
"Aku beli apa lagi yah?" gumam Sintia, dia sejak tadi mengelilingi mall. Mencari kebutuhan sehari harinya.
"Ah iya, skin care ku sudah habis"
Sinti memasuki toko skincare langganan nya. Saat dia masuk, pegawai toko yang sudah mengenali Sintia, langsung menyambut dengan hangat.
"Selamat datang nona, apa yang sedang anda cari, dan saya akan membantu mu" sambut pegawai itu ramah.
Sintia tersenyum ramah, "Aku membutuhkan skincare yang biasa aku pakai. Apa syok nya ada?"
"Tentu nona, kami selalu menyetok banyak. Agar saat anda datang, apa yang anda inginkan selalu tersedia."
"Wah, aku jadi tersanjung"
Pegawai itu tersenyum bangga. Bukan karena Sintia pelanggan tetap nya, namun karena tutur bahasa Sintia sangat baik dan sopan kepada semua orang.
Siapa yang tidak tahu nona muda dari keluarga kaya ini. Namun, sikapnya sangat rendah hati. Berbeda dengan kakak nya.
Sinti berkeliling di dalam toko skincare itu, melihat lihat benda apa yang menarik perhatian nya.
"Sintia?"
Sintia langsung berhenti, dia berbalik menghadap ke sumber suara yang memanggil nama nya.
"Tante??"
"Ah ternyata benar kamu" ucap wanita paru baya itu.
Sintia mendekati Sia, mantan calon ibu mertuanya.
"Tante sama siapa di sini? lagi cari skincare apa?" tanya Sintia basa basi.
Sia terdiam, setelah semua yang terjadi pada wanita ini. Dia masih bersikap seperti biasa. Seolah tidak pernah terjadi apapun di antara keluarga mereka.
"Tante" panggil Sintia, karena Sia tak kunjung membalas ucapan nya.
"Eh iya"
"Tante kenapa melamun? "
"Tidak apa apa, aku hanya terkejut melihat mu di sini. Seakan bermimpi di siang bolong"
"Tante ngomong apa sih" dengus Sintia malu.
Sia menarik nafas, lalu menghembuskan secara perlahan. Meraih kedua tangan Sintia, lalu menggenggam nya erat.
"Maafkan aku Sintia, setelah apa yang kamu alami, kami tidak melakukan apapun, bahkan ketika putra ku melakukan sesuatu yang salah padamu, kamu juga diam"
Sintia melihat sia tidak berdaya, dia merasa iba pada nya.
"Tante, apa yang telah berlalu. Biarlah berlalu. Aku sudah memaafkan mereka semua, meskipun aku masih kecewa. "
"Nak.."
__ADS_1
"Sudah, Tante tidak perlu memikirkan hal itu lagi. Aku sudah baik baik saja sekarang, aku sudah menikah, dan Tante tahu?? Suami ku sangat baik sekali, dia manis dan romantis"
Sintia sangat antusias menceritakan soal Verrel pada Sia. Wanita yang sudah di anggapnya seperti ibu nya sendiri.
"Dari ekspresi mu, sangat terlihat jelas bahwa kamu sangat bahagia nak. Aku senang melihatnya"
"Terimakasih "
"Entah mengapa, anak bodoh itu bisa meninggalkan berlian secantik kamu"
Sintia hanya tersenyum membalas ucapan Sia. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Oh iya Sintia, apa kamu sudah mendengar soal kami?"
"Yah, aku sudah mendengar nya. Aku merasa sangat sedih karena itu"
"Lalu, kenapa kau membiarkan suami mu melakukan nya!"
Sintia dan Sia terkejut. Sela datang entah dari mana, dia tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Maksud kamu apa?" tanya Sintia.
"Apa kurang jelas? aku yakin, kamu yang menghasut Verrel. Supaya dia menghancurkan Rendi dan keluarga sebagai alasan balas dendam!" tuding Sela.
"Apa kau tidak waras? meskipun aku tahu siapa yang melakukan nya. Tapi, aku baru tahu setelah semua itu terjadi.
Lagi pula, apapun masalah suami ku dengan orang orang di sekitarnya aku tidak ikut campur!" ucap Sintia menegaskan.
"Sudah cukup sela! kamu ini apa apaan sih. Ini tempat umum, apa kau tidak malu?"
"Wah, ibu mertua juga membela nya. Apa karena ibu mertua ingin memohon belas kasihan dari nya?"
"Cukup Sela! berhenti membentak Tante Sia! atau ak-"
"Atau apa? lanjut kan ucapan mu Sintia. Apa kau lupa huh? aku ini kakak mu, jangan coba coba melawan ku!"
Suasana terasa semakin panas, orang orang mulai memperhatikan mereka.
"Aku sudah tida peduli lagi Sela, kau kakak atau siapapun. Aku menghargai mu, karena aku masih punya hati. Jika aku kehilangan kesabaran ku, aku bisa menghancurkan mu tanpa melakukan apapun"
Sela tersenyum sinis, "Wah, kau kini berani mengancam ku?"
"Kenapa tidak? sudah cukup aku mengalah untuk mu. "
"Benarkah? apa kau lupa? seorang adik takdirnya berjalan di belakang kakak nya! dan kau harus berjalan di belakang ku!"
"Itu hanya berlaku jika aku adik mu! Sayangnya aku bukan adik mu. Sejak hari pernikahan ku yang kau kacaukan. Sejak saat itu. Kau bukan lah kakak ku lagi!" balas Sintia membalas senyum sinis Sela. Wanita itu jatuh telak, Sintia yang sekarang bukan lah Sintia yang dulu.
Sekarang, Sintia yang manis telah berubah menjadi Sintia yang sinis.
"Kau-"
Plak!
__ADS_1
Sela menoleh pada sia, menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kenapa ibu mertua berani menampar ku?"
"Itu karena kau pantas mendapatkan nya!" sahut Sia cepat. Dia sudah tidak bisa menahan tangan nya untuk memukul Sela.
"Apa kau lupa, aku ini calon menantu mu! di dalam perut ku ada calon cucu mu!"
"Aku tidak peduli Sela, aku tidak peduli. Seandainya kau berani menyentuh Sintia, jangan salahkan aku keras kepadamu!"
Pegawai toko menghampiri Sintia, memberikan pesanan nya yang baru saja selesai ia packing.
"Ini nona"
"Terimakasih"
Pegawai itu tampak bingung dengan apa yang terjadi. Dia tidak tahu harus bereaksi apa.
"Tante, aku sudah selesai. Aku pamit pulang" pamit Sintia mencium punggung tangan Sia seperti biasanya.
"Hati hati nak"
"Iya Tante!"
Sintia berlalu pergi, meninggalkan Sia dan Sela yang masih saling menatap tajam. Orang orang mulai berbisik, membicarakan mereka berdua.
Nyonya Jackson yang terhormat, kini berubah menjadi ibu ibu biasa. Sangat mengejutkan bukan? tapi itulah kenyataannya.
Sintia tiba di parkiran, dia mencari mobil suaminya.
"Apa dia belum kembali?"gumam Sintia melihat ke kiri dan ke kanan. Mengedarkan pandangan matanya kesembarangan arah.
"Nona!"
Sintia terkejut, dia melihat anak buah suaminya menghampiri nyam Di belakang pria itu, ada beberapa anak buah yang memakai pakaian yang sama dengan pria di hadapan nya ini.
"Ternyata dia sangat teliti, meninggalkan anak buah nya untuk mengawasi ku" batin Sintia.
"Ada apa pak?"
"Saya hanya ingin menyampaikan pesan boss, jika anda sudah selesai, maka anda bisa ikut bersama kami, dan kami akan mengantar nona lepasnya"
Tanpa ragu, Sintia mengikuti pria yang beberapa kali ia temukan bersama suaminya.
Verrel merupakan tipe orang yang tidak suka membawa orang yang berbeda beda menjadi kepercayaan nya.
Pria itu membukakan pintu untuk Sintia, mempersilahkan istri bos nya ini masuk ke dalam mobil.
"Terimakasih".."Sama sama nona"
Mobil pun melaju cepat, meninggalkan area parkir. Tanpa mereka ketahui Sela memperhatikan gerak gerik mereka.
"Andai aku tahu Verrel sekaya itu, aku tidak akan pernah mengkhianati nya. Lalu menikah dengan cara yang baik.Pasti aku sudah menjadi nyonya" tutur sela dan bayi
__ADS_1