Karena Pengkhianatan

Karena Pengkhianatan
Satria dan Verrel Bersatu


__ADS_3

Verrel hampir putus asa, dia tidak menemukan jejak istri nya.


"Kemana bajingan itu membawa istri ku?"


Mereka semua berpencar, Verrel dan Satria berada di mobil yang sama. Entah mengapa mereka mendadak menjadi kompak.


Reno, dan ayah mertuanya berada di dalam satu team.


"Tenang Verrel, kita pasti akan menemukan Sintia!" ujar Satria. Dia menepuk bahu Verrel. Membuat pria itu tertegun dan menatapnya.


Melihat Verrel menatap kearah nya, Satria jadi sadar dengan apa yang baru saja dia lakukan.


"Aku gak bermaksud.."


Ucapan Satria terpaksa berhenti oleh suara dering ponsel Verrel.


"Sebentar Satria, aku harus menerima telfon dulu"


Satria mengangguk, mempersilahkan Verrel menelfon.


"Hallo!"


"Hallo Verrel!" balas suara di sebrang sana.


Verrel terkejut, dia tidak mengenali suara itu. Tapi, orang itu mengenali dirinya.


"Siapa kau?"


"Kau tidak perlu tahu siapa aku, yang pasti kau harus melihat pesan dari ku!" ucap orang itu.


"Ada apa?" tanya Satria herang.


Verrel membuka ponselnya, melihat ada pesan dari nomor buang tidak di kenal. Dia membuka pesan itu, ternyata ada sebuah alamat.


Verrel kembali menempelkan ponsel itu pada telinganya.


"Apa maksud mu, jangan coba coba untuk menjebak ku!" ancam Verrel.


"Aku tidak menjebak mu Verrel! aku berkata jujur. Sebelum Danrem dan ayah ku mengetahui nya. Kalian harus segera ke sana!"


"Siapa kau sebenarnya? "


"Tidak penting siapa aku, cepat dan selamatkan Sintia. Jika tidak kau akan menyesal!"


Klik.


Sambungan telfon terputus, Verrel mengerut bingung. Lalu dia kembali melihat pesan yang berisi sebuah alamat.


"Ada apa?" tanya Satria.


Verrel menunjukkan pada Satria, alamat yang tadi di kirimkan oleh putra dari musuhnya.


"Siapa yang mengirimnya?"


"Aku tidak tahu, tapi dia mengatakan anak dari salah satu musuh kita. Dia menyebutkan Danrem dan ayah ku!" ucap Verrel mengulang kalimat dari pria itu.


"Dia putra Asmar, mantan tunangan Sintia" tebak Satria.

__ADS_1


"Apa?"


"Benar, dia kecewa karena sudah di khianati oleh Sela. Mungkin dia mulai sadar, bahwa dia telah di permainkan. Dan menyesal telah menyia sia kan Sintia!"


"Apakah benar? apa ini bukan jebakan?"


"Jika ini adalah jebakan. Setidaknya kita terjebak di dalam lingkaran mereka. Kita bisa mengetahui lokasi mereka." Terang Satria.


Verrel mengangguk, dia membenarkan apa yang Satria katakan.


"Baiklah, kita akan ke sana, dan tolong suruh Reno membawa pasukan ke sana juga. Tapi, suruh dia membagi pasukan berlapis!"


"Baik!"


Verrel langsung melajukan mobilnya. Membelah jalan yang mulai sepi, karena mereka memasuki area perdesaan. Tepatnya masuk ke dalam kampung mati.


"Apa benar ini alamatnya?" tanya Satria.


"Seperti yang ada di sini, ini alamatnya"


Duar!!!


Satria dan Verrel terkejut, merek langsung memundurkan mobilnya. Ternyata mereka baru saja menginjak ranjau.


"Aku merasa ini memang tempatnya!" ucap Satria.


Kedua pria itu keluar dari dalam mobil. Berjalan kaki lebih aman di Bandung membawa mobil.


Pergerakan mereka akan lebih mudah di tebak jika mengendarai mobil.


Melihat banyak nya penjaga, membuat mereka semakin yakin. Bahwa Sintia ada di sana.


Verrel berjalan menunduk, lalu bersembunyi di balik pohon besar. Dia melihat ada penjaga yang berlalu lalang di depan sebuah pintu.


Setelah merasa aman, Verrel memberi kode pada Satria.


"Ayo sekarang" seru Verrel dengan suara pelan.


Satria pun mengangguk, dia mengeluarkan senapan nya. membidik salah satu penjaga.


Fyus..


Dengan suara yang sangat pelan, peluru langsung terbenam tepat di dada mengenai ulu hati penjaga itu.


"Hei, ada apa.." Teriak teman penjaga itu, dia memeriksa tubuh teman nya yang sudah tiada.


"Darah!" gumamnya langsung mengangkat senjata. Belum sempat menarik pelatuk, Satria sudah kembali melepaskan peluru keduanya.


Fyus..


Kedua penjaga sudah terkapar. Verrel dan Satria langsung mengendap masuk ke dalam.


Sebelum melangkah masuk, Verrel memastikan ponselnya tidak berdering. Begitu juga dengan Satria. Mereka tidak boleh gegabah, dan mengalami sesuatu yang biasa di alami oleh pesinetron.


"Danrem! apa maksud kamu mencurigai putra ku!"


Asmar mendekati Danrem, dia tidak menyangka jika Danrem mencurigai Renda.

__ADS_1


Salah satu anak buah Danrem melaporkan bahwa seseorang mencoba mengakses alamat mereka saat ini.


Dan akses itu di lakukan melalui panggilan telfon. Orang yang terakhir kali menghubungi mereka adalah Rendi.


"Jika bukan anka mu, siapa lagi!"


"Rendi tidak mungkin berkhianat!" sangkal Asmar. Dia yakin dengan pendapat nya.


"Terserah kau saja, jika nanti terbukti putra mu yang melakukan nya. Akan aku pastikan, nyawa putra mu ada di tangan ku!" ucap Danrem penuh penekanan.


huh.


Asmar mendengus kesal, dia pergi meninggalkan Danrem di dalam ruangan nya.


"Dasar pria tua tidak tahu malu. Putra ku tidak akan membuat kesalahan" gerutu Asmar kesal.


Verrel terus bergerak bersama Satria, mengendap masuk ke dalam gedung tinggi itu.


Jika di lihat dari luar, gedung ini terlihat seperti bangunan tua. Namun, ketika sudah memasukinya, akan terlihat berbeda.


Bangunan ini sangat indah, dan mewah. Ada lift yang masih aktif. Ada foto danrem dan anggotanya di bagian lobi. Menandakan bahwa ini adalah markas Danrem.


Saat akan memasuki lift, Verrel menahan Satria. Membuat pria itu menatap padanya penuh tanya.


"Jika kita menggunakan lift, mereka akan mudah memblok kita" ucap Verrel.


Satria mengangguk setuju, mereka lebih memilih melewati tangga darurat. Sebelum melewatinya, Verrel memperhatikan sekitar terlebih dahulu.


Mencari posisi cctv, lalu merusaknya dengan sengaja.


"Hey siapa di sana?"


Verrel dan Satria segera bersembunyi. Mereka tidak boleh ketahuan sekarang. Mereka harus tiba di atas sebelum mereka menyadarinya.


Jika tidak, kesempatan untuk mendapatkan Sintia akan sia sia.


Dari luar, Reno dan mertuanya sudah tiba. Mereka telah mengepung lokasi Danrem saat ini.


Dengan menggunakan drone berbentuk nyamuk. Reno bisa menyelinap masuk ke dalam. Kemudian dia menghubungi Verrel melalui Earphone yang selalu terpasang di telinga Verrel.


"Boss, langsung ke lantai 3. Di sana tidak ada orang. Danrem ada di lantai 25. Sedangkan Asmar ada di lantai 23"


"Istri ku ada di lantai berapa?"


"Aku belum bisa memastikannya. Aku tidak menemukan nya!"


"Sial!"


Verrel mengumpat kesal, dia langsung memberi kode pada Satria, agar mereka langsung ke lantai 3.


Benar saja, di sana tidak ada siapapun. Verrel dan Satria bisa berjalan santai. Mereka menghancurkan setiap cctv yang ada di sana.


"Jangan coba coba bermain dengan ku Danrem!" gumam Verrel sebelum menghancurkan cctv terakhir di lantai 3.


"Di depan pintu ada 2 penjaga, tidak jauh dari mereka ada 3 penjaga. Total di lantai 5 ada 5 penjaga"


Verrel terus mendengarkan informasi dari Reno. Hingga mereka tiba di lantai 23. Di mana Asmar sedang beristirahat di sana.

__ADS_1


__ADS_2