Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Insting istri


__ADS_3

"Lakukan apapun, buat dia terdesak dan hancur!"


"Baik boss"


Pria berjas hitam dan kaca mata hitam itu menunduk hormat, kemudian berbalik pergi.


Verrel menghembuskan nafas gusar, dia tidak akan kecolongan lagi. Mr Topi sudah melampaui batas, dia sudah mengganggu milik nya.


"Lihat saja nanti, aku tidak akan membiarkan mu bernafas lega Mr Topi!"


Ceklek.


Verrel menoleh,pintu ruangan nya kembali terbuka dan melihat istrinya muncul di sana.


"Honey??"


Rasa amarah yang menggebuh gebu, seketika meluap di udara. Verrel merasa sangat tenang dan damai ketika melihat wajah istri nya.


"I Miss you...Eh?" Verrel terkejut, istrinya menolak untuk dia peluk.


"Ada apa?" tanya Verrel menatap heran istrinya.


"Aku marah Verrel, aku sangat marah!" tekan Sintia, dia berjalan menuju sofa ruangan kerja Verrel.


Verrel mengikutinya, dia ikut duduk di samping Sintia.


"Ada apa baby? kenapa kamu marah kepadaku. Apa kesalahan ku?"


"Kesalahan??"


"Yah, kamu datang dan tiba-tiba marah. Padahal, tadi baik baik saja. Kamu terlihat bahagia ketika berada di mall. Lalu, marah saat bersama ku"

__ADS_1


"Hei..." Sintia menunjuk pada suaminya, dia berpikir. Bagaimana mungkin suaminya bisa berkata seperti itu.


"Apa kau sudah gila huh, kau meninggalkanku aku di mall sendiri. Lalu sekarang, kau mengatakan aku marah tanpa sebab dan menjadikan mu hanya tempat marah? "


"Honey, aku ada urusan mendadak sehingga aku harus pergi. Tapi ingat, aku tidak meninggalkan mu sendiri, ada bodyguard ku di sana" tegas Verrel.


"Tidak. Jika kamu tidak ada bersama ku, maka aku merasa sendirian. Aku tidak percaya dengan bodyguard mu itu. Aku akan merasa cemas jika bukan kamu yang melindungi ku!" rengek Sintia berubah menjadi manja. Dia memeluk suaminya sangat erat.


Verrel tersenyum, tentu saja dia tahu istrinya tidak akan berperilaku seperti itu. Dia tahu istrinya sangat cemas. Apalagi setelah kejadian di pasar waktu itu.


"Maaf kan aku baby, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan membawa mu kemana pun aku pergi"


"Janji?"


"Janji" balas Verrel menautkan kelingking nya pada jari mungil sang istri. Kemudian mereka saling memeluk erat lagi.


Verrel sangat manis, dan Sintia juga sangat lucu. Melihat mereka seperti, semua orang pasti berpikir apakah mereka sudah saling jatuh hati?


Mereka hanya menjalani sebagai mestinya yang harus mereka jalani.


Verrel menjadi suami yang baik, dan Sintia menjadi istri yang baik. Mereka saling berkomitmen untuk saling menjaga, dan tetap saling membicarakan apapun masalah yang mereka alami.


Meskipun Sintia tidak tahu apa yang ada di balik Verrel. Namun, dia mencoba untuk percaya. Hanya itu yang dia miliki untuk suami tampan nya.


Percaya bahwa Verrel akan melindungi nya, menjaganya dari segala bahaya.


"Sayang, apa kamu sudah membeli semua yang kamu butuhkan?"


"Sudah, aku bahkan membelikan beberapa yang kamu butuhkan juga" jawab Sintia Sera menunjukkan semua barang yang dia beli.


"Wah, bagaimana kamu bisa mengetahui apa yang aku butuhkan?" decak Verrel kaget.

__ADS_1


"Tentu saja aku tahu, insting seorang istri sangat besar untuk suami nya"


"Benarkah?"


"Tentu, karena kau, dan aku sudah pernah menyatu, dan menjadi Kita. Tidak kah kamu berpikir disitu ada sebuah hubungan yang menyatu?"


Verrel tertegun, semakin hari istrinya semakin membuatnya kagum.


"Wah wah.. Istri kecil ku sudah menjadi wanita dewasa dan istri yang cantik." puji Verrel, membuat Sintia tersipu malu. Wanita itu menunduk malu, menyembunyikan pipi merahnya di balik jas suaminya.


"Baiklah, sayang. Sekarang lupakan semua yang membuat kita jenuh. Aku akan membawa mu ke suatu tempat. Aku yakin kamu pasti menyukai nya."


"Benarkah?"


"Tentu. Ayo"


Verrel menarik tangan Sintia lembut, membawanya pergi ke suatu tempat.


Ketika di dalam mobil, Verrel menutup mata istri nya. Dia tidak mau Sintia mengetahui kemana dia akan membawa nya.


"Hei, kenapa mata ku di tutup. Apa aku tidak boleh melihat kemana arah kita pergi?"


"Tentu saja tidak honey. Ini kejutan, jadi kamu harus bersabar ok"


"Yah yah, tapi jangan lama lama. Aku bisa takut. Seakan aku di bawa ketempat kematian ku!"


"Aiss...Honey, jangan berbicara seperti itu. Apa kamu berpikir aku akan menganiaya mu?"


"Yah mungkin tidak, tapi kau harus mengingatnya Verrel. Jika aku mati karena mu, aku akan menghantui mu, membuat wanita lain yang bersama mu mati ketakutan!"


"Apakah itu ancam?" decak Verrel menahan senyum.

__ADS_1


"Tentu saja, itu ancaman dan peringatan untuk mu" tegas Sintia masih dengan mata tertutup. Tangan nya menggenggam erat tangan suaminya.


__ADS_2