Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Di serang!


__ADS_3

Malam yang indah, Sintia di temani oleh Lemak berjalan di halam depan rumah Verrel. Sebentar lagi rumah itu juga akan menjadi miliknya.


Sintia memeriksa dekor yang sudah hampir siap.


"Wah, sangat indah. Seperti pernikahan para bangsawan di dunia kerajaan" decak kagum Lena.


Sintia tersenyum mendengar nya, dia tidak menyangka pernikahan nya akan semewah ini.


"Ini jauh lebih mewah di bandingkan dengan pernikahan kemarin. 10x lipat berbeda" ungkap Lena lagi.


"Wah..Lena, akhir akhir ini kamu sudah banyak bicara yah"


Lena tertegun, dia langsung menunduk meminta maaf pada Sintia. Dia menyesal karena lupa diri.


"Maafkan aku nona, aku tidak akan mengulanginya"


Sintia tertawa terbahak melihat ekspresi Lena yang ketakutan. Padahal, dia hanya bercanda.


Lena terlihat bingung, entah apa yang Sintia tertawakan.


"Aduhh perut ku" Sintia memegangi perutnya yang terasa sakit, karena terlalu lama tertawa.


"Nona anda tidak apa apa?" tanya Lena khawatir.


Sintia tak langsung menjawab, dia terus memegangi perutnya sembari terus mencoba mengendalikan tawanya.


"Tidak apa apa Lena, perut ku sakit karena aku terlalu banyak tertawa"


"Memangnya apa yang nona tertawakan, aku jadi heran!" cicit Lena takut takut.


"Melihat ekspresi wajah mu, membuat perut ku tergelitik"


"Lena, kamu sudah ku anggap sama seperti saudari ku, jangan terlalu takut pada ku. Jika kita sedang berdua seperti ini, bersikaplah seperti saudara ku, seperti sahabat ku"


"Apa kamu mengerti??"


Lena tertegun, dia tersenyum haru mendengar ucapan Sintia.


"Nona, kamu sangat baik pada ku. Aku berjanji, sampai mati, aku akan melindungi mu!"


"Kai harus menepatinya" sahut Sintia, lalu mereka tertawa bersama.


Di saat mereka asik bercanda, tiba-tiba segerombolan orang bersenjata mengelilingi mereka.


"Nona!" pekik Lena. Gadis itu langsung berdiri di depan Sintia, berusaha melindungi majikan nya.


Di dalam ruangan nya, Verrel menggeram marah. Reno baru saja memberitahu pada nya, bahwa pasukan topi hitam berencana menyerangnya.


"Pantai terus, jangan biarkan mereka-" ucapan Verrel terpotong oleh seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan nya.


"Maaf boss, saya sangat lancang menerobos masuk ke dalam ruangan anda. Tapi,-"


"Tapi apa, ngomong yang jelas!" bentak Reno.


"Pasukan bertopi telah memasuki area komplek, dan saat ini mereka menyandera nona!"


"Apa?" Verrel mengepal tinju nya. Ternyata dia kalah telak, musuh nya memanipulasi pergerakan mereka. Sehingga mereka kecolongan seperti ini.

__ADS_1


"Berani sekali mereka!" Verrel mengepalkan tinju nya, lalu memerintahkan semua pasukan nya untuk maju.


"Di mana mereka?"


"Taman, di lokasi persiapan pernikahan" jawab pria berbaju hitam itu.


"Seperti nya mereka ingin menghancurkan pernikahan kalian" seru Reno, membuat Verrel semakin marah.


Sedangkan di taman depan, Sintia dan Lena masih di kelilingi oleh orang berbaju hitam, mereka semua terlihat memegang senjata.


Sintia menatap mereka was was, dia merasa sangat takut. Namun, dia berusaha untuk menyembunyikan rasa takut nya itu.


Salah satu pria berbaju hitam, mendekati mereka. Lena langsung berdiri di hadapan nya, menjauhkan Sintia dari jangkauan pria itu.


" jangan sentuh nona Sintia!"


Lena berusaha melawan, menepis tangan pria itu ketika hendak menggapai Sintia.


Namun, karena tenaga pria jauh lebih kuat di bandingkan seorang wanita. Lena kalah jauh, pria itu menarik Sintia, menyeret gadis itu ikut bersama nya.


"Jangan bawa nona Sintia! lepaskan dia!! "


Lena masih berusaha menarik Sintia, melepaskan majikan nya dari cengkraman pria jahat itu.


"Nona!!"


"Lepaskan nona Sintia!" Lena memukul mukul pria itu, menggigit lengan nya, sehingga membuat pria itu berteriak kesakitan.


"Berani sekali kau!"


Plak!


"Lena!!!" teriak Sintia histeris. Dia ingin menolong, tapi pria itu menahan tangan nya. sehingga Sintia tidak bisa berbuat apa apa.


"Lena!!!"


"Lena!!"


"Nona.."


Lena berusaha bangkit dan kembali ingin menyerang pria itu. Namun, pria jahat lain nya datang menghampiri nya.


Plak!


Plak!


Bug.


Lena kembali jatuh tersungkur, dia sudah tidak berdaya. pukulan pria kuat itu membuat tenaga nya habis.


Kedua sudut bibir Lena berdarah, sudut matanya membiru.


"Lepaskan aku! Hentikan!!!!! jangan siksa dia!!!"


"Keparat!!!"


Sintia terus histeris, meronta ronta ingin membebaskan diri.

__ADS_1


Dor !! Dor!!


Terdengar suara peluru yang baru saja di tembakan kearah pria yang memegangi Sintia. Pria itu terhuyung ke belakang. Dia tembakan itu mengenai dada nya.


Terlepas dari cengkraman pria yang sudah terkulai lemas, Sintia langsung berlari kearah Lena. Membantu gadis itu berdiri dan mencoba membawanya.


Sintia melihat Verrel, dia langsung mendekati pria itu seraya membopong Lena yang kini setengah sadar.


"Kamu tidak apa apa? apa ad ya g terluka?"


Sintia menggeleng, dia sama sekali tidak terluka. Mungkin memar sedikit di bagian lengan nya saja.


"Reno bawa dia ke ruangan Widia,dia akan aman di sana" titah Verrel. Rahang tegas nya terlihat mengeras, pertanda dia sedang marah sekarang.


"Ayo Sintia, kita pergi dari sini!" ajak Reno membantu Sintia menggendong Lena.


Sintia terlihat ragu, di melihat pada Verrel."Aku akan menemani mu!"


"Tidak, ini berbahaya, kamu tidak boleh berada di sini bersama ku! kamu bisa terluka"


"Kamu juga bisa terluka Verrel, aku tidak mau hal itu terjadi" ucap Sintia keras kepala.


"Sintia, tolong jangan keras kepala!"


"Aku tidak keras kepala, aku hanya ingin membantu mu!" ucap Sintia Keukeh.


Reno memutar matanya jengah, di saat seperti ini. Mereka masih sempat sempat nya berdebat.


"Sintia, tolong pengertian nya. Ikuti Reno, dan dengarkan dia!" Verrel menyuruh satu anak buah nya mengantar Sintia secara paksa ke ruangan Widia.


"Verrel!! berhati hati kah, mereka membawa senjata semua. Kamu tidak boleh terluka!!


Verrel!!


Verrel!!"


Sintia terus berteriak, meronta ronta ingin di bebaskan, dia ingin membantu Verrel.


Setelah memastikan Sintia sudah pergi, barulah Verrel menatap semua musuhnya.


"Di mana Mr Topi??" tanya Verrel dengan sangat lantang.


"Apa dia sedang bersembunyi? apa itu keahlian nya huh???"


"Keluar!! Jangan bersembunyi di balik tubuh yang lemah!"


Verrel yakin, Mr Topi ada di sekitarnya. Hanya saja pria pengecut itu tidak berani menampakkan wajahnya padanya.


Verrel melangkah maju, menginjak tubuh pasukan musuh yang tadi dia tembak dua kali. Kini pria itu telah tiada.


2 tembakan di jantung dan paru-paru nya tentu membuat nyawa nya segera melayang.


"Keluar lah!! pengecut!" teriak Verrel.


"Aku di sini Mr Eldor!"


Seorang pria melangkah maju ke depan pasukan nya yang kini telah membentuk barisan rapi.

__ADS_1


Verrel tersenyum " Akhirnya kau muncul juga. Aku pikir kau akan bersembunyi di balik pasukan lemah mu itu" sindir Verrel.


"Ide yang bagus!"sahutnya tersenyum mengejek.


__ADS_2