatapnya penuh amarah.
"Sampai hari ini, aku masih bertanya tanya mengapa aku di lahirankan dari rahim mu." Balas Sintia dengan nada suara dingin.
"What? Bera-"
Belum sempat kalimat Rea selesai, Sintia sudah berlalu lebih dulu.
"Dasar anak durhaka! Lihat saja nanti, hidup mu pasti akan menderita!!" Teriak Rea melontarkan kata kata mengutuk untuk meluapkan emosinya.
Sintia tidak peduli, dia terus melanjutkan langkah nya menuju ke kamar nya.
Gadis mud itu menangis, meratapi nasib nya yang tidak seberuntung kakaknya.
Bukan tidak menyesal, Sintia sangat menyesal telah berkata kasar pada kedua orang tuanya. Namun,dia bisa apa. Kedua orang tuanya terus menekan nya dan tidak memberinya kesempatan bernafas.
"Kalian jahat! Jahan!" Raung nya dalam tangis.
...----------------...
Verrel baru saja menyelesaikan pertemuan nya, dia berjalan menuju ke ruangan nya.
Dengan setia, Reno mengiringi langkah nya dari belakang.
"Apa jadwal ku selanjutnya?"
"Tidak ada boss, kita hanya akan mengadakan pertemuan besok, jam 2.30" jawab Reno dengan mantap.
"Baiklah, kalau begitu. Aku ingin menghabiskan sisa waktu ku siang ini bersama calon istri ku"gumam Verrel mengulum senyum.
Saat masuk ke dalam ruangan nya. Alis Verrel terangkat sebelah, seorang wanita tengah duduk di sofa ruangan nya.
"Boss" gumam Reno. Verrel mengangkat satu tangan nya. Lalu memberi isyarat agar Reno keluar.
Reno mengangguk, kemudian menunduk hormat sebelum berbalik pergi.
Sela tersenyum, dia melangkah mendekati pria yang pernah mengisi hatinya.
__ADS_1
"Waw. Aku tidak menyangka, jika kamu sekaya ini V"
"Seperti yang kamu lihat" balas Verrel santai.
Sela melangkah mendekatinya, tapi Verrel melangkah menjauhinya.
"Kenapa? kenapa kamu tidak mau aku dekati?"
"Karena aku tidak suka!" jawab Verrel sekenanya.
Sela mengerjakan giginya, dengan paksa dia berdiri lebih dekat dengan Verrel.
"Dulu kamu sangat mencintai ku, kamu menginginkan aku di setiap waktu mu V. Kenapa sekarang, kamu berubah dan menjauhi aku. " Protes Sela.
Verrel tersenyum, lalu dengan enteng berkata.
"Aku tidak pernah mencintai mu Sela, kamulah yang mencintai aku!"
"What?"
"Jangan terkejut sela, sejak awal, aku sudah menjelaskan pada mu. Aku tidak percaya cinta, tapi kamu bersikeras ingin bersama ku, membiayai hidup ku!"
"Tapi, lihat lah Sekarang. Cinta yang kamu miliki itu memudar dan kamu mengkhianati aku!" sorot mata Verrel berubah menjadi tajam, seakan menusuk ke manik mata Sela.
"Itu karena kamu tidak kembali selama 1 tahun v. Aku berpikir kamu sudah meninggalkan aku!.
Tapi, kamu harus percaya, aku masih sama. Masih mencintai mu V" Sela mencoba memeluk Verrel. Namun pria itu langsung menepisnya. Dia tidak Sudi di peluk oleh wanita seperti Sela.
"Jangan berani berani menyentuhku. Karena aku akan menikah dengan Sintia." tegas Verrel memperingatkan.
"Kenapa harus Sintia? mengapa kamu harus menikah dengan nya huh??? apa karena kamu ingin balas dendam? apa karen itu huh???"
"Sttt ..."
"Jangan berteriak, aku tidak tuli. So, pelan kan suara mu!" tegur Verrel.
"Tapi kenapa Verrel, kenapa harus Sintia?"
"Apa karena ingin balas dendam? apa itu yang kamu inginkan?"
"CK. kamu pikir aku anak kecil? apa aku se menyedihkan itu? Sela, kamu tidak ada arti apa apa bagi ku. Tapi Sintia??? uhm..."
Verrel sengaja menggantungkan ucapan nya, lalu mendekatkan dirinya pada Sela.
"Dia jauh berarti bagi ku, kamu tahu, kisah sebenarnya??? kamu lah yang aku bodohi."
Deg.
"Apa maksud kamu Verrel, apa yang telah kamu rencanakan? katakan pada ku! apa yang kamu rencanakan!!" desak Sela terus memukul mukul pria itu, hingga Verrel merasa jengah dan...
Plak.
"Cukup gadis sialan! aku sudah cukup bersabar!. Kamu tahu apa yang aku inginkan??? kamu tahu apa???"
"Apa?"tantang Sela tanpa rasa takut.
"Kehancuran Keluarga mu!"
__ADS_1
Deg.
Seakan dunia berhenti berputar, sela mendadak kaku mendengar ucapan Pria itu.